TEORI BELAJAR: Teori Belajar Menurut Para Ahli

Sudah sejak lama tertanam dalam diri peserta didik bahwa belajar yang pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari pengajar (guru), dengan demikian mereka beranggapan sebenarnya bahwa pengajar (guru) adalah sumber belajar yang utama buat mereka. Padahal sebenarnya belajar itu tidak hanya terbatas pada kegiatan pembelajaran formal di sekolah tetapi pembelajaran dapat dilakukan di luar sekolah. Teori belajar yang pada dasarnya adalah deskripsi tentang bagaimana terjadinya pembelajaran atau bagaimana peserta didik mendapatkan informasi dan kemudian bagaimana informasi diproses dalam benak peserta didik. Belajar yang pada dasarnya bukan peristiwa yang akan terjadi dalam perilaku yang akan dapat diamati, tetapi proses-proses mental untuk memahami lingkungan mereka sendiri. Belajar yang pada dasarnya merupakan proses untuk membantu perkembangan keterampilan berpikir (Jufri, 2013:44).


    Kecakapan berpikir adalah salah satu aspek kecakapan hidup yang benar-benar perlu dilihat dan dikembangkan melalui proses pendidikan. Seseorang berpikir keterampilan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari sehingga belajar menjadi dasar seseorang berpikir pengembangan keterampilan. Ada suatu pendapat lain tentang belajar yang dikemukakan oleh Mahmud (2012: 61) bahwa belajar adalah suatu proses yang akan dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungan mereka.

    Jika didasarkan pada beberapa pendapat tersebut diatas dapat kita simpulkan sebenarnya bahwa belajar adalah merupakan perubahan perilaku peserta didik dalam bentuk sikap, keterampilan, pengetahuan, kebiasaan, dan kecakapan akibat pengalaman peserta didik tersebut dalam hal berinteraksi dengan lingkungan mereka. Perubahan perilaku tersebut akan terlihat pada kehidupan sehari-harinya.

    Terdapat begitu banyak teori belajar yang berhubungan tentang penelitian pengembangan dan basis pembelajaran Project Based Learning (PjBL) diantaranya adalah:

    Teori Belajar Konstruktivisme Menurut Para Ahli

    Telah ditemukan teori-teori baru dalam psikologi pendidikan yang akan dikelompokkan ke dalam teori pembelajaran konstruktivis (constructivist theories of learning). Teori belajar konstruktivisme menurut para ahli ini menyatakan sebenarnya bahwa peserta didik harus mampu menemukan sendiri dan menstransformasikan informasi, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi peserta didik agar benar-benar dapat memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja untuk memecahkan suatu masalah, menemukan segala sesuatu untuk diri mereka sendiri, berusaha dengan kerja keras untuk dapat memunculkan ide-ide yang baru. Teori ini berkembang dari kerja Piaget, Vygotsky, teori-teori pemrosesan informasi, dan teori psikologi kognitif yang lain, seperti teori Bruner (Slavin dalam Nur, 2002: 8).

    Teori Belajar


    Teori belajar menurut para ahli, teori konstruktivisme ini prinsip mendasar yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah sebenarnya bahwa pengajar (guru) tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada peserta didik. Tetapi peserta didik harus mampu membangun sendiri pengetahuan di dalam benak mereka. Pengajar (guru) dapat memberikan bantuan kemudahan untuk proses ini, dengan memberikan kesempatan peserta didik untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri dan mengajar peserta didik menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Pendidik (guru) dapat memberi peserta didik anak tangga dan membawa peserta didik kepemahaman yang akan lebih tinggi dengan catatan peserta didik sendiri dan harus memanjat anak tangga tersebut (Nur, 2002: 8).

    Fokus pendekatan konstruktivisme bukan pada rasionalitas, tapi pada pemahaman. Inilah alasan utama mengapa teori belajar menurut para ahli konstruktivisme dengan cepat menggantikan teori belajar perkembangan kognitif sebagai dasar dalam penelitian dan praktek pendidikan. Daya tarik dari model konstruktivisme adalah pada kesederhanaannya.

    "Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita itu adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri". Von Glasersfeld menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan. Pengetahuan bukan gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Tetapi pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang". (Sardiman, A. M, 2004: 37).

