Psikologi: Arti Teori Pengertian Kepribadian

Pengertian Psikologi

Kata psikologi berasal dari kata Yunani psyche yang diartikan jiwa dan logos yang berarti ilmu atau ilmu pengetahuan. Kata psikologi sering diartikan sebagai ilmu tentang jiwa atau disingkat dengan ilmu jiwa. Atkinson (dalam Minderop, 2010: 3) mengemukakan bahwa pengertian psikologi adalah ilmu jiwa atau ilmu yang menyelidiki dan mempelajari tingkah laku manusia. Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari kehidupan jiwa manusia secara alamiah dan mendalam untuk memahami arti sebenarnya dari kehidupan manusia. Dalam penerapannya, aktivitas kejiwaan hanya dapat dilihat dari tingkah laku manusia dan psikologi terus memperluas jangkauannya sehingga memunculkan cabang-cabang ilmu psikologi.


    Sementara itu, Gunarso (2002:1) mengungkapkan bahwa psikologi berasal dari kata psych yaitu jiwa dan logos yaitu ilmu pengetahuan. Pengertian psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia. Perilaku seseorang adalah hasil interaksi antara dirinya dengan lingkungan, sehingga perilakunya harus dipelajari dalam hubungan dengan lingkungan.

    Berdasarkan pendapat di atas, dapat dipahami bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku kejiwaan manusia. Agar dalam hubungan dapat berjalan lancar diperlukan keseimbangan antara jiwa dan raga dalam kehidupannya.

    Teori Pengertian Kepribadian

    Kepribadian adalah organisasi dinamik suatu system psikologis yang terdapat dalam din seseorang yang pada giliramiya menentukan penyesuaian khas yang dilakukan terhadap lingkungannya atinya sebagai keselurithan cara yang digunakan seseorang unruk bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain. Menunit berbagai penelitian factor-faktor yang turut berperan dalam kepribadian antara lain: keturunan, lingkungan dan situasi (Siagian, 1989).

    Menarik dibaca juga: Kreativitas

    Pengertian kepribadian secara etimologis adalah, Istilah kepribadian merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris "Personality". Sedangkan personality secara etimologis berasal dari bahasa Latin person (kedok)dan personare (menembus). Persona biasanya dipakai oleh para pemain sandiwara pada zaman kuno unuk memerankan satu bentuk tingkah laku dan karakter pribadi tertentu. Sedangkan. Misalnya : seorang pemurung, pendiam, periang, peramah, pemarah dan sebagainya. Jadi, persona itu bukan pribadi pemain itu sendiri, tetapi gambaran pribadi dari tipe manusia tertentu dengan melalui kedok yang dipakainya.

    pengertian kepribadian

    Teori kepribadian secara terminologis bahwa, Menurut Amit Abraham (2005:1) mendefinisikan "Kepribadian adalah pola-pola pikiran, perasaan dan perilaku yang sudah berurat-akar mendalam dan relatif menetap". Kepribadian biasanya merujuk pada apa yang unik pada diri seseorang, yaitu karakteristik yang membedakan satu orang dengan orang lain.

    Pengertian Kepribadian menurut para ahli, menurut pendapat berbagai ahli yang dikutip oleh Syamsu Yusuf LN (2005:126) adalah sebagai berikut : a) May mengartikan kepribadian sebagai "a social stimulus value". Jadi menurutnya cara orang lain mereaksi, itulah kepribadian individu. Dalam kata lain, pendapat orang lainlah yang menetukan kepribadian individu itu. b) McDougal dan kawan-kawan berpendapat, bahwa kepribadian adalah "tingkatan sifat-sifat di mana biasanya sifat yang tinggi tingkatannya mempunyai pengaruh yang menentukan." c) Gordon W. Allport mengemukakan, "Personality is dynamic organization within the individual of those psychophysycal system, than determines his unique adjustment this enviroment ". (kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan).

