Definisi Seni Drama

Seni drama diwujudkan dari berbagai bahan dasar karena dalam seni drama terkandung seni-seni yang lain. Seni drama sebagai tontonan merupakan perpaduan sejumlah cabang seni diantaranya seni lukis, seni rias, seni musik, seni sastra, dan seni tari. Naskah drama yang dipentaskan di panggung sudah bukan seni sastra lagi, melainkan sudah menjadi seni tersendiri, yaitu seni drama.

Ozdemir (2008:14) drama activities provide lots of opportunities for revealing, supporting and developing creativity. Dengan bermain drama sikap yang dapat menumbuhkan kreativitas, sikap budi pekerti, percaya diri, keberanian menghadapi banyak orang, bertanggung jawab, dan memiliki jiwa seni. Sedangkan keterampilan yang dapat dikembangkan, antara lain memahami, menghayati, menghafal, berkomunikasi, berperan, kemampuan mengaktualisasikan diri kedalam situasi sosial yang dihadapi.

Drama dapat digunakan sebagai sarana dalam menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan dalam berbahasa. Dalam kehidupan sehari-hari siswa sekolah dasar sudah mengaktualisasikan diri dengan teman sebaya. Hal yang sering terlihat pada siswa sekolah dasar, misalnya bermain dengan teman sebaya, bekerjasama, bercakap-cakap dan menirukan adegan di televisi. Melalui drama diharapkan dapat mengembangkan kemampuan komunikasi, kepekaan sosial yang tinggi dan dapat memerankan tokoh drama sesui dengan perwatakannya. Keterampilan bermain drama dapat dikuasai setelah mendapatkan bimbingan. Adanya latihan yang terarah, berencana, berkesinambungan serta pengalaman yang nyata, maka keterampilan bermain drama akan lebih baik.




    Seni drama adalah salah satu perwujudan tertinggi budaya manusia. Usaha menghidupkan sebuah naskah drama berarti suatu usaha yang mengacu pada bentuk, karena bentuk dalam seni drama adalah kehidupan itu sendiri.

    Pengertian Seni Drama

    Pengertian Seni drama yaitu suatu ilusi dari keadaan yang sebenarnya, diperhebat dan dipadatkan. Semakin hebat ilusi, semakin hebat penonton lupa akan keadaan sehari-hari, serta merasa berada dalam dunia khayalan.

    Seni drama adalah jenis seni yang paling langsung berhubungan dan menggambarkan kehidupan dari pada bentuk tulisan yang lain.

    Menarik Untuk Dibaca: Seni Rupa dan Seni tari

    Pengertian Seni drama yang lain adalah salah satu perwujudan tertinggi budaya. manusia. Usaha menghidupkan sebuah naskah drama berarti suatu usaha yang mengacu pada bentuk, karena bentuk dalam seni drama adalah kehidupan itu sendiri.

    Seni drama adalah pesona keseluruhan yang menguasai perasaan, pikiran dan semangat penontonnya.

    Bentuk tertua seni drama adalah wayang dengan berbagai versi, tetapi masih berhubungan erat. (dikenal sejak masa pra-Hindu, dengan mengambil cerita2 Ramayana dan Mahabarata).

    Jenis-Jenis Drama

    Jenis – jenis drama yang dikemukankan oleh Soediro Satoto (1993:107-114) antara lain:

    1. Drama Ajaran
    Drama Ajaran yaitu drama yang lakon-lakon abad pertengahan dengan tokoh yang melambangkan kebaikan, keburukan, kematian, kegembiraan, persahabatan dan sejenisnya. Dalam lakon demikian, biasanya terjadi ketidaksesuaian antara jiwa dan raga: jiwa kemudian berusaha membimbing raga ke jalan yang benar. Di alam baka kemudian ditunjukkan keputusan Illahi yang dijatuhkan pada raga yang berdosa itu, apakah memperoleh pengampunan atau hukuman. Adegan dialam baka tersebut biasanya disajikan dengan menampilkan keempat puteri Tuhan', yaitu: Keampunan dan Kedamian (untuk pengampunan), serta Keadilan dan Kebenaran (untuk hukuman).

    Jenis Drama


    2. Drama Baca (Closet Drama)
    Drama Baca yaitu drama hanya untuk dibaca, tidak dipentaskan. Drama-drama buah karya para sastrawan pada umumnya lebih bersifat 'drama baca' daripada 'drama pentas'.

