Pengertian Kurikulum 2013 dan Pendekatan Saintifik

Secara etimologis kurikulum berasal dari bahasa latin “currere ” yang artinya berlari cepat, maju dengan cepat, menjalani dan berusaha untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini pengertian kurikulum pada awalnya adalah suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari mulai dari start hingga finish. Pengertian tersebut kemudian digunakan dalam dunia pendidikan dengan pengertian sebagai rencana dan pengaturan tentang sejumlah mata pelajaran yang harus dipelajari peserta didik dalam menempuh pendidikan di lembaga pendidikan.

Sejarah Kurikulum

Perubahan terakhir yang terjadi terhadap kurikulum yaitu pada Tahun 2013. Kurikulum 2013 mulai diterapkan pada tahun ajaran baru 2013/2014 pada 206.799 sekolah di Indonesia. Pendidikan di Indonesia mengalami banyak sekali perubahan kurikulum yang kesemuanya itu terkait dengan keadaan politik pada masanya. Bahkan hal ini terekam sejak zaman penjajahan.


    Menurut Idi (2007: 15) Belanda memanfaatkan pribumi untuk mengeruk kekayaan alamnya sedangkan jepang mempunyai kepentingan dalam perang asia timur raya, yang itu semua dimasukkan dalam kurikulum pendidikan kita di masa penjajahan.

    Dan sampai hari ini pun kita masih mengalami perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia juga karena pergantian rezim politik dalam negeri. Untuk pendidikan di tingkat SMA sendiri mengalami beberapa periode. Idi (2007: 32-34) menyebutkan pada tahun 1950-1965 saja ada dua penerapan kurikulum untuk SMA, yaitu pertama adanya jurusan Kesusastraan (A), Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (B) dan Sosial Ekonomi (C); dan kedua adanya istilah SMA Gaya Baru yang membagi menjadi empat jurusan : kelompok khusus budaya, kelompok khusus sosial, kelompok ilmu pasti dan kelompok ilmu pengetahuan alam. Kemudian di tahun 1965 pemerintah mendirikan Sekolah Pendidikan Guru untuk memenuhi kebutuhan guru nasional. Idi (2007: 36-38) menyebutkan bahwa
    pemerintah dalam rentan waktu sampai 1985 juga mulai merumuskan pendekatan metodologi pengajaran dan membuat penilaian akhir serentak dengan sistem ujian negara.

    Pada masa orde baru terbitlah PP nomor 29 tahun 1990 yang kemudian menjadi landasan hukum digulirkannya kurikulum 1994. Dalam penjelasan pasal dua disebutkan bahwa adanya kurikulum baru waktu itu untuk melancarkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yang sejalan dengan pengembangan diri sesuai perkembangan teknologi dan kesenian. Idi (2007: 40-41) mengatakan
    bahwa dalam keberjalanannya, kurikulum ini kemudian mulai merancangkan adanya muatan lokal agar sekolah mampu mengembangkan potensinya dilihat dari aspek sosial, ekonomi, budaya, geografis dan alam. Dan dalam hal ini mulailah berlaku akreditasi sekolah.
    Pengertian kurikulum 2013

    Depdikbud (2012 : 4) menyebutkan bahwa dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kurikulum merupakan salah satu unsur yang bisa memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Keunggulan dari kurikulum 2013 yang disusun oleh Pemerintah adalah perubahan pola belajar dari teacher centered learing (TCL) menjadi student centered learning (SCL). Mulyasa (2014 : 48) mengatakan pola pembelajaran yang berpusat pada guru sudah tidak sesuai lagi untuk diterapkan pada kebutuhan sekarang.

    Kurikulum 2013 adalah sebuah kurikulum yang dirancang untuk menyiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan di masa depan mereka. Pemerintah melalui menteri pendidikan dan kebudayaan merasa perlu menyiapkan kurikulum yang lebih mumpuni dibanding kurikulum sebelumnya. Beberapa alasan dikemukakan oleh Mendikbud mengapa Kurikulum 2013 perlu, salah satu di antaranya adalah bonus demografi. Bonus demografi merupakan sebuah keuntungan yang akan dimiliki oleh Indonesia di masa yang akan datang, diperkirakan rentang tahun 2010-2035, di mana populasi manusia Indonesia memiliki jumlah usia produktif tinggi, sementara jumlah usia yang non produktif rendah. Bisa dibayangkan apabila pada masa itu jumlah yang produktif ini tidak produktif.

