Mengajar: Komponen Pada Pembelajaran

Ada beberapa komponen penting pada pembelajaran diantaranya yang akan kami bahas disini adalah materi pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.

1. Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran adalah komponen pada pembelajaran dalam arti luas tidak hanya yang tertuang dalam buku paket yang diwajibkan, akan tetapi mencakup keseluruhan materi pembelajaran. Setiap aktivitas belajar mengajar pasti harus ada materinya. Semua materi pembelajaran harus diorganisasikan secara sistematis agar mudah dipahami oleh siswa. Materi juga harus disusun berdasarkan tujuan dan karakteristik siswa.

    2. Metode Pembelajaran

    Komponen dalam pembelajaran yang kedua adalah metode pembelajaran, "Metode adalah cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum". (Oemar Hamalik, 2003: 26) Suatu metode mengandung pengertian terlaksanya kegiatan guru dan kegiatan siswa dalam proses pembelajaran. Metode dilaksanakan melalui prosedur tertentu. Dewasa ini, keaktifan siswa belajar mendapat tekanan utama dibandingkan dengan keaktifan guru yang bertindak sebagai fasilitator dan pembimbing bagi siswa. Karena itu, istilah metode yang lebih menekankan pada kegiatan guru, selanjutnya diganti dengan istilah strategi pembelajaran yang menekankan pada kegiatan siswa.
    Komponen Pembelajaran

    Dalam kegiatan belajar mengajar ada bermacam-macam metode, seperti metode ceramah, eksperimen, demonstrasi, dan sebagainya. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode demonstrasi disertai tanya jawab dan metode eksperimen disertai diskusi kelompok.
    Metode pembelajaran atau mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran dan mendinamiskan proses belajar mengajar. Metode mengajar sangat menentukan keberhasilan belajar siswa. Metode mengajar yang tepat dan dilaksanakan secara benar dapat membantu siswa memahami materi pelajaran dan mencapai tujuan pembelajaran.
    Metode mengajar yang diterapkan guru dipengaruhi oleh:
    1. tujuan pembelajaran
    2. karakteristik siswa
    3. situasi belajar mengajar
    4. fasilitas
    5. materi
    6. guru dan kemampuannya. 
    Menarik dibaca juga: Metode pembelajaran kooperatif dan Metode pembelajaran demonstrasi
    Keberhasilan guru tertentu menerapkan metode mengajar tertentu belum tentu sukses jika menerapkan metode yang lain. Banyak jenis metode mengajar yang dapat diterapkan oleh guru, namun pada bahasan ini dibatasi beberapa metode mengajar yang umum digunakan di sekolahsekolah. Diantaranya sebagai berikut:

    A. Metode Ceramah

    Metode ceramah adalah cara penyampaian pelajaran di dalam kelas dengan menggunakan penuturan secara lisan kepada seluruh siswa. Alat utama metode ceramah adalah berbicara, namun dalam praktek guru bisa menggunakan alat bantu mengajar.

    Tugas siswa adalah mendengarkan dengan cermat dan mencatat dengan teliti apa yang disampaikan oleh guru. Adapun teknik ceramah yang efektif yaitu dengan merumuskan tujuan yang akan dipelajari siswa, menetapkan metode ceramah benar-benar sebagai metode yang tepat, menyusun bahan ceramah yang benar-benar perlu diceramahkan, beri penanda tekanan materi penting tertentu, menggunakan alat bantu mengajar, memusatkan perhatian siswa dan arahkan pada pokok materi yang diceramahkan, menggunakan bahasa yang sederhana dan dapat dipahami siswa, menanamkan pengertian yang jelas, menggunakan selingan-selingan sehingga siswa tidak jenuh, dan mengadakan penilaian di akhir ceramah.
    Komponen Pada Pembelajaran

    Keuntungan dari metode ceramah yaitu dalam waktu singkat dapat menjangkau jumlah siswa yang banyak (efisien, guru dapat menguasai seluruh kelas, pengorganisasian kelas sederhana, konsep yang disampaikan kepada siswa sama, dan mengurangi "ambiguous" (banyak arti; padahal istilah samanya). Dan adapula kelemahan menggunakan metode ini diantaranya guru tidak dapat mengetahui apakah anak sudah memahami, bisa terjadi salah pemahaman anak, tidak dapat melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda, bisa terjadi konsep anak yang berbeda dengan yang dimaksudkan guru, dan siswa menjadi pasif psikomotoriknya.

    B. Metode Tanya Jawab

    Metode Tanya jawab adalah cara belajar mengajar yang diterapkan guru dengan jalan guru mengajukan pertanyaan dan siswa menjawab, atau sebaliknya siswa bertanya dan guru menjawab. Pada awalnya konsep metode tanya jawab diterapkan dengan guru saja yang mengajukan pertanyaan. Perbedaan dengan metode diskusi terletak pada tujuan dan prosedurnya.

