Pengertian seni tari adalah ciptaan manusia berupa gerak-gerak ritmis yang indah. Arti indah disini sebenarnya, pertama menunjuk pada keteraturan susunan bagian dari bentuk tari secara organik, kedua beberapa unsur ataupun pola yang menyatukan bagian-bagiannya, dan ketiga adalah sesuatu yang bersangkutan dengan isi atau makna maupun pesan-pesan yang dikandungnya. Arti tarian yang indah bukan hanya sekedar ketrampilan para penarinya membawakan dengan gerakan lemah gemulai, tetapi bagaimana bentuk seni tari itu dapat mengungkapkan makna maupun pesan tertentu sehingga dapat mempesona (Hadi, 2005).

    Macam Tari

    Berdasarkan pola garapannya, tari dibagi menjadi empat macam tari yaitu tari klasik, tari tradisi, tari rakyat dan tari modern.

    Tari Klasik

    Tari Klasik adalah macam tari yang pertama. Istilah tari klasik di lingkungan kraton biasa disebut beksan atau joged. Di kamus-kamus Jawa umumnya mengemukakan kata "beksa" sebagai ekuivalen karma (karma inggil) untuk joged. Jika kata joged di dalam bahasa Jawa sekarang ini dapat digunakan untuk segala macam gerak-gerik tari, maka kata beksa hanya terdapat di dalam hubunganya dengan koreografi-koreografi yang distilisasi, tersusun serta dipergelarkan sesuai dengan jumlah peraturan atau patokan kompleks (Brakel, 1991).

    Beksan klasik cenderung tidak dicirikan oleh mutu kehalusannya, tetapi oleh mutu penggayaan (stilisasi), pengorganisasian, dan penyusunan artistik gerak-geriknya, yang didasarkan atas kombinasi konsep-konsep filsafat dan naratif, yang juga terdapat di dalam kesusasteraan dan seni lakon Jawa. Hal ini dimaksudkan bahwa penyusunan demikian itu lahir dari konteks, dimana tari dipraktekkan secara tradisional, suatu konteks yang terutama bersifat ritual dan seringkali juga dramatis (Brakel, 1991). Ada beberapa contoh tarian Jawa klasik, yaitu :

    • Tari Bedhaya adalah tarian yang bersifat suci dan sakral. Tarian ini hanya dipentaskan di kraton pada momen tertentu. Salah satu tari bedhaya yang terkenal adalah bedhaya ketawang yang dipentaskan oleh sembilan penari.
    • Tari Serimpi adalah tari klasik dan suci yang dipentaskan oleh empat orang penari. Empat orang penari serimpi ini menggambarkan empat elemen pembentuk kehidupan, yaitu air, api, bumi, dan angin.
    •  Tari Gambyong adalah tari klasik yang biasa dipentaskan untuk acara menyambut tamu, upacara hari besar, atau perkawinan. Tari gambyong ini berasal dari penarinya, yaitu Nyi Mas Ajeng Gambyong.
    • Tari Golek adalah tari klasik yang dipentaskan oleh satu orang penari atau lebih. Tari golek menggambarkan seorang gadis yang sedang berdandan.
    • Tari Topeng adalah tari yang dimainkan oleh penari yang menggunakan topeng. Sejak perkembangan Islam, tari ini makin popular karena digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk berdakwah. Bahkan, Sunan Kalijaga menciptakan beberapa tari topeng, seperti tari topeng panji ksatrian, condrokirono, dan penthul tembem (Ruhmat, 2011).

    Tari klasik juga disebut tari tradisional kebangsawanan yang tumbuh dan berkembang secara turun temurun di lingkungan kebudayaan kaum bangsawan. Tari klasik telah mencapai penyempurnaan artistik yang tinggi dan telah mengalami perkembangan yang panjang (Hidayat, 2005).
    macam dan fungsi tari

    Tari klasik sejak masa lampau berkembang di Indonesia, pendidikan tari secara non formal berlangsung di luar sekolah-sekolah swasta maupun negeri. Sebaliknya di pulau Jawa, pendidikan tari berlangsung di dalam tembok istana kerajaan, seperti di Kasultanan Yogyakarta dan Mangkunegaran Surakarta. Para raja-raja atau para bangsawan bertindak sebagai masenas bahkan tidak jarang di antara mereka merupakan pencipta tari yang unggul.