    Alasan lain adalah adanya tuntutan masa depan dan kompetensi masa depan. Tantangan masa depan, yaitu tuntutan globalisasi, kemajuan teknologi informasi, ekonomi berbasis pengetahuan serta pergeseran kekuatan ekonomi dunia yang harus diperhitungkan dalam pengembangan kurikulum. Sementara tuntutan kompetensi masa depan sangat berbeda dengan tuntuntan keterampilan di abad 20. Keterampilan-keterampilan tersebut di antaranya adalah berkomunikasi, kemampuan memecahkan masalah, inovatif dan kreatif serta menguasai teknologi informasi. Di samping itu, isu-isu etika, sosial, politik dan hukum dalam dunia global menjadi perhatian penting.
    Namun apapun kurikulum yang berlaku hari ini, sebenarnya guru memainkan peran untuk mensukseskannya. Menurut Hamalik (2007: 53) bahwa keberhasilan kurikulum sebagian besar terletak di tangan guru sebagai pelaksana kurikulum. Hamalik (2007: 231) juga menambahkan bahwa guru merupakan titik sentral di mana keberhasilan belajar mengajar antara lain adalah kemampuan profesional dan kepribadian guru. Mulyasa (2014) mengemukakan garis besar perubahan pola pikir sebagai berikut :
    1. Sumber belajar tidak terbatas pada guru dan buku teks.
    2. Kelas bukan satu-satunya tempat belajar.
    3. Belajar dengan beraktivitas.
    4. Menggunakan pendekatan saintifik, melalui : mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengomunikasikan.
    5. Merangsang peserta didik untuk suka bertanya, bukan guru yang sering bertanya.
    6. Mendorong peserta didik untuk mencari tahu, bukan diberi tahu.
    7. Pembelajaran pengetahuan dan ketrampilan secara langsung, dan secara tidak langsung ditujukan untuk membetuk sikap.
    8. Menekankan kolaborasi melalui pengerjaan proyek.
    9. Menekankan pada proses yang dilakukan secara prosedural.
    10. Mendahulukan pemahaman bahasa Indonesia.
    11. Peserta didik memiliki kekhasan masing-masing; dengan kelompok normal, pengayaan dan remidial.
    12. Menekankan pada higher order thinking skill (HOTS) dan kemampuan berasumsi realistis.
    13. Pentingnya data yang diperoleh melalui kegiatan pengamatan.(hlm.48)

    Pengertian Kurikulum 2013

    Suparlan (2011: 36) memaparkan pengertian kurikulum yaitu sejumlah pengetahuan atau mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa untuk mencapai suatu tujuan pendidikan atau kompetensi yang ditetapkan. Hal tersebut senada dengan pendapat Hamalik (2011: 10), kurikulum adalah program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa.

    Dalam pasal 1 butir 19 UU nomor 20 tahun 2003 pengertian kurikulum dijelaskan sebagai berikut "Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu".
    Menarik untuk dibaca juga: Komponen Pada Pembelajaran

    Hidayat (2013: 113) mengemukakan bahwa: Kurikulum 2013 dicita-citakan untuk mampu melahirkan generasi masa depan yang cerdas komprehensif yakni tidak hanya cerdas intelektualnya tetapi juga cerdas emosi, sosial, dan spritualnya. Hal ini tampak dengan terintegrasinya nilai-nilai karakter ke dalam proses pembelajaran tidak lagi menjadi suplemen seperti dalam kurikulum KTSP.

    Orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi yang dikembangkan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004. Kurikulum berbasis kompetensi diyakini mampu mempersiapkan lulusan yang berkualitas. Kurikulum 2013 berbasis kompetensi dapat dimaknai sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan kompetensi dan tugas-tugas dengan standar performansi tertentu sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu (Mulyasa, 2013:68)
    Pengertian Kurikulum 2013

    Pemerintah melalui Permendikbud Nomor 70 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMK-MAK dalam Landasan Teoritis dinyatakan: 

    Kurikulum 2013 dikembangkan atas teori pendidikan berdasarkan standar (standard-based education) dan teori kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum). Pendidikan berdasarkan standar menetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal warganegara yang dirinci menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluasluasnya bagi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan untuk bersikap, berpengetahuan, berketerampilan, dan bertindak.

    Lebih lanjut mengenai tujuan kurikulum 2013 dijelaskan dalam dalam Permendikbud Nomor 70 (2013:7) "Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia".

