Pengertian Wawasan Kebangsaan Faktor, Upaya , Ciri

Pengertian Wawasan kebangsaan

Menurut Sulchan Yasin (1997: 502). "Wawas: meneliti, meninjau, memandang, mengamati. Wawasan : wawas (jawa), pandangan atau paham tentang sesuatu". Sedangkan "Bangsa merupakan kumpulan manusia yang mempunyai beberapa kesamaan dan berada dalam pemerintahan (negeri) sendiri golongan makhluk hidup dalam klasifikasi" (Sulchan Yasin, 1997: 53).

Menurut Kodhi S.A (1988: 83-84), wawasan kebangsaan berasal dari kata "Wawas dan Bangsa". Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
  • Wawas, dalam bahasa jawa adalah cara pandang, cara tinjau dan cara tanggap indrawi terhadap sesuatu.
  • Bangsa, merupakan suatu kelompok masyarakat yang berasal dari keturunan, adat, bahasa dan sejarah yang sama.

    Menurut Poespowardojo dan Chaplin yang dikutip oleh (Bambang Sumarjoko, 1955: 22) Secara definitif, istilah wawasan diartikan sebagai "Bentuk pemahaman diri yang mengarah pada proses kesadaran terhadap hubungan kualitas yang mendasari timbulnya suatu peristiwa atau masalah". Kemudian istilah kebangsaan umumnya dikaitkan dengan ciri-ciri yang menandai golongan bangsa atau bertahan dengan bangsa, yang dapat berupa persaudaraan dan keturunan, adat, bahwa sejarah dan cara pemerintahannya.

    Wawasan Kebangsaan


    Dalam kaitan ini wawasan kebangsaan adalah hasil perkembangan dari dinamisasi rasa kebangsaan dalam mencapai cita-cita bangsa, rasionalisasi rasa dan wawasan kebangsaan itu melahirkan suatu nasionalisme atau paham kebangsaan yaitu pikiran-pikiran yang bersifat nasional dimana suatu bangsa memiliki cita-cita kehidupan dan tujuan nasional.

    Cita-cita dan tujuan nasional indonesia seperti yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945, yaitu:
    • Alinea 2 (cita-cita nasional): (...)negara indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur.
    • Alinea 4 (tujuan nasional) : (...)melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial (Budisantosa Suryosumarto, 2001: 2).

    Wawasan dalam mencapai tujuan nasional dinamakan wawasan kebangsaan atau wawasan nasional yang dikembangkan dan dirumuskan berdasarkan falsafah bangsa, kondisi wilayah, sosial budaya rakyat, dan sejarah perjuangan dengan bangsa, serta lingkungan strategis yang mempengaruhi (Budisantosa Suryosumarto, 2001: 1).

    Baca Juga: Pengertian Pendidikan Karakter

    Haris Kohn (1984: 11) menyatakan, "Wawasan kebangsaan identik dengan nasionalisme yaitu faham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan".

    Maksudnya, wawasan kebangsaan didasarkan atas asumsi bahwa lahirnya suatu negara bangsa sebenarnya merupakan hasil tenaga yang hidup dalam sejarah. Bangsa terdiri atas golongan yang beranekaragam dan tidak terumuskan eksak. Pada umumnya bangsa mempunyai faktor-faktor objektif tetentu yang membuat berbeda dengan bangsa lain, misalnya persamaan keturunan, daerah, kesatuan politik adat istiadat, tradisi dan agama.
    Toynbee defined nationalism as a spirit which makes people feel and act and think about a part of any given society as thouht it were indudes man to delty his community.

    Artinya menurut Toynbee nasionalisme atau paham kebangsaan adalah merupakan suatu semangat yang membantu orang untuk merasakan, bertindak dan berfikir tentang sesuatu bagian masyarakat yang ada sebagaimana keseluruhan masyarakat tersebut. Hal ini diperkuat oleh pendapat Soekarno yang menyatakan bahwa rasa akan nasionalisme itu akan menumbuhkan suatu rasa percaya diri sendiri yang diperlukan untuk mempertahankan diri di dalam perjuangan menunjuk keadaan-keadaan yang akan mengalahkannya.

