Pengertian Geografi Menurut Para Ahli

Pengertian Geografi Secara Umum

Geografi adalah ilmu yang menggunakan pendekatan holistik melalui kajian keruangan, kewilayahan, ekologi dan siste, serta historis untuk niendiskripsikan dan menganalisis struktur pola, Fungsi dan proses interelasi, interaksi, interdependensi dan hubungan timbal balik dan serangkaian gejala, kenampakan atau kejadian dan kehidupan manusia (penduduk), kegiatannya atau budidayanya dengan keadaan lingkungan di permukaan bumi sehingga dari kejadian tersebut dapat dijelaskan dan diketahui lokasi atau penyebaran, adanya persamaan dan perbedaan wilayah dalam hal potensi, masalah, informasi geografi lainnya serta dapat meramalkan informasi baru atas gejala-gejala geografi untuk masa mendatang dan menyusun dalil-dalil geografi baru, serta selanjutnya dimanfa atkan untuk kesejahteraan manusia.

    Pengertian Geografi Menurut Para Ahli

    1. Sumaatmadja

    Pengertian geografi menurut para ahli yang pertama adalah menurut sumaatmadja, Geografi merupakan ilmu untuk menunjang kehidupan sepanjang hayat dan mendorong peningkatan kehidupan. Lingkup bidang kajian memungkinkan manusia memperoleh jawaban atas pertanyaan dunia sekelilingnya yang menekankan pada aspek spasial dan ekologis dari eksistensi manusia. 

    Geografi merupakan ilmu yang menggunakan pendekatan holistik melalui kajian keruangan, kewilayahan, ekologi dan sistem, serta historis untuk mendiskripsikan dan menganalisis struktur pola. Fungsi dan proses interelasi, interaksi, interdependensi dan hubungan timbal balik dari serangkaian gejala, kenampakan atau kejadian dari kehidupan manusia (penduduk), kegiatannya atau budidayanya dengan keadaan lingkungan di permukaan bumi sehingga dari kejadian tersebut dapat dijelaskan dan diketahui lokasi atau penyebaran, adanya persamaan dan perbedaan wilayah dalam hal potensi, masalah, informasi geografi lainnya serta dapat meramalkan informasi baru atas gejala-gejala geografi untuk masa mendatang dan menyusun dalil-dalil geografi baru, serta selanjutnya dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia. (1997 : 12). 

    2. Menurut DEPDIKNAS

    Pengertian geografi menurut depdiknas, Geografi adalah ilmu untuk menunjang kehidupan sepanjang hayat dan mendorong peningkatan kehidupan yang bidang kajiannya memungkinkan peserta didik memperoleh jawaban atas pertanyaan dunia sekelilingnya yang menekankan pada aspek spasial, dan ekologis dari eksistensi manusia (Depdiknas, 2000 : 533).

    Menarik dibaca juga: Pengertian Seni Rupa

    Pembelajaran Geografi bukan hanya untuk menguasai tentang pengetahuan belaka, tetapi juga untuk mampu menggunakan ilmu yang telah dipelajarinya dan membentuk siswa agar menjadi warga masyarakat yang percaya diri dalam berperan serta secara produktif (Depdiknas, 2000 : 47).

    3. Menurut panitia Ad Hoc Geografi

    Pengertian geografi menurut para ahli ad hoc geografi yang dikutip Nursid Sumaatmadja
    (1997: 10), geografi adalah :
    "Geography seeks to explain how the subsystems of the physical environment are organized on the earth’s surface and how man distributes himself over the earth in relation to physical features and to other man".
    Dalam pengertian ini konsep yang ditekankan pada penjelasan bagaimana lingkungan fisik di permukaan bumi itu dalam hubungan dengan gejala alam tersebut dan dengan sesama manusia sehingga studi geografi berkenaan dengan geosfer, litosfer, atmosfer, hidrosfer, biosfer, antroposfer, penyebaran keruangan gejala alam dan kehidupan, termasuk persamaan dan perbedaan serta analisis hubungan keruangan gejala-gejala geografi di permukaan bumi.

    4. Widoyo Alfandi

    Sedangkan pengertian geografi menurut menurut Widoyo Alfandi, Geografi adalah "Ilmu yang mengunakan pendekatan holistic melalui kajian keruangan, kewilayahan, ekologi dan sistem serta historis untuk mendeskripsikan dan menganalisis struktur pola, fungsi dan proses interelasi, interaksi, interdependensi dan hubungan timbal balik dari serangkaian gejala atau kenampakan dari kehidupan manusia, kegiatannya atau budidayanya dengan keadaan lingkungan di permukaan bumi, sehingga dari kajian tersebut dapat dijelaskan dan diketahui lokasi penyebaran, adanya persamaan dan pebedaan wilayah dalam hal potensi untuk masa mendatang dan menyusun dalil Geografi baru serta dimanfaatkan untuk kesejahteraan kehidupan manusia (Alfandi, 2001: 81)".

    Dari pengertian-pengertian tersebut di atas kemudian digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan hakikat pengajaran Geografi di sekolah. Definisi pengajaran Geografi adalah:

    Pengajaran tentang aspek-aspek keruangan permukaan bumi yang merupakan keseluruhan gejala alam dan kehidupan umat manusia dengan variasi kewilayahannya yang diajarkan ditingkat sekolah dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan mental anak pada jenjang pendidikan masing-masing (Sumaatmadja, 1997: 12).

    Pengajaran Geografi dapat mengembangkan kemampuan intelektual tiap orang secara khusus pula siswa yang mempelajarinya. Pengajaran Geografi dapat meningkatkan rasa ingin tahu dengan melakukan observasi dalam lingkungan, melatih ingatan dan citra terhadap kehidupan dengan lingkungannya dan dapat melatih keterampilan memecahkan masalah kehidupan sehari-hari atau secara lengkapnya Geografi mengandung nilai edukatif yang tinggi. Melalui pengajaran Geografi kemampuan kognitif, afektif serta psikomotor siswa dapat ditingkatkan. Menurut Sumaatmadja "diharapkan pengajaran Geografi benar-benar memberi sumbangan yang nyata terhadap realisasi Tujuan Pendidikan Nasional".(1997: 21).

    Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa melalui pengajaran Geografi yang pada hakikatnya merupakan penggambaran permukaan bumi dengan sagala gejala dan fenomena yang ada (biosfer litosfer, hidrosfer, atmosfer, antroposfer, dll) yang saling berinteraksi dimana dengan pengajaran tersebut diharapkan akan tercapai tujuan pengajaran dan tujuan Pendidikan Nasional melalui jenjang pendidikan yang ada sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.

    Author

    Tentang penulis: T Nurandhari

    Penulis adalah seorang penulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia.

    Follow me on: Twitter | Scholar | Quora |

    Metode Pembelajaran Drill Pelaksanaan dan Tujuan

    Pengertian Metode Pembelajaran Drill

    Seorang guru harus bisa memilih metode pembelajaran yang tepat agar dapat membangkitkan motivasi belajar dan keaktifan siswa yang kemudian akan berdampak pada prestasi belajar siswa dan kualitas pembelajaran. Salah satunya adalah melalui metode pembelajaran drill. Metode drill juga disebut metode latihan.


      Adapun metode drill itu sendiri menurut beberapa pendapat para ahli memiliki pengertian sebagai berikut:
      • Menurut Roestiyah (1991: 25) bahwa metode drill dapat diartikan sebagai cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan agar siswa memiliki ketangkasan dan keterampilan terhadap penyelesaian
      • Menurut Zuhairini, dkk (1983: 106) bahwa metode drill yaitu suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dengan jalan melatih anak-anak terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan.
      • Sedangkan menurut Shalahudin, dkk (1987: 100) metode drill diartikan sebagai suatu kegiatan dalam melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan keterampilan supaya menjadi permanen.
      • Kemudian Syaiful Sagala (2007: 217), juga berpendapat bahwa: Metode latihan atau disebut juga metode training merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaankebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan serta kecakapan.
      Metode Pembelajaran Drill


      Dari beberapa pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode drill adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan melatih siswa agar menguasai pelajaran dan terampil. Dari segi pelaksanaannya siswa terlebih dahulu dibekali dengan pengetahuan secara teori secukupnya. Kemudian dengan tetap dibimbing oleh guru, siswa tersebut ditugaskan mempraktikkannya sehingga menjadi mahir dan terampil.

      Menarik dibaca juga: Metode Pembelajaran Kooperatif

      Dalam mengajarkan kecakapan melalui latihan keterampilan, menurut Winarno Surakhmad (1990: 80) guru harus mengetahui sifat kecakapan seperti:
      • Kecakapan sebagai penyempurnaan dari suatu (konsep) dan berarti bukan hasil satu proses mekanik semata-mata.
      • Kecakapan tidak relevan jika hanya mampu menentukan keterampilan rutin yang dapat dicapai dengan pengulangan yang tidak menggunakan fikiran, karena kecakapan bertindak tidak mempunyai daya sesuai terhadap situasi-situasi baru.
      • Mendapatkan kecakapan adalah suatu proses yang mempunyai dua fase:
        1. Fase integratif, yaitu dimana persepsi tentang arti kecakapan mulai dikembangkan.
        2. Fase penyempurnaan, yaitu dimana ketelitian kecakapan mulai ditingkatkan.
      Menurut Nana Sudjana (1998: 86-87) mengingat latihan ini kurang mengembangkan bakat/inisiatif siswa untuk berfikir, maka hendaknya guru memperhatikan tingkat kewajaran dari metode ini:
      • Latihan, wajar digunakan untuk hal-hal yang bersifat motorik, seperti menulis, perbuatan, permainan dan lain-lain.
      • Untuk melatih kecakapan mental, misalnya perhitungan dan penggunaan rumus-rumus.
      • Untuk melatih hubungan tanggapan, seperti penggunaan bahan, grafik simbol peta dan lain-lain.

      Metode Drill dalam Perspektif Teori Belajar Behavioristik

      Penerapan metode driil dalam penelitian tindakan kelas ini didasarkan pada teori Belajar Behavioristik yang dikembangkan oleh Ivan P. Pavlov dan Edward Lee Thorndike. Teori belajar yang dikembangkan oleh Pavlov, dikenal dengan teori "conditioning", dimana belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu perilaku atau respon terhadap sesuatu.

      Thorndike dalam teori belajarnya menyatakan bahwa di dalam proses belajar, seorang individu (siswa) akan melalui tahap "belajar cobacoba" atau "trial and error". Teori ini mempunyai asumsi dasar bahwa belajar merupakan perubahan perilaku, khususnya perubahan kapasitas individu sebagai hasil belajar.

      Selanjutnya dijelaskan dalam buku yang disusun oleh Gino dkk (1999: 42-43) bahwa:
      "Thorndike mengemukakan tiga prinsip atau hukum utama belajar: Pertama, law of readiness (hukum kesiapan), yaitu bahwa belajar akan berhasil apabila siswa yang belajar telah mempunyai kesiapan melalui perbuatan tersebut. Kedua, law of exercise (hukum latihan), yaitu bahwa belajar memerlukan banyak latihan. Ketiga, law of effect (hukum mengetahui hasil), yaitu bahwa siswa akan bersemangat untuk belajar apabila ia mendapatkan hasil yang baik. Hasil tesebut dapat berupa umpan balik dari prestasi belajarnya."
      Asumsi yang dikembangkan teori belajar behavioristik diterapkan melalui metode pembelajaran drill pada proses pembelajaran di kelas. Metode drill merupakan suatu metode yang menuntut siswa untuk melakukan latihan secara terus menerus.

      Di samping itu, berdasarkan tiga hukum belajar yang dikemukakan Thorndike, respon yang benar akan semakin banyak dimuculkan jika siswa memperoleh latihan yang berulang-ulang (drill). Dengan demikian, dalam setiap proses pembelajaran, latihan menjadi komponen utama yang harus dirancang dan dilaksanakan.

      Tujuan Metode Pembelajaran Drill

      Menurut Pasaribu dan B. Simandjuntak (1986: 112) tujuan metode drill adalah untuk memperoleh suatu ketangkasan, keterampilan tentang sesuatu yang dipelajari anak dengan melakukannya secara praktis pengetahuan-pengetahuan yang dipelajari anak itu dan siap dipergunakan bila sewaktu-waktu diperlukan.

      Menarik Dibaca Juga: Metode Pembelajaran Demonstrasi

      Winarno Surakhmad (1990: 80) dalam bukunya menyatakan bahwa latihan wajar digunakan untuk:
      • Kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan, membuat alat-alat, menggunakan alat-alat (mesin) permainan dan atletik.
      • Kecakapan mental, seperti dalam perkalian, menjumlah, mengenal tanda-tanda (simbol) dan sebagainya. Asosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunan simbol dan membaca peta dan sebagainya.
      Sedangkan menurut Roestiyah N.K (1985: 125-126) dalam strategi belajar mengajar teknik metode drill ini biasanya dipergunakan untuk tujuan agar siswa:
      • Memiliki keterampilan motoris/gerak, seperti menghafal kata-kata, menulis, mempergunakan alat atau membuat suatu benda; melaksanakan gerak dalam olah raga.
      • Mengembangkan kecakapan intelek, seperti mengalikan, membagi, menjumlahkan, mengurangi, menarik akar dalam hitungan mencongak. Mengenal benda/bentuk dalam pelajaran matematika, ilmu pasti, ilmu kimia, tanda baca dan sebagainya.
      • Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan hal lain, seperti sebab akibat banjir-hujan; antara tanda huruf dan bunyi -ing, -ny dan lain sebagainya; penggunaan lambang/simbol di dalam peta dan lain-lain.
      Dari keterangan-keterangan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan dari metode drill adalah untuk melatih kecakapan-kecakapan motoris dan mental untuk memperkuat asosiasi yang dibuat, juga sebagai sarana untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari..

      Kelebihan Metode Pembelajaran Drill

      Menurut Yusuf dan Syaifiil Anwar (1997: 66) kebaikan metode drill adalah:
      • Dalam waktu yang tidak lama siswa dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan.
      • Siswa memperoleh pengetahuan praktis dan siap pakai, mahir dan lancar.
      • Menumbuhkan kebiasaan belajar secara kontinu dan disiplin diri, melatih diri, belajar mandiri.
      Sedangkan menurut Syaiful Sagala (2007: 217) kebaikan dari metode drill, yaitu:
      • Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dengan mempergunakan metode ini akan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.
      • Pemanfaatan kebiasaan tidak memerlukan banyak konsentrasi dalam pelaksanaannya.
      • Pembentukan kebiasaan membuat gerakan-gerakan yang kompleks, rumit menjadi otomatis.
      Dari pendapat kedua tokoh tersebut dapat disimpulkan bahwa kebaikan metode drill yaitu:
      • Dalam waktu yang tidak lama, siswa dapat memperoleh pemahaman materi, kecepatan, dan ketepatan dalam pelaksanaan pembelajaran.
      • Membentuk kebiasaan belajar siswa secara rutin, kontinu, disiplin, dan mandiri.
      • Karena sudah terbentuk kebiasaan-kebiasaan, maka tidak memerlukan banyak konsentrasi dalam pelaksanaan pembelajaran.

      Kekurangan Metode Pembelajaran Drill

      Menurut Team Kurikulum Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya (1981: 45-46) dalam Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM, dan Syaiful Sagala (2007: 218) menguraikan tentang kekurangan dari metode drill sebagai berikut:

      a. Menghambat bakat dan inisiatif siswa
      Mengajar dengan metode drill berarti minat dan inisiatif siswa dianggap sebagai gangguan dalam belajar atau dianggap tidak layak dan kemudian dikesampingkan.

      b. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan
      Perkembangan inisiatif di dalam menghadapi situasi baru atau masalah baru pelajar menyelesaikan persoalan dengan cara statis. Hal ini bertentangan dengan prinsip belajar di mana siswa seharusnya mengorganisasi kembali pengetahuan dan pengalaman sesuai dengan situasi yang mereka hadapi.

      c. Membentuk kebiasaan yang kaku
      Dengan metode latihan siswa belajar secara mekanis. Dalam memberikan respon terhadap suatu stimulus siswa dibiasakan secara otomatis.

      d. Menimbulkan verbalisme
      Setelah mengajarkan bahan pelajaran siswa berulang kali, guru mengadakan ulangan lebih-lebih jika menghadapi ujian. Siswa dilatih menghafal pertanyaan-pertanyaan (soal-soal). Mereka harus tahu, dan menghafal jawaban-jawaban atau pertanyaan-pertanyaan tertentu. Siswa harus dapat menjawab soal-soal secara otomatis.

      Cara mengatasi Kelemahan Metode Drill

      Menurut Syaiful Sagala (2007: 218) ada bermacam-macam usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan metode drill, yaitu:
      • Latihan hanya untuk bahan atau tindakan yang bersifat otomatis
      • Latihan harus memiliki arti yang luas, karenanya:
        1. jelaskan terlebih dahulu tujuan latihan tersebut,
        2. agar murid dapat memahami manfaat latihan itu bagi kehidupan siswa, dan
        3. murid perlu mempunyai sikap bahwa latihan itu diperlukan untuk melengkapi belajar
      • Masa latihan harus relatif singkat, tetapi harus sering dilakukan pada waktu-waktu tertentu.
      • Latihan harus menarik, gembira, dan tidak membosankan
      • Proses latihan dan kebutuhan-kebutuhan harus disesuaikan dengan proses perbedaan individual.
      Dari pendapat diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa beberapa hal yang harus diperhatikan atau cara untuk mengatasi kelemahan metode drill, yaitu:
      • Tujuan harus dijelaskan terlebih dahulu kepada siswa sehingga selesai latihan mereka diharapkan dapat mengerjakan dengan tepat sesuai apa yang diharapkan
      • Lama latihan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa.
      • Selingi saat latihan agar siswa tidak bosan.
      • Perhatikan kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan siswa untuk perbaikan klasikal sedangkan kesalahan perorangan dibetulkan secara perorangan juga.

      Langkah-Langkah Pelaksanan Metode Pembelajaran Drill

      Langkah-langkah dalam pelaksanaan penelitian dengan menerapkan metode drill adalah:
      • Apersepsi yaitu memberikan pendahuluan dengan mengingat konsep-konsep mengenai pelajaran.
      • Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila ada kesulitan
      • Menyampaikan materi pokok bahasan kepada semua siswa, dengan menerangkan kepada siswa dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang kompleks.
      • Memberikan contoh soal dari hal-hal yang lebih kompleks.
      • Menyuruh siswa mengerjakan soal-soal, kemudian membahasnya secara bersama-sama sehingga apabila ada siswa yang masih mengalami kesulitan dapat langsung menanyakan.
      • Memberikan tugas rumah sebagai latihan, soalnya mengambil dari buku pelajaran yang digunakan atau dari guru.
      • Pertemuan berikutnya tugas tersebut diperiksa bersama-sama, sehingga siswa yang tadinya mengalami kesuitan masalahnya cepat terpecahkan.
      • Setelah materi selesai disampaikan diadakan tes.

      Referensi:

      L. Veronica Kartikasari, 2010, Implementasi Metode Pembelajaran.....

      Author

      Tentang penulis: T Nurandhari

      Penulis adalah seorang penulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia.

      Follow me on: Twitter | Scholar | Quora |

      Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

      Pengertian Pendidikan

      Pendidikan merupakan kewajiban yang harus dialami semenjak dari lahir. Karena dari pendidikan itulah akan tahu banyak tentang wawasan di dunia dalam kehidupan ini. Dalam pengertian yang agak luas, pendidikan merupakan seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan perilaku-perilaku manusia dan juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman hidup.

      Dalam bahasa Inggris education (pendidikan) berasal dari kata educate (mendidik) artinya memberi peningkatan (to elicit, to give rise to) dan pengembangan (to evolve, to develop). Menurut KBBI, pendidikan berasal dari kata "didik", lalu kata ini mendapat awalan me- sehingga menjadi "mendidik", artinya memelihara dan memberi latihan (1991: 232).


        UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 pasal I menyatakan bahwa pengertian pendidikan "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara".

        Sukmadinata menyatakan bahwa "pendidikan merupakan kegiatan mengoptimalkan perkembangan peserta didik, kecakapan dan karakteristik pribadi peserta didik" (2006: 24). Konteks tersebut mengandung pengertian bahwa pendidikan tidak dapat dimaknai sekedar membantu pertumbuhan secara fisik saja, tetapi juga keseluruhan perkembangan moral manusia dalam konteks lingkungan manusia yang memiliki peradaban.

        Pengertian Pendidikan Karakter

        Pendidikan dengan kata lain merupakan proses di mana masyarakat melalui sekolah, perguruan tinggi, universitas, dan institusi lain dengan sengaja mewariskan budayanya yakni berupa akumulasi pengetahuan, nilai, dan ketrampilan dari generasi ke generasi yang lain. Laska juga menyatakan bahwa : "Education is one of the most important activities in which human beings engage. It is by means of the educative process and its role in transmitting the cultural heritage from one generation to the next that human societies are able to maintain their existence" (1976: 3), yang artinya pendidikan merupakan salah satu aktivitas yang paling penting dimana melibatkan manusia. 

        Pendidikan merupakan sarana proses mendidik dan perannya di dalam meneruskan warisan budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya, sehingga masyarakat manusia bisa mempertahankan keberadaan mereka.

        Berdasarkan definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah sebuah usaha sadar yang terstruktur dalam mewujudkan proses pembelajaran guna memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan perubahan tingkah laku yang dilakukan dengan berbagai proses sehingga mampu meningkatkan dan mengembangkan apa yang dipelajari serta mampu mewariskan budaya bangsa yang luhur.

        Pengertian Karakter

        Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

        Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah "bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak". Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak". Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti "to mark" atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

        Menarik dibaca juga: Tipe-tipe karakter


        Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan karakter sebagai tabiat, perangai dan sifat-sifat seseorang. Berkarakter diartikan dengan mempunyai kepribadian, adapun kepribadian diartikan dengan sifat khas dan hakiki seseorang yang membedakan seseorang dari orang lain.

        Ki Supriyoko dalam Bagus Mustakim menyatakan bahwa "Dalam bahasa yang sederhana karakter sama dengan watak, yaitu pengembangan jati diri seseorang itu sendiri. Karakter seseorang lebih mencerminkan jati diri dari pada aspek kepribadian manusia yang lainnya seperti identitas, intelektual, keterampilan dan lain sebagainya" (2011: iii).

        Karakter juga sering diidentikkan dengan budi pekerti atau akhlak. Furqon Hidayatullah menyatakan bahwa "karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang membedakan dengan individu yang lain" (2010: 9). Seseorang yang karakternya baik identik bahkan sama dengan orang yang budi pekertinya luhur atau akhlaknya baik (akhlakul karimah), sementara itu orang yang karakternya buruk identik bahkan sama dengan orang yang budi pekertinya tidak luhur atau akhlaknya tidak baik. Gede Raka dkk menyatakan bahwa: "secara umum karakter dikaitkan dengan sifat khas atau istimewa, atau kekuatan moral, atau pola tingkah laku seseorang" (2011: 36). Bagus Mustakim membagi karakter yang lahir dalam perjalanan sejarah manusia menjadi 5 bagian, yaitu:

        1. Karakter Intelektual yaitu karakter yang ada pada diri seseorang di mana dengan modal karakter tersebut dapat terselesaikanlah persolan-persoalan hidup. Karakter ini juga bisa dimaknai dengan karakter yang ada pada diri manusia sehingga mampu menemukan berbagai nilai dalam kehidupannya. Nilai-nilai tersebut dijadikan pondasi dalam sistem masyarakat yang dijaga dan dilestarikan untuk kepentingan bersama.
        2. Karakter Teologis yaitu karakter pada manusia yang hidup secara patuh dan taat pada nilai-nilai ketuhanan/ keagamaan.
        3. Karakter Humanis yaitu karakter pada manusia yang lahir dari kemampuannya memahami realitas di sekitarnya secara obyektif dan ilmiah.
        4. Karakter Modernis yaitu karakter pada manusia yang lahir dari kemampuannya memahami realitas secara rasional dan saintifik. Rasional artinya menjadikan kekuatan rasio sebagai kekuatan tunggal yang sangat menentukan, sedangkan saintifik berarti menganggap adanya suatu kebenaran essensial dan universal yang didasarkan pada langkah-langkah tertentu (metode ilmiah).
        5. Karakter Postmodernisme yaitu karakter pada manusia yang menunjukkan penerimaan atas kondisi masyarakat yang pluralitas, heterogenitas dan fragmentalisme. Hal tersebut merupakan sebuah keniscayaan, bukan merupakan halangan namun adalah sebagai potensi positif untuk berkompetisi secara sehat menuju kebaikan bersama. (2011: 30-37).

        Beberapa karakter tersebut dapat dinyatakan bahwa manusia yang berkarakter adalah manusia yang di dalam dirinya memiliki sifat-sifat kebajikan/kebaikan yang terpancar dalam setiap aktivitasnya sehari-hari atau dengan kata lain seperti yang dinyatakan oleh Furqon Hidayatullah bahwa "seseorang dapat dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki oleh masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya" (2010:10).

        Berdasarkan definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakter adalah aktualisasi dari kepribadian seseorang yang diwujudkan dalam sikap, tingkah laku, tutur kata dan cara memandang seseorang sehingga dapat di tentukan apakah orang tersebut orang baik (berkarakter mulia) atau orang tidak baik (berkarakter jelek).

        Pengertian Pendidikan Karakter

        Pendidikan adalah sebuah proses memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan perubahan tingkah laku yang dilakukan dengan berbagai proses sehingga mampu meningkatkan dan mengembangkan apa yang dipelajari. Karakter adalah aktualisasi dari kepribadian seseorang yang diwujudkan dalam sikap, tingkah laku, tutur kata dan cara memandang seseorang sehingga dapat di tentukan apakah orang tersebut orang baik (berkarakter mulia) atau orang tidak baik (berkarakter jelek).

        Slamet Imam Santoso mengemukakan bahwa tujuan pendidikan yang murni adalah menyusun harga diri yang kukuh-kuat dalam jiwa pelajar, supaya kelak dapat bertahan dalm masyarakat. Di bagian lain juga menjelaskan bahwa pendidikan bertugas mengembangkan potensi individu semaksimal mungkin dalam batas-batas kemampuannya, sehingga terbentuk manuasia yang pandai, terampil, jujur, tahu kemampuan dan batas kemampuannya, serta mempunyai kehormatan diri. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pembinaan watak juga merupakan tugas utama pendidikan (Hidayatullah, 2010: 10).

        Ryan dan Bohler memberikan penjelasan "bila karakternya baik maka akan dimanifestasikan dalam kebiasaan baik di kehidupan sehari-hari : pikiran baik, hati baik, dan tingkah laku baik. Berkarakter baik berarti mengetahui yang baik, mencintai kebaikan dan melakukan yang baik" (Gede Raka dkk, 2011: 36). Telaah mengenai karakter hampir selalu dikaitkan dengan konsep kebajikan. Kebajikan adalah karakteristik yang bisa diterima oleh semua orang, artinya antara konsep tentang karakter dan kebajikan adalah dekat.

        Gede Raka dkk menyatakan bahwa dalam setiap kebajikan teridentifikasi ada kekuatan karakter/character strenght (2011: 34). Patterson dan Seligmen menyebutkan ada enam kategori kebajikan yang di dalamnya ada kekuatan karakternya, yaitu:
        1. Kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge) yaitu kekuatan kognitif yang berkaitan dengan penambahan dan penggunaan pengetahuan. Kekuatan karakter yang teridentifikasi berupa kreativitas (orisinil dan banyak ide), memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berfikiran terbuka, memiliki semangat dalam belajar dan berwawasan.
        2. Keberanian (courage) yaitu kekuatan emosional yang mencakup kemuan yang kuat untuk mencapai suatu tujuan di tengah-tengah tentangan yang dihadapi, baik dari dalam maupun dari luar. Kekuatan karakter yang teridentifikasi adalah keberanian (bravery) - tidak takut menghadapi ancaman, tantangan, kesulitan atau kesakitan-, kegigihan, integritas (ketulusan dan kejujuran) dan vitalitas (menjalani kehidupan dengan kegembiraan dan penuh semangat).
        3. Kemanusiaan (humanity) yaitu kekuatan interpersonal yang mencakup ketulusan merawat, membantu, sikap bersahabat, dan menjaga orang lain. Kekuatan karakter yang yang teridentifikasi adalah kasih (love), kebaikan hati (kedermawanan, kepeduliaan, welas asih, santun, tanpa pamrih) dan kecerdasan sosial (kecerdasan emosional, kecerdasan personal).
        4. Keadilan (justice) yaitu sifat baik warga masyarakat yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat yang sehat. Kekuatan karakter yang teridentifikasi adalah kewargaan (tanggung jawab sosial, loyalitas, teamwork), berkeadilan (fairness) dan kepemimpinan.
        5. Pembatasan diri (temperance) yaitu sifat baik yang menghindarkan seseorang dari ekses (sikap atau perbuatan yang melewati batas). Kekuatan karakter yang teridentifikasi adalah kesediaan memaafkan dan belas kasihan (forgivness and mercy), kerendahan hati/kesederhanaan, kehati-hatian dan pengendalian diri.
        6. Transendensi (transedence) yaitu kekuatan untuk melihat hubungan dengan alam dan merasakan maknanya. Kekuatan karakter yang teridentifikasi adalah apresiasi terhadap keindahan dan keistimewaan (appreciation of beuty and excellence), rasa syukur, harapan (optimisme, orientasi ke masa depan), humor dan spiritualitas (memiliki keyakinan tentang tujuan yang lebih tinggi) (Gede Raka dkk, 2011:39-43).

        Untuk mewujudkan kekuatan karakter pada siswa maka perlu adanya penerapan pendidikan karakter pada siswa yang dilakukan sekolah-sekolah. Pendidikan karakter merupakan suatu usaha penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut yang dilakukan secara sistematis. Dalam pendidikan karakter di sekolah, khususnya SMK semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen komponen pendidikan itu sendiri, meliputi isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, dan etos kerja para guru. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter.
        Bagus Mustakim mendefinisikan "Pendidikan karakter sebagai suatu proses internalisasi sifat-sifat utama yang menjadi ciri khusus dalam sebuah masyarakat ke dalam peserta didik sehingga dapat tumbuh dan bekembang menjadi manusia dewasa sesuai dengan nilai-nilai tersebut" (2011: 29).

        Ratna Megawangi dalam Adian Husaini (2010)juga mendefinisikan pendidikan karakter bahwa:

        Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk mengukir akhlak dengan proses knowing the good, loving the good, and acting the good. Yakni suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi dan fisik, sehingga akhlak mulia dapat terukir menjadi habit of the mind, hearth, and hands.

        Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata, yaitu tingkah laku yang baik, jujur bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya (Lickona, 1991).

        Pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya/psikomotor (Kementrian Pendidikan Nasional, 2011:1).

        Pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action). Pendidikan karakter menekankan pada habit atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan dilakukan.

        Pendidikan karakter dapat juga diartikan segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik, sehingga karakter peserta didik menjadi karakter yang mulia. Guru dan lembaga sekolah membantu membentuk watak peserta didik, hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya serta kebijakan-kebijakan sekolah mengenai penerapan pendidikan karakter.

        Referensi:

        Fatmawati Nur Hasanah, 2012, Penerapan Pendidikan Karakter.....

        Author

        Tentang penulis: T Nurandhari

        Penulis adalah seorang penulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia.

        Follow me on: Twitter | Scholar | Quora |

        Macam-macam Tari dan Fungsi Tari

        Pengertian seni tari adalah ciptaan manusia berupa gerak-gerak ritmis yang indah. Arti indah disini sebenarnya, pertama menunjuk pada keteraturan susunan bagian dari bentuk tari secara organik, kedua beberapa unsur ataupun pola yang menyatukan bagian-bagiannya, dan ketiga adalah sesuatu yang bersangkutan dengan isi atau makna maupun pesan-pesan yang dikandungnya. Arti tarian yang indah bukan hanya sekedar ketrampilan para penarinya membawakan dengan gerakan lemah gemulai, tetapi bagaimana bentuk seni tari itu dapat mengungkapkan makna maupun pesan tertentu sehingga dapat mempesona (Hadi, 2005).

          Macam Tari

          Berdasarkan pola garapannya, tari dibagi menjadi empat macam tari yaitu tari klasik, tari tradisi, tari rakyat dan tari modern.

          Tari Klasik

          Tari Klasik adalah macam tari yang pertama. Istilah tari klasik di lingkungan kraton biasa disebut beksan atau joged. Di kamus-kamus Jawa umumnya mengemukakan kata "beksa" sebagai ekuivalen karma (karma inggil) untuk joged. Jika kata joged di dalam bahasa Jawa sekarang ini dapat digunakan untuk segala macam gerak-gerik tari, maka kata beksa hanya terdapat di dalam hubunganya dengan koreografi-koreografi yang distilisasi, tersusun serta dipergelarkan sesuai dengan jumlah peraturan atau patokan kompleks (Brakel, 1991).

          Beksan klasik cenderung tidak dicirikan oleh mutu kehalusannya, tetapi oleh mutu penggayaan (stilisasi), pengorganisasian, dan penyusunan artistik gerak-geriknya, yang didasarkan atas kombinasi konsep-konsep filsafat dan naratif, yang juga terdapat di dalam kesusasteraan dan seni lakon Jawa. Hal ini dimaksudkan bahwa penyusunan demikian itu lahir dari konteks, dimana tari dipraktekkan secara tradisional, suatu konteks yang terutama bersifat ritual dan seringkali juga dramatis (Brakel, 1991). Ada beberapa contoh tarian Jawa klasik, yaitu :

          • Tari Bedhaya adalah tarian yang bersifat suci dan sakral. Tarian ini hanya dipentaskan di kraton pada momen tertentu. Salah satu tari bedhaya yang terkenal adalah bedhaya ketawang yang dipentaskan oleh sembilan penari.
          • Tari Serimpi adalah tari klasik dan suci yang dipentaskan oleh empat orang penari. Empat orang penari serimpi ini menggambarkan empat elemen pembentuk kehidupan, yaitu air, api, bumi, dan angin.
          •  Tari Gambyong adalah tari klasik yang biasa dipentaskan untuk acara menyambut tamu, upacara hari besar, atau perkawinan. Tari gambyong ini berasal dari penarinya, yaitu Nyi Mas Ajeng Gambyong.
          • Tari Golek adalah tari klasik yang dipentaskan oleh satu orang penari atau lebih. Tari golek menggambarkan seorang gadis yang sedang berdandan.
          • Tari Topeng adalah tari yang dimainkan oleh penari yang menggunakan topeng. Sejak perkembangan Islam, tari ini makin popular karena digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk berdakwah. Bahkan, Sunan Kalijaga menciptakan beberapa tari topeng, seperti tari topeng panji ksatrian, condrokirono, dan penthul tembem (Ruhmat, 2011).

          Tari klasik juga disebut tari tradisional kebangsawanan yang tumbuh dan berkembang secara turun temurun di lingkungan kebudayaan kaum bangsawan. Tari klasik telah mencapai penyempurnaan artistik yang tinggi dan telah mengalami perkembangan yang panjang (Hidayat, 2005).
          macam dan fungsi tari

          Tari klasik sejak masa lampau berkembang di Indonesia, pendidikan tari secara non formal berlangsung di luar sekolah-sekolah swasta maupun negeri. Sebaliknya di pulau Jawa, pendidikan tari berlangsung di dalam tembok istana kerajaan, seperti di Kasultanan Yogyakarta dan Mangkunegaran Surakarta. Para raja-raja atau para bangsawan bertindak sebagai masenas bahkan tidak jarang di antara mereka merupakan pencipta tari yang unggul.

          Tari Tradisi

          Macam tari yang kedua adalah tari tradisi. Tari tradisi merupakan bentuk tari yang mengkiblat tari klasik yang hidup di lingkungan istana atau kraton, mengikuti pola-pola gerak yang sudah ada mempunyai patokan-patokan atau semacam aturan, sifatnya turun-temurun dari nenek moyang, umurnya belum tentu tua, kualitasnya belum tentu baik atau belum tentu berbobot dan tempat pertunjukan selain di pendapa bisa juga di panggung teater dan panggung terbuka.

          Tari Rakyat

          Tari rakyat adalah tarian yang tumbuh dan berkembang dari daerah tertentu. Because of the deep-seated nationalism that characterized the formation of new states throughout the twentieth century, the collecting of folk dance, as with all folklore, constituted an element in the construction of ethnicity, identity, and the nation-state itself (karena nasionalisme yang mendalam ditandai dengan pembentukan negara baru sepanjang abad kedua puluh terjadi pengumpulan tarian rakyat, karena dengan cerita rakyat, dapat menjadi unsur dalam pembangunan etnis, identitas bangsa, dan jati dirinya) (Shay, 2008). Selain itu, Ruhmat juga memberikan penjelasan berbeda dengan tari klasik yang mempunyai aturan dan pakem tertentu, tari tradisional ini lebih bebas sesuai dengan ciri khas daerahnya. Beberapa contoh tari tradisional :
          • Tari Sintren dari Pekalongan, Tari sintren dikenal sebagai tarian mistis. Gadis yang akan menari didandani dengan memakai kain dan kebaya, kemudian dimasukkan ke dalam karung, diikat kuat-kuat, lalu ditutup dengan sangkar ayam. Setelah ditutup, pengiring lagu-lagu dalam sintren berdendang. Dalam waktu singkat sangkar dibuka. Saat dibuka itulah penari Sintren sudah berganti busana dan dandanan, tidak ketinggalan memakai kacamata hitam.
          • Tari Dolalak dari Purworejo
          • Tari Jathilan dari Magelang
          • Tari Patholan dari Rembang
          • Tari Jaran Kepang dari Temanggung (2011).

          Tari Modern (Kreasi Baru)

          Menurut Hidayat (2005) tari modern merupakan tari yang lepas kaidah-kaidah atau konvensi tradisional. Sebuah gerakan (tari) yang ingin membangun sebuah pernyataan baru dan memiliki kebebasan penuh dalam berekspresi dengan maksud, seniman tidak memiliki ikatan-ikatan hubungannya dengan konvensi seni sebelumnya. Tari modern jenis tari yang berkembang sejak awal abad XIX muncul karena reaksi ketat dari tari klasik. Beberapa jenis tari modern dapat dibedakan sebagai berikut:

          • Tari Modern murni, yaitu tari modern yang bertolak dari kemampuan teknik tubuh penari. Dikembangkan atas kesadaran bahwa tubuh manusia mempunyai kemampuan sendiri. Estetika tari modern murni mengarah pada kebebasan penggambaran ide.
          • Tari Modern modifikasi unsur tradisional (tari kreasi baru), yaitu tari modern yang dikembangkan dari unsur-unsur tari tradisional (tari etnis). Tari modern sebagai reaksi mengatasi titik jenuh dari kemapanan tari yang dianggap telah mencapai supremasi tinggi.
          • Tari Kontemporer, yaitu tari modern yang mengambil tema-tema yang bersifat up to date. Tari kontemporer lebih mengedepankan kekinian. Jenis tari kontemporer memberikan tanggapan terhadap realitas yang sedang terjadi saat ini, menanggapi problematik sosial budaya, politik, ekonomi dan berbagai hal yang tidak pernah dijumpai pada waktu yang lampau.

          Fungsi Tari

          Pengertian mengenai fungsi tari hubungannya dengan keberadaan tari dalam masyarakat bukan hanya untuk aktifitas kreatif, tetapi lebih mengarah pada kegunaan. Keberadaan tari memiliki nilai guna dan hasil guna yang memberikan manfaat pada masyarakat, khususnya dalam mempertahankan kesinambungan sosial. Sejumlah tari ada juga yang digunakan sebagai penyambutan (ceremonial). Tarian juga difungsikan untuk pendukung menyemarakkan perhelatan atau hajat pribadi seperti khitanan, pernikahan, atau hajat nadar (membayar janji) (Hidayat, 2005).

          Menarik Dibaca Juga: pengertian tari

          Seni tari telah berkembang menjadi suatu sarana untuk menyatakan cerita-cerita babad, konsep-konsep dan perasaan yang juga dinyatakan melalui karya-karya seni lainnya, seperti misalnya seni sastra, seni lukis, dan seni bangunan. Bagi sebagian besar orang Jawa menari merupakan suatu sarana identifikasi dengan para pahlawan dan pahlawati, yang mewujudkan cita-cita kebudayaan orang Jawa.

          Sesuai dengan pernyataan Brakel (mengutip simpulan Atmadibrata, 1978) bahwa tari bukan hanya gerak fisik yang indah berirama, yang tampil di pentas serta dilakukan oleh sekelompok pelaku, dan ditangkap oleh sekelompok yang disebut penonton. Tari semula tumbuh karena kebutuhan manusia dalam rangka menemukan keserasian dengan lingkungan, guna mempertahankan kesinambungan hidupnya. Maka tumbuhlah tari untuk mempertautkan diri dengan kekuatan gaib yang menguasai diri dan lingkungannya (1991: 20).

          Menurut Soedarsono (mengutip simpulan Kurath, tanpa tahun) secara rinci mengutarakan ada 14 fungsi tari dalam kehidupan manusia yaitu: 
            • Inisiasi kedewasaan,
            • Percintaan, 
            • Persahabatan, 
            • Perkawinan, 
            • Pekerjaan, 
            • Pertanian, 
            • Perbintangan, 
            • Perburuan, 
            • Menirukan binatang, 
            • Menirukan perang, 
            • Penyembuhan, 
            • Kematian, 
            • Kerasukan, 
            • Lawakan (1998: 55-56).

          Sesuai pernyataan Hidayat (2005), perkembangan fungsi tari pada jaman modern lebih mengarah pada bentuk presentasi artistik sehingga muncul bentuk-bentuk tari yang berfungsi sebagai hiburan (tontonan). Tari sebagai seni tontonan dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu :

          1. Tari sebagai tontonan bersifat show atau intertenment dan untuk atraksi wisatawan. Tarian ini lebih mengedepankan segi fisik, penari yang cantik, gerak yang jelas (detail), komposisi yang rapi, atau kostum yang glamour. Tari yang mementingkan show selalu mengikuti trend jamannya, sehingga memiliki kecenderungan bersifat pop dance.
          2. Tari sebagai presentasi concert (konser) atau performance. Bentuk sajian tari lebih mementingkan aspek pengolahan tata artistik, artinya selalu melihat mutu koreografi. Idealistik, dan kerja yang tidak hanya berorientasi pada upaya membuat penonton senang atau terhibur.
          Lebih lanjut Soedarsono (1998) menjelaskan hanya ada enam fungsi tari saja yang sekarang ini berkembang. Keenam fungsi tersebut adalah : 

          1. Refleksi dari organisasi sosial. 
          2. Sarana ekspresi untuk ritual, sekuler, dan keagamaan.
          3. Aktifitas rekreasi atau hiburan.
          4. Refleksi ungkapan estetis.
          5. Ungkapan serta pengendoran psikolog.
          6. Refleksi dari kegiatan ekonomi.
          Ada juga fungsi tari yang cukup tua dalam sejarah kehidupan manusia, yaitu fungsi tari sebagai sarana untuk mengungkapkan rasa kegembiraan atau tari suka cita. Meskipun tari ini tergolong tari yang bersifat sekular (keduniawian), tetapi merupakan sebuah pernyataan yang bersifat manusiawi, yaitu bentuk tari sosial (social dance).

          Menurut Hadi (2005) dalam buku berjudul "Sosiologi Tari" menyatakan bahwa fungsi tari ada lima macam yaitu:
          1. Bentuk keindahan.
          2. Bentuk kesenangan.
          3. Sarana komunikasi.
          4. Sistem simbol.
          5. Bentuk makna kultural yaitu berupa ide atau gagasan.
          Sejalan dengan perkembangan seni tari di berbagai belahan dunia dan juga di Indonesia, sekarang semakin tampak keragaman fungsi tari dalam kehidupan masyarakat. Tari yang awalnya berfungsi sebagai pemujaan, kini dapat juga berfungsi sebagai tontonan, konser ataupun sebagai media pendidikan yang dapat dikembangkan dan diturunkan dari masa ke masa (Hidayat, 2005).

          Referensi:

          Arief Jaka Wicakasana, 2013, Peranan Sanggar Soerya.....

          Author

          Tentang penulis: T Nurandhari

          Penulis adalah seorang penulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia.

          Follow me on: Twitter | Scholar | Quora |

          Psikologi: Tipe-tipe Kepribadian Seseorang

          Setiap individu mengadakan orientasi terhadap dunia sekitarnya dengan cara yang berbeda antara individu yang satu dengan yang lain. Ada individu yang dipengaruhi dunia objektif (dunia luar dirinya) yang memiliki orientasi keluar atau ekstrovert dan akan disebut sebagai individu tipe ekstrovert apabila menjadi kebiasaan. Sedangkan individu yang memiliki orientasi ke dalam dan lebih dipengaruhi dunia subjektif (dunia dalam dirinya) disebut introvert. Disebut sebagai individu tipe introvert apabila menjadi kebiasaan (Sunaryo, 2002).


            Menurut Siagian, 1986 (dalam Rachmawati dkk., 2002) kepribadian seseorang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk sikap, cara berpikir, dan cara bertindak. Sikap, cara berpikir, dan cara bertindak tidak sama antar individu yang satu dengan yang lain. Jung (dalam Boeroee, 2006) mengembangkan sebuah tipologi kepribadian, yaitu tipologi kepribadian ekstrovert dan tipologi kepribadian introvert. Seseorang yang introvert adalah seseorang yang lebih mementingkan dunia internal pikiran, perasaan, fantasi, dan mimpi mereka, sedangkan seseorang yang ekstrovert lebih mementingkan dunia eksternal yang terdiri atas segala benda, orang lain, dan aktivitas-aktivitas luar. 

            Pengertian Tipe Kepribadian

            Kepribadian dalam bahasa Inggris dikenal dengan personality yang berasal dari bahasa Latin persona dan mempunyai arti topeng. Menurut Jung (dalam Hall dan Lindsey, 1993) persona adalah topeng yang dipakai sang pribadi sebagai respons terhadap tuntutan-tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat serta terhadap kebutuhan-kebutuhan arketipal sendiri (suatu bentuk pikiran universal yang mengandung unsur emosi yang besar). Persona merupakan peranan yang diberikan masyarakat terhadap seseorang. Tujuan topeng ini adalah untuk menciptakan kesan tertentu pada orang lain, dan sering kali menyembunyikan hakikat dirinya yang sebenarnya, namun tidak selalu menyembunyikan hakikat dirinya yang sebenarnya. Persona adalah kepribadian publik, aspek-aspek pribadi yang ditunjukkan kepada dunia atau pendapat publik yang melekat kepada individu (Hall dan Lindsey, 1993).
            Menarik dibaca juga: Pengertian Kepribadian
            Eysenk (dalam Hall dan Lindsey, 1993) mendefinisikan kepribadian sebagai gabungan dari fungsi secara nyata maupun fungsi potensial pola organisme yang ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan. Kepribadian awal akan tumbuh melalui interaksi empat macam fungsional yaitu sektor kognitif (inteligensi), sektor konatif (karakter), sektor afektif (temperamen) dan sektor somatis (konstitusi).


            Para ahli psikologi memberikan definisi kepribadian yang berbeda-beda. Tidak ada satupun definisi yang diterima untuk mendefinisikan kepribadian secara menyeluruh. Para ahli psikologi kepribadian mengembangkan teori kepribadian yang unik karena setiap ahli kepribadian memandang dari sudut yang berbeda (Feist, 1985). Tiap definisi tidak ada yang benar atau salah, namun definisi-definisi yang ada memperkaya bidang psikologi sebagai ilmu pengetahuan (John, 1966).

            Jung (dalam Hall dan Lindsey, 1993) membedakan dua sikap atau orientasi utama kepribadian. Sikap tersebut adalah sikap ekstraversi (ekstrovert) dan sikap introversi (introvert). Ia menyatakan bahwa sikap tipe kepribadian ekstrovert mengarahkan pribadi ke dunia luar, dunia obyektif, sedangkan sikap introvert mengarahkan pribadi ke dalam, ke dunia subyektif.

            Eysenk (dalam Suryabrata, 2005) berpendapat adanya tipe kepribadian ekstrovert dan introvert. Penelitiannya terhadap 10.000 orang neurotis dan normal yang dilangsungkan pada waktu Perang Dunia II menemukan dua variabel yang fundamental. Eysenk dengan analisis faktor, menemukan dua faktor dasar yaitu neuroticism dan introversion-extravesion. Setelah kedua dimensi diterapkan, maka Eysenk dan pembantu-pembantunya mengadakan penyelidikan yang lebih luas untuk menentukan ciri-ciri dimensi tersebut. Hasil akhir penyelidikan Eysenk adalah pencandraan mengenai introvert dan ekstrovert.

            Menurut Eysenk (dalam Boeroee, 2006) seseorang yang ekstrovert memiliki kendali diri yang kuat. Ketika dihadapkan pada rangsangan-rangsangan traumatik, otak ekstrovert akan menahan diri, artinya tidak akan terlalu memikirkan trauma yang dialami sehingga tidak akan terlalu teringat dengan apa yang telah terjadi. Sebaliknya, orang introvert memiliki kendali diri yang buruk. Ketika mengalami trauma, otak tidak terlalu sigap melindungi diri dan berdiam diri, akan tetapi justru membesar-besarkan persoalan dan mempelajari detail-detail kejadian, sehingga orang ini dapat mengingat apa yang terjadi dengan sangat jelas.

            Seiring dengan perkembangan jaman teori kepribadian Jung terus diperbarui. Awalnya Jung hanya mengungkapkan teori tentang tipe kepribadian ekstrovert dan introvert. Namun kemudian Jung menemukan bahwa terdapat beberapa orang yang tidak dapat masuk ke dalam tipe kepribadian ekstrovert maupun introvert. Orang-orang tersebut cenderung untuk memiliki karakteristik dari kedua tipe tersebut.

            Jung kemudian menambahkan satu tipe kepribadian selain tipe kepribadian ekstrovert dan introvert, yaitu tipe kepribadian ambivert. Orang dengan tipe kepribadian ambivert bukan termasuk ekstrovert ataupun introvert tetapi ada diantara keduanya (Branca, 1965).

            Ambiversion adalah kecenderungan seseorang untuk memperlihatkan karakteristik tipe kepribadian ekstrovert dan introvert secara seimbang (Bos, 2007). Karakteristik ekstrovert maupun introvert pada diri seseorang dengan tipe kepribadian ambivert tidak menyolok tetapi berada diantara keduanya ( Kartono & Gulo, 2003).

            1. Kepribadian Ekstrovert

            Menurut Sunaryo (2002) orang-orang dengan tipe kepribadian ekstrovert memiliki ciri-ciri antara lain orientasinya lebih banyak tertuju ke luar (lahiriah). Pikiran, perasaan dan tindakan orang-orang dengan tipe kepribadian ekstrovert terutama ditentukan oleh lingkungan sosial maupun non sosial di luar dirinya. Sifatnya positif terhadap masyarakat, cepat beradaptasi dengan lingkungan, tindakan cepat dan tegas, hatinya terbuka, mudah bergaul dan hubungan dengan orang lain lancar.

            Kelemahan orang-orang dengan tipe kepribadian ekstrovert adalah perhatian terhadap dunia luar terlalu kuat yang akan membuatnya tenggelam dalam dunia objektifnya, sehingga akan mengalami kehilangan dirinya atau asing terhadap dunia subjektifnya. Di samping itu, mereka cenderung cepat melakukan tindakan tanpa pertimbangan yang matang.

            Orang dengan tipe kepribadian ekstrovert lebih efektif belajar melalui pengalaman yang konkret, kontak dengan dunia luar dan berhubungan dengan orang lain. Mereka akan merasa lebih bersemangat ketika bersama orang lain dan berinterakasi dengan mereka, serta sering dapat mengungkapkan ide terbaik mereka jika dapat mengungkapkannya pada orang lain. Mereka tergantung pada stimulasi dari luar dan interaksi dengan orang lain.

            2. Kepribadian Introvert

            Menurut Sunaryo (2002) orang-orang dengan tipe kepribadian introvert memiliki ciri-ciri antara lain orientasinya tertuju ke dalam dirinya (batiniah). Pikiran, perasaan dan tindakan orang-orang dengan tipe kepribadian introvert terutama ditentukan oleh faktor subjektif. Adaptasi dengan dunia luar kurang baik, jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan orang lain, kurang dapat menarik hati orang lain, tingkah lakunya lamban dan ragu-ragu, serta penyesuaian dengan batinnya baik. Kehidupan batiniahnya kaya dan terdidik secara baik.

            Orang-orang dengan tipe kepribadian introvert bertindak hati-hati dan penuh perhitungan. Kelemahannya adalah jarak dengan dunia objektif terlalu jauh sehingga lepas dari dunia objektif.

            Orang-orang dengan tipe kepribadian introvert dapat berpikir dengan lebih baik dengan memprosesnya menggunakan pikiran mereka sendiri. Mereka dapat belajar dengan lebih efektif secara individual dan lebih memerlukan situasi yang bebas. Kekuatan mereka terletak pada kemampuan mereka untuk berkonsentrasi pada tugas.

            Ciri-ciri Tipe Kepribadian

            Telah dilakukan penelitian oleh Eysenk dan Wilson  tentang Ciri-ciri Tipe Kepribadian Introvert dan Ekstrovert (dalam Shepherd, 1994) menghasilkan sejumlah ciri-ciri tingkah laku operasional yang diklasifikasikan menurut sifat-sifat kelompok yang mendasarinya menjadi tujuh aspek yang terdapat pada tipe kepribadian introvert dan ekstrovert.

            Ciri-ciri tipe kepribadian ekstrovert

            Ada 7 ciri-ciri tipe kepribadian seseorang yang tergolong pada tipe kepribadian ekstrovert, diantaranya adalah:
            1. Activity, seseorang yang mempunyai nilai tinggi pada aspek ini pada umumnya aktif, energik, suka semua jenis aktivitas fisik, suka bangun pagi, bergerak dengan cepat, dari aktivitas ke aktivitas lainnya, serta mengejar berbagai macam kepentingan dan minat yang berbeda-beda.
            2. Sociability, adalah orang yang suka mencari teman, suka kegiatan sosial, pesta, dan merasa senang dengan situasi ramah tamah.
            3. Risk taking, merupakan orang yang senang hidup dalam bahaya, mencari pekerjaan yang memberikan tantangan.
            4. Impulsiveness, orang ini cenderung bertindak secara mendadak tanpa berpikir lebih dulu, suka memberi keputusan terburu-buru dan tidak punya pendirian tetap.
            5. Expresiveness, orang ini cenderung sentimental, penuh perasaan, dan demonstratif, ia dapat mengekspresikan perasaannya dengan baik dan jujur. Individu dengan nilai tinggi pada aspek ini adalah orang yang cenderung memperlihatkan emosinya ke luar dan terbuka, termasuk jika sedang sedih, marah, cinta, dan benci.
            6. Practically, adalah orang dengan kegemaran pada hal-hal yang bersifat praktis dan lebih tertarik melakukan hal-hal yang praktis, tidak sabar dengan kegiatan yang bersifat khayal dan abstrak.
            7. Irresposibility, adalah orang yang tidak suka hal-hal yang resmi, sering berubah pendirian, kurang dapat menepati janji, kurang bertanggung jawab secara sosial, namun masih dalam batasan normal.

            Ciri-ciri tipe kepribadian Introvet

            Ciri-ciri yang terdapat pada tipe kepribadian seseorang yang masuk kedalam tipe kepribadian Introvert adalah sebagai berikut:

            1. Inactivity (passive), orang yang memiliki nilai tinggi pada aspek ini adalah orang yang lamban dan tidak siap dalam tindakan yang berkaitan dengan aktivitas fisik, mudah mengantuk, kurang bergairah atau kurang berminat dalam bersikap, dan mudah lelah.
            2. Unsociability (tidak mampu bergaul), orang ini cenderung kurang berminat untuk berhubungan dengan orang lain, cukup senang punya sedikit teman tapi lebih akrab, lebih suka kegiatan mandiri, seperti membaca, cenderung menarik diri jika tertekan atau terganggu perasaannya jika berhubungan dengan orang lain.
            3. Carefulness (hati-hati), adalah orang yang mengandalkan kebijaksanaan dalam melakukan suatu tindakan, lebih suka kepada hal yang sudah biasa atau dikenal atau dilakukan dengan sengaja menghindar dari bahaya, merasa bebas dan aman karena dilindungi, kalau perlu mengorbankan kepentingan atau kesenangan sendiri.
            4. Controlled (terkendali), adalah orang yang mengandalkan pengendalian diri, sangat hati-hati mengambil sebuah keputusan, perhitungan dan pertimbangan yang matang, serba teratur, merencanakan masa depan dengan penuh seksama, berpikir sebelum bicara dan bertindak.
            5. Inhibition (emosi tertutup), adalah orang yang cenderung tidak mengungkapkan segala macam perasaan pada orang lain secara terbuka, bersikap tenang, tidak mudah marah, tidak mudah dipengaruhi, pikiran dan perasaan terkendali.
            6. Reflectiveness (reflektif), adalah orang yang berminat sekali terhadap olah gagasan konsep abstraksi, menjawab pertanyaan yang bersifat filsafat, diskusi, membuat prediksi, tenggelam dalam arus berpikir, dan selalu bersikap mawas diri.
            7. Responsibility (bertanggung jawab), dapat dipercaya untuk melakukan sesuatu yang baik selalu memenuhi kata hati, dapat diandalkan, pantas untuk dipercaya, bersikap sungguh-sungguh dan sedikit kompulsif.

            Penilaian (Tes) Kepribadian Ekstrovert dan Introvert

            Karakteristik komponen atau subfaktor untuk menilai kepribadian ekstrovert-introvert adalah: activity, sociability, risk taking, impulsivenes, ekspressivenes, reflectivenes, responsibility. Tujuh aspek tersebut digunakan oleh Eysenck sebagai tolak ukur tingkat ekstrovert-introvert dari subjek penelitian. Tujuh aspek pada dasarnya adalah komponen objek sikap yang dapat diukur.

            Dalam activity diukur bagaimanakah subjek melakukan aktivitasnya. Orang yang mempunyai tipe kepribadian ekstrovert umumnya aktif dan energik. Menurut Sunaryo (2002) orang-orang dengan tipe kepribadian ekstrovert memiliki ciri-ciri antara lain orientasinya lebih banyak tertuju ke luar (lahiriah). Orang dengan tipe kepribadian intorvert cenderung tidak aktif secara fisik, lesu dan mudah letih. Mereka bergerak di dunia dengan langkah yang santai serta menyukai hari libur yang tenang dan penuh istirahat.

            Sociability mengukur bagaimana orang melakukan kontak social.Orang dengan tipe kepribadian ekstrovert senang mencari teman, menyukai kegiatan-kegiatan sosial, dan mudah menjumpai orang-orang. Sedangkan orang dengan tipe kepribadian introvert lebih senang hanya memiliki beberapa teman khusus saja, menyukai kegiatan- kegiatan menyendiri seperti membaca, dan cenderung menarik diri dari kontak sosial yang menekan. Orang-orang dengan tipe kepribadian introvert kurang percaya diri kemampuan komunikasi mereka (Opt & Loffredo, 2003).

            Risk taking mengukur bagaimana keberanian orang mengambil resiko dalam hidupnya. Ciri-ciri orang dengan tipe kepribadian ekstrovert antara lain : senang hidup dalam bahaya. Orang dengan tipe kepribadian introvert lebih menyukai keakraban (kebiasaan), keamanan serta keselamatan walaupun berarti harus mengorbankan suatu tingkat kegembiraan dalam kehidupan. Orang dengan tipe kepribadian introvert memiliki kecenderungan untuk ragu-ragu, reflektif, defensif, menarik diri dari objek, dan senang bersembunyi dibalik rasa ketidakpercayaan (Budiharjo, 1997).

            Impulsiveness digunakan untuk melihat perbedaan orang ekstrovert dan introvert dari segi orang tersebut impulsif atau tidak. Orang impulsif akan terlihat tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, mudah berubah tidak dapat diramalkan. Orang dengan tipe kepribadian ekstrovert biasanya impulsif daripada orang introvert. Impulsiveness berhubungan dengan aspek exspressiveness.

            Dalam exspressiveness diukur bagaimana orang memperlihatkan gejolak perasaannya seperti marah, benci, cinta, simpati dan rasa suka. Orang dengan tipe kepribadian ekstrovert umumnya sentimental, simpatik, mudah berubah pendirian, serta demonstratif. Sedangkan orang dengan tipe kepribadian introvert umumnya pandai menguasai diri, tenang, tidak memihak, terkontrol ketika menyampaikan pendapat dan perasaan.

            Reflectivenes mengukur ketertarikan pada dunia ide, abstrak dan pertanyaan filosofis yang akan mendorong orang introvert untuk menjadi pemikir dan introspektif. Sebaliknya orang ekstrovert lebih tertarik dalam melakukan sesuatu daripada memikirkannya.

            Responsibility adalah komponen untuk mengkur bagaimanakah individu bertanggung jawab terhadap aktivitas dan pekerjaannya
            (Wulandari cit. Netty, 2004).

            Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian

            Feist (1985) menerangkan bahwa secara garis besar kepribadian ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan:

            1. Faktor genetik, berperan penting dalam menentukan kepribadian. Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik membentuk individu karakteristik kepribadian individu yang berbeda satu dengan yang lain. Faktor ini lebih menonjolkan karakteristik seperti inteligensi dan temperamen serta kurang menonjolkan nilai, cita-cita, dan kepercayaan.
            2. Faktor lingkungan meliputi budaya, kelas sosial, keluarga, dan teman sebaya.
              Menurut Feist (1985) faktor genetik memberi batasan dalam perkembangan karakteristik kepribadian. Karakteristik tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Hereditas memberikan kemampuan memperbolehkan atau tidak memperbolehkan budaya untuk mempengaruhi atau dipengaruhi.

            Eysenk (dalam Hall dan Lindsey, 1993) mengemukakan bahwa kepribadian ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan. Kepribadian awal akan tumbuh melalui interaksi empat macam fungsional yaitu sektor kognitif (inteligensi), sektor konatif (karakter), sektor afektif (temperamen), dan sektor somatis (konstitusi).

            Faktor hereditas (keturunan) dan faktor lingkungan, keduanya saling mempengaruhi kepribadian. Hereditas mengatur batasan perkembangan kepribadian, sedangkan faktor lingkungan menyediakan fasilitas untuk membentuk diri (Feist, 1985).

            Referensi: 

            Permata Ashfi Raihana, 2010, Perbedaan kecenderungan kecanduan.......
            Beta Nuclisa Intan Prima Budi, 2010, Hubungan Tipe Kepribadian.....
            Author

            Tentang penulis: T Nurandhari

            Penulis adalah seorang penulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia.

            Follow me on: Twitter | Scholar | Quora |

            Psikologi: Arti Teori Pengertian Kepribadian

            Pengertian Psikologi

            Kata psikologi berasal dari kata Yunani psyche yang diartikan jiwa dan logos yang berarti ilmu atau ilmu pengetahuan. Kata psikologi sering diartikan sebagai ilmu tentang jiwa atau disingkat dengan ilmu jiwa. Atkinson (dalam Minderop, 2010: 3) mengemukakan bahwa pengertian psikologi adalah ilmu jiwa atau ilmu yang menyelidiki dan mempelajari tingkah laku manusia. Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari kehidupan jiwa manusia secara alamiah dan mendalam untuk memahami arti sebenarnya dari kehidupan manusia. Dalam penerapannya, aktivitas kejiwaan hanya dapat dilihat dari tingkah laku manusia dan psikologi terus memperluas jangkauannya sehingga memunculkan cabang-cabang ilmu psikologi.


              Sementara itu, Gunarso (2002:1) mengungkapkan bahwa psikologi berasal dari kata psych yaitu jiwa dan logos yaitu ilmu pengetahuan. Pengertian psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia. Perilaku seseorang adalah hasil interaksi antara dirinya dengan lingkungan, sehingga perilakunya harus dipelajari dalam hubungan dengan lingkungan.

              Berdasarkan pendapat di atas, dapat dipahami bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku kejiwaan manusia. Agar dalam hubungan dapat berjalan lancar diperlukan keseimbangan antara jiwa dan raga dalam kehidupannya.

              Teori Pengertian Kepribadian

              Kepribadian adalah organisasi dinamik suatu system psikologis yang terdapat dalam din seseorang yang pada giliramiya menentukan penyesuaian khas yang dilakukan terhadap lingkungannya atinya sebagai keselurithan cara yang digunakan seseorang unruk bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain. Menunit berbagai penelitian factor-faktor yang turut berperan dalam kepribadian antara lain: keturunan, lingkungan dan situasi (Siagian, 1989).

              Menarik dibaca juga: Kreativitas

              Pengertian kepribadian secara etimologis adalah, Istilah kepribadian merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris "Personality". Sedangkan personality secara etimologis berasal dari bahasa Latin person (kedok)dan personare (menembus). Persona biasanya dipakai oleh para pemain sandiwara pada zaman kuno unuk memerankan satu bentuk tingkah laku dan karakter pribadi tertentu. Sedangkan. Misalnya : seorang pemurung, pendiam, periang, peramah, pemarah dan sebagainya. Jadi, persona itu bukan pribadi pemain itu sendiri, tetapi gambaran pribadi dari tipe manusia tertentu dengan melalui kedok yang dipakainya.

              pengertian kepribadian

              Teori kepribadian secara terminologis bahwa, Menurut Amit Abraham (2005:1) mendefinisikan "Kepribadian adalah pola-pola pikiran, perasaan dan perilaku yang sudah berurat-akar mendalam dan relatif menetap". Kepribadian biasanya merujuk pada apa yang unik pada diri seseorang, yaitu karakteristik yang membedakan satu orang dengan orang lain.

              Pengertian Kepribadian menurut para ahli, menurut pendapat berbagai ahli yang dikutip oleh Syamsu Yusuf LN (2005:126) adalah sebagai berikut : a) May mengartikan kepribadian sebagai "a social stimulus value". Jadi menurutnya cara orang lain mereaksi, itulah kepribadian individu. Dalam kata lain, pendapat orang lainlah yang menetukan kepribadian individu itu. b) McDougal dan kawan-kawan berpendapat, bahwa kepribadian adalah "tingkatan sifat-sifat di mana biasanya sifat yang tinggi tingkatannya mempunyai pengaruh yang menentukan." c) Gordon W. Allport mengemukakan, "Personality is dynamic organization within the individual of those psychophysycal system, than determines his unique adjustment this enviroment ". (kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan).

              Hirarki kebutuhan Maslow

              Abraham Maslow dikenal dengan pelopor psikologi kebutuhan humanistik. Menurut Maslow, psikologi humanistik adalah sebagai kekuatan ketiga dalam psikologi modern setelah behaviorisme dan psikoanalis. Goble (1987: 33) menambahkan bahwa teori Maslow bukanlah penolakan secara mentah-mentah atas karya Freud atau Watson serta para behavioris lain, melainkan lebih merupakan usaha menelaah segi-segi yang bermanfaat, bermakna, dan dapat diterapkan bagi kemanusiaan. Sejalan dengan hal tersebut, Jerome (2013) dalam jurnalnya berjudul Application of The Maslow’s Hierarchy of Need Theory; impacts and implications on organizational culture, human resource and employee’s performance yang berpendapat

              "Maslow's hierarchy of needs where the lower order needs (physiological and safety needs) may be linked to organizational culture. Every new organization passes through this lower order stage in which they struggle with their basic survival needs. At the third level of the Maslow’s hierarchy, social needs would correspond to the formation of organized roles within the organization into distinct units, depicting the human resource management function which resonates according to the tone set by organizational culture. The positive interaction of organizational culture and human resource management would result in self-esteem and self-actualization".

              Hirarki kebutuhan Maslow dari urutan bawah (kebutuhan fisiologi dan keselamatan) yang mungkin terkait dengan budaya organisasi. Setiap organisasi baru melewati tahap urutan ini lebih rendah di mana mereka berjuang dengan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup mereka. Pada tingkat ketiga Hirarki Maslow, kebutuhan sosial akan sesuai dengan pembentukan terorganisir sesuai peran dalam organisasi menjadi unit-unit yang berbeda, menggambarkan fungsi manajemen sumber daya manusia sesuai yang ditetapkan oleh budaya organisasi.

              Interaksi positif dari budaya organisasi dan manajemen sumber daya manusia akan menimbulkan harga diri dan aktualisasi diri.

              Abraham Maslow juga melihat bahwa manusia adalah suatu keutuhan yang lebih menyeluruh yang mempunyai kebutuhan berjenjang lima mulai dari kebutuhan fisiologi tubuh, kebutuhan akan kemanan, kebutuhan akan kebersamaan, kebutuhan penghargaan, dan yang terakhir kebutuhan aktualisasi diri. Manusia yang berupaya memenuhi dan mengekspresikan potensi dan bakatnya kerap kali terhambat oleh kondisi masyarakat yang menolaknya. Keadaan semacam ini dapat menyebabkan seseorang mengalami problem kejiwaan dan ketimpangan perilaku (Krech dalam Minderop, 2010: 48).

              Hal serupa dikemukan oleh Idemobi (2011) dalam jurnalnya berjudul The Implication of Abraham Maslow’s Hierarchy of Needs Theory to Business Activities in Nigeria tentang hirarki kebutuhan maslow menyatakan bahwa:

              "Maslow had categorized human needs into four major blocks starting with basic psychological needs and thus gave us an insight into how to satisfy human needs for profit. Maslow had posited that people grapple with a hierarchy of needs in such a way that as the lower needs are satisfied it will be necessary to move up to the next category of need. Hence people grapple first with the basic psychological needs of air, food, clothing, water and shelter. As these are satisfied they move to the next level of social needs of friendship and affection and thirdly to the level of safety and security needs of protection, order and stability. The fourth level is the ego needs of prestige,success and self-respect and finally to needs of self-actualization to show that one has really arrived. This means that when one need is satisfied, another higher-level need emerges and motivates the person to do something to satisfy it".

              Maslow mengategorikan kebutuhan manusia menjadi empat blok besar dimulai dengan dasar kebutuhan psikologis. Dalam hal ini, memberi kita wawasan bagaimana memuaskan kebutuhan manusia untuk mencari keuntungan. Maslow telah mengemukakan bahwa setelah orang bergulat dengan hirarki kebutuhan yang lebih rendah puas maka akan pindah ke kategori kebutuhan berikutnya. Oleh karena itu, orang pertama akan bergulat dengan kebutuhan psikologis dasar air, makanan, pakaian, air dan tempat penampungan. Setelah puas, mereka pindah ke tingkat berikutnya sosial kebutuhan persahabatan dan kasih sayang dan ketiga untuk tingkat keselamatan dan keamanan kebutuhan perlindungan, urutan dan stabilitas. Tingkat keempat adalah kebutuhan ego prestige, keberhasilan dan harga diri dan akhirnya kebutuhan aktualisasi diri untuk menunjukkan bahwa seseorang telah benar-benar tiba. Ini berarti bahwa ketika satu kebutuhan puas, kebutuhan tingkat yang lebih tinggi yang lain muncul dan memotivasi orang untuk melakukan sesuatu untuk memuaskan itu.

              Teori yang disampaikan Abraham Maslow dikenal dengan Hierarchy of Needs atau hirarki kebutuhan. Adapun hirarki kebutuhan tersebut akan diuraikan sebagai berikut.

              1. Kebutuhan Fisiologis

              Teori ini merupakan teori yang paling dasar, paling kuat dan paling kelas dari antara kebutuhan hidupnya. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan akan makanan, minuman, tempat berteduh, s**s, tidur dan oksigen. Ia akan mengabaikan atau menekan dulu semua kebutuhan sampai kebutuhan fisiologisnya terpenuhi. Minderop (2010: 284) juga mendefinisikan kebutuhan fisiologis sebagai sekelompok kebutuhan dasar yang paling mendesak pemuasannya karena terkait dengan kebutuhan biologis manusia. Misalnya, kebutuhan pangan, sandang, papan, seks, oksigen, dan sebagainya, demi kelangsungan hidup manusia. Tidak berbeda jauh dengan Yusuf (2008: 157) yang mengemukakan bahwa kebutuhan manusia yang paling dasar yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, seperti kebutuhan akan makanan, minuman, seks, istirahat dan oksigen.

              Hal tersebut juga dikemukakan oleh Alwisol (2009: 204) bahwa kebutuhan fisiologis ini sangat kuat, dalam keadaan kelaparan dan kehausan, semua kebutuhan lain ditinggalkan dan orang mencurahkan semua kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan ini. Seperti orang yang kekurangan makanan misalnya, karena lapar keinginan yang ada hanyalah makanan, tidak ada keinginan yang lain, yang dipikirkan, dimimpikan, dibicarakan, dilakukan, diinginkan semua tentang makanan. Kebutuhan ini sangat berpengaruh terhadap tingkah laku manusia dan ia selalu berusaha memenuhinya. Apabila kebutuhan fisiologis individu telah terpuaskan, dalam diri individu akan menuntut pemuasan akan kebutuhan rasa aman.

              2. Kebutuhan Rasa Aman

              Kebutuhan rasa aman adalah kebutuhan ketika individu dapat merasakan keamanan, ketentraman, kepastian, dan kesesuaian dengan lingkungannya. Kebutuhan rasa aman meliputi kebutuhan akan jaminan, stabilitas, perlindungan, ketertiban, bebas dari ketakutan dan kecemasan. Ketidakpastian yang dihadapi manusia membuat manusia harus mencapai sebanyak mungkin jaminan, perlindungan, dan ketertiban menurut kemampuannya (Minderop, 2010: 280).

              Ketika orang telah memenuhi kebutuhan fisiologis mereka, mereka menjadi termotivasi dengan kebutuha akan keamanan yang termasuk di dalamnya keanaman fisik, stabilitas, ketergantungan, perlindungan dan kebebasan dari kekuatan yang mengancam, seperti perang, terorisme, penyakit, rasa takut, kecemasan, bahaya, kerusuhan, dan bencana alam. Kebutuhan akan hukum, ketenteraman, dan keteraturan juga merupakan bagian dari kebutuhan akan keamanan (Maslow dalam Feist, 2010: 333).

              Kebutuhan rasa aman sudah muncul sejak bayi, dalam bentuk menangis atau berteriak ketakutan karena perlakuan yang kasar atau karena perlakuan yang dirasa sebagai sumber bahaya. Anak akan merasa lebih aman berada dalam suasana keluarga yang teratur, terencana, terorganisir, dan disiplin karena suasana semacam itu mengurangi kemungkinan adanya perubahan dadakan, dan kekacauan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Pengasuhan yang bebas tidak mengenakan batasan-batasan, misalnya tidak mengatur kapan bayi tidur, dan kapan makan, akan membuat bayi bingung dan takut, bayi tidak terpuaskan kebutuhan keamanandan keselamatannya. Peristiwa pada orang tua seperti adu mulut atau pemukulan, perceraian dan kematian membuat lingkungan tidak stabil atau tidak terduga sehingga bayi merasa tidak aman (Alwisol, 2009: 204-205).

              3. Kebutuhan Rasa Dicintai dan Memiliki

              Setelah kebutuhan fisiologis dan rasa aman terpuaskan, kebutuhan dicintai dan memiliki atau menjadi bagian dari kelompok sosial menjadi tujuan yang dominan.

              Kebutuhan rasa dicintai dan memiliki diekspresikan dalam berbagai cara, seperti: persahabatan, percintaan, atau pergaulan yang lebih luas. Menurut Maslow (dalam Goble, 1971: 74) cinta tidak sinonim dengan seks, cinta adalah hubungan sehat antara sepasang manusia yang melibatkan perasaan saling menghargai, menghormati, dan mempercayai. Maslow menolak pandangan Freud yang mengatakan bahwa cinta adalah sublimasi dari insting seks. Dicintai dan diterima adalah jalan menuju perasaan yang sehat dan berharga, sebaliknya, tanpa cinta menimbulkan kesia-siaan, kekosongan, dan kemarahan.

              Kebutuhan rasa cinta dan memiliki adalah sebuah kebutuhan yang mendorong manusia untuk melakukan hubungan afektif atau hubungan emosional dengan orang lain. Hubungan ini dapat berupa hubungan antara dua jenis kelamin yang berbeda atau sejenis, dan dapat pula berhubungan dengan kelompok masyarakat tertentu. Kebutuhan ini ditandai dengan adanya rasa kepemilikan dan cinta, contohnya rasa kasih sayang dari orang lain (Minderop, 2010: 296-297). Sehubungan dengan hal tersebut, Feist (2010: 335) menambahkan bahwa anak-anak membutuhkan cinta supaya mereka dapat tumbuh secara psikologis dan usaha mereka untuk mendapatkan kebutuhan ini biasanya dilakukan secara jujur dan langsung.

              4. Kebutuhan Penghargaan

              Maslow (dalam Goble, 1971: 76) menemukan bahwa setiap orang memiliki dua kategori kebutuhan akan penghargaan. Pertama, harga diri meliputi kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan dan kebebasann. Kedua, penghargaan dari orang lain meliputi prestise, pengakuan, penerimaan, perhatian, kedudukan, dan nama baik. Alwisol (2009: 206) menambahkan penghargaan dari orang lain hendaknya diperoleh berdasarkan penghargaan diri kepada diri sendiri. Orang seharusnya memperoleh harga diri dari kemampuan dirinya sendiri, bukan dari ketenaran eksternal yang tidak dapat dikontrolnya yang membuatnya tergantung kepada orang lain.

              Menurut Maslow (dalam Feist, 2010: 335) kebutuhan akan penghargaan mencakup penghormatan diri, kepercayaan diri, kemampuan, dan pengetahuan yang orang lain hargai tinggi. Ada dua tingkatan kebutuhan akan penghargaan, yaitu reputasi dan harga diri.

              Reputasi adalah pesepsi akan gengsi, pengakuan, atau ketenaran yang dimiliki seseorang dilihat dari sudut pandang orang lain. Sementara itu, harga diri adalah perasaan pribadi seseorang bahwa dirinya bernilai atau bermanfaat dan percaya diri. Harga diri didasari oleh lebih dari sekadar reputasi maupun gengsi. Harga diri menggambarkan sebuah keinginan untuk memperoleh kekuatan, pencapaian atau keberhasilan, kecukupan, penguasaan dan kemampuan, kepercayaan diri di hadapan dunia, serta kemandirian dan kebebasan.

              Sejalan pendapat Maslow tersebut, Yusuf (2008: 159) mengemukakan bahwa jika seseorang telah merasa dicintai atau diakui maka orang itu akan mengembangkan kebutuhan perasaan berharga. Kebutuhan ini terdiri atas dua kategori, yaitu:

              1. harga diri meliputi: kepercayaan diri, kompetensi, kecukupaan, prestasi, dan kebebasan;
              2. peghargaan dari orang lain meliputi pengakuan, perhatian, prestise, respek, dan kedudukan (status).

              Memperoleh kepuasaan dari kebutuhan ini memungkinkan individu memiliki rasa percaya diri akan kemampuan dan penampilannya menjadi lebih kompeten dan produktif dalam semua aspek kehidupan. Sebaliknya, apabila seseorang mengalami kegagalan dalam memperoleh kepuasaan maka dia akan mengalami rendah diri, tidak berdaya, tida bersemangat dan kurang percaya diri akan kemampuannya untuk mengatasi masalah kehidupan yang dihadapinya.

              5. Kebutuhan Aktualisasi Diri

              Ketika kebutuhan akan penghargaan ini telah terpenuhi, maka kebutuhan lainnya yang sekarang menduduki tingkat teratas adalah aktualisasi diri. Inilah puncak sekaligus fokus perhatian Maslow dalam mengamati hirarki kebutuhan. Menurut Maslow (dalam Goble, 1971:77) setiap orang harus berkembang sepenuh kemampuannya. Maslow melukiskan kebutuhan aktualisasi diri sebagai hasrat untuk semakin menjadi diri sepenuh kemampuannya sendiri, menjadi apa saja menurut kemampuan atau potensi yang dimilikinya.

              Kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan manusia tertinggi. Kebutuhan ini tercapai apabila kebutuhan-kebutuhan di bawahnya telah terpenuhi dan terpuaskan. Menurut Maslow, seseorang akan mampu mencapai kebutuhan aktualisasi diri apabila mampu melewati masa-masa sulit yang berasal dari diri sendiri maupun dari luar (Minderop, 2010: 305). Manusia yang dapat mencapai tingkat aktualisasi diri ini menjadi manusia yang utuh, memperoleh kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan yang orang lain bahkan tidak menyadari ada kebutuhan semacam itu. Mereka mengekspresikan kebutuhan dasar kemanusiaan secara alami, dan tidak mau ditekan oleh budaya (Alwisol, 2009: 206).

              Hal serupa juga dikemukakan oleh Hoffman (2004) dalam jurnal psikologi nya yang berjudul Abraham Maslow's Life and Unfinished Legacy bahwa:

              "In Maslow's view, the presence of peak-experiences is an important sign of selfactualization. Those who have many "peaks" involving a sense of joy, completion, and accomplishment are definitely in the right setting for their true personality or soul". (Dalam pandangan Maslow, kehadiran puncak pengalaman adalah tanda penting untuk aktualisasi diri. Mereka yang memiliki banyak "puncak" meliputi rasa sukacita, penyelesaian, dan prestasi yang jelas dalam mengatur kepribadian atau jiwa dengan tepat).

              Schultz (dalam Minderop, 2010: 281-282) mendefinisikan kebutuhan aktualisasi diri sebagai perkembangan yang paling tinggi dan penggunaan semua bakat, pemenuhan semua kualitas dan kapasitasnya walaupun manusia telah mencapai kebutuhan dalam tingkat yang lebih rendah, yakni merasa aman secara fisik dan emosional, mempunyai rasa memiliki dan cinta, merasa berharga, namun akan merasa kecewa, tidak tenang dan tidak puas jika gagal berusaha memuaskan kebutuhan akan aktualisasi diri. Apabila kondisi ini terjadi, maka manusia tersebut tidak berada dalam damai dengan dirinya sendiri, dan tidak bisa dikatakan sehat secara psikologis. Kebutuhan aktualisasi diri mencakup pemenuhan diri, sadar akan semua potensi dan keinginan untuk menjadi sekreatif mungkin. Orang yang telah mencapai aktualisasi diri hanya melihat sekilas kebutuhan orang lain. Orang yang mengaktualisasi diri dapat mempertahankan harga diri mereka ketika mereka dimaki, ditolak, dan diremehkan orang lain (Feist, 2010: 336).

              Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disintesiskan kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan mendasar yang harus terpuaskan lebih dahulu sebelum muncul kebutuhan rasa aman. Sesudah kebutuhan fisiologis dan rasa aman terpuaskan, kemudian muncul kebutuhan rasa memiliki dan cinta (kasih sayang) dan seterusnya hingga muncul kebutuhan aktualisasi diri.

              Referensi:
              Nita Wahyu Tyastiti, 2015, Kajian Psikologi Sastra.....
              Rini Rahmawati, 2007, Pengaruh kepramukaan dan....

              Author

              Tentang penulis: T Nurandhari

              Penulis adalah seorang penulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia.

              Follow me on: Twitter | Scholar | Quora |

              Memasak dengan Microwave Beracun, Benarkah?

              Apakah memasak dengan microwave dapat menyebabkan makanan menjadi beracun? Banyak ketakutan orang awam di sekitar kita yang menghubungkan ini dengan "radiasi" pada microwave. Jawaban dari para ahli menyatakan bahwa memasak dengan microwave adalah AMAN dan tidak mungkin. Atau anda sedang melakukan penelitian ilmiah tentang makanan, reaksi atau microwave mungkin beberapa artikel dibawah ini dapat membantu sebagai referensi. Berikut ulasan lengkapnya.


                Antonija Grubisic-Cabo telah menjawab Tidak mungkin

                Antonija Grubisic-Cabo adalah seorang ahli dari monash university[1] berpendapat bahwa Oven microwave menggunakan gelombang mikro, sejenis radiasi elektromagnetik (bukan radiasi pengion) dengan panjang gelombang berkisar antara 1m hingga 1mm. Radiasi microwave ini digunakan untuk membangkitkan molekul air yang membuatnya berosilasi dan menghasilkan panas.

                Radiasi gelombang mikrowave dibatasi hanya di dalam oven, dan sangat kecil kemungkinannya akan bocor ke luar bahkan jika pintu microwave terbuka, karena microwave dilengkapi dengan interlock yang mematikan microwave secara otomatis jika pintu terbuka.

                microwave oven


                Berdiri didekat microwave juga aman. Memang ada kemungkinan bahwa gelombang mikro dalam satu menit akan bocor jika pintu microwave dibuka sebelum mematikannya, tetapi ini sangat kecil dan radiasi juga jatuh secara eksponensial dengan jarak, sehingga berdiri sejauh 5 cm pun dari microwave aman. Setelah microwave dimatikan, molekul air tidak lagi bersemangat dan tidak ada radiasi yang tertahan dalam makanan.

                Annette Dowd telah menjawab Tidak mungkin

                Annette Dowd adalah seorang ahli dari University of Technology Sydney[2]. Radiasi yang digunakan dalam oven microwave adalah jenis gelombang frekuensi radio. Cara kerjanya adalah membuat molekul air berputar bolak-balik, bertabrakan dengan molekul lain dan memanaskannya. Hampir selalu ada dan ditemukan air dalam makanan sehingga ini adalah metode pemanasan makanan yang cukup efisien. Wadah yang menampung makanan dan oven itu sendiri tidak perlu dipanaskan sehingga menghemat energi.

                Menarik dibaca juga: contoh pendahuluan proposal

                Sayangnya gelombang mikro hanya menembus sekitar satu inci ke dalam makanan. Memasak potongan makanan yang lebih besar dari ini membutuhkan waktu lebih lama sehingga panas dari bagian luar makanan dapat mengalir ke bagian dalam. Jika memasak pada tingkat kematangan tidak dilakukan dengan benar, bagian dalam makanan mungkin tetap kurang matang, dan ini yang merupakan sumber potensial racun, bakteri, dll.

                Suhu memasak dalam microwave oven tidak cukup tinggi untuk menciptakan reaksi kimia yang penting bagi karamelisasi yang lezat dan kecoklatan. Karena makanan dipanaskan dengan merebus air di dalamnya, suhu ini hanya digunakan sekitar 100 derajat Celcius.

                Penggunaan radiasi untuk memasak bukanlah fenomena baru. Memanggang terutama terjadi oleh makanan yang menyerap inframerah dan radiasi, yang terlihat dari api atau elemen listrik. Radiasi inframerah dalam keluarga elektromagnetik yang sama dengan radiasi gelombang mikro.

                Akhirnya, untuk menjawab kesalahpahaman yang umum: begitu microwave dimatikan, molekul air berhenti berputar dan tidak ada "radiasi residual".

                Aman Ullah telah menjawab Tidak mungkin

                Aman Ullah adalah seorang ahli dari University of Alberta[3] berpendapat bahwa Memasak dengan membakar(memanggang) secara berlebihan (gosong) dapat menyebabkan beberapa senyawa beracun, tetapi microwave itu sendiri tidak menyebabkan reaksi kimia apa pun. Microwave hanya memutar molekul polar seperti air dalam makanan dan menghasilkan panas dengan gesekan molekul dan kehilangan dielektrik. 

                Louise E Bennett menjawab Tidak mungkin

                Louise E Bennett adalah seorang ahli dari Monash University[4] telah berpendapat bahwa panas yang tercipta dapat mempercepat reaktivitas fisik dan kimia antar komponen, terutama reaksi 'hidrolitik' yang melibatkan air, sehingga setiap risiko keracunan kemungkinan kecil.

                Referensi:

                Author

                Tentang penulis: T Nurandhari

                Penulis adalah seorang penulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia.

                Follow me on: Twitter | Scholar | Quora |