    Kurikulum 2013 menganut pembelajaan yang dilakukan guru (taught curriculum) dan pengalaman belajar langsung peserta didik (learned curriculum). Pembelajaran yang dilakukan guru dikembangkan berupa kegiatan pembelajaran di sekolah, kelas, dan masyarakat sedangkan pengalaman belajar langsung peserta didik sesuai dengan latar belakang, karakteristik, dan kemampuan awal peserta didik. Pengalaman belajar langsung individual peserta didik menjadi hasil belajar bagi dirinya, sedangkan hasil belajar seluruh peserta didik menjadi hasil kurikulum (Permendikbud, 2013:9).

    Tujuan Kurikulum 2013 adalah untuk mempersiapkan insan Indonesia untuk memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang produktif, kreatif, inovatif dan efektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan peradaban dunia.

    Isi atau konten kurikulum, yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema untuk SD/MI, dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK.

    Kompetensi inti dan kompetensi dasar di jenjang pendidikan menengah diutamakan pada ranah sikap, sedangkan pada jenjang pendidikan menengah pada kemampuan intelektual (kemampuan kognitif tinggi). Kompetensi inti menjadi unsur organisatoris (organizing elements).

    Kompetensi dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam kompetensi inti. Kompetensi dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antarmata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal). Anitah (2009a: 41) menyebutkan ukuran kompetensi dasar telah tercapai atau belum, lebih terukur bila dirinci dalam indikator-indikator yang dirumuskan dalam kata kerja operasional, sehingga sangat dimungkinkan satu kompetensi dasar dicapai dengan beberapa indikator.

    Kurikulum 2013 dikembangkan dengan penyempurnaan pola pikir sebagai berikut:
    • pola pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus memiliki pilihan-pilihan terhadap materi yang dipelajari untuk memiliki kompetensi yang sama;
    • pola pembelajaran satu arah (interaksi guru-peserta didik) menjadi pembelajaran interaktif (interaktif guru-peserta didik-masyarakatlingkungan alam, sumber/media lainnya);
    • pola pembelajaran terisolasi menjadi pembelajaran secara jejaring (peserta didik dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet);
    • pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan sains);
    • pola belajar sendiri menjadi belajar kelompok (berbasis tim);
    • pola pembelajaran alat tunggal menjadi pembelajaran berbasis alat multimedia;
    • pola pembelajaran berbasis massal menjadi kebutuhan pelanggan (users) dengan memperkuat pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik;
    • pola pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal (monodiscipline) menjadi pembelajaran ilmu pengetahuan jamak (multidisciplines);
    • pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran kritis.

    Pelaksanaan kurikulum selama ini telah menempatkan kurikulum sebagai daftar mata pelajaran. Pendekatan kurikulum 2013 untuk Sekolah Menegah Atas/Madrasah Aliyah diubah sesuai dengan kurikulum satuan pendidikan. Oleh karena itu dalam Kurikulum 2013 dilakukan penguatan tata kelola sebagai berikut:
    • tata kerja guru yang bersifat individual diubah menjadi tata kerja yang bersifat kolaboratif;
    • penguatan manajemen sekolah melalui penguatan kemampuan manajemen kepala sekolah sebagai pimpinan kependidikan (educational leader);
    • penguatan sarana dan prasarana untuk kepentingan manajemen dan proses pembelajaran.
    Berdasarkan Permendikbud Nomor 70 tahun 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum SMA/MA, kurikulum 2013 dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:
    1. mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik;
    2. sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar;
    3. mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat;
    4. memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
    5. kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar mata pelajaran; 
    6. kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements)kompetensi dasar, dimana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti;
    7. kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).

    Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

    Pendekatan Saintifik sebagai Penerapan Kurikulum 2013

    Mulyasa (2013 : 68-69) mengatakan bahwa kurikulum 2013 menguatkan konsep siswa sebagai pusat belajar sehingga mereka diarahkan untuk memiliki kemahiran, ketepatan dan keberhasilan yang bertanggung jawab dimana pembelajaran seperti ini didapatkan dengan adanya konsep belajar tuntas dan pembelajaran individual. Karenanya, dalam implementasi kurikulum 2013 di kelas akan menitikberatkan pada proses dari pada produk pembelajaran.

    Beetlestone (2011 : 95) mengatakan proses pembelajaran jelas lebih penting dari pada produknya. Untuk itulah perlu untuk merancang metode balajar agar siswa terlibat di dalamnya. Dimyati dan Mudjiono (2009 : 119) memberikan ciri pembelajaran akif yaitu partisipasi siswa, tekanan pada afektif, interaksi antar siswa, kekompakan, kebebasan mengambil keputusan, dan tersedianya waktu untuk menanggulangi masalah siswa.