    Menurut Mochtar Buchori (1993: 233-234) Konsep wawasan kebangsaan dapat ditinjau dari dua aspek yaitu "Aspek moral dan aspek intelektual"

    Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
    1. Aspek moral, wawasan kebangsaan mempersyaratkan adanya perjanjian diri, adanya komitmen pada seseorang atau masyarakat untuk turut bekerja bagi kelanjutan eksisitensi serta peningkatan kualitas kehidupan bangsa.
    2. Aspek intelektual, wawasan kebangsaan menghendaki pengetahuan yang memadai tentang berbagai tantangan yang dihadapi bangsa pada masa kini maupun pada masa yang akan datang serta potensi-potensi yang dimiliki bangsa.

    Wawasan kebangsaan merupakan bagian yang tak terpisahkan oleh empat jenis wawasan, yaitu : 
    • wawasan kedaerahan, 
    • wawasan nasional, 
    • wawasan regional,
    • wawasan global.
    Dengan demikian wawasan kebangsaan yang bersifat dewasa memerlukan substansi yang cukup dari wawasan kedaerahan serta interaksi kontekstual yang bermakna dari wawasan regional dan global.

    Gerakan yang muncul pada awal abad ke-20 yang dikenal dengan kebangkitan nasional itu sekalipun masih bersifat majemuk dan tersebar dan terpisah-pisah namun secara mendalam telah mengisyaratkan perlunya perwujudan kehidupan yang bertumpu pada persatuan dan kesatuan. Hal ini semakin jelas dengan lahirnya Sumpah Pemuda.

    Lahirnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 itu merupakan tekad generasi muda yang pada dasarnya menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan suku, ras, daerah asal, dan kebudayaan yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Melalui ikrarnya itu mereka menyatukan derap langkah dan gerak maju untuk menuju kepada kehidupan kebangsaan indonesia yang berlandaskan pada azas persatuan dan kesatuan.

    Soeprapto (1993: 17) menyatakan bahwa: Paham nasionalisme atau paham kebangsaan pada setiap bangsa akan diwarnai oleh nilai-nilai dasar yang berkembang dalam masyarakat masing-masing, sehingga memberikan ciri khas atau jati diri suatu bangsa perlu dipahami pandangan dan falsafah hiidup yang dianut oleh bangsa tersebut. Bagi bangsa indonesia pandangan dan falsafah hidupnya adalah pancasila.

    Dengan wawasan kebangsaan itulah bangsa indonesia berjuang untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasional seperti yang terdapat pada pembukaan UUD 1945.
    Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Wawasan kebangsaan adalah sebagai cara pandang suatu bangsa tentang diri dan lingkungannya, serta bagaimana suatu bangsa mengekspresikan di dalam lingkungan yang terus berubah.

    Faktor-faktor yang mempengaruhi lemahnya wawasan kebangsaan

    Faktor-faktor yang mempengaruhi lemahnya wawasan kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia sangatlah komplek. Secara umum dapat dilihat pengaruh dari dalam (internal) dan pengaruh dari luar (eksternal).
    1. Pengaruh dari dalam antara lain banyaknya suku, agama, ras, budaya local, geografis, politik, ekonomi.
    2. Pengaruh dari luar adalah perubahan yang cepat dan komplek kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan pengaruh globalisasi.

    Sejalan dengan pendapat tersebut maka wawasan kebangsaan tetap masih diperlukan. Dengan memahami dan mendalami makna dan arti yang terkandung dalam wawasan kebangsaan ini, maka semakin terangsang untuk menaikkan harga diri yang mulanya meminimalisasikan disintegrasi bangsa.

    Upaya Untuk Meningkatkan Wawasan Kebangsaan

    Menurut Mochtar Mas’oed (1996: 85-86) yang dapat dilakukan dengan wawasan kebangsaan ada tiga hal, yaitu "Konsolidasi kekuatan ekonomi, kembali ke motivisme, perlunya reformasi cita-cita bangsa".

    Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
    1. Konsolidasi kekuatan ekonomi, Konsolidasi kekuatan ekonomi dilakukan dimana dalam pengembangannya berwawasan kebangsaan
    2. Kembali ke motivisme, Kembali ke motivisme yaitu melakukan penggalian akar budaya lokal sebagai tumpuan pengembangan wawasan kebangsaan yang mendasar sistem ekonomi, politik dan sosial yang berkepribadian indonesia,
    3. Perlunya reformasi cita-cita bangsa, Reformasi cita-cita bangsa yaitu kebangsaan indonesia yang konteksnya komunitas bangsa-bangsa, Selain itu menurut Bambang Sutiyono, Upaya untuk meningkatkan wawasan kebangsaan adalah dengan pendidikan kebangsaan. Pemerintah merupakan subyek yang dominan dalam menyelenggarakan pendidikan kebangsaan guna meningkatkan wawasan kebangsaan masyarakat, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dengan melaksanakan perencanaan pendidikan, pengorganisasian dalam pendidikan kebangsaan, mengatur kegiatan dalam pendidikan kebangsaan serta mengawasi jalannya pendidikan kebangsaan masyarakat. Perlunya menghidupkan kembali upacara.

    upacara pengibaran bendera di lingkungan pendidikan, lingkungan kerja guna meningkatkan wawasan kebangsaan yang sudah semakin menurun dan upaya-upaya lain melalui media cetak maupun elektronik dalam rangka meningkatkan wawasan kebangsaan termasuk pelajaran sejarah kepahlawanan yang sudah mulai ditinggalkan di pendidikan sekolah Dasar maupun Menengah.

    Ciri-ciri Wawasan Kebangsaan

    Konsep wawasan kebangsaan indonesia tidak berdasarkan pada falsafah yang sempit dan mempunyai corak atau ciri yang berbeda dengan bangsa lain.

    Konsep wawasan kebangsaan yang dianut indonesia adalah wawasan kebangsaan yang berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia (Pancasila) dan Undang-Undang Dasar 1945. oleh karena itu pembangunan persatuan dan kesatuan selalu terkait dengan konsep wawasan kebangsaan.

    Menurut Anton Djawamaku (1985: 920-921) ciri-ciri wawasan kebangsaan Indonesia antara lain:" Keseimbangan lahir batin, Pemimpin yang bersatu jiwa dengan rakyat, Musyawarah dalam suasana persatuan dan kesatuan"

    Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
    1. Keseimbangan lahir batin, maksudnya yaitu untuk menyikapi dan mengetahui makna kehidupan yang akan menjadikan manusia mendapatkan ketenangan dalam hidupnya
    2. Pemimpin yang bersatu jiwa dengan rakyat, hal ini dimaksudkan agar pemimpin tersebut dapat mengetahui dan merasakan rasa keadilan dan cita-cita rakyat
    3. Musyawarah dalam suasana persatuan dan kesatuan, dalam hal ini adalah musyawarah antara rakyat dengan pemimpinnya, antar golongan yang disertai dengan semangat gotong royong dan rasa kekeluargaan.

    Sedangkan menurut Bambang Sumardjoko (1955: 28), ciri-ciri dari wawasan kebangsaan indonesia adalah : 

    • bersifat integralistik, kekeluargaan, 
    • bersifat anti diskriminasi dan tidak ada konotasi etnis, 
    • bersifat Bhineka Tunggal Ika, dan
    • selalu terikat dengan wawasan nusantara

    Menurut Teori Ernest Renan, Bangsa hadir karena ada kesamaan nasib dan penderitaan, serta adanya semangat dan tekad untuk berhimpun dalam sebuah "nation". Lebih lanjut Renan berpendapat, "....bangsa itu ialah suatu solidaritas besar, yang terbentuk karena adanya kesadaran, bahwa orang telah berkorban banyak, dan bersedia untuk memberi korban itu lagi. Manusia itu bukanlah budak dari keturunannya (ras) atau dari bahasanya, atau dari agamanya, Suatu kumpulan besar manusia, yang sehat jiwanya dan berkobar-kobar hatinya, menimbulkan suatu kesadaran batin yang dinamakan bangsa.