    Secara sederhana konstruktivisme itu beranggapan bahwa pengetahuan kita merupakan konstruksi dari sesuatu yang mengetahui sesuatu. Pengetahuan itu bukanlah suatu fakta yang tinggal ditemukan, melainkan suatu perumusan yang diciptakan orang yang sedang mempelajarinya. Jadi seseorang yang belajar itu membentuk pengertian. Bettencourt (1989) menyimpulkan bahwa "konstruktivisme tidak bertujuan mengerti hakikat realitas, tetapi lebih hendak melihat bagaimana proses kita menjadi tahu tentang sesuatu"(lih. Paul Suparno) (Sardiman, A. M, 2004: 37).

    Sehubungan dengan itu, ada beberapa ciri atau prinsip dalam belajar yang dijelaskan sebagai berikut:
    1. Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami.
    2. Konstruksi arti itu adalah proses yang terus – menerus.
    3. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, melainkan lebih suatu pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan, melainkan merupakan perkembangan itu sendiri.
    4. Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut. Situasi ketidakseimbangan (disequilibrium) adalah situasi yang baik untuk memacu belajar.
    5. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman subjek belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya.
    6. Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui, si pelajar, konsep – konsep, tujuan, motivasi yang mempengaruhi proses interaksi dengan bahan yang dipelajari.
    (Paul Suparno, 1997: 61)

    Butir – butir penting yang disarankan oleh model belajar – mengajar konstruktivisme yaitu:
    1. Murid harus selalu aktif selama pembelajaran.
    2. Proses aktif ini adalah proses membuat transmisi, tapi melalui interpretasi.
    3. Interpretasi selalu dipengaruhi oleh pengetahuan sebelumnya.
    4. Interpretasi dibantu oleh metode instruksi yang memungkinkan negoisasi pemikiran (bertukar pikiran), melalui diskusi, tanya jawab.
    5. Tanya jawab didorong oleh kegiatan inquiry (ingin tahu) para siswa. Jadi, kalau siswa tidak bertanya atau tidak bicara, berarti murid tidak belajar optimal.
    6. Kegiatan belajar – mengajar tidak hanya merupakan suatu proses pengalihan pengetahuan, tapi juga pengalihan keterampilan dan kemampuan.
    (Mulyasa , 2006: 240)

    Tahapan Belajar-Mengajar Konstruktivisme
    1. Pemanasan – Apersepsi.
      • Pelajaran dimulai dengan hal – hal yang diketahui dan dipahami peserta didik.
      • Motivasi peserta didik dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi peserta didik.
      • Peserta didik didorong agar tertarik untuk mengetahui hal – hal yang baru.
    2. Eksplorasi.
      • Materi atau keterampilan baru diperkenalkan.
      • Mengaitkan materi dengan pengetahuan yang sudah ada pada peserta didik.
      • Mencari metodologi yang paling tepat dalam meningkatkan penerimaan peserta didik terhadap materi baru tersebut.
    3. Konsolidasi Pembelajaran.
      • Melibatkan peserta didik secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi ajaran baru.
      • Melibatkan siswa secara aktif dalam problem solving.
      • Meletakkan penekanan pada kaitan struktural, yaitu kaitan antara materi ajar yang baru dengan berbagai aspek kegiatan atau kehidupan di dalam lingkungan.
      • Mencari metodologi yang paling tepat sehingga materi ajar dapat terproses menjadi bagian dari pengetahuan peserta didik.
    4. Pembentukan Sikap dan Perilaku.
      • Peserta didik didorong untuk menerapkan konsep atau pengertian yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari – hari.
      • Peserta didik membangun sikap dan perilaku baru dalam kehidupan sehari – hari berdasarkan pengertian yang dipelajari.
      • Mencari metodologi yang paling tepat agar terjadi perubahan pada sikap dan perilaku peserta didik.
    5. Penilaian Formatif.
      • Mengembangkan cara – cara untuk menilai hasil pembelajaran peserta didik.
      • Menggunakan hasil penilaian tersebut untuk melihat kelemahan atau kekurangan peserta didik dan masalah – masalah yang dihadapi guru.
      • Mencari metodologi yang paling tepat yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
    (Mulyasa , 2006: 243)

    Secara prinsip Project Based Learning (PjBL) mendorong peserta didik membangun pengetahuan peserta didik melalui proses percobaan, pengamatan, dan pengalaman dalam pembuatan sebuah proyek. Atas dasar inilah, penerapan kontruktivisme dalam pembelajaran berbasis PjBL mendorong peserta didik agar bisa mampu meng-kontruksi pengetahuan sendiri melalui pengalaman nyata.

    Teori Belajar Piaget

    Piaget cit. Paul Suparno (2006) menyebutkan bahwa jika menurut filsafat kontruktivisme, pengetahuan merupakan bentukan (kontruksi) sendiri yang sedang menekuninya. Bila yang sedang menekuni adalah peserta didik maka pengetahuan itu merupakan bentukan peserta didik sendiri. Teori perkembangan Piaget mewakili kontruktivisme, yang akan memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka.

    Belajar pengetahuan menurut Piaget cit. Dimyati dan Mudjiono (2002) ada tiga fase antara lain:
    1. fase eksplorasi, peserta didik mempelajari gejala dengan bimbingan; 
    2. fase pengenalan, konsep peserta didik mengenal konsep yang akan ada hubungannya dengan gejala; 
    3. fase aplikasi, konsep peserta didik menggunakan konsep untuk meneliti gejala lain lebih lanjut.

    Secara singkat Piaget cit. Dimyati dan Mudjiono (2002) menyarankan agar dalam pembelajaran pendidik (guru) memilih masalah yang akan berciri kegiatan prediksi, eksperimentasi dan eksplanasi.

    Menurut teori belajar Piaget, setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang akan baru dilahirkan sampai menginjak usia dewasa mengalami empat tingkat perkembangan kognitif.

    Tahap-tahap Perkembangan Kognitif Piaget
    Tahap Perkiraan Usia Kemampuan-kemampuan utama
    Sensorimotor Lahir sampai 2 tahun Terbentuknya konsep "kepermanenan obyek" dan kemajuan gradual dari prilaku refleksif ke prilaku yang akan mengarah kepada tujuan.
    Pra operasional 2 sampai 7 tahun Perkembangan kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk menyatakan obyek-obyek dunia. Pemikiran masih egosentris dan sentrasi.
    Operasi Kongkrit 7 sampai 11 tahun Perbaikan dalam kemampuan untuk berfikir secara logis. Kemampuan-kemampuan baru termasuk penggunaan operasi-operasi yang dapat balik pemikiran tidak lagi sentrasi tetapi desentrasi, dan pemecahan masalah tidak begitu dibatasi oleh keegosentrisan.
    Operasi Formal 11 tahun sampai dewasa Pemikiran abstrak dan murni simbolis mungkin dilakukan. Masalah-masalah dapat dipecahkan melalui penggunaan eksperimentasi sistematis.

    Teori Belajar Vygotsky

    Vygotsky menyampaikan pendapat yang sama seperti Piaget, bahwa peserta didik membentuk pengetahuan sebagai hasil dari pikiran dan kegiatan peserta didik sendiri melalui bahasa. Teori Vygotsky lebih menekankan kepada aspek sosial dari pembelajaran. Menurut Vygotsky bahwa sebenarnya proses pembelajaran itu akan terjadi jika anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum dipelajari, namun tugas-tugas tersebut masih berada dalam jangkauan mereka disebut dengan zone of proximal development, yaitu suatu daerah tingkat perkembangan sedikit di atas daerah perkembangan seseorang saat ini (Rodi, 2015: 23)
    Baca Juga: Metode Pembelajaran Demonstrasi
    Alur Penelitian

    Pada Teori Belajar Vygotsky memiliki konsep tingkat pengetahuan atau pengetahuan berjenjang yang disebut scaffolding. menurutnya scaffolding ini yang akan berarti memberikan kepada seorang individu sejumlah bantuan besar selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang akan semakin besar setelah mampu mengerjakan sendiri.

    Bantuan yang akan diberikan pendidik (guru) dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang akan memungkinkan peserta didik dapat mandiri. Vygotsky menyampaikan tiga kategori pencapaian peserta didik dalam usaha mereka memecahkan permasalahan, yaitu:

    1. peserta didik mencapai keberhasilan dengan baik; 
    2. peserta didik mencapai keberhasilan dengan bantuan; 
    3. peserta didik gagal meraih keberhasilan.

