Pengertian Metode Pembelajaran Drill

Seorang guru harus bisa memilih metode pembelajaran yang tepat agar dapat membangkitkan motivasi belajar dan keaktifan siswa yang kemudian akan berdampak pada prestasi belajar siswa dan kualitas pembelajaran. Salah satunya adalah melalui metode pembelajaran drill. Metode drill juga disebut metode latihan.


    Adapun metode drill itu sendiri menurut beberapa pendapat para ahli memiliki pengertian sebagai berikut:
    • Menurut Roestiyah (1991: 25) bahwa metode drill dapat diartikan sebagai cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan agar siswa memiliki ketangkasan dan keterampilan terhadap penyelesaian
    • Menurut Zuhairini, dkk (1983: 106) bahwa metode drill yaitu suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dengan jalan melatih anak-anak terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan.
    • Sedangkan menurut Shalahudin, dkk (1987: 100) metode drill diartikan sebagai suatu kegiatan dalam melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan keterampilan supaya menjadi permanen.
    • Kemudian Syaiful Sagala (2007: 217), juga berpendapat bahwa: Metode latihan atau disebut juga metode training merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaankebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan serta kecakapan.
    Metode Pembelajaran Drill


    Dari beberapa pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode drill adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan melatih siswa agar menguasai pelajaran dan terampil. Dari segi pelaksanaannya siswa terlebih dahulu dibekali dengan pengetahuan secara teori secukupnya. Kemudian dengan tetap dibimbing oleh guru, siswa tersebut ditugaskan mempraktikkannya sehingga menjadi mahir dan terampil.

    Menarik dibaca juga: Metode Pembelajaran Kooperatif

    Dalam mengajarkan kecakapan melalui latihan keterampilan, menurut Winarno Surakhmad (1990: 80) guru harus mengetahui sifat kecakapan seperti:
    • Kecakapan sebagai penyempurnaan dari suatu (konsep) dan berarti bukan hasil satu proses mekanik semata-mata.
    • Kecakapan tidak relevan jika hanya mampu menentukan keterampilan rutin yang dapat dicapai dengan pengulangan yang tidak menggunakan fikiran, karena kecakapan bertindak tidak mempunyai daya sesuai terhadap situasi-situasi baru.
    • Mendapatkan kecakapan adalah suatu proses yang mempunyai dua fase:
      1. Fase integratif, yaitu dimana persepsi tentang arti kecakapan mulai dikembangkan.
      2. Fase penyempurnaan, yaitu dimana ketelitian kecakapan mulai ditingkatkan.
    Menurut Nana Sudjana (1998: 86-87) mengingat latihan ini kurang mengembangkan bakat/inisiatif siswa untuk berfikir, maka hendaknya guru memperhatikan tingkat kewajaran dari metode ini:
    • Latihan, wajar digunakan untuk hal-hal yang bersifat motorik, seperti menulis, perbuatan, permainan dan lain-lain.
    • Untuk melatih kecakapan mental, misalnya perhitungan dan penggunaan rumus-rumus.
    • Untuk melatih hubungan tanggapan, seperti penggunaan bahan, grafik simbol peta dan lain-lain.

    Metode Drill dalam Perspektif Teori Belajar Behavioristik

    Penerapan metode driil dalam penelitian tindakan kelas ini didasarkan pada teori Belajar Behavioristik yang dikembangkan oleh Ivan P. Pavlov dan Edward Lee Thorndike. Teori belajar yang dikembangkan oleh Pavlov, dikenal dengan teori "conditioning", dimana belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu perilaku atau respon terhadap sesuatu.

    Thorndike dalam teori belajarnya menyatakan bahwa di dalam proses belajar, seorang individu (siswa) akan melalui tahap "belajar cobacoba" atau "trial and error". Teori ini mempunyai asumsi dasar bahwa belajar merupakan perubahan perilaku, khususnya perubahan kapasitas individu sebagai hasil belajar.

    Selanjutnya dijelaskan dalam buku yang disusun oleh Gino dkk (1999: 42-43) bahwa:
    "Thorndike mengemukakan tiga prinsip atau hukum utama belajar: Pertama, law of readiness (hukum kesiapan), yaitu bahwa belajar akan berhasil apabila siswa yang belajar telah mempunyai kesiapan melalui perbuatan tersebut. Kedua, law of exercise (hukum latihan), yaitu bahwa belajar memerlukan banyak latihan. Ketiga, law of effect (hukum mengetahui hasil), yaitu bahwa siswa akan bersemangat untuk belajar apabila ia mendapatkan hasil yang baik. Hasil tesebut dapat berupa umpan balik dari prestasi belajarnya."
    Asumsi yang dikembangkan teori belajar behavioristik diterapkan melalui metode pembelajaran drill pada proses pembelajaran di kelas. Metode drill merupakan suatu metode yang menuntut siswa untuk melakukan latihan secara terus menerus.

    Di samping itu, berdasarkan tiga hukum belajar yang dikemukakan Thorndike, respon yang benar akan semakin banyak dimuculkan jika siswa memperoleh latihan yang berulang-ulang (drill). Dengan demikian, dalam setiap proses pembelajaran, latihan menjadi komponen utama yang harus dirancang dan dilaksanakan.

    Tujuan Metode Pembelajaran Drill

    Menurut Pasaribu dan B. Simandjuntak (1986: 112) tujuan metode drill adalah untuk memperoleh suatu ketangkasan, keterampilan tentang sesuatu yang dipelajari anak dengan melakukannya secara praktis pengetahuan-pengetahuan yang dipelajari anak itu dan siap dipergunakan bila sewaktu-waktu diperlukan.

    Menarik Dibaca Juga: Metode Pembelajaran Demonstrasi

    Winarno Surakhmad (1990: 80) dalam bukunya menyatakan bahwa latihan wajar digunakan untuk:
    • Kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan, membuat alat-alat, menggunakan alat-alat (mesin) permainan dan atletik.
    • Kecakapan mental, seperti dalam perkalian, menjumlah, mengenal tanda-tanda (simbol) dan sebagainya. Asosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunan simbol dan membaca peta dan sebagainya.
    Sedangkan menurut Roestiyah N.K (1985: 125-126) dalam strategi belajar mengajar teknik metode drill ini biasanya dipergunakan untuk tujuan agar siswa:
    • Memiliki keterampilan motoris/gerak, seperti menghafal kata-kata, menulis, mempergunakan alat atau membuat suatu benda; melaksanakan gerak dalam olah raga.
    • Mengembangkan kecakapan intelek, seperti mengalikan, membagi, menjumlahkan, mengurangi, menarik akar dalam hitungan mencongak. Mengenal benda/bentuk dalam pelajaran matematika, ilmu pasti, ilmu kimia, tanda baca dan sebagainya.
    • Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan hal lain, seperti sebab akibat banjir-hujan; antara tanda huruf dan bunyi -ing, -ny dan lain sebagainya; penggunaan lambang/simbol di dalam peta dan lain-lain.
    Dari keterangan-keterangan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan dari metode drill adalah untuk melatih kecakapan-kecakapan motoris dan mental untuk memperkuat asosiasi yang dibuat, juga sebagai sarana untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari..

    Kelebihan Metode Pembelajaran Drill

    Menurut Yusuf dan Syaifiil Anwar (1997: 66) kebaikan metode drill adalah:
    • Dalam waktu yang tidak lama siswa dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan.
    • Siswa memperoleh pengetahuan praktis dan siap pakai, mahir dan lancar.
    • Menumbuhkan kebiasaan belajar secara kontinu dan disiplin diri, melatih diri, belajar mandiri.
    Sedangkan menurut Syaiful Sagala (2007: 217) kebaikan dari metode drill, yaitu:
    • Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dengan mempergunakan metode ini akan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.
    • Pemanfaatan kebiasaan tidak memerlukan banyak konsentrasi dalam pelaksanaannya.
    • Pembentukan kebiasaan membuat gerakan-gerakan yang kompleks, rumit menjadi otomatis.
    Dari pendapat kedua tokoh tersebut dapat disimpulkan bahwa kebaikan metode drill yaitu:
    • Dalam waktu yang tidak lama, siswa dapat memperoleh pemahaman materi, kecepatan, dan ketepatan dalam pelaksanaan pembelajaran.
    • Membentuk kebiasaan belajar siswa secara rutin, kontinu, disiplin, dan mandiri.
    • Karena sudah terbentuk kebiasaan-kebiasaan, maka tidak memerlukan banyak konsentrasi dalam pelaksanaan pembelajaran.

    Kekurangan Metode Pembelajaran Drill

    Menurut Team Kurikulum Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya (1981: 45-46) dalam Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM, dan Syaiful Sagala (2007: 218) menguraikan tentang kekurangan dari metode drill sebagai berikut:

    a. Menghambat bakat dan inisiatif siswa
    Mengajar dengan metode drill berarti minat dan inisiatif siswa dianggap sebagai gangguan dalam belajar atau dianggap tidak layak dan kemudian dikesampingkan.

    b. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan
    Perkembangan inisiatif di dalam menghadapi situasi baru atau masalah baru pelajar menyelesaikan persoalan dengan cara statis. Hal ini bertentangan dengan prinsip belajar di mana siswa seharusnya mengorganisasi kembali pengetahuan dan pengalaman sesuai dengan situasi yang mereka hadapi.

    c. Membentuk kebiasaan yang kaku
    Dengan metode latihan siswa belajar secara mekanis. Dalam memberikan respon terhadap suatu stimulus siswa dibiasakan secara otomatis.

    d. Menimbulkan verbalisme
    Setelah mengajarkan bahan pelajaran siswa berulang kali, guru mengadakan ulangan lebih-lebih jika menghadapi ujian. Siswa dilatih menghafal pertanyaan-pertanyaan (soal-soal). Mereka harus tahu, dan menghafal jawaban-jawaban atau pertanyaan-pertanyaan tertentu. Siswa harus dapat menjawab soal-soal secara otomatis.

    Cara mengatasi Kelemahan Metode Drill

    Menurut Syaiful Sagala (2007: 218) ada bermacam-macam usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan metode drill, yaitu:
    • Latihan hanya untuk bahan atau tindakan yang bersifat otomatis
    • Latihan harus memiliki arti yang luas, karenanya:
      1. jelaskan terlebih dahulu tujuan latihan tersebut,
      2. agar murid dapat memahami manfaat latihan itu bagi kehidupan siswa, dan
      3. murid perlu mempunyai sikap bahwa latihan itu diperlukan untuk melengkapi belajar
    • Masa latihan harus relatif singkat, tetapi harus sering dilakukan pada waktu-waktu tertentu.
    • Latihan harus menarik, gembira, dan tidak membosankan
    • Proses latihan dan kebutuhan-kebutuhan harus disesuaikan dengan proses perbedaan individual.
    Dari pendapat diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa beberapa hal yang harus diperhatikan atau cara untuk mengatasi kelemahan metode drill, yaitu:
    • Tujuan harus dijelaskan terlebih dahulu kepada siswa sehingga selesai latihan mereka diharapkan dapat mengerjakan dengan tepat sesuai apa yang diharapkan
    • Lama latihan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa.
    • Selingi saat latihan agar siswa tidak bosan.
    • Perhatikan kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan siswa untuk perbaikan klasikal sedangkan kesalahan perorangan dibetulkan secara perorangan juga.

    Langkah-Langkah Pelaksanan Metode Pembelajaran Drill

    Langkah-langkah dalam pelaksanaan penelitian dengan menerapkan metode drill adalah:
    • Apersepsi yaitu memberikan pendahuluan dengan mengingat konsep-konsep mengenai pelajaran.
    • Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila ada kesulitan
    • Menyampaikan materi pokok bahasan kepada semua siswa, dengan menerangkan kepada siswa dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang kompleks.
    • Memberikan contoh soal dari hal-hal yang lebih kompleks.
    • Menyuruh siswa mengerjakan soal-soal, kemudian membahasnya secara bersama-sama sehingga apabila ada siswa yang masih mengalami kesulitan dapat langsung menanyakan.
    • Memberikan tugas rumah sebagai latihan, soalnya mengambil dari buku pelajaran yang digunakan atau dari guru.
    • Pertemuan berikutnya tugas tersebut diperiksa bersama-sama, sehingga siswa yang tadinya mengalami kesuitan masalahnya cepat terpecahkan.
    • Setelah materi selesai disampaikan diadakan tes.

    Referensi:

    L. Veronica Kartikasari, 2010, Implementasi Metode Pembelajaran.....