    Dengan demikian, bangsa hadir bukan dikarenakan adanya kesamaan budaya, suku, ras, etnisitas, agama dan pertimbangan-pertimbangan ikatan primodialisme yang lain, tetapi lebih menekankan pada adanya kesamaan nasib dan keinginan untuk hidup bersama dalam sebuah komunitas bangsa.

    Atas dasar itulah konsep wawasan kebangsaan yang dianut indonesia bukanlah konsep yang sempit dan tertutup tetapi bersifat integralistik, dimana wawasan kebangsaan indonesia menolak segala bentuk diskriminasi suku, ras asal usul, keturunan, warna kulit, agama, kedudukan maupun status sosial ekonomi.

    Bentuk Tujuan Pengertian Komunikasi

    Pengertian Komunikasi

    Komunikasi merupakan aktifitas yang paling mendasar dari manusia. Dengan berkomunikasi, manusia dapat saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam bermasyarakat. Pentingnya komunikasi bagi manusia tidaklah dapat dipungkiri, begitu juga halnya dengan suatu organisasi. Dengan adanya komunikasi yang baik, maka organisasi akan dapat berjalan dengan lancar dan berhasil, demikian juga sebaliknya. Kurangnya komunikasi dalam organisasi akan mengakibatkan macetnya kinerja organisasi.


      Definisi Komunikasi

      Berbicara tentang definisi komunikasi, tidak ada definisi yang benar atau salah. Seperti juga model atau teori, definisi harus dilihat dari kemanfaatanya untuk menjelaskan fenomena yang didefinisikan dan mengevaluasinya. Beberapa definisi mungkin terlalu sempit, misalnya "Komunikasi adalah penyampaian pesan melalui media elektronik", atau secara luas misalnya "Komunikasi adalah interaksi antara dua makhluk hidup atau lebih". Sehingga para peserta komunikasi ini termasuk mungkin hewan, tanaman dan bahkan jin.

      Baca Juga: Manfaat Komunikasi
      Dalam buku Onong Uchjana Effendy, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain. Orang yang menyampaikan pesan disebut komunikator, sedangkan orang yang menerima pesan disebut komunikan. Tujuan dari komunikasi adalah terciptanya pengertian yang sama antara kedua belah pihak yang melakukan komunikasi.

      Pengertian Komunikasi


      Sedangkan definisi komunikasi menurut Carl I. Hovland adalah "Communication is the process to modify the behavior of other individuals"

      Sedangkan definisi komunikasi menurut Joseph. A. Devio adalah sebagai berikut:
      "The act, by one more persons, of sending and receiving messages distorted by noise, within a context, with some effect and with some opportunity for feedback. The communication act, then, whould include the following components : context, source (s), receiver (r), messages, channels, noise, sending or encoding process receiving, decoding process, feedback and effect. Thes elements seem the most essential in any consideration of the communication act. They are we might call the universals of communication :…the elements that are present in every communication act, regardless of whether it intra personal, interpersonal, small group, public speaking, mass communication or intercultural communication."

      (Kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih, yakni kegiatan menyampaikan dan menerima pesan, pesan yang mendapat distorsi dari gangguan-gangguan, dalam suatu konteks, yang menimbulkan efek dan kesempatan arus balik. Oleh karena itu, kegiatan komunikasi meliputi komponen-komponen sebagai berikut : konteks, sumber (s), penerima (r), pesan, saluran, gangguan, proses penyampaian atau proses encoding, penerimaan atau proses encoding, arus balik dan efek. Unsur-unsur tersebut agaknya paling esensial dalam setiap perkembangan mengenai kegiatan komunikasi. Ini yang dinamakan kesemestaan komunikasi;…unsur-unsur yang terdapat pada setiap kegiatan komunikasi, apakah itu intra-personal, antarpersonal, / kelompok kecil, pidato, komunikasi massa atau komunikasi antarbudaya)

      Definisi komunikasi menurut Louis Forsdale (1981) seorang ahli komunikasi dan pendidikan di Amerika adalah sebagai berikut:

      "Communication is the process by which a sistem is established, maintained, and altered by mean of shared signal that operate according to rules".