    Tujuan tanya jawab adalah mengecek penguasaan siswa atas fakta dan materi yang telah diajarkan, sementara diskusi untuk melatih anak menghubungkan fakta dan konsep dalam membahas masalah yang lebih kompleks. Prosedur metode tanya jawab dua arah, sementara diskusi multi arah. Teknik tanya jawab yang efektif yaitu merumuskan tujuan khusus penggunaan metode tanya jawab, menentukan alasan mengapa menggunakan metode ini, mempersiapkan pertanyaan yang tidak hanya dijawab ya atau tidak, merumuskan kemungkinan jawabannya agar guru memiliki patokan untuk menjaga agar selalu dalam pokok persoalan, menghindari jawaban serentak siswa, serta siswa yang aktif dan yang tidak aktif mendapatkan kesempatan yang sama.

    C. Metode Diskusi

    Metode diskusi adalah cara pelaksanaan proses belajar mengajar dengan jalan siswa mengemukakan pendapat atau pandangan secara bergantian untuk memecahkan persoalan atau masalah tetentu. Dalam diskusi yang lebih terstruktur, harus ada pemimpin diskusi dan penulis. Namun, dalam proses belajar mengajar, guru dapat berperan sebagai pemimpin diskusi. Tujuan diskusi adalah untuk melatih siswa mengemukakan pendapat secara teratur dalam forum bersama dan memecahkan persoalan atau masalah tertentu.

    Dengan demikian diskusi layak diterapkan jika terdapat persoalan atau masalah yang perlu dipecahkan bersama.

    D. Metode Demonstrasi dan Eksperimen

    Metode demonstrasi adalah cara guru mengajar dengan menunjukan suatu proses kerja tertentu untuk menghasilkan atau membuktikan sesuatu. Sedangkan metode eksperimen adalah cara mengajar dengan jalan guru atau siswa mencoba mengerjakan sesuatu dan mengamati proses hasil kerja itu. Keuntungan dari metode demonstrasi dan eksperimen adalah perhatian siswa terpusat pada hal penting dan khusus, dapat mengurangi kesalahan dibanding hanya membaca, lebih menarik siswa, jika siswa ikut aktif akan memperoleh pengalaman langsung dan praktis, dan dapat membuktikan kebenaran sesuatu. Sedangkan keterbatasannya adalah menuntut keterampilan guru yang berdemonstrasi, tidak semua hal dapat didemonstrasikan di kelas, memerlukan waktu yang lama, dan tidak cukupnya alat membuat siswa bergiliran, sehingga memperpanjang waktu.

    E. Metode Resitasi (Pemberian Tugas)

    Metode resitasi adalah suatu cara belajar mengajar dengan jalan siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Tugas yang diberikan kepada siswa tidak terbatas pada mengerjakan soal, tetapi dapat juga meringkas bacaan, ataupun menggambar. Tujuannya agar siswa dapat memperdalam konsep, memberi pengalaman baru, melatih keaktifan siswa, melatih kerjasama dan kemandirian, memperkuat hasil belajar sebelumnya, dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas. Keuntungan metode resitasi yaitu memperkuat ingatan siswa lebih melekat, memberi pengalaman praktis kepada siswa, anak dilatih mandiri dan bertanggungjawab, dan pendayagunaan waktu luang siswa. Sedangkan kelemahannya yaitu peluang siswa menjiplak pekerjaan orang lain, sulitnya kontrol (misal: dikerjakan orang lain), jika terlalu sering membosankan, dan sulitnya memberi tugas sesuai dengan minat individual siswa.

    F. Metode Kerja Kelompok

    Metode kerja kelompok adalah suatu cara mengajar dengan jalan siswa satu kelas dianggap sebagai kelompok atau dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan tugas sesuai dengan tujuan pelajaran dengan cara gotong-royong. Dalam penerapan metode ini, siswa harus bekerja dan ada hasilnya. Tujuannya adalah untuk melatih siswa bekerjasama dengan kawan lain, meringankan tugas berat untuk dikerjakan bersama, memberikan pengalaman kepada siswa, dan melatih tanggung jawab bersama serta membina kekompakan. Sesuatu yang dikerjakan oleh kelompok tidak hanya yang bersifat fisik, tetapi bisa juga non fisik.
    komponen dalam pembelajaran

    Kelebihan dari metode kerja kelompok adalah siswa memiliki pengalaman bekerja, meningkatkan partisipasi siswa, siswa mendapatkan pengalaman bergotong-royong atau bekerjasama, meningkatkan minat belajar siswa, dan adanya variasi mengajar dan tidak membosankan. Adapun kekurangan dari metode ini yaitu membutuhkan waktu yang lama, jika tempat tinggal murid berjauhan sulit koordinasi, dan jika dikerjakan di luar sekolah sulit mengontrol. (Hendyat Soetopo, 2005 : 152-162).

