Pengertian Karakter

Pengertian dan Definisi Karakter

Istilah karakter dapat menunjukkan terhadap dua kondisi yang berlawanan, yaitu menunjuk kepada karakter baik (positif) dan karakter buruk(negatif). Meskipun kenyataannya orang dikatakan berkarakter jika dia mampu menjalankan nilai-nilai kebaikan dalam tingkah lakunya, sebaliknya orang berkarakter buruk jika dalam perilakunya menjalankan hal-hal buruk seperti tidak amanah, tidak bertanggung jawab, egois dll.

Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. diri sendiri, sesama manusia, lingkungan. dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.



    Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah "bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat. tabiat, temperamen, watak". Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat. dan berwatak”. Karakter berasal dan bahasa Yunani yang berarti "to mark" atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

    Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan karakter sebagai tabiat, perangai dan sifat-sifat seseorang. Berkarakter diartikan dengan mempunyai kepribadian, adapun kepribadian diartikan dengan sifat khas dan hakiki seseorang yang membedakan seseorang dari orang lain.

    Ki Supriyoko dalam Bagus Mustakim menyatakan bahwa "Dalam bahasa yang sederhana karakter sama dengan watak, yaitu pengembangan jati diri seseorang itu sendiri. Karakter seseorang lebih mencerminkan jati diri dari pada aspek kepribadian manusia yang lainnya seperti identitas, intelektual, keterampilan dan lain sebagainya" (2011: iii).

    Pengertian Karakter

    Karakter juga sering diidentikkan dengan budi pekerti atau akhlak. Furqon Hidayatullah menyatakan bahwa "karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang membedakan dengan individu yang lain" (2010: 9). Seseorang yang karakternya baik identik bahkan sama dengan orang yang budi pekertinya luhur atau akhlaknya baik (akhlakul karimah), sementara itu orang yang karakternya buruk identik bahkan sama dengan orang yang budi pekertinya tidak luhur atau akhlaknya tidak baik.
    Menarik dibaca juga: Pengertian Database
    Gede Raka dkk menyatakan bahwa: "secara umum karakter dikaitkan dengan sifat khas atau istimewa, atau kekuatan moral, atau pola tingkah laku seseorang" (2011: 36).

    Tipe-tipe Karakter

    Bagus Mustakim membagi karakter yang lahir dalam perjalanan sejarah manusia menjadi 5 bagian, yaitu:
    1. Karakter Intelektual, yaitu karakter yang ada pada diri seseorang dimana dengan modal karakter tersebut dapat terselesaikanlah persolanpersoalan hidup. Karakter ini juga bisa dimaknai dengan karakter yang ada pada diri manusia sehingga mampu menemukan berbagai nilai dalam kehidupannya. Nilai-nilai tersebut dijadikan pondasi dalam sistem masyarakat yang dijaga dan dilestarikan untuk kepentingan bersama.
    2. Karakter Teologis, yaitu karakter pada manusia yang hidup secara patuh dan taat pada nilai-nilai ketuhanan/ keagamaan.
    3. Karakter Humanis, yaitu karakter pada manusia yang lahir dari kemampuannya memahami realitas di sekitarnya secara obyektif dan ilmiah.
    4. Karakter Modernis, yaitu karakter pada manusia yang lahir dari kemampuannya memahami realitas secara rasional dan saintifik. Rasional artinya menjadikan kekuatan rasio sebagai kekuatan tunggal yang sangat menentukan, sedangkan saintifik berarti menganggap adanya suatu kebenaran essensial dan universal yang didasarkan pada langkah-langkah tertentu (metode ilmiah).
    5. Karakter Postmodernisme, yaitu karakter pada manusia yang menunjukkan penerimaan atas kondisi masyarakat yang pluralitas, heterogenitas dan fragmentalisme. Hal tersebut merupakan sebuah keniscayaan, bukan merupakan halangan namun adalah sebagai potensi positif untuk berkompetisi secara sehat menuju kebaikan bersama. (2011: 30-37).
    Beberapa karakter tersebut dapat dinyatakan bahwa manusia yang berkarakter adalah manusia yang di dalam dirinya memiliki sifat-sifat kebajikan/kebaikan yang terpancar dalam setiap aktivitasnya sehari-hari atau dengan kata lain seperti yang dinyatakan oleh Furqon Hidayatullah bahwa "seseorang dapat dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki oleh masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya" (2010:10).

    Berdasarkan definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakter adalah aktualisasi dari kepribadian seseorang yang diwujudkan dalam sikap, tingkah laku, tutur kata dan cara memandang seseorang sehingga dapat di tentukan apakah orang tersebut orang baik (berkarakter mulia) atau orang tidak baik (berkarakter jelek).
    Dengan demikian pengertian dan definisi karakter atau yang dimaksud dengan karakter adalah budi budi pekerti yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling) dan tindakan (action). Untuk itu terdapat karakter standar universal/umum yang berlaku secara umum yang dikaitkan dengan syarat keberhasilan, meliputi kepercayaan, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, keterbukaan dsb. Sifat-sifat tersebut seperti memiliki daya tarik magnet untuk diidamkan dan dimiliki. Tidak heran sifat-sifat tersebut sering menjadi moto dan budaya organisasi yang dikembangkan.

    Pentingnya Pendidikan Karakter

    Banyak tokoh yang menggarisbawahi pentingnya pendidikan karakter dan moral. antara lain :
    1. Mahatma Gandhi menyatakan salah satu dosa fatal adalah "education without character" (pendidikan tanpa karakter).
    2. Dr. Martin Luther King menyatakan "intelligence plus charaeter thatis the goal of the true education" (kecerdasan plus karakter adalah tujuan akhir pendidikan sebenarnya).
    3. Theodore Roosevelt berpendapat, "to education person in mindandnotin moralsis to educate a menace to society" (mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan moral adalah ancaman mara bahaya kepada masyarakat).
    4. Prof. Dr (HC).Ir. R. Roosseno dalam setiap sambutan dan pidatonya kerap mengingatkan bangsa Indonesia khususnya generasi muda, yakni dibutuhkannya "moralee herbewapening" (kesiapsiagaan moral) dalam berprofesi, hal ini dikaitkan dengan kondisi kemajuan ekonomi, teknik yang sangat cepat membawa side effect yang sering tak menguntungkan moral (narkoba, korupsi, ketidakjujuran). Hal tersebut harus dibendung dengan mempersenjatai diri sendiri dengan paham - paham dan karakter yang positif.

    Post a Comment

    0 Comments