      Komunikasi adalah suatu proses memberikan signal menurut aturan tertentu, sehingga dengan cara ini suatu sistem dapat didirikan, dipelihara, dan diubah. Dengan adanya aturan ini menjadikan orang yang menerima signal yang telah mengetahui aturannya akan dapat mengetahui maksud dari pesan yang diberikannya.

      Mengenai unsur-unsur dalam komunikasi seperti yang dikemukakan oleh pakar politik Amerika, Harold D. Laswell adalah sebagai berikut:

      Gagasan mengenai unsur-unsur komunikasi tersebut selanjutnya lebih dkenal dengan Formulasi Laswell. Selanjutnya formulasi tersebut dikembangkan oleh Braddock6, melalui pengembangan lima unsur utama Formula Laswell tersebut, Braddock menambahkan dua elemen baru yaitu :
      • Under what circumstances (dalam keadaan apa, ketika mengirimkan pesan-pesan)
      • For what purpose? (dalam rangka tujuan apa, pihak komunikator ingin mengatakan sesuatu)

      Dari kedua formulasi diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya komunikasi adalah proses aksi reaksi. Di satu sisi ada penyampai informasi dan di sisi lain ada penerima informasi. Kesimpulan yang kedua berkaitan dengan elemen pokok dalam komunikasi, yaitu :
      • Source (penyampai pesan / informasi)
      • Message (pesan / informasi yang disampaikan)
      • Receiver / audience / khalayak ( penerima pesan)

      Proses Komunikasi

      Demikian kelengkapan unsur / elemen komunikasi menurut Laswell yang mutlak harus ada dalam setiap prosesnya.

      Proses komunikasi itu sendiri terbagi menjadi dua tahap:
      1. Proses komunikasi secara primer, Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan) dengan menggunakan lambang (bahasa, isyarat, gambar, warna, dsb) sebagai media.
      2. Proses komunikasi secara sekunder, Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan) dengan menggunakan alat atau sarana (surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dsb) sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.

      Mengacu pada uraian diatas dan dikaitkan dengan kegiatan promosi yang dilakukan, penulis berkesimpulan kegiatan tersebut termasuk dalam kajian proses komunikasi secara sekunder.

      Bentuk dan Tujuan Komunikasi

      1. Bentuk Komunikasi

      Dalam sebuah organisasi, komunikasi berfungsi dalam menyampaikan informasi tentang tugas dan fungsi bagian yang telah ditetapkan kepada anggota. Sehingga dalam mencapai tujuan organisasi, ada pembagian tugas yang proporsional. Maka definisi komunikasi dalam hubungannya dengan kelompok/organisasi diberikan oleh Brent D.Rubent memberikan sebagai : "suatu proses melalui mana individu dalam hubungannya dalam kelompok, dalam organisasi dan dalam masyarakat menciptakan, mengirimkan dan menggunakan informasi untuk mengkoordinasi lingkungannya dan orang lain".

      Bentuk-bentuk komunikasi adalah sebagai berikut:
      1. Personal Communication, terdiri atas Intrapersonal Communiacation & Interpersonal Communication
      2. Group Communication, terdiri dari Small Group Communication (ceramah, diskusi panel, simposium, forum, seminar, curah saran, dll)
      3. Mass Communication, terdiri atas Pers, Radio, TV, Film, dsb.
      Rubbent menggunakan istilah "informasi" sebagai kumpulan data dan pesan. Istilah menciptakan informasi dimaksudkan sebagai proses encoding/ penyandian pesan dalam bentuk verbal maupun non verbal yang kemudian disampaikan kepada pihak lain yang ditujukan untuk merubah perilaku. Istilah mengirimkan informasi maksudnya adalah lewat mana komunikasi itu disampaikan kepada komunikan. Istilah menggunakan komunikasi merujuk pada efek/ pengaruh dari komunikasi untuk mempengaruhi tingkah laku manusia baik secara individu, kelompok, maupun masyarakat.

