Wonogiri;(wuryantoro.com); RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri mendapat bantuan alat laparoscpy senilai Rp 300 juta dari Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Tengah. Pemberian bantuan alat ini dimaksudkan guna menunjang kegiatan program Kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) di daerah. Penandatanganan kesepakatan bersama tentang alat laparoscopy antara Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah dengan RSUD Wonogiri tersebut berlangsung pada acara pertemuan Capacity Building R/R PPKBD se-Kabupaten Wonogiri di gedung Giri Wahana, Kamis (20/10). Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah Dra. Sri Murtiningsih, MS secara simbolis menyerahkan bantuan tersebut kepada Direktur RSUD dengan disaksikan Bupati Wonogiri H. Danar Rahmanto dan Kepala BKBKSPP Wonogiri Reni Ratnasari, SH, MM.

Dikatakan oleh Kepala Perwakilan BKKBN Jateng bahwa dengan adanya kerjasama itu maka dapat memperlancar dan mendukung peningkatan kualitas pelayanan program KB kepada masyarakat Wonogiri, utamanya untuk MOW atau Media Operasi Wanita (tubektomi). Wonogiri dinilai memberikan kontribusi besar terhadap Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) yang mencapai angka -0,97%. Sasaran program KB yang dicapai pun tinggi. Bahkan, pencapaian sasaran peserta aktif KB di Wonogiri melebihi rata-rata pencapaian provinsi. “Pencapaian peserta aktif KB di provinsi 80,27%, sedangkan di Wonogiri mencapai 83,23%. Itu artinya tingkat partisipasi masyarakat Wonogiri dalam ber-KB sangat tinggi, di atas rata-rata pencapaian di provinsi,” imbuhnya.

Keberhasilan tersebut, lanjutnya, tidak lepas dari peran Petugas Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) yang tersebar di setiap desa/kelurahan di Wonogiri. “Petugas PPKBD inilah yang bekerja keras mensosialisasikan program, mengajak dan memotivasi dan selanjutnya merekrut masyarakat menjadi peserta KB aktif. Yang menggembirakan, di Wonogiri ini pemerintah memberikan dukungan dengan menyediakan operasional penunjang sarana dan prasara yang diambil dari APBD bagi PPKDB untuk melakukan tugas di tingkat desa. Hal ini yang jarang ditemui di Kabupaten atau Kota lain.”

Dengan melihat kenyataan tersebut, Perwakilan BKKBN Jawa Tengah berharap bisa menjadikan Wonogiri sebagai center MOW bagi daerah-daerah di sekitarnya. Sehingga calon akseptor KB yang ada di Soloraya tidak perlu jauh-jauh ke RS. Bethesda Jogjakarta ketika melakukan MOW, seperti yang sudah berjalan sekarang ini.

Sementara itu, Bupati Wonogiri mengajak PPKBD untuk terus bekerja keras mendukung keberhasilan program KB di Wonogiri. PPKBD diminta untuk menjalin komunikasi yang baik agar informasi dan edukasinya mudah diterima oleh masyarakat. “Karena masalah membatasi kelahiran ini selalu menimbulkan pro kontra di masyarakat. Satu contoh saja di desa Gambiranom, Kecamatan Kismantoro saya pernah menemukan ada rumah tidak layak huni, dengan ekonomi yang pas-pasan. Ketika saya tanya anaknya berapa, mereka menjawab sebelas. Lalu saat saya tanya kenapa tidak KB? Mereka malah bilang, masak orang melahirkan diatur-atur? Nah, dari sini bisa disimpulkan bahwa selain pengetahuan dan ketrampilan PPKBD untuk menentukan strategi pengelolaan KB, PPKBD juga perlu kehati-hatian dalam menyampaikan informasi dan mengajak masyarakat guna suksesnya program KB,” pungkasnya.(TN/humaskab)