    Scaffolding, berarti usaha pendidik (guru) untuk membimbing peserta didik dalam usaha mereka mencapai keberhasilan. Dorongan pendidik (guru) sangat dibutuhkan agar pencapaian peserta didik ke jenjang yang lebih tinggi menjadi optimum.

    Konstruktivisme Vygotsky memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan melalui adaptasi intelektual dalam konteks sosial budaya. Proses penyesuaian itu sebanding dengan pengkonstruksian pengetahuan secara intra-individual yakni melalui proses regulasi diri internal. Dalam hubungan ini, konstruktivis Vygotsky lebih menekankan pada penerapan teknik saling tukar gagasan antar individual.

    Berdasarkan teori Vygotsky di atas, maka diperoleh keuntungan jika:
    1. anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proksimal mereka atau potensi mereka melalui belajar dan berkembang; 
    2. pembelajaran perlu dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensial mereka dari pada tingkat perkembangan aktual mereka; 
    3. pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan intermental mereka dari pada kemampuan intramental mereka; 
    4. anak diberi kesempatan yang luas untuk mengintregrasikan pengetahuan deklaratif yang telah dipelajari mereka dengan pengetahuan prosedural yang akan dapat digunakan untuk melakukan tugas-tugas dan memecahkan masalah; 
    5. proses belajar dan pembelajaran tidak sekedar bersifat transferal tetapi lebih merupakan konstruksi (membangun), yaitu suatu proses mengkonstruksi pengetahuan atau makna baru secara bersama-sama antar semua pihak yang akan terlibat di dalam mereka.

    Kurniawan (2013: 17) menerangkan bahwa Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dengan orang-orang lain terlebih yang punya pengetahuan lebih baik dan sistem yang secara kultural telah berkembang dengan baik, dan serta dialog/ komunikasi verbal dengan individu lain. Penerapan teori pembelajaran Vygotsky bertolak pada pentingnya interaksi sosial dengan orang-orang lain terlebih yang punya pengetahuan lebih baik yaitu peserta didik yang akan belajar dalam kelompok kecil dapat mengkonstruksikan gagasan-gagasan dalam memecahkan permasalahan yang akan dihadapi. Para peserta didik dalam tahap ini diharapkan dapat bertukar pendapat atau pemikiran selama proses pembelajaran berlangsung, sehingga akan diperoleh solusi yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan yang akan dihadapi.

    Penerapan pembelajaran berbasis Project Based Learning (PjBL) sejalan dengan teori belajar Vygotsky karena dalam PjBL peserta didik dituntut untuk bertukar informasi dalam dan antar kelompok. peserta didik mendapat kesempatan untuk mengintegrasikan kemampuan deklaratif dan pengetahuan peserta didik terbangun dalam proses diskusi dalam kelompok dalam menyelesaikan tugas eksperimen atau pembuatan proyek.

    Teori Belajar Menurut Bruner


    Salah satu model intruksional kognitif yang sangat berpengaruh ialah model dari Jerome Bruner yang dikenal dengan belajar penemuan. Bruner menganggap, bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberi hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna (Trianto, 2008: 56).

    Bruner dalam Hamid (2011: 11) menyatakan belajar adalah bagaimana seorang memilih, mempertahankan, dan mentrasformasikan informasi secara aktif. Selama proses belajar berlangsung murid dibiarkan mencari dan menemukan sesuatu yang dipelajarinya. Menurut Bruner, proses belajar siswa tersebut melibatkan tiga hal yang berlangsung hampir bersamaan, yaitu:
    1. memperoleh informasi baru, 
    2. transformasi informasi, 
    3. menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. 

    Pada teori belajar menurut Bruner menyarankan agar para peserta didik hendaknya belajar melalui partisipasi secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, serta mereka dianjurkan untuk memperoleh pengalaman, dan melakukan eksperimen yang mengijinkan mereka untuk menemukan prinsip-prinsip itu sendiri.

    Referensi :
    1. Ana Miftakhul Jannah 2007, Pembelajaran fisika dengan pendekatan konstruktivisme melalui metode eksperimen dan demontrasi ditinjau dari kemampuan verbal pada pokok bahasa tumbukan di SMA
     

    0 Comments:

    Post a Comment