      2. Tujuan Komunikasi

      Sedangkan tujuan komunikasi antara lain:
      1. Attitude change (perubahan sikap)
      2. Opinion change (perubahan pendapat)
      3. Behaviour change (perubahan perilaku)
      4. Social change (perubahan sosial)

      Komunikasi juga ditujukan untuk menumbuhkan hubungan sosial yang baik. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak tahan hidup menyendiri. Manusia ingin berhubungan dengan orang lain secara positif. Abraham Maslow menyebutnya dengan "kebutuhan cinta". Kebutuhan sosial adalah kebutuhan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain dalam hal interaksi dan asosiasi, pengendalian dan kekuasaan, dan cinta serta kasih sayang. Kebutuhan sosial ini hanya dapat dipenuhi dengan komunikasi interpersonal yang efektif. Tingkah laku komunikasi ini mengarahkan pada perkembangan iklim organisasi. Bermacam-macam definisi komunikasi disampaikan oleh para ahli, hal ini dimaksudkan untuk memberikan batasan terhadap apa yang dimaksud dengan komunikasi, sesuai dengan sudut pandang mana mereka memandangnya. Berbagai definisi tentang komunikasi dibuat dan disesuaikan dengan bidang dan tujuan dari para ahli.

      Perlu disadari bahwa komunikasi tidak berlangsung dalam satu ruang hampa sosial, melainkan dalam suatu konteks atau situasi tertentu. Secara luas, konteks disini berarti semua faktor diluar orang-orang yang berkomunikasi yang terdiri dari aspek yang bersifat fisik, aspek psikologis, aspek sosial dan aspek waktu.


      REFERENSI :
      1. S.D. Bono dkk, 2011, Managing Cultural Diversity
      2. M. BADAWI, 2010, Studi Tentang Pengaruh Iklim Komunikasi
      3. A. YULIADHI, 2011, Studi Deskriptif Kualitatif Dalam Kegiatan



      [UPDATE] Harga Beras Gabah Wonogiri



      LOADING

      Harga Gabah

      Contoh Pidato Teknik Menulis Teks Pidato

      Naskah pidato seperti juga naskah dialog, ditulis untuk ditampilkan. Perbedaanya, naskah dialog ditampilkan oleh beberapa orang, sedangkan pidato ditampilkan oleh seorang saja, komunikasi terjadi antara yang berpidato dengan pendengar. Sebenarnya, pidato harus selalu menggunakan naskah. Bila akan berpidato menggunakan naskah, maka harus menyiapkan naskah tersebut terlebih dahulu. Dengan demikian harus memiliki keterampilan menulis naskah pidato.


        Untuk dapat menulis naskah pidato secara efektif harus memiliki teknik menyusun atau menulis naskah pidato. Penyusunan naskah pidato dituntut memiliki kosakata yang banyak dan terampil menulis naskah. Untuk itu perlu beberapa persiapan. Seperti yang dikemukakan Djago Tarigan (1997: 8.25) sebagai berikut;

        Baca Juga: Pengertian Komunikasi

        1. Mengumpulkan Bahan

        Setelah meneliti persoalan dan merumuskan tujuan pidato serta menganalisis pendengar, maka sudah siap untuk menggarap naskah pidato. Boleh menulis teks pidato dengan menggunakan apa-apa yang telah diketahui mengenai persoalan yang akan dibicarakan atau disampaikan. Jika hal ini dianggap kurang cukup, maka harus mencari bahan tambahan yang berupa fakta, ilustrasi, cerita atau pokok-pokok yang kongkrit untuk mengembangakan pidato ini. Tidak ada salahnya bertanya pada seseorang atau pihak yang mengetahui persoalan yang akan dibicarakan. Buku-buku, peraturan-peraturan, majalah-majalah dan surat kabar merupakan sumber informasi yang kaya yang dapat digunakan sebagai bahan dalam rangka menguraikan pidato.

        2. Membuat Kerangka Pidato

        Kerangka dasar dapat dibuat sebelum mencari bahan- bahan, yaitu dengan menentukan pokok-pokok yang akan dibicarakan, sedangkan kerangka yang terperinci baru dapat dibuat setelah bahan-bahan selesai dikumpulkan. Dengan bahan-bahan itu dapat disusun pokok-pokok yang paling penting dalam tata urutan yang baik. Contoh kerangka pidato Slamet Trihartanto (2005:39-40) menjelaskan, inti dari kerangka pidato adalah ; 1) Pendahuluan, 2) Isi, 3) Penutup.

        3. Menguraikan Isi

        Dengan menggunakan kerangka yang telah dibuat, ada dua hal yang dapat dilakuakan yaitu:
        1. Dapat menggunakan kerangka tersebut untuk berpidato, yaitu pidato dengan menggunakan metode ekstemporer
        2. Menulis atau menyusun naskah pidato secara lengkap untuk di bacakan atau dihafalkan. Lebih lanjut Tarigan dkk, (2004 : 78). Menjelaskan naskah pidato biasanya dibuat dengan susunan sebagai berikut.

        1. Pembukaan
        Pidato biasanya diawali dengan kata pembuka, misalnya Assalamu’alaikum Warohmatullaahi Wa Barakaatuh Salam sejahtera selalu, Merdeka dan sebagainnya, sesuai dengan topik pidato. Untuk acara-acara yang bersifat keagamaan biasanya didahului oleh pembacaan beberapa ayat suci.

        2. Pendahuluan
        Pendahuluan berupa ucapan terima kasih yang disampaikan kepada para undangan atas waktu, kesempatan yang telah diberikan, dan juga sedikit penjelasan mengenai pokok masalah yang akan diuraikan dalam pidato.

        contoh pidato persuasi


        3. Isi Pokok
        Isi pokok merupakan uraian yang menjeaskan secara rinci, semua meteri dan persoalan yang di bahas dalam pidato. Urutan harus diatur dan jelas mulai dari awal sampai akhir pidato.

        4. Kesimpulan
        Dalam naskah pidato faktor kesimpulan ini sangat penting, karena dengan menyimpulkan segala scsuatu yang telah dibicarakan, ditambah dengan penjelasan dan anturan, para pembaca/pendengar dapat menghayati maksud dan tujuan semua yang dibicarakan oleh si pembicara, karena yang terakhir dibicarakan biasanya lebih mudah dan lebih lama diingat.

        5. Harapan
        Harapan merupakan sebagian dari kesimpulan, tetapi biasanya merupakan suatu dorongan agar hadirin menaruh minat dan memberikan Lesan terhadap pembicraannya, misalnya, “ … dengan tuntutan serta perkembanga; jaman yang sangat maju, serta dalam era globalisasi hendaknya orang tua selalu memperhatikan kegiatan yang dilakukan putra-putranya, baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Agar jangan...,”

        6. Penutup
        Setiap naskah pidato biasanya diakhiri dengan penutup. Ini merupakan ucapan terima kasih atas kesediaan hadirin untuk memperhatikan isi pidato disertai salam penutup kepada hadirin.
        Misalnya,
        Sebagai akhir kata kami ucapkan terima kasih …
        Assalamu’alaikum Warohmatullaahi Wa Barakaatuh

        4. Mengumpulkan Bahan

        Setelah meneliti persoalan dan merumuskan tujuan pidato serta menganalisis pendengar, maka sudah siap untuk menggarap naskah pidato. Boleh mulai menulis teks pidato dengan menggunakan apa-apa yang telah diketahui mcngenai persoalan yang akan dibicarakan atau disampaikan. Jika hal ini dianggap kurang cukup, maka harus mencari bahan- tambahan yang berupa fakta, ilustrasi, cerita atau pokok-pokok yang konkret untuk mengembangkan pidato ini. Tidak ada salahnya bertanya kepada orang atau pihak yang mengetahui persoalan yang akan di bicarakan. Buku-buku, peraturan peraturan, majalah-majalah, dan surat kabar merupakan sumber informasi yang kaya yang dapat digunakan sebagai bahan dalam rangka menguraikan isi pidato.

        Baca Juga: Contoh Teks Editorial

        5. Membuat Kerangka Pidato

        Tarigