Akne vulgaris adalah penyakit pada kulit yang disebabkan oleh perubahan pada unit kelenjar pilosebasea. Karakteristik akne ditandai dengan adanya komedo, papula, pustula, dan nodul pada tempat-tempat di mana kelenjar sebasea berada (Harper, 2004).

Akne vulgaris adalah penyakit dari unit kelenjar pilosebasea. Penyakit ini dapat terjadi ringan, berupa komedo atau papula, dapat juga timbul berupa peradangan berat yang menimbulkan jaringan parut (Habif, 2004).

Pada wanita akne berkembang antara umur 12-13 tahun, sedangkan pada pria antara 13-14 tahun. Namun demikian dapat pula terjadi pada umur yang lebih tua. Puncaknya timbul bermacam tipe akne pada wanita yaitu 17-18 tahun, dan 19-21 tahun pada pria (Cunliffe dan Gollnick, 2001).

Beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan acne vulgaris adalah sebum, bakteri, hormon, iklim, kosmetika, dan bahan kimia (Widjaja, 2000). Faktor pemicu lainnya antara lain stres, menstruasi, sinar matahari, dan faktor genetik (Portughese, 1998). Ras dan usia dapat pula menjadi faktor dalam terjadinya akne vulgaris (Wasitaatmadja, 2002). Faktor herediter sangat berperan penting dalam timbulnya akne (Herando dan Ando, 2003).

Insidensi akne vulgaris 80-100% pada usia remaja dan dewasa muda, yaitu 14-17 tahun pada wanita dan 16-19 tahun pada pria. Meskipun demikian, akne vulgaris dapat pula terjadi pada usia lebih muda atau lebih tua dari usia tersebut. (Wasitaatmadja, 2002). Dari sebuah studi di Inggris dinyatakan bahwa prevalensi dari akne vulgaris pada wanita umur 26-44 tahun sebesar 14% (Williams dan Layton, 2006).

Beberapa studi menunjukkan bahwa faktor genetik mempengaruhi timbulnya akne (Simpson dan Cunliffe, 2004).

Pada kembar identik, resiko terjadinya akne vulgaris sangat tinggi, termasuk distribusi dan ragam dari akne vulgaris (Plewig, Jansen dan Kligman, 2000).

Berdasarkan pengalaman klinik yang ada, akne sering muncul pada orang-orang dengan riwayat satu keluarga (Bataille V et al, 2002).


Ada 4 hal penting yang berhubungan dengan terjadinya akne :
  1. Kenaikan produksi sebum; Kelenjar sebasea dibawah kontrol endokrin. Pituitari akan menstimuli adrenal dan gonad untuk memproduksi estrogen dan androgen yang mempunyai efek langsung terhadap unit pilosebasea. Penderita akne vulgaris memiliki peningkatan produksi sebum. Hal tersebut bisa disebabkan oleh peningkatan hormon androgen atau oleh hiperresponsif kelenjar sebasea terhadap androgen dalam tingkat normal (Cunliffe dan Gollnick, 2001).
  2. Peningkatan kornifikasi saluran pilosebasea; Peningkatan kornifikasi saluran pilosebasea secara klinis tampak sebagai komedo (whitehead, blackhead, and microcomedones). Hal ini disebabkan karena terjadi akumulasi keratinosit di saluran pilosebasea. Peningkatan kornifikasi ini bisa disebabkan oleh peningkatan proliferasi korneosit, kegagalan pemisahan korneosit atau keduanya. Penyebab hiperproliferasi ini multifaktorial. Androgen selain menstimuli kelenjar sebasea juga berpengaruh pada hiperproliferasi pada saluran kelenjar tersebut (Cunliffe dan Gollnick, 2001).
  3. Proliferasi dan kolonisasi mikroorganisme; Saluran pilosebasea dan permukaan kulit merupakan tempat  hidup daripada mikroorganisme penting, antara lain Propionibacteria acnes, Staphylococcus epidermidis, Pityrosporum ovale, di mana P.Acnes menghasilkan komponen aktif seperti lipase, protease, hialuronidase, dan faktor kemotaktik yang menyebabkan inflamasi (Habif, 2004).
  4. Proses inflamasi; Lesi inflamasi diyakini berkembang dari adanya microcomedones. Terdapat berbagai tipe lesi inflamasi diantaranya papula, pustula dan dapat berkembang lebih dalam lagi menjadi nodula dimana hal ini menyebabkan timbulnya variasi akne (Cunliffe dan Gollnick, 2001).

Post a Comment

Previous Post Next Post