    3. Drama Pentas (Drama Teateral, Drama Teatrika)
    Drama Pentas yaitu dicipta untuk dipentaskan. Drama pentas disamping memiliki aspek-aspek litere (sastra), terutama memiliki aspek teateral atau aspek teatrikal. Drama-drama yang diciptakan oleh teaterawan dan terutama para sutradara, pada umumnya memang dipersiapkan untuk dipentaskan.

    4. Drama Busana (Make-Up Drama)
    Drama Busana yaitu drama atau lakon dengan latar masa yang berbeda dengan masa kini, sehingga untuk pementasannya memerlukan tata busana khusus.

    5. Drama Masa
    Drama Masa yaitu lakon yang ditulis pada akhir abad XIX.

    6. Drama Duka (Tragedy)
    Drama Duka yaitu drama yang tokoh utamanya menemui akhir yang menyedihkan dan bahkan sering kali kehancuran Drama duka disebut juga tragedi.

    7. Drama Ria (Comedy)
    Drama Ria yaitu drama atau cara bermain yang mengundang tawa karena penonton mengenali kepincangan-kepincangan atau kelucuan-kelucuan serta pertentangan – pertentangan yang menggelikan antara tokoh, watak, kejadian ataupun ujaran-ujaran. Drama ria juga disebut komedi.

    8. Drama Dukaria
    Drama Dukaria yaitu sebuah lakon yang siratan, tragiknya dihindarkan oleh peristiwa-peristiwa jenaka dan dengan demikian berakhir suka (biasanya dengan menggunakan unsure urai paksa). Drama dukaria disebut juga tragedi komedi.

    9. Drama Riadi
    Drama Riadi yaitu drama ria mencapai efeknya melalui tokoh dan watak, alur, bahasa dan satire. Drama Riadi terutama menghimbau akal budi penonton, dan bahkan seringkali mengandung amanat yang serius.

    Baca Juga: Contoh Naskah Drama

    10. Drama Riang (comedy of intrique)
    Drama Riang yakni drama ria yang mencapai efeknya yaitu tawa dan riang dengan cara-cara yang langsung dan dengan menciptakan situasi yang menggelikan tidak melalui watak dan dialog serta alur seperti Drama Riadi.

    11. Drama Riantik
    Drama Riantik yaitu drama yang menunjukkan irama ria yang secara romantic menyajikan kembali kehidupan sebagaimana diangan-angankan penulisanya dan tidak sebagaimana nyatanya.

    12. Drama Romantik ( Romantic Drama)
    Drama Romantik yaitu drama yang ditulis dalam zaman romantic susastraan, yaitu pada akhir abad XVIII sampai pada awal abad XIX terutama drama-drama Jerman Karya Schiller (1959-1805)

    13. Drama Santun
    Drama Santun yaitu drama atau cara bermain yang menyajikan tokoh-tokoh canggih (sophisticated) atau kelas ningrat yang berada dalam keadaan beramah-tamah dan menyoroti serta menyindir kebiasaan serta sikap suatu zaman atau kelas tertentu, dengan menekankan segi adat-istiadat, sopan santun, serta sikap-sikapnya dalam kata-kata, kalimat-kalimat, serta perbuatan-perbuatan jenaka.

    14. Drama Sebabak (one act play)
    Drama Sebabak yaitu karya dramatic yang singkat dan padu. Biasanya terbatas baik dalam hal jumlah pemeran maupun pergantian adegan, peristiwa disajikan dalam alur yang sederhana.

    15. Drama Wiraan
    Drama wiraan yaitu jenis lakon yang ditulis dalam bait-bait sajak berlarik
    ganda yang berirama dan menerapkan sendi-sendi puisiepik pada drama. Jenis ini
    popular di Inggris antara tahun 1664 dan 1678.

    16. Drama Puitik (Peotic Drama)
    Drama Puitik yaitu ragam drama yang mengandung unsure-unsur puitik, baik yang berima, maupun tanpa rima. Dalam kesusastraan Inggris, pola 1/2 uitik yang sering dijumpai dalam ragamnya adalah jenis sajak swarima.

    17. Drama Liris (Liric Drama)
    Drama Liris (Liric Drama) yakni drama yang digunakan untuk puisi dramatik yang menggunakan bentuk drama untuk mengekspresikan tema-tema lisris yaitu perasaan dan pandangan hidup penulis dan tidak mendasarkan kejadian pada ceritanya.

    18. Drama Simbolis (Symbolic Drama)
    Drama Simbolis (Symbolic Drama) yaitu drama yang gaya pementasan drama dimulai pada awal abad XX lebih banyak berurusan dengan simbol-simbol atau lambang-lambang kehidupan serta makna batini daripada dengan obyek-obyek yang berhubungan dengan kenyataan lahir.

    19. Drama Monolog (Monoloque drama)
    Drama Monolog (Monoloque drama) yaitu lakon yang dipentaskan dan pemerannya hanya seorang. Kadang-kadang seorang pemeran tersebut memerankan beberapa peran watak dalam lakon yang dipentaskan itu.

    20. Drama Rakyat (folklore drama)
    Drama Rakyat (folklore drama) yaitu drama yang mengetengahkan orang kebanyakan dan sikap hidup mereka. Di mana yang lampau istilah ini menujuk pada lakon yang memang diciptakan rakyat, sperti pesta rakyat.

    21. Drama Tradisional (tradisional drama)
    Drama Tradisional (tradisional drama) yaitu jenis drama yang sudah mentradisi selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad. Drama tradisional telah akrab dan menyatu dengan publiknya telah merakyat maka sering juga disebut drama rakyat. Tiap-tiap daerah biasanya memiliki drama jenis ini, dengan menggunakan bahasa daerah sebagai mediumnya. Maka sering juga disebut drama daerah.

    22. Drama Modern
    Drama Modern diartikan jenis drama yang menggunakan naskah lakon. Sekarang keterbatasan tersebut ada kelemahannya. Karena sekarang banyak drama modern yang tidak menggunakan naskah. Paling tidak bentuk naskah tidak seperti lazimnya.

    23. Drama Absurd
    Drama Absurd yaitu drama pertengahan abad XX yang lakon-lakonnya menyajikan kesia-siaan segala makna, tujuan, usaha, dan keberhasilan alam semesta. Istilah drama absurd sering disejajarkan dengan drama pemberang (enrage drama). Drama-drama absurd dan drama pemberang, kedua-duanya sangat mendasarkan diri pada kekuatan bahasa. Drama absurd diartikan pula sebagai penulisan drama yang avant-garde. Di dalamnya konvensi tentang struktur alur, penokohan, serta struktur tematik diabaikan atau bahkan disampangi atau dilanggar. Drama absurd juga disebut teater absurd. Teater absurd merujuk kejenis teater yang mula-mula berkembang di Eropa Barat pada tahun 1950-an.

    24. Drama Problema (problem play)
    Drama Problema (problem play) yaitu drama yang menekankan pentingnya problem kemasyarakatan yang dihadapi tokoh-tokohnya dalam menentukan pilihan atau tindakannya.

    25. Drama Sejarah (chronicle play)
    Drama Sejarah (chronicle play) yaitu drama yang ditulis berdasarkan bahan-bahan sejarah berupa peristiwa yang disusun secara longgar dan mengikuti urutan waktu.

    26. Drama Liturgi (liturgical drama)
    Drama Liturgi (liturgical drama) yaitu drama yang dikarang dengan maksud untuk dipertunjukkan sebagai bagian dari upacara keagamaan di gereja. Istilah ini juga mengacu ke drama ajaran dan drama tentang kegaiban yang umum ada pada Abad Pertengahan di Eropa.

    Sedangkan Asul Wiyanto (2002:7-12) menjelaskan bahwa jenis drama dibedakan berdasarkan kegunaannya ada tiga dasar, yaitu berdasarkan penyajian lakon, berdasarkan sarana, dan berdasarkan keberadaan naskah.

    1. Berdasarkan Penyajian Lakon

    Menurut Asul Wiyanto (2002:7-10) jenis drama jika berdasarkan penyajian lakon, sedikitnya drama dapat dibedakan menjadi delapan jenis, yaitu tragedi, komedi, tragekomedi, opera, melodrama, farce, tablo, dan sendratari.

    a. Tragedi
    Herman J Waluyo (2006:39) menjelaskan bahwa tragedi atau drama duka adalah drma yang melukiskan kisah sedih yang besar dan agung. Tokoh-tokohnya terlibat dalam bencana yang besar. Kenyataan hidup yang dilukiskan berwarna romantik atau idealis, sebab itu lakon yang dilukiskan sering kali mengungkapkan kekecewaan hidup karena pengarang mengharapkan sesuatu yang sempurna atau yang paling baik tentang hidup ini. Dialog bersajak menceritakan tokoh utama yang menemui kehancuran karena kelemahannya sendiri, keangkuhan dan sifat iri hati. Tragedi yaitu drama yang melukiskan kisah duka atau kejadian pahit, sedih yang amat dalam. Tujuan naskah ini yaitu agar penonton dapat memandang hidup dan kehidupan secara optimis dikutip dari. Asul Wiyanto (2002:8) menambahkan tragedi adalah drma penuh kesedihan karena pelaku utama dari awal sampai akhir pertunjukan selalu sia-sia ( gagal) dalam memperjuangkan nasibnya yang jelek. Ujung cerita berakhir dengan kedukaan yang mendalam karena maut menjemput tokoh utama. Oleh karena itu, tak jarang penonton ikut merasa sedih bahkan juga dapat menangis.

    b. Komedi
    Komedi (suka cerita) adalah drama penggeli hati, penuh kelucuan yang menimbulkan gelak tawa penonton. Gelak tawa penonton dibangkitkan lewat kata-kata. Kekuatan kata-kata yang dipilih itulah yang membangkitkan kelucuan. Herman J. Waluyo (2006:42) mengatakan daya apresiasi penonton berhubungan dengan pemahaman latar belakang budaya sebuah komedi. Dengan daya apresiasi yang tinggi, seorang penonton mampu memahami sebuah komedi dan mampu ikut tertawa oleh kelucuan yang tersirat dalam komedi itu. Asul Wiyanto (2002:8) menambahkan kelucuan itu sering mengandung sindiran dan kritik kepada anggota masyarakat tertentu. Karena itu, bahan yang digunakan diambil dari kejadian-kejadian yang ada dalam masyarakat.

    c. Tragekomedi
    Menurut Agustinus Suyoto Tragedi komedi yaitu drama yang sebenarnya menggunakan alur dukacita tetapi berakhir dengan kebahagiaan. Asul Wiyanto (2002:8) menambahkan tragekomedi adalah perpaduan antara drama tragedi dan komedi. Isi lakon penuh kesedihan, tetapi juga mengandung hal-hal yang menggembirakan dan menggelikan hati. Sedih dan gembira silih berganti. Kadang-kadang penonton larut dalam kesedihan, kadang-kadang tertawa terbahak-bahak sebagai wujud rasa geli dan gembira.

    d. Opera
    Opera adalah drama yang dialognya dinyanyikan dengan diiringi musik. Lagu yang dinyanyikan pemain satu berbeda dengan lagu yang dinyanyikan pemain lain, demikian pula irama musik pengiringnya. Drama jenis ini memang mengutamakan nyanyian dan musik, sedangkan lakonnya hanya sebagai sarana. Opera yang pendek namanya operet (Asul Wiyanto, 2002:8-9).

    e. Melodrama
    Pengertian Melodrama menurut Asul Wiyanto (2002: 9) adalah drama yang dialognya diucapakan dengan iringan melodi atau musik. Tentu saja cara mengucapkannya sesuai dengan pengiringnya. Bahkan kadang-kadang pemain tidak berbicara apa-apa. Herman J. Waluyo (2006:41) menambahkan melodrama adalah lakon yang sebtimental, dengan tokoh dan cerita yang mendebarkan hati dan mengharukan.

    f. Farce
    Menurut Herman farce yaitu jenis drama yang menyerupai komedi picisan dan biasanya naskah diiringi musik riang. Asul Wiyanto (2002:9) farce adalah drama yang menyerupai dagelan, tetapi tidak sepenuhnya dagelan. Ceritanya berpola komedi, demikian pula gelak tawa yang dimunculkan lewat kata dan perbuatan. Yang ditonjolkan dalam drama ini adalah kelucuan yang mengundang gelak tawa agar penonton merasa senang.

    g. Tablo
    Tablo adalah jenis drama yang mengutamakan gerak. Para pemainnya tidak mengucapkan dialog, tetapi hanya melakukan gerakan-gerakan itu. Bunyi-bunyian pengiring (bukan musik) untuk memperkuat kesan gerakan-gerakan yang dilakukan pemain. Jadi, yang ditonjolkan dalam drama jenis ini kekuatan akting para pemain (Asul Wiyanto, 2002:9)

    h. Sendratari
    Agustinus Suyoto sendratari yaitu drama yang menonjolkan seni suara atau musik. Sendratari menurut Asul Wiyanto (2002:9) adalah gabungan antara seni drama dan seni tari. Para pemain adalah penari-penari berbakat. Rangkaian peristiwa diwujudkan dalam bentuk tari yang diiringi musik. Tidak ada dialog, kadang-kadang dibantu narasi singkat agar penonton mengetahui peristiwa yang sedang dipentaskan. Drama ini memang lebih mengutamakan tari daripada ceritanya, cerita yang digunakan hanya sebagai sarana.

    2. Berdasarkan Sarana

    Menurut pendapat Asul Wiyanto (2002:9) berdasarkan sarana yang digunakan untuk menyampaikan kepada penikmat (penonton, pemirsa, atau pendengar), drama dapat dibedakan menjadi enam jenis. Pendapat Asul Wiyanto dijabarkan sebagai berikut:

    a. Drama Panggung
    Drama panggung dimainkan oleh para aktor di panggung pertunjukan. Penonton berada di sekitar panggung dan dapat menikmati secara langsung dengan cara melihat perbuatan para aktor, mendengarkan dialog, bahkan dapat meraba kalau mau dan boleh.

    b. Drama Radio
    Drama radio tidak bisa dilihat dan diraba, tetapi hanya bisa didengarkan oleh penikmat. Berbeda dengan drama panggung yang bisa ditonton saat dimainkan, drama radio dapat disiarkan langsung dan dapat direkam dulu lalu disiarkan pada waktu yang diklehendaki. Bila mau, dapat pula disiarkan berulang-ulang.

    c. Drama Televisi
    Drama televisi dapat didengar dan dilihat (meskipun hanya gambar). Hamper sama dengan drama panggung, hanya bedanya, drama televisi tak dapat diraba. Drama televisi dapat disiarkan secara lansung , dapat pula direkam dulu ditayangkan kapan saja sesuai dengan program mata televisi.

    d. Drama Film
    Drama film hampir sama dengan drama televise. Bedanya, drama film menggunakan layar lebar dan biasanya dipertunjukkan di bioskop dan penontonnya berduyun-duyun pergi ke bioskop. Namun, drama film dapat juga ditayangkan dari studio televise sehingga penonton dapat menikmati dirumah masing-masing.

    e. Drama Wayang
    Ciri khas tontonan drama adalah ada cerita dan dialog. Karena itu, semua bentuk tontonan yeng mengandung cerita disebut drama, termasuk tontonan wayang kulit (jawa) atau wayang golek (sunda). Para tokoh digambarkan oleh wayang atau golek (boneka kecil) yang dimainkan oleh dalang.

    f. Drama Boneka
    Drama boneka hampir sama dengan wayang. Bedanya, dalam drama boneka para tokoh digambarkan dengan boneka yang dimainkan oleh beberapa orang. Bahkan, kalau bonekanya besar (di dalamnya ada orang) boneka itu dapat bermain sendiri tanpa dimainkan dalang.

    3. Berdasarkan Ada dan Tidaknya Naskah

    Asul Wiyanto (2002:9) berpendapat bahwa berdasarkan ada dan tidaknya naskah yang digunakan, drama dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu drama modern dan drama tradisional, dijabarkan sebagai berikut:

    a. Drama Tradisional
    Drama tradisional adalah tontonan drama yang tidak menggunakan naskah. Kalau toh ada naskah, naskah itu berupa kerangka cerita dan beberapa catatan yang berkaitan dengan permainan drama. Watak tokoh, dialog dan gerak geriknya diserahkan sepenuhnya kepada pemain. Dengan cara seperti ini resiko gagal tentu ada sangat besar. Resiko gagal itu menjadi kecil kalau para pemainnya sudah banyak pengalaman. Ketoprak (Jawa Tengah), ludruk (Jawa Timur) dan lenong (Betawi) adalah contoh drama tradisional.

    b. Drama Modern
    Drama modern menggunakan naskah. Naskah yang berisi dialog dan perbuatan para pemain tersebut benar-benar diterapkan. Artinya, pemain menghafalkan dialog dan berbuat atau melakukan gerak-gerik seperti yang ditulis dalam naskah. Dialog yang sudah dihafalkan itu lalu dicobakan dalam praktik, disertai gerak-gerik seperti yang dikehendaki dalam naskah. Para pemain berlatih berulang-ulang sampai bener-bener bisa memerankan dengan penuh penjiwaan tokoh yang diperaninnya.

    Post a Comment

    Previous Post Next Post