Pengertian Pendidikan

Pendidikan merupakan kewajiban yang harus dialami semenjak dari lahir. Karena dari pendidikan itulah akan tahu banyak tentang wawasan di dunia dalam kehidupan ini. Dalam pengertian yang agak luas, pendidikan merupakan seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan perilaku-perilaku manusia dan juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman hidup.

Dalam bahasa Inggris education (pendidikan) berasal dari kata educate (mendidik) artinya memberi peningkatan (to elicit, to give rise to) dan pengembangan (to evolve, to develop). Menurut KBBI, pendidikan berasal dari kata "didik", lalu kata ini mendapat awalan me- sehingga menjadi "mendidik", artinya memelihara dan memberi latihan (1991: 232).


    UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 pasal I menyatakan bahwa pengertian pendidikan "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara".

    Sukmadinata menyatakan bahwa "pendidikan merupakan kegiatan mengoptimalkan perkembangan peserta didik, kecakapan dan karakteristik pribadi peserta didik" (2006: 24). Konteks tersebut mengandung pengertian bahwa pendidikan tidak dapat dimaknai sekedar membantu pertumbuhan secara fisik saja, tetapi juga keseluruhan perkembangan moral manusia dalam konteks lingkungan manusia yang memiliki peradaban.

    Pengertian Pendidikan Karakter

    Pendidikan dengan kata lain merupakan proses di mana masyarakat melalui sekolah, perguruan tinggi, universitas, dan institusi lain dengan sengaja mewariskan budayanya yakni berupa akumulasi pengetahuan, nilai, dan ketrampilan dari generasi ke generasi yang lain. Laska juga menyatakan bahwa : "Education is one of the most important activities in which human beings engage. It is by means of the educative process and its role in transmitting the cultural heritage from one generation to the next that human societies are able to maintain their existence" (1976: 3), yang artinya pendidikan merupakan salah satu aktivitas yang paling penting dimana melibatkan manusia. 

    Pendidikan merupakan sarana proses mendidik dan perannya di dalam meneruskan warisan budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya, sehingga masyarakat manusia bisa mempertahankan keberadaan mereka.

    Berdasarkan definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah sebuah usaha sadar yang terstruktur dalam mewujudkan proses pembelajaran guna memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan perubahan tingkah laku yang dilakukan dengan berbagai proses sehingga mampu meningkatkan dan mengembangkan apa yang dipelajari serta mampu mewariskan budaya bangsa yang luhur.

    Pengertian Karakter

    Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

    Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah "bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak". Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak". Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti "to mark" atau menandai dan memfokuskan bagaimana meng aplikasi kan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

    Menarik dibaca juga: Tipe-tipe karakter


    Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan karakter sebagai tabiat, perangai dan sifat-sifat seseorang. Berkarakter diartikan dengan mempunyai kepribadian, adapun kepribadian diartikan dengan sifat khas dan hakiki seseorang yang membedakan seseorang dari orang lain.

    Ki Supriyoko dalam Bagus Mustakim menyatakan bahwa "Dalam bahasa yang sederhana karakter sama dengan watak, yaitu pengembangan jati diri seseorang itu sendiri. Karakter seseorang lebih mencerminkan jati diri dari pada aspek kepribadian manusia yang lainnya seperti identitas, intelektual, keterampilan dan lain sebagainya" (2011: iii).

    Karakter juga sering diidentikkan dengan budi pekerti atau akhlak. Furqon Hidayatullah menyatakan bahwa "karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang membedakan dengan individu yang lain" (2010: 9). Seseorang yang karakternya baik identik bahkan sama dengan orang yang budi pekertinya luhur atau akhlaknya baik (akhlakul karimah), sementara itu orang yang karakternya buruk identik bahkan sama dengan orang yang budi pekertinya tidak luhur atau akhlaknya tidak baik. Gede Raka dkk menyatakan bahwa: "secara umum karakter dikaitkan dengan sifat khas atau istimewa, atau kekuatan moral, atau pola tingkah laku seseorang" (2011: 36). Bagus Mustakim membagi karakter yang lahir dalam perjalanan sejarah manusia menjadi 5 bagian, yaitu:

    1. Karakter Intelektual yaitu karakter yang ada pada diri seseorang di mana dengan modal karakter tersebut dapat terselesaikanlah persolan-persoalan hidup. Karakter ini juga bisa dimaknai dengan karakter yang ada pada diri manusia sehingga mampu menemukan berbagai nilai dalam kehidupannya. Nilai-nilai tersebut dijadikan pondasi dalam sistem masyarakat yang dijaga dan dilestarikan untuk kepentingan bersama.
    2. Karakter Teologis yaitu karakter pada manusia yang hidup secara patuh dan taat pada nilai-nilai ketuhanan/ keagamaan.
    3. Karakter Humanis yaitu karakter pada manusia yang lahir dari kemampuannya memahami realitas di sekitarnya secara obyektif dan ilmiah.
    4. Karakter Modernis yaitu karakter pada manusia yang lahir dari kemampuannya memahami realitas secara rasional dan saintifik. Rasional artinya menjadikan kekuatan rasio sebagai kekuatan tunggal yang sangat menentukan, sedangkan saintifik berarti menganggap adanya suatu kebenaran essensial dan universal yang didasarkan pada langkah-langkah tertentu (metode ilmiah).
    5. Karakter Postmodernisme yaitu karakter pada manusia yang menunjukkan penerimaan atas kondisi masyarakat yang pluralitas, heterogenitas dan fragmentalisme. Hal tersebut merupakan sebuah keniscayaan, bukan merupakan halangan namun adalah sebagai potensi positif untuk berkompetisi secara sehat menuju kebaikan bersama. (2011: 30-37).

    Beberapa karakter tersebut dapat dinyatakan bahwa manusia yang berkarakter adalah manusia yang di dalam dirinya memiliki sifat-sifat kebajikan/kebaikan yang terpancar dalam setiap aktivitasnya sehari-hari atau dengan kata lain seperti yang dinyatakan oleh Furqon Hidayatullah bahwa "seseorang dapat dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki oleh masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya" (2010:10).

    Berdasarkan definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakter adalah aktualisasi dari kepribadian seseorang yang diwujudkan dalam sikap, tingkah laku, tutur kata dan cara memandang seseorang sehingga dapat di tentukan apakah orang tersebut orang baik (berkarakter mulia) atau orang tidak baik (berkarakter jelek).

    Pengertian Pendidikan Karakter

    Pendidikan adalah sebuah proses memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan perubahan tingkah laku yang dilakukan dengan berbagai proses sehingga mampu meningkatkan dan mengembangkan apa yang dipelajari. Karakter adalah aktualisasi dari kepribadian seseorang yang diwujudkan dalam sikap, tingkah laku, tutur kata dan cara memandang seseorang sehingga dapat di tentukan apakah orang tersebut orang baik (berkarakter mulia) atau orang tidak baik (berkarakter jelek).

    Slamet Imam Santoso mengemukakan bahwa tujuan pendidikan yang murni adalah menyusun harga diri yang kukuh-kuat dalam jiwa pelajar, supaya kelak dapat bertahan dalm masyarakat. Di bagian lain juga menjelaskan bahwa pendidikan bertugas mengembangkan potensi individu semaksimal mungkin dalam batas-batas kemampuannya, sehingga terbentuk manuasia yang pandai, terampil, jujur, tahu kemampuan dan batas kemampuannya, serta mempunyai kehormatan diri. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pembinaan watak juga merupakan tugas utama pendidikan (Hidayatullah, 2010: 10).

    Ryan dan Bohler memberikan penjelasan "bila karakternya baik maka akan dimanifestasikan dalam kebiasaan baik di kehidupan sehari-hari : pikiran baik, hati baik, dan tingkah laku baik. Berkarakter baik berarti mengetahui yang baik, mencintai kebaikan dan melakukan yang baik" (Gede Raka dkk, 2011: 36). Telaah mengenai karakter hampir selalu dikaitkan dengan konsep kebajikan. Kebajikan adalah karakteristik yang bisa diterima oleh semua orang, artinya antara konsep tentang karakter dan kebajikan adalah dekat.

    Gede Raka dkk menyatakan bahwa dalam setiap kebajikan teridentifikasi ada kekuatan karakter/character strenght (2011: 34). Patterson dan Seligmen menyebutkan ada enam kategori kebajikan yang di dalamnya ada kekuatan karakternya, yaitu:
    1. Kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge) yaitu kekuatan kognitif yang berkaitan dengan penambahan dan penggunaan pengetahuan. Kekuatan karakter yang teridentifikasi berupa kreativitas (orisinil dan banyak ide), memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berfikiran terbuka, memiliki semangat dalam belajar dan berwawasan.
    2. Keberanian (courage) yaitu kekuatan emosional yang mencakup kemuan yang kuat untuk mencapai suatu tujuan di tengah-tengah tentangan yang dihadapi, baik dari dalam maupun dari luar. Kekuatan karakter yang teridentifikasi adalah keberanian (bravery) - tidak takut menghadapi ancaman, tantangan, kesulitan atau kesakitan-, kegigihan, integritas (ketulusan dan kejujuran) dan vitalitas (menjalani kehidupan dengan kegembiraan dan penuh semangat).
    3. Kemanusiaan (humanity) yaitu kekuatan interpersonal yang mencakup ketulusan merawat, membantu, sikap bersahabat, dan menjaga orang lain. Kekuatan karakter yang yang teridentifikasi adalah kasih (love), kebaikan hati (kedermawanan, kepeduliaan, welas asih, santun, tanpa pamrih) dan kecerdasan sosial (kecerdasan emosional, kecerdasan personal).
    4. Keadilan (justice) yaitu sifat baik warga masyarakat yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat yang sehat. Kekuatan karakter yang teridentifikasi adalah kewargaan (tanggung jawab sosial, loyalitas, teamwork), berkeadilan (fairness) dan kepemimpinan.
    5. Pembatasan diri (temperance) yaitu sifat baik yang menghindarkan seseorang dari ekses (sikap atau perbuatan yang melewati batas). Kekuatan karakter yang teridentifikasi adalah kesediaan memaafkan dan belas kasihan (forgivness and mercy), kerendahan hati/kesederhanaan, kehati-hatian dan pengendalian diri.
    6. Transendensi (transedence) yaitu kekuatan untuk melihat hubungan dengan alam dan merasakan maknanya. Kekuatan karakter yang teridentifikasi adalah apresiasi terhadap keindahan dan keistimewaan (appreciation of beuty and excellence), rasa syukur, harapan (optimisme, orientasi ke masa depan), humor dan spiritualitas (memiliki keyakinan tentang tujuan yang lebih tinggi) (Gede Raka dkk, 2011:39-43).

    Untuk mewujudkan kekuatan karakter pada siswa maka perlu adanya penerapan pendidikan karakter pada siswa yang dilakukan sekolah-sekolah. Pendidikan karakter merupakan suatu usaha penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut yang dilakukan secara sistematis. Dalam pendidikan karakter di sekolah, khususnya SMK semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen komponen pendidikan itu sendiri, meliputi isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, dan etos kerja para guru. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter.
    Bagus Mustakim mendefinisikan "Pendidikan karakter sebagai suatu proses internalisasi sifat-sifat utama yang menjadi ciri khusus dalam sebuah masyarakat ke dalam peserta didik sehingga dapat tumbuh dan bekembang menjadi manusia dewasa sesuai dengan nilai-nilai tersebut" (2011: 29).

    Ratna Megawangi dalam Adian Husaini (2010)juga mendefinisikan pendidikan karakter bahwa:

    Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk mengukir akhlak dengan proses knowing the good, loving the good, and acting the good. Yakni suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi dan fisik, sehingga akhlak mulia dapat terukir menjadi habit of the mind, hearth, and hands.

    Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata, yaitu tingkah laku yang baik, jujur bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya (Lickona, 1991).

    Pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya/psikomotor (Kementrian Pendidikan Nasional, 2011:1).

    Pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action). Pendidikan karakter menekankan pada habit atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan dilakukan.

    Pendidikan karakter dapat juga diartikan segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik, sehingga karakter peserta didik menjadi karakter yang mulia. Guru dan lembaga sekolah membantu membentuk watak peserta didik, hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya serta kebijakan-kebijakan sekolah mengenai penerapan pendidikan karakter.

    Referensi:

    Fatmawati Nur Hasanah, 2012, Penerapan Pendidikan Karakter.....

    Post a Comment

    Previous Post Next Post