    3. Model Pembelajaran

    Model pembelajaran adalah komponen pada pembelajaran yang ketiga, Menurut Winataputra (2001), model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Dalam tingkatan operasional model pembelajaran dan strategi pembelajaran sering dipertukarkan.

    Ada banyak model atau strategi pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli dalam usaha mengoptimalkan hasil belajar siswa. Diantaranya adalah model pembelajaran kontekstual, model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran quantum, dan model pembelajaran terpadu.

    Model pembelajaran kontekstual atau CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep pembelajaran yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dan juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sendiri-sendiri. Konsep CTL disajikan pada bagian pertama karena materi ini memayungi model pembelajaran lain yang termasuk tujuh komponen pembelajaran CTL, yaitu: konstruktivisme (constructvism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pembelajaran terpadu (integrated), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). Selain itu CTL merupakan model pembelajaran yang diharapkan mampu membelajarkan yang bermakna dan menyenangkan karena siswa belajar sesuai dengan konteksnya.

    Menurut Lie (2004: 27) pembelajaran kooperatif menciptakan interaksi yang asah, asih, dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar (learning community). Siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari sesama siswa. Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait.

    Elemen-elemen itu adalah:
    • saling ketergantungan positif
    • interaksi tatap muka
    • akuntabilitas individual
    • keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan. 

    Model pembelajaran quantum sesungguhnya merupakan ramuan atau rakitan dari berbagai teori atau pandangan psikologi kognitif dan pemrograman neurologi/ neurolinguistik yang jauh sebelumnya sudah ada. Model ini disajikan sebagai salah satu model yang dapat dipilih guru agar pembelajar dapat berlangsung secara menyenangkan.

    Model pembelajaran terpadu menurut Ujang Sukandi, dkk (2001 : 3) pengajaran terpadu pada dasarnya sebagai kegiatan mengajar dengan memadukan beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan cara ini dapat dilakukan dengan mengajarkan beberapa materi pelajaran disajikan tiap pertemuan. ( Sugiyanto, 2007 : 3-9).

    Life Skill atau kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga mampu mengatasinya. ( L. Sunoto, 2006 : 1).

    Sedangkan menurut Muhammad Joko Susilo (2007 : 139) Life Skill adalah kemampuan yang diperlukan untuk menempuh kehidupan dengan sukses, bahagia dan secara bermartabat, misalnya kemampuan berpikir kompleks, berkomunikasi secara efektif, membangun kerjasama, melaksanakan peran sebagai warga Negara yang bertanggung jawab, siap untuk terjun ke dunia kerja.

    4. Media Pembelajaran

    Komponen dalam pembelajaran yang ke-empat adalah media pembelajaran, Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Gerlach dan Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. (Azhar Arsyad, 2006 : 3).

    Agar materi pembelajaran lebih mudah dipahami oleh siswa, maka dalam proses belajar mengajar digunakan media pembelajaran. Alat pembelajaran dapat berupa benda yang sesungguhnya, imitasi atau tiruannya, gambar, bagan, grafik, tabulasi dan sebagainya yang dituangkan dalam media. Media itu dapat berupa alat elektronik, alat cetak, dan tiruan. Menggunakan sarana atau alat pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan, anak, materi, dan metode pembelajaran. Sudjana dan Rivai (1992 : 2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu:

    • Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
    • Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran.
    • Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran.
    • Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengar uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lain-lain. 

    Encyclopedia of Educational Research dalam Hamalik (1994: 15) merincikan manfaat media pendidikan sebagai berikut:
    1. Meletakan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir, oleh karena itu mengurangi verbalisme.
    2. Memperbesar perhatian siswa.
    3. Meletakan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh karena itu membuat pelajaran tetap mantap.
    4. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa.
    5. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu, terutama melalui gambar hidup.
    6. Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa.
    7. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain, dan membantu efisien dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar. (Azhar Arsyad, 2006 : 24-25).

    5. Evaluasi Pembelajaran

    Komponen pembelajaran yang kelima adalah evaluasi pembelajaran, Di dalam istilah asingnya, pengukuran adalah measurement, sedang penilaian adalah evaluation. Dari kata evaluation inilah diperoleh kata Indonesia evaluasi yang berarti menilai (tetapi dilakukan dengan mengukur terlebih dahulu). Menurut Ralph Tyler (1950) mengatakan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, di dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai. Sedangkan menurut Cronbach dan Stufflebeam menyebutkan bahwa proses evaluasi bukan sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk membuat keputusan. (Suharsimi, 2005 : 3). Evaluasi dapat digunakan untuk menyusun gradasi kemampuan anak didik, sehingga ada penanda simbolik yang dilaporkan kepada semua pihak.

    0 Comments:

    Post a Comment