    Hirarki kebutuhan Maslow

    Abraham Maslow dikenal dengan pelopor psikologi kebutuhan humanistik. Menurut Maslow, psikologi humanistik adalah sebagai kekuatan ketiga dalam psikologi modern setelah behaviorisme dan psikoanalis. Goble (1987: 33) menambahkan bahwa teori Maslow bukanlah penolakan secara mentah-mentah atas karya Freud atau Watson serta para behavioris lain, melainkan lebih merupakan usaha menelaah segi-segi yang bermanfaat, bermakna, dan dapat diterapkan bagi kemanusiaan. Sejalan dengan hal tersebut, Jerome (2013) dalam jurnalnya berjudul Application of The Maslow’s Hierarchy of Need Theory; impacts and implications on organizational culture, human resource and employee’s performance yang berpendapat

    "Maslow's hierarchy of needs where the lower order needs (physiological and safety needs) may be linked to organizational culture. Every new organization passes through this lower order stage in which they struggle with their basic survival needs. At the third level of the Maslow’s hierarchy, social needs would correspond to the formation of organized roles within the organization into distinct units, depicting the human resource management function which resonates according to the tone set by organizational culture. The positive interaction of organizational culture and human resource management would result in self-esteem and self-actualization".

    Hirarki kebutuhan Maslow dari urutan bawah (kebutuhan fisiologi dan keselamatan) yang mungkin terkait dengan budaya organisasi. Setiap organisasi baru melewati tahap urutan ini lebih rendah di mana mereka berjuang dengan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup mereka. Pada tingkat ketiga Hirarki Maslow, kebutuhan sosial akan sesuai dengan pembentukan terorganisir sesuai peran dalam organisasi menjadi unit-unit yang berbeda, menggambarkan fungsi manajemen sumber daya manusia sesuai yang ditetapkan oleh budaya organisasi.

    Interaksi positif dari budaya organisasi dan manajemen sumber daya manusia akan menimbulkan harga diri dan aktualisasi diri.

    Abraham Maslow juga melihat bahwa manusia adalah suatu keutuhan yang lebih menyeluruh yang mempunyai kebutuhan berjenjang lima mulai dari kebutuhan fisiologi tubuh, kebutuhan akan kemanan, kebutuhan akan kebersamaan, kebutuhan penghargaan, dan yang terakhir kebutuhan aktualisasi diri. Manusia yang berupaya memenuhi dan mengekspresikan potensi dan bakatnya kerap kali terhambat oleh kondisi masyarakat yang menolaknya. Keadaan semacam ini dapat menyebabkan seseorang mengalami problem kejiwaan dan ketimpangan perilaku (Krech dalam Minderop, 2010: 48).

    Hal serupa dikemukan oleh Idemobi (2011) dalam jurnalnya berjudul The Implication of Abraham Maslow’s Hierarchy of Needs Theory to Business Activities in Nigeria tentang hirarki kebutuhan maslow menyatakan bahwa:

    "Maslow had categorized human needs into four major blocks starting with basic psychological needs and thus gave us an insight into how to satisfy human needs for profit. Maslow had posited that people grapple with a hierarchy of needs in such a way that as the lower needs are satisfied it will be necessary to move up to the next category of need. Hence people grapple first with the basic psychological needs of air, food, clothing, water and shelter. As these are satisfied they move to the next level of social needs of friendship and affection and thirdly to the level of safety and security needs of protection, order and stability. The fourth level is the ego needs of prestige,success and self-respect and finally to needs of self-actualization to show that one has really arrived. This means that when one need is satisfied, another higher-level need emerges and motivates the person to do something to satisfy it".

    Maslow mengategorikan kebutuhan manusia menjadi empat blok besar dimulai dengan dasar kebutuhan psikologis. Dalam hal ini, memberi kita wawasan bagaimana memuaskan kebutuhan manusia untuk mencari keuntungan. Maslow telah mengemukakan bahwa setelah orang bergulat dengan hirarki kebutuhan yang lebih rendah puas maka akan pindah ke kategori kebutuhan berikutnya. Oleh karena itu, orang pertama akan bergulat dengan kebutuhan psikologis dasar air, makanan, pakaian, air dan tempat penampungan. Setelah puas, mereka pindah ke tingkat berikutnya sosial kebutuhan persahabatan dan kasih sayang dan ketiga untuk tingkat keselamatan dan keamanan kebutuhan perlindungan, urutan dan stabilitas. Tingkat keempat adalah kebutuhan ego prestige, keberhasilan dan harga diri dan akhirnya kebutuhan aktualisasi diri untuk menunjukkan bahwa seseorang telah benar-benar tiba. Ini berarti bahwa ketika satu kebutuhan puas, kebutuhan tingkat yang lebih tinggi yang lain muncul dan memotivasi orang untuk melakukan sesuatu untuk memuaskan itu.