    Tari Tradisi

    Macam tari yang kedua adalah tari tradisi. Tari tradisi merupakan bentuk tari yang mengkiblat tari klasik yang hidup di lingkungan istana atau kraton, mengikuti pola-pola gerak yang sudah ada mempunyai patokan-patokan atau semacam aturan, sifatnya turun-temurun dari nenek moyang, umurnya belum tentu tua, kualitasnya belum tentu baik atau belum tentu berbobot dan tempat pertunjukan selain di pendapa bisa juga di panggung teater dan panggung terbuka.

    Tari Rakyat

    Tari rakyat adalah tarian yang tumbuh dan berkembang dari daerah tertentu. Because of the deep-seated nationalism that characterized the formation of new states throughout the twentieth century, the collecting of folk dance, as with all folklore, constituted an element in the construction of ethnicity, identity, and the nation-state itself (karena nasionalisme yang mendalam ditandai dengan pembentukan negara baru sepanjang abad kedua puluh terjadi pengumpulan tarian rakyat, karena dengan cerita rakyat, dapat menjadi unsur dalam pembangunan etnis, identitas bangsa, dan jati dirinya) (Shay, 2008). Selain itu, Ruhmat juga memberikan penjelasan berbeda dengan tari klasik yang mempunyai aturan dan pakem tertentu, tari tradisional ini lebih bebas sesuai dengan ciri khas daerahnya. Beberapa contoh tari tradisional :
    • Tari Sintren dari Pekalongan, Tari sintren dikenal sebagai tarian mistis. Gadis yang akan menari didandani dengan memakai kain dan kebaya, kemudian dimasukkan ke dalam karung, diikat kuat-kuat, lalu ditutup dengan sangkar ayam. Setelah ditutup, pengiring lagu-lagu dalam sintren berdendang. Dalam waktu singkat sangkar dibuka. Saat dibuka itulah penari Sintren sudah berganti busana dan dandanan, tidak ketinggalan memakai kacamata hitam.
    • Tari Dolalak dari Purworejo
    • Tari Jathilan dari Magelang
    • Tari Patholan dari Rembang
    • Tari Jaran Kepang dari Temanggung (2011).

    Tari Modern (Kreasi Baru)

    Menurut Hidayat (2005) tari modern merupakan tari yang lepas kaidah-kaidah atau konvensi tradisional. Sebuah gerakan (tari) yang ingin membangun sebuah pernyataan baru dan memiliki kebebasan penuh dalam berekspresi dengan maksud, seniman tidak memiliki ikatan-ikatan hubungannya dengan konvensi seni sebelumnya. Tari modern jenis tari yang berkembang sejak awal abad XIX muncul karena reaksi ketat dari tari klasik. Beberapa jenis tari modern dapat dibedakan sebagai berikut:

    • Tari Modern murni, yaitu tari modern yang bertolak dari kemampuan teknik tubuh penari. Dikembangkan atas kesadaran bahwa tubuh manusia mempunyai kemampuan sendiri. Estetika tari modern murni mengarah pada kebebasan penggambaran ide.
    • Tari Modern modifikasi unsur tradisional (tari kreasi baru), yaitu tari modern yang dikembangkan dari unsur-unsur tari tradisional (tari etnis). Tari modern sebagai reaksi mengatasi titik jenuh dari kemapanan tari yang dianggap telah mencapai supremasi tinggi.
    • Tari Kontemporer, yaitu tari modern yang mengambil tema-tema yang bersifat up to date. Tari kontemporer lebih mengedepankan kekinian. Jenis tari kontemporer memberikan tanggapan terhadap realitas yang sedang terjadi saat ini, menanggapi problematik sosial budaya, politik, ekonomi dan berbagai hal yang tidak pernah dijumpai pada waktu yang lampau.

    Fungsi Tari

    Pengertian mengenai fungsi tari hubungannya dengan keberadaan tari dalam masyarakat bukan hanya untuk aktifitas kreatif, tetapi lebih mengarah pada kegunaan. Keberadaan tari memiliki nilai guna dan hasil guna yang memberikan manfaat pada masyarakat, khususnya dalam mempertahankan kesinambungan sosial. Sejumlah tari ada juga yang digunakan sebagai penyambutan (ceremonial). Tarian juga difungsikan untuk pendukung menyemarakkan perhelatan atau hajat pribadi seperti khitanan, pernikahan, atau hajat nadar (membayar janji) (Hidayat, 2005).

    Menarik Dibaca Juga: pengertian tari

    Seni tari telah berkembang menjadi suatu sarana untuk menyatakan cerita-cerita babad, konsep-konsep dan perasaan yang juga dinyatakan melalui karya-karya seni lainnya, seperti misalnya seni sastra, seni lukis, dan seni bangunan. Bagi sebagian besar orang Jawa menari merupakan suatu sarana identifikasi dengan para pahlawan dan pahlawati, yang mewujudkan cita-cita kebudayaan orang Jawa.

    Sesuai dengan pernyataan Brakel (mengutip simpulan Atmadibrata, 1978) bahwa tari bukan hanya gerak fisik yang indah berirama, yang tampil di pentas serta dilakukan oleh sekelompok pelaku, dan ditangkap oleh sekelompok yang disebut penonton. Tari semula tumbuh karena kebutuhan manusia dalam rangka menemukan keserasian dengan lingkungan, guna mempertahankan kesinambungan hidupnya. Maka tumbuhlah tari untuk mempertautkan diri dengan kekuatan gaib yang menguasai diri dan lingkungannya (1991: 20).

    Menurut Soedarsono (mengutip simpulan Kurath, tanpa tahun) secara rinci mengutarakan ada 14 fungsi tari dalam kehidupan manusia yaitu: 
      • Inisiasi kedewasaan,
      • Percintaan, 
      • Persahabatan, 
      • Perkawinan, 
      • Pekerjaan, 
      • Pertanian, 
      • Perbintangan, 
      • Perburuan, 
      • Menirukan binatang, 
      • Menirukan perang, 
      • Penyembuhan, 
      • Kematian, 
      • Kerasukan, 
      • Lawakan (1998: 55-56).

    Sesuai pernyataan Hidayat (2005), perkembangan fungsi tari pada jaman modern lebih mengarah pada bentuk presentasi artistik sehingga muncul bentuk-bentuk tari yang berfungsi sebagai hiburan (tontonan). Tari sebagai seni tontonan dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu :

    1. Tari sebagai tontonan bersifat show atau intertenment dan untuk atraksi wisatawan. Tarian ini lebih mengedepankan segi fisik, penari yang cantik, gerak yang jelas (detail), komposisi yang rapi, atau kostum yang glamour. Tari yang mementingkan show selalu mengikuti trend jamannya, sehingga memiliki kecenderungan bersifat pop dance.
    2. Tari sebagai presentasi concert (konser) atau performance. Bentuk sajian tari lebih mementingkan aspek pengolahan tata artistik, artinya selalu melihat mutu koreografi. Idealistik, dan kerja yang tidak hanya berorientasi pada upaya membuat penonton senang atau terhibur.
    Lebih lanjut Soedarsono (1998) menjelaskan hanya ada enam fungsi tari saja yang sekarang ini berkembang. Keenam fungsi tersebut adalah : 

    1. Refleksi dari organisasi sosial. 
    2. Sarana ekspresi untuk ritual, sekuler, dan keagamaan.
    3. Aktifitas rekreasi atau hiburan.
    4. Refleksi ungkapan estetis.
    5. Ungkapan serta pengendoran psikolog.
    6. Refleksi dari kegiatan ekonomi.
    Ada juga fungsi tari yang cukup tua dalam sejarah kehidupan manusia, yaitu fungsi tari sebagai sarana untuk mengungkapkan rasa kegembiraan atau tari suka cita. Meskipun tari ini tergolong tari yang bersifat sekular (keduniawian), tetapi merupakan sebuah pernyataan yang bersifat manusiawi, yaitu bentuk tari sosial (social dance).

    Menurut Hadi (2005) dalam buku berjudul "Sosiologi Tari" menyatakan bahwa fungsi tari ada lima macam yaitu:
    1. Bentuk keindahan.
    2. Bentuk kesenangan.
    3. Sarana komunikasi.
    4. Sistem simbol.
    5. Bentuk makna kultural yaitu berupa ide atau gagasan.
    Sejalan dengan perkembangan seni tari di berbagai belahan dunia dan juga di Indonesia, sekarang semakin tampak keragaman fungsi tari dalam kehidupan masyarakat. Tari yang awalnya berfungsi sebagai pemujaan, kini dapat juga berfungsi sebagai tontonan, konser ataupun sebagai media pendidikan yang dapat dikembangkan dan diturunkan dari masa ke masa (Hidayat, 2005).

    Referensi:

    Arief Jaka Wicakasana, 2013, Peranan Sanggar Soerya.....