Psikologi: Tipe-tipe Kepribadian Seseorang

Setiap individu mengadakan orientasi terhadap dunia sekitarnya dengan cara yang berbeda antara individu yang satu dengan yang lain. Ada individu yang dipengaruhi dunia objektif (dunia luar dirinya) yang memiliki orientasi keluar atau ekstrovert dan akan disebut sebagai individu tipe ekstrovert apabila menjadi kebiasaan. Sedangkan individu yang memiliki orientasi ke dalam dan lebih dipengaruhi dunia subjektif (dunia dalam dirinya) disebut introvert. Disebut sebagai individu tipe introvert apabila menjadi kebiasaan (Sunaryo, 2002).


    Menurut Siagian, 1986 (dalam Rachmawati dkk., 2002) kepribadian seseorang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk sikap, cara berpikir, dan cara bertindak. Sikap, cara berpikir, dan cara bertindak tidak sama antar individu yang satu dengan yang lain. Jung (dalam Boeroee, 2006) mengembangkan sebuah tipologi kepribadian, yaitu tipologi kepribadian ekstrovert dan tipologi kepribadian introvert. Seseorang yang introvert adalah seseorang yang lebih mementingkan dunia internal pikiran, perasaan, fantasi, dan mimpi mereka, sedangkan seseorang yang ekstrovert lebih mementingkan dunia eksternal yang terdiri atas segala benda, orang lain, dan aktivitas-aktivitas luar. 

    Pengertian Tipe Kepribadian

    Kepribadian dalam bahasa Inggris dikenal dengan personality yang berasal dari bahasa Latin persona dan mempunyai arti topeng. Menurut Jung (dalam Hall dan Lindsey, 1993) persona adalah topeng yang dipakai sang pribadi sebagai respons terhadap tuntutan-tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat serta terhadap kebutuhan-kebutuhan arketipal sendiri (suatu bentuk pikiran universal yang mengandung unsur emosi yang besar). Persona merupakan peranan yang diberikan masyarakat terhadap seseorang. Tujuan topeng ini adalah untuk menciptakan kesan tertentu pada orang lain, dan sering kali menyembunyikan hakikat dirinya yang sebenarnya, namun tidak selalu menyembunyikan hakikat dirinya yang sebenarnya. Persona adalah kepribadian publik, aspek-aspek pribadi yang ditunjukkan kepada dunia atau pendapat publik yang melekat kepada individu (Hall dan Lindsey, 1993).
    Menarik dibaca juga: Pengertian Kepribadian
    Eysenk (dalam Hall dan Lindsey, 1993) mendefinisikan kepribadian sebagai gabungan dari fungsi secara nyata maupun fungsi potensial pola organisme yang ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan. Kepribadian awal akan tumbuh melalui interaksi empat macam fungsional yaitu sektor kognitif (inteligensi), sektor konatif (karakter), sektor afektif (temperamen) dan sektor somatis (konstitusi).


    Para ahli psikologi memberikan definisi kepribadian yang berbeda-beda. Tidak ada satupun definisi yang diterima untuk mendefinisikan kepribadian secara menyeluruh. Para ahli psikologi kepribadian mengembangkan teori kepribadian yang unik karena setiap ahli kepribadian memandang dari sudut yang berbeda (Feist, 1985). Tiap definisi tidak ada yang benar atau salah, namun definisi-definisi yang ada memperkaya bidang psikologi sebagai ilmu pengetahuan (John, 1966).

    Jung (dalam Hall dan Lindsey, 1993) membedakan dua sikap atau orientasi utama kepribadian. Sikap tersebut adalah sikap ekstraversi (ekstrovert) dan sikap introversi (introvert). Ia menyatakan bahwa sikap tipe kepribadian ekstrovert mengarahkan pribadi ke dunia luar, dunia obyektif, sedangkan sikap introvert mengarahkan pribadi ke dalam, ke dunia subyektif.

    Eysenk (dalam Suryabrata, 2005) berpendapat adanya tipe kepribadian ekstrovert dan introvert. Penelitiannya terhadap 10.000 orang neurotis dan normal yang dilangsungkan pada waktu Perang Dunia II menemukan dua variabel yang fundamental. Eysenk dengan analisis faktor, menemukan dua faktor dasar yaitu neuroticism dan introversion-extravesion. Setelah kedua dimensi diterapkan, maka Eysenk dan pembantu-pembantunya mengadakan penyelidikan yang lebih luas untuk menentukan ciri-ciri dimensi tersebut. Hasil akhir penyelidikan Eysenk adalah pencandraan mengenai introvert dan ekstrovert.

