Pernikahan Dini mulai ditinggalkan, yaitu sekitar tahun 80-an (Noe, 2003). Hal itu terjadi karena banyak orang berfikir untuk menyelesaikan studi terlebih dahulu atau meniti karir sebelum menikah, sehingga banyak yang baru menikah di usia 30-an.

Kini tren pernikahan dini kembali muncul dikarenakan merebaknya pergaulan bebas dikalangan remaja . Hal itu terjadi karena remaja saat ini banyak yang berkiblat pada pergaulan ala barat, yang mana kebebasan san gat dijunjung tinggi.

Seorang remaja merasa telah meninggalkan usia anak-anak yang lemah dan penuh dengan ketergantungan, namun di sisi lain ia belum mampu ke usia yang kuat dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya maupun masyarakat.

Kemudian apa akibat pernikahan dini itu sendiri ? pernikahan dini dapat berdampak sebagai berikut:

Banyak orang tua yang khawatir anaknya terjebak dalam pergaulan bebas sehingga mengizinkan mereka untuk menikah diusia muda. Namun banyak juga yang menikahkan anaknya dikarenakan telah hamil pranikah akibat dari pergaulan bebas tersebut.

Pernikahan dini menurut Edi Nur Hasmi seorang psikolog menyatakan akibat pernikahan dini memiliki dua dampak cukup berat.
  1. Dari segi fisik, remaja itu belum kuat, tulang panggulnya masih terlalu kecil sehingga bisa membahayakan proses persalinan. Oleh karena itu pemerintah mendorong masa hamil sebaiknya dilakukan pada usia 20 - 30 tahun.
  2. Dari segi mental pun, emosi remaja belum stabil.
Akibat pernikahan dini lainnya adalah terjadi depresi berat atau neoritis depresi akibat pernikahan dini ini, akan berbeda pada kondisi kepribadian yang berbeda.
  1. Pada pribadi introvert (tertutup) akan membuat si remaja menarik diri dari pergaulan. Dia menjadi pendiam, tidak mau bergaul, bahkan menjadi seorang yang schizoprenia atau dalam bahasa awam yang dikenal orang adalah gila.
  2. Depresi berat pada pribadi ekstrovert (terbuka) sejak kecil, si remaja terdorong melakukan hal-hal aneh untuk melampiaskan amarahnya. Seperti, perang piring, anak dicekik dan sebagainya. Dengan kata lain, secara psikologis kedua bentuk depresi sama-sama berbahaya.