    Teori yang disampaikan Abraham Maslow dikenal dengan Hierarchy of Needs atau hirarki kebutuhan. Adapun hirarki kebutuhan tersebut akan diuraikan sebagai berikut.

    1. Kebutuhan Fisiologis

    Teori ini merupakan teori yang paling dasar, paling kuat dan paling kelas dari antara kebutuhan hidupnya. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan akan makanan, minuman, tempat berteduh, s**s, tidur dan oksigen. Ia akan mengabaikan atau menekan dulu semua kebutuhan sampai kebutuhan fisiologisnya terpenuhi. Minderop (2010: 284) juga mendefinisikan kebutuhan fisiologis sebagai sekelompok kebutuhan dasar yang paling mendesak pemuasannya karena terkait dengan kebutuhan biologis manusia. Misalnya, kebutuhan pangan, sandang, papan, seks, oksigen, dan sebagainya, demi kelangsungan hidup manusia. Tidak berbeda jauh dengan Yusuf (2008: 157) yang mengemukakan bahwa kebutuhan manusia yang paling dasar yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, seperti kebutuhan akan makanan, minuman, seks, istirahat dan oksigen.

    Hal tersebut juga dikemukakan oleh Alwisol (2009: 204) bahwa kebutuhan fisiologis ini sangat kuat, dalam keadaan kelaparan dan kehausan, semua kebutuhan lain ditinggalkan dan orang mencurahkan semua kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan ini. Seperti orang yang kekurangan makanan misalnya, karena lapar keinginan yang ada hanyalah makanan, tidak ada keinginan yang lain, yang dipikirkan, dimimpikan, dibicarakan, dilakukan, diinginkan semua tentang makanan. Kebutuhan ini sangat berpengaruh terhadap tingkah laku manusia dan ia selalu berusaha memenuhinya. Apabila kebutuhan fisiologis individu telah terpuaskan, dalam diri individu akan menuntut pemuasan akan kebutuhan rasa aman.

    2. Kebutuhan Rasa Aman

    Kebutuhan rasa aman adalah kebutuhan ketika individu dapat merasakan keamanan, ketentraman, kepastian, dan kesesuaian dengan lingkungannya. Kebutuhan rasa aman meliputi kebutuhan akan jaminan, stabilitas, perlindungan, ketertiban, bebas dari ketakutan dan kecemasan. Ketidakpastian yang dihadapi manusia membuat manusia harus mencapai sebanyak mungkin jaminan, perlindungan, dan ketertiban menurut kemampuannya (Minderop, 2010: 280).

    Ketika orang telah memenuhi kebutuhan fisiologis mereka, mereka menjadi termotivasi dengan kebutuha akan keamanan yang termasuk di dalamnya keanaman fisik, stabilitas, ketergantungan, perlindungan dan kebebasan dari kekuatan yang mengancam, seperti perang, terorisme, penyakit, rasa takut, kecemasan, bahaya, kerusuhan, dan bencana alam. Kebutuhan akan hukum, ketenteraman, dan keteraturan juga merupakan bagian dari kebutuhan akan keamanan (Maslow dalam Feist, 2010: 333).

    Kebutuhan rasa aman sudah muncul sejak bayi, dalam bentuk menangis atau berteriak ketakutan karena perlakuan yang kasar atau karena perlakuan yang dirasa sebagai sumber bahaya. Anak akan merasa lebih aman berada dalam suasana keluarga yang teratur, terencana, terorganisir, dan disiplin karena suasana semacam itu mengurangi kemungkinan adanya perubahan dadakan, dan kekacauan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Pengasuhan yang bebas tidak mengenakan batasan-batasan, misalnya tidak mengatur kapan bayi tidur, dan kapan makan, akan membuat bayi bingung dan takut, bayi tidak terpuaskan kebutuhan keamanandan keselamatannya. Peristiwa pada orang tua seperti adu mulut atau pemukulan, perceraian dan kematian membuat lingkungan tidak stabil atau tidak terduga sehingga bayi merasa tidak aman (Alwisol, 2009: 204-205).

    3. Kebutuhan Rasa Dicintai dan Memiliki

    Setelah kebutuhan fisiologis dan rasa aman terpuaskan, kebutuhan dicintai dan memiliki atau menjadi bagian dari kelompok sosial menjadi tujuan yang dominan.

    Kebutuhan rasa dicintai dan memiliki diekspresikan dalam berbagai cara, seperti: persahabatan, percintaan, atau pergaulan yang lebih luas. Menurut Maslow (dalam Goble, 1971: 74) cinta tidak sinonim dengan seks, cinta adalah hubungan sehat antara sepasang manusia yang melibatkan perasaan saling menghargai, menghormati, dan mempercayai. Maslow menolak pandangan Freud yang mengatakan bahwa cinta adalah sublimasi dari insting seks. Dicintai dan diterima adalah jalan menuju perasaan yang sehat dan berharga, sebaliknya, tanpa cinta menimbulkan kesia-siaan, kekosongan, dan kemarahan.

    Kebutuhan rasa cinta dan memiliki adalah sebuah kebutuhan yang mendorong manusia untuk melakukan hubungan afektif atau hubungan emosional dengan orang lain. Hubungan ini dapat berupa hubungan antara dua jenis kelamin yang berbeda atau sejenis, dan dapat pula berhubungan dengan kelompok masyarakat tertentu. Kebutuhan ini ditandai dengan adanya rasa kepemilikan dan cinta, contohnya rasa kasih sayang dari orang lain (Minderop, 2010: 296-297). Sehubungan dengan hal tersebut, Feist (2010: 335) menambahkan bahwa anak-anak membutuhkan cinta supaya mereka dapat tumbuh secara psikologis dan usaha mereka untuk mendapatkan kebutuhan ini biasanya dilakukan secara jujur dan langsung.

    4. Kebutuhan Penghargaan

    Maslow (dalam Goble, 1971: 76) menemukan bahwa setiap orang memiliki dua kategori kebutuhan akan penghargaan. Pertama, harga diri meliputi kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan dan kebebasann. Kedua, penghargaan dari orang lain meliputi prestise, pengakuan, penerimaan, perhatian, kedudukan, dan nama baik. Alwisol (2009: 206) menambahkan penghargaan dari orang lain hendaknya diperoleh berdasarkan penghargaan diri kepada diri sendiri. Orang seharusnya memperoleh harga diri dari kemampuan dirinya sendiri, bukan dari ketenaran eksternal yang tidak dapat dikontrolnya yang membuatnya tergantung kepada orang lain.

    Menurut Maslow (dalam Feist, 2010: 335) kebutuhan akan penghargaan mencakup penghormatan diri, kepercayaan diri, kemampuan, dan pengetahuan yang orang lain hargai tinggi. Ada dua tingkatan kebutuhan akan penghargaan, yaitu reputasi dan harga diri.

    Reputasi adalah pesepsi akan gengsi, pengakuan, atau ketenaran yang dimiliki seseorang dilihat dari sudut pandang orang lain. Sementara itu, harga diri adalah perasaan pribadi seseorang bahwa dirinya bernilai atau bermanfaat dan percaya diri. Harga diri didasari oleh lebih dari sekadar reputasi maupun gengsi. Harga diri menggambarkan sebuah keinginan untuk memperoleh kekuatan, pencapaian atau keberhasilan, kecukupan, penguasaan dan kemampuan, kepercayaan diri di hadapan dunia, serta kemandirian dan kebebasan.

    Sejalan pendapat Maslow tersebut, Yusuf (2008: 159) mengemukakan bahwa jika seseorang telah merasa dicintai atau diakui maka orang itu akan mengembangkan kebutuhan perasaan berharga. Kebutuhan ini terdiri atas dua kategori, yaitu:

    1. harga diri meliputi: kepercayaan diri, kompetensi, kecukupaan, prestasi, dan kebebasan;
    2. peghargaan dari orang lain meliputi pengakuan, perhatian, prestise, respek, dan kedudukan (status).

    Memperoleh kepuasaan dari kebutuhan ini memungkinkan individu memiliki rasa percaya diri akan kemampuan dan penampilannya menjadi lebih kompeten dan produktif dalam semua aspek kehidupan. Sebaliknya, apabila seseorang mengalami kegagalan dalam memperoleh kepuasaan maka dia akan mengalami rendah diri, tidak berdaya, tida bersemangat dan kurang percaya diri akan kemampuannya untuk mengatasi masalah kehidupan yang dihadapinya.

    5. Kebutuhan Aktualisasi Diri

    Ketika kebutuhan akan penghargaan ini telah terpenuhi, maka kebutuhan lainnya yang sekarang menduduki tingkat teratas adalah aktualisasi diri. Inilah puncak sekaligus fokus perhatian Maslow dalam mengamati hirarki kebutuhan. Menurut Maslow (dalam Goble, 1971:77) setiap orang harus berkembang sepenuh kemampuannya. Maslow melukiskan kebutuhan aktualisasi diri sebagai hasrat untuk semakin menjadi diri sepenuh kemampuannya sendiri, menjadi apa saja menurut kemampuan atau potensi yang dimilikinya.

    Kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan manusia tertinggi. Kebutuhan ini tercapai apabila kebutuhan-kebutuhan di bawahnya telah terpenuhi dan terpuaskan. Menurut Maslow, seseorang akan mampu mencapai kebutuhan aktualisasi diri apabila mampu melewati masa-masa sulit yang berasal dari diri sendiri maupun dari luar (Minderop, 2010: 305). Manusia yang dapat mencapai tingkat aktualisasi diri ini menjadi manusia yang utuh, memperoleh kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan yang orang lain bahkan tidak menyadari ada kebutuhan semacam itu. Mereka mengekspresikan kebutuhan dasar kemanusiaan secara alami, dan tidak mau ditekan oleh budaya (Alwisol, 2009: 206).

    Hal serupa juga dikemukakan oleh Hoffman (2004) dalam jurnal psikologi nya yang berjudul Abraham Maslow's Life and Unfinished Legacy bahwa:

    "In Maslow's view, the presence of peak-experiences is an important sign of selfactualization. Those who have many "peaks" involving a sense of joy, completion, and accomplishment are definitely in the right setting for their true personality or soul". (Dalam pandangan Maslow, kehadiran puncak pengalaman adalah tanda penting untuk aktualisasi diri. Mereka yang memiliki banyak "puncak" meliputi rasa sukacita, penyelesaian, dan prestasi yang jelas dalam mengatur kepribadian atau jiwa dengan tepat).

    Schultz (dalam Minderop, 2010: 281-282) mendefinisikan kebutuhan aktualisasi diri sebagai perkembangan yang paling tinggi dan penggunaan semua bakat, pemenuhan semua kualitas dan kapasitasnya walaupun manusia telah mencapai kebutuhan dalam tingkat yang lebih rendah, yakni merasa aman secara fisik dan emosional, mempunyai rasa memiliki dan cinta, merasa berharga, namun akan merasa kecewa, tidak tenang dan tidak puas jika gagal berusaha memuaskan kebutuhan akan aktualisasi diri. Apabila kondisi ini terjadi, maka manusia tersebut tidak berada dalam damai dengan dirinya sendiri, dan tidak bisa dikatakan sehat secara psikologis. Kebutuhan aktualisasi diri mencakup pemenuhan diri, sadar akan semua potensi dan keinginan untuk menjadi sekreatif mungkin. Orang yang telah mencapai aktualisasi diri hanya melihat sekilas kebutuhan orang lain. Orang yang mengaktualisasi diri dapat mempertahankan harga diri mereka ketika mereka dimaki, ditolak, dan diremehkan orang lain (Feist, 2010: 336).

    Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disintesiskan kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan mendasar yang harus terpuaskan lebih dahulu sebelum muncul kebutuhan rasa aman. Sesudah kebutuhan fisiologis dan rasa aman terpuaskan, kemudian muncul kebutuhan rasa memiliki dan cinta (kasih sayang) dan seterusnya hingga muncul kebutuhan aktualisasi diri.

    Referensi:
    Nita Wahyu Tyastiti, 2015, Kajian Psikologi Sastra.....
    Rini Rahmawati, 2007, Pengaruh kepramukaan dan....

    Post a Comment

    0 Comments