    Menurut Eysenk (dalam Boeroee, 2006) seseorang yang ekstrovert memiliki kendali diri yang kuat. Ketika dihadapkan pada rangsangan-rangsangan traumatik, otak ekstrovert akan menahan diri, artinya tidak akan terlalu memikirkan trauma yang dialami sehingga tidak akan terlalu teringat dengan apa yang telah terjadi. Sebaliknya, orang introvert memiliki kendali diri yang buruk. Ketika mengalami trauma, otak tidak terlalu sigap melindungi diri dan berdiam diri, akan tetapi justru membesar-besarkan persoalan dan mempelajari detail-detail kejadian, sehingga orang ini dapat mengingat apa yang terjadi dengan sangat jelas.

    Seiring dengan perkembangan jaman teori kepribadian Jung terus diperbarui. Awalnya Jung hanya mengungkapkan teori tentang tipe kepribadian ekstrovert dan introvert. Namun kemudian Jung menemukan bahwa terdapat beberapa orang yang tidak dapat masuk ke dalam tipe kepribadian ekstrovert maupun introvert. Orang-orang tersebut cenderung untuk memiliki karakteristik dari kedua tipe tersebut.

    Jung kemudian menambahkan satu tipe kepribadian selain tipe kepribadian ekstrovert dan introvert, yaitu tipe kepribadian ambivert. Orang dengan tipe kepribadian ambivert bukan termasuk ekstrovert ataupun introvert tetapi ada diantara keduanya (Branca, 1965).

    Ambiversion adalah kecenderungan seseorang untuk memperlihatkan karakteristik tipe kepribadian ekstrovert dan introvert secara seimbang (Bos, 2007). Karakteristik ekstrovert maupun introvert pada diri seseorang dengan tipe kepribadian ambivert tidak menyolok tetapi berada diantara keduanya ( Kartono & Gulo, 2003).

    1. Kepribadian Ekstrovert

    Menurut Sunaryo (2002) orang-orang dengan tipe kepribadian ekstrovert memiliki ciri-ciri antara lain orientasinya lebih banyak tertuju ke luar (lahiriah). Pikiran, perasaan dan tindakan orang-orang dengan tipe kepribadian ekstrovert terutama ditentukan oleh lingkungan sosial maupun non sosial di luar dirinya. Sifatnya positif terhadap masyarakat, cepat beradaptasi dengan lingkungan, tindakan cepat dan tegas, hatinya terbuka, mudah bergaul dan hubungan dengan orang lain lancar.

    Kelemahan orang-orang dengan tipe kepribadian ekstrovert adalah perhatian terhadap dunia luar terlalu kuat yang akan membuatnya tenggelam dalam dunia objektifnya, sehingga akan mengalami kehilangan dirinya atau asing terhadap dunia subjektifnya. Di samping itu, mereka cenderung cepat melakukan tindakan tanpa pertimbangan yang matang.

    Orang dengan tipe kepribadian ekstrovert lebih efektif belajar melalui pengalaman yang konkret, kontak dengan dunia luar dan berhubungan dengan orang lain. Mereka akan merasa lebih bersemangat ketika bersama orang lain dan berinterakasi dengan mereka, serta sering dapat mengungkapkan ide terbaik mereka jika dapat mengungkapkannya pada orang lain. Mereka tergantung pada stimulasi dari luar dan interaksi dengan orang lain.

    2. Kepribadian Introvert

    Menurut Sunaryo (2002) orang-orang dengan tipe kepribadian introvert memiliki ciri-ciri antara lain orientasinya tertuju ke dalam dirinya (batiniah). Pikiran, perasaan dan tindakan orang-orang dengan tipe kepribadian introvert terutama ditentukan oleh faktor subjektif. Adaptasi dengan dunia luar kurang baik, jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan orang lain, kurang dapat menarik hati orang lain, tingkah lakunya lamban dan ragu-ragu, serta penyesuaian dengan batinnya baik. Kehidupan batiniahnya kaya dan terdidik secara baik.

    Orang-orang dengan tipe kepribadian introvert bertindak hati-hati dan penuh perhitungan. Kelemahannya adalah jarak dengan dunia objektif terlalu jauh sehingga lepas dari dunia objektif.

    Orang-orang dengan tipe kepribadian introvert dapat berpikir dengan lebih baik dengan memprosesnya menggunakan pikiran mereka sendiri. Mereka dapat belajar dengan lebih efektif secara individual dan lebih memerlukan situasi yang bebas. Kekuatan mereka terletak pada kemampuan mereka untuk berkonsentrasi pada tugas.

    Ciri-ciri Tipe Kepribadian

    Telah dilakukan penelitian oleh Eysenk dan Wilson  tentang Ciri-ciri Tipe Kepribadian Introvert dan Ekstrovert (dalam Shepherd, 1994) menghasilkan sejumlah ciri-ciri tingkah laku operasional yang diklasifikasikan menurut sifat-sifat kelompok yang mendasarinya menjadi tujuh aspek yang terdapat pada tipe kepribadian introvert dan ekstrovert.

    Ciri-ciri tipe kepribadian ekstrovert

    Ada 7 ciri-ciri tipe kepribadian seseorang yang tergolong pada tipe kepribadian ekstrovert, diantaranya adalah:
    1. Activity, seseorang yang mempunyai nilai tinggi pada aspek ini pada umumnya aktif, energik, suka semua jenis aktivitas fisik, suka bangun pagi, bergerak dengan cepat, dari aktivitas ke aktivitas lainnya, serta mengejar berbagai macam kepentingan dan minat yang berbeda-beda.
    2. Sociability, adalah orang yang suka mencari teman, suka kegiatan sosial, pesta, dan merasa senang dengan situasi ramah tamah.
    3. Risk taking, merupakan orang yang senang hidup dalam bahaya, mencari pekerjaan yang memberikan tantangan.
    4. Impulsiveness, orang ini cenderung bertindak secara mendadak tanpa berpikir lebih dulu, suka memberi keputusan terburu-buru dan tidak punya pendirian tetap.
    5. Expresiveness, orang ini cenderung sentimental, penuh perasaan, dan demonstratif, ia dapat mengekspresikan perasaannya dengan baik dan jujur. Individu dengan nilai tinggi pada aspek ini adalah orang yang cenderung memperlihatkan emosinya ke luar dan terbuka, termasuk jika sedang sedih, marah, cinta, dan benci.
    6. Practically, adalah orang dengan kegemaran pada hal-hal yang bersifat praktis dan lebih tertarik melakukan hal-hal yang praktis, tidak sabar dengan kegiatan yang bersifat khayal dan abstrak.
    7. Irresposibility, adalah orang yang tidak suka hal-hal yang resmi, sering berubah pendirian, kurang dapat menepati janji, kurang bertanggung jawab secara sosial, namun masih dalam batasan normal.

    Ciri-ciri tipe kepribadian Introvet

    Ciri-ciri yang terdapat pada tipe kepribadian seseorang yang masuk kedalam tipe kepribadian Introvert adalah sebagai berikut:

    1. Inactivity (passive), orang yang memiliki nilai tinggi pada aspek ini adalah orang yang lamban dan tidak siap dalam tindakan yang berkaitan dengan aktivitas fisik, mudah mengantuk, kurang bergairah atau kurang berminat dalam bersikap, dan mudah lelah.
    2. Unsociability (tidak mampu bergaul), orang ini cenderung kurang berminat untuk berhubungan dengan orang lain, cukup senang punya sedikit teman tapi lebih akrab, lebih suka kegiatan mandiri, seperti membaca, cenderung menarik diri jika tertekan atau terganggu perasaannya jika berhubungan dengan orang lain.
    3. Carefulness (hati-hati), adalah orang yang mengandalkan kebijaksanaan dalam melakukan suatu tindakan, lebih suka kepada hal yang sudah biasa atau dikenal atau dilakukan dengan sengaja menghindar dari bahaya, merasa bebas dan aman karena dilindungi, kalau perlu mengorbankan kepentingan atau kesenangan sendiri.
    4. Controlled (terkendali), adalah orang yang mengandalkan pengendalian diri, sangat hati-hati mengambil sebuah keputusan, perhitungan dan pertimbangan yang matang, serba teratur, merencanakan masa depan dengan penuh seksama, berpikir sebelum bicara dan bertindak.
    5. Inhibition (emosi tertutup), adalah orang yang cenderung tidak mengungkapkan segala macam perasaan pada orang lain secara terbuka, bersikap tenang, tidak mudah marah, tidak mudah dipengaruhi, pikiran dan perasaan terkendali.
    6. Reflectiveness (reflektif), adalah orang yang berminat sekali terhadap olah gagasan konsep abstraksi, menjawab pertanyaan yang bersifat filsafat, diskusi, membuat prediksi, tenggelam dalam arus berpikir, dan selalu bersikap mawas diri.
    7. Responsibility (bertanggung jawab), dapat dipercaya untuk melakukan sesuatu yang baik selalu memenuhi kata hati, dapat diandalkan, pantas untuk dipercaya, bersikap sungguh-sungguh dan sedikit kompulsif.

    Penilaian (Tes) Kepribadian Ekstrovert dan Introvert

    Karakteristik komponen atau subfaktor untuk menilai kepribadian ekstrovert-introvert adalah: activity, sociability, risk taking, impulsivenes, ekspressivenes, reflectivenes, responsibility. Tujuh aspek tersebut digunakan oleh Eysenck sebagai tolak ukur tingkat ekstrovert-introvert dari subjek penelitian. Tujuh aspek pada dasarnya adalah komponen objek sikap yang dapat diukur.

    Dalam activity diukur bagaimanakah subjek melakukan aktivitasnya. Orang yang mempunyai tipe kepribadian ekstrovert umumnya aktif dan energik. Menurut Sunaryo (2002) orang-orang dengan tipe kepribadian ekstrovert memiliki ciri-ciri antara lain orientasinya lebih banyak tertuju ke luar (lahiriah). Orang dengan tipe kepribadian intorvert cenderung tidak aktif secara fisik, lesu dan mudah letih. Mereka bergerak di dunia dengan langkah yang santai serta menyukai hari libur yang tenang dan penuh istirahat.

    Sociability mengukur bagaimana orang melakukan kontak social.Orang dengan tipe kepribadian ekstrovert senang mencari teman, menyukai kegiatan-kegiatan sosial, dan mudah menjumpai orang-orang. Sedangkan orang dengan tipe kepribadian introvert lebih senang hanya memiliki beberapa teman khusus saja, menyukai kegiatan- kegiatan menyendiri seperti membaca, dan cenderung menarik diri dari kontak sosial yang menekan. Orang-orang dengan tipe kepribadian introvert kurang percaya diri kemampuan komunikasi mereka (Opt & Loffredo, 2003).

    Risk taking mengukur bagaimana keberanian orang mengambil resiko dalam hidupnya. Ciri-ciri orang dengan tipe kepribadian ekstrovert antara lain : senang hidup dalam bahaya. Orang dengan tipe kepribadian introvert lebih menyukai keakraban (kebiasaan), keamanan serta keselamatan walaupun berarti harus mengorbankan suatu tingkat kegembiraan dalam kehidupan. Orang dengan tipe kepribadian introvert memiliki kecenderungan untuk ragu-ragu, reflektif, defensif, menarik diri dari objek, dan senang bersembunyi dibalik rasa ketidakpercayaan (Budiharjo, 1997).

    Impulsiveness digunakan untuk melihat perbedaan orang ekstrovert dan introvert dari segi orang tersebut impulsif atau tidak. Orang impulsif akan terlihat tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, mudah berubah tidak dapat diramalkan. Orang dengan tipe kepribadian ekstrovert biasanya impulsif daripada orang introvert. Impulsiveness berhubungan dengan aspek exspressiveness.

    Dalam exspressiveness diukur bagaimana orang memperlihatkan gejolak perasaannya seperti marah, benci, cinta, simpati dan rasa suka. Orang dengan tipe kepribadian ekstrovert umumnya sentimental, simpatik, mudah berubah pendirian, serta demonstratif. Sedangkan orang dengan tipe kepribadian introvert umumnya pandai menguasai diri, tenang, tidak memihak, terkontrol ketika menyampaikan pendapat dan perasaan.

    Reflectivenes mengukur ketertarikan pada dunia ide, abstrak dan pertanyaan filosofis yang akan mendorong orang introvert untuk menjadi pemikir dan introspektif. Sebaliknya orang ekstrovert lebih tertarik dalam melakukan sesuatu daripada memikirkannya.

    Responsibility adalah komponen untuk mengkur bagaimanakah individu bertanggung jawab terhadap aktivitas dan pekerjaannya
    (Wulandari cit. Netty, 2004).

    Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian

    Feist (1985) menerangkan bahwa secara garis besar kepribadian ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan:

    1. Faktor genetik, berperan penting dalam menentukan kepribadian. Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik membentuk individu karakteristik kepribadian individu yang berbeda satu dengan yang lain. Faktor ini lebih menonjolkan karakteristik seperti inteligensi dan temperamen serta kurang menonjolkan nilai, cita-cita, dan kepercayaan.
    2. Faktor lingkungan meliputi budaya, kelas sosial, keluarga, dan teman sebaya.
      Menurut Feist (1985) faktor genetik memberi batasan dalam perkembangan karakteristik kepribadian. Karakteristik tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Hereditas memberikan kemampuan memperbolehkan atau tidak memperbolehkan budaya untuk mempengaruhi atau dipengaruhi.

    Eysenk (dalam Hall dan Lindsey, 1993) mengemukakan bahwa kepribadian ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan. Kepribadian awal akan tumbuh melalui interaksi empat macam fungsional yaitu sektor kognitif (inteligensi), sektor konatif (karakter), sektor afektif (temperamen), dan sektor somatis (konstitusi).

    Faktor hereditas (keturunan) dan faktor lingkungan, keduanya saling mempengaruhi kepribadian. Hereditas mengatur batasan perkembangan kepribadian, sedangkan faktor lingkungan menyediakan fasilitas untuk membentuk diri (Feist, 1985).

    Referensi: 

    Permata Ashfi Raihana, 2010, Perbedaan kecenderungan kecanduan.......
    Beta Nuclisa Intan Prima Budi, 2010, Hubungan Tipe Kepribadian.....

    Post a Comment

    0 Comments