    Pembelajaran pada umumnya menjadikan siswa tahu banyak hal namun tidak memahaminya. Mayer (2010 : 63) menyampaikan bahwa dalam berbagai penelitian sering kali siswa memperlihatkan wawasannya yang luas, namun mereka belum dapat menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah perlu untuk menumbuhkan strategi belajar dimana siswa mencari sendiri dan membentuk pengetahuannya berdasarkan realita. Strategi yang digunakan adalah melalui proses inquiry yaitu penelitian secara terstruktur dan terorganisasi dengan baik.

    Inilah yang kemudian oleh Ilahi (2012: 16-31) disebut sebagai discovery by learning yaitu proses pembelajaran dengan menemukan sesuatu yang baru. Dalam teknisnya, guru tidak memberikan materi secara final namun memberikan ruang bagi murid untuk mencari dan menemukan sendiri dengan pendekatan problem solving. Sebagaimana disebutkan dalam Permendikbud nomor 65 tahun 2013 adanya model pembelajaran yang terdapat pada kurikulum 2013 adalah inquiry based learning, discovery learning, project based learning dan problem based learning.

    Menurut Subini (2012: 105) metode belajar dengan pemecahan masalah dapat melatih anak didik untuk untuk berpikir dan bertindak kreatif, memecahkan masalah yang dihadapi dengan realistis karena itulah metode belajar ini berorientasi pada investigasi. Ini akan sejalan dengan teori belajar behavioristik di mana terbentuknya perilaku adalah hasl dalam belajar. Menurut Thorndike dalam Subini (2012: 115-116) dalam teori yang disebut connectionism menyebutkan bahwa perbuahan tingkah laku itu bisa diamati maupun tidak yang merangsang munculnya reaksi yang berupa pikiran, perasaan dan tindakan sehingga dikatakan terjadi proses asosiasi antara stimulus dan respons.

    Dimyati dan Mudjiono (2009 : 173) mengatakan bahwa siswa diharuskan mengolah pesan sehingga mendapat pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Dengan kegiatan yang dilakukannya secara mandiri diharapkan siswa akan memperoleh kematangan konsepnya sendiri. Dimyati dan Mudjiono (2009 : 63) mengusulkan prinsip keterlibatan langsung yaitu pembelajaran mandiri dan kelompok,
    eksperimen langsung, media yang digunakan siswa, menirukan gerakan, mencari informasi, merangkum.

    Mulyasa (2013 : 99) mengatakan bahwa untuk menyukseskan implementasi kurikulum 2013 maka perlu penggunaan pendekatan saintifik. Pendekatan ini akan melibatkan siswa dalam berbagai kegiatan belajar secara aktif mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengomunikasikan. Kegiatan pembelajaran akan disusun adanya demonstrasi yang dilakukan oleh peserta didik dalam rangka melibatkan siswa aktif. Mulyasa (2014 : 90) mengatakan adanya demonstrasi itu penting untuk memberikan kesempatan pada peserta didik bahwa mereka faham dengan materi. Penerapan pendekatan saintifik adalah untuk memenuhi keterlibatan siswa secara aktif. Mulyasa (2014 : 101) mengatakan bahwa peserta didik harus dilibatkan dalam tanya jawab terarah dan menafsirkan informasi dari guru secara akal sehat.

    Mulyasa (2014 : 72) menambahkan bahwa sesuai dalam prinsip Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi, ada mekanisme hijrah dari pendekatan tekstual menuju pendekatan saintifik. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik akan menjadikan siswa lebih menyerap konsep materi. 

    Silberman dan Auerbach (2008 : 3) menjabarkan peringkat pengingatan tiap metode pembelajaran
    • ceramah 5 persen, 
    • membaca 10 persen, 
    • audiovisual 20 persen, 
    • demonstrasi 30 persen, 
    • diskusi 50 persen, 
    • praktik 75 persen, 
    • mengajarkan 90 persen.
    Silberman dan Auerbach (2008 : 19-21) menyampaikan pembelajaran aktif menyangkut isi yang moderat, keseimbangan 3 ranah belajar, variasi pendekatan belajar, kesempatan partisipasi kelompok, pemanfaatan keahlian peserta, daur ulang konsep, problem solving nyata, perencanaan masa depan.

    Mulyasa (2013) menambahkan tentang prosedur pembentukan kompetensi, sikap dan karakter peserta didik sebagai berikut :
    • Dorong peserta didik untuk menerapkan konsep, pengertian, kompetensi dan karakter yang dipelajarinya dalam kehidupan seharihari.
    • Praktekkan pembelajaran langsung agar anak dapat memahami sikap, kompetensi dan karakter baru dalam kehidupannya.
    • Gunakan metode yang paling tepat agar terjadi perubahan secara nyata. (hlm.102)

    Ulasan di atas memberikan kesimpulan bahwa pembelajaran dengan metode penyusunan konsep dan melibatkan keaktifan siswa akan lebih mengena untuk pembelajaran sains. Dalam lampiran I permendikbud nomor 59 tahun 2014 disebutkan bahwa inilah salah satu penyempurnaan pola pikir dari dikembangkannya kurikulum 2013, yaitu pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan pendekatan pembelajaran saintifik.

    Kompetensi dalam Kurikulum 2013

    Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk bersikap, menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk melaksanakan suatu tugas di sekolah, masyarakat, dan lingkungan dimana yang bersangkutan berinteraksi (Kemdikbud, 2012).

    Kompetensi merupakan isi atau konten kurikulum. Kompetensi dalam Kurikulum 2013 adalah Kompetensi Inti (KI) dan dirinci lebih lanjut ke kompetensi Kompetensi Dasar (KD).

    Kompetensi Inti (KI) adalah gambaran mengenai kompetensi yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan mata pelajaran. Sedangkan Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu mata pelajaran di kelas tertentu. Kompetensi inti terdiri dari sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Sikap terbagi menjadi dua kompetensi yaitu sikap spiritual dan sikap sosial.

    Kompetensi inti tersebut dikelompokan menjadi empat kompetensi inti yaitu sikap spiritual (KI 1), sikap sosial (KI 2), pengetahuan (KI 3), dan keterampilan (KI 4). Dari kompetensi-kompetensi inti yang ada akan dikembangkan lebih lanjut ke dalam kompetensi dasar.

    Karakteristik Kurikulum 2013

    Di dalam Permendikbud No 70 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMK dijelaskan tujuh karakteristik kurikulum 2013 sebagai berikut:
    1. mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik.
    2. sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar.
    3. mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat.
    4. memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
    5. kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar mata pelajaran.
    6. kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements) kompetensi dasar, dimana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti.
    7. kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antarmata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).

    Pembelajaran Berbasis Kurikulum 2013

    Pembelajaran berbasis Kurikulum 2013 berorientasi pada keseimbangkan hard skill dan soft skill sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran diintegrasikan tiga kompetensi dalam setiap mata pelajaran yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang selanjutnya terbagi dalam empat kompetensi initi yaitu sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Dari empat kompetensi inti tersebut diuraikan lagi ke dalam kompetensi dasar.

    Pembelajaran yang dilakukan terkait tiga kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan dijelaskan dalam Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
    1. Sikap, Sesuai dengan karakteristik sikap, maka salah satu alternatif yang dipilih adalah proses afeksi mulai dari menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, hingga mengamalkan. Seluruh aktivitas pembelajaran berorientasi pada tahapan kompetensi yang mendorong siswa untuk melakuan aktivitas tersebut.
    2. Pengetahuan, Pengetahuan dimiliki melalui aktivitas mengetahui, memahami, menerapkan,menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta.
    3. Keterampilan, Keterampilan diperoleh melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Seluruh isi materi (topik dan subtopik) mata pelajaran yang diturunkan dari keterampilan harus mendorong siswa untuk melakukan proses pengamatan hingga penciptaan.

    Ketiga kompetensi tersebut harus diintegrasikan ke dalam setiap pembelajaran suatu mata pelajaran. Untuk melaksanakan ketiga kompetensi tersebut dalam suatu mata pelajaran secara terintegrasi, pembelajaran dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pembelajaran langsung adalah proses pembelajaran yang diterapkan terkait kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Peserta didik mengembangkan pengetahuan dan keterampilan melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam RPP berupa kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran langsung dapat menggunakan berbagai macam model pembelajaran dengan berprinsip pada pendekatan saintifik yang beruba kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi atau menganalisis, dan mengkomunikasikan apa yang sudah ditemukannya dalam kegiatan analisis.

    Pembelajaran tidak langsung adalah proses pembelajaran yang berkenaan dengan kompetensi sikap. Pembelajaran tidak langsung dilaksanakan selama proses pembelajaran langsung dan tidak dirancang dalam kegiatan khusus. Pembelajaran tidak langsung dilakukan dalam setiap kegiatan yang terjadi di kelas, sekolah, dan masyarakat dengan tujuan untuk mengembangkan moral dan perilaku peserta didik yang terkait dengan kompetensi sikap. Pembelajaran langsung maupun pembelajaran tidak langsung terjadi secara terintegrasi dan tidak terpisah.

    Post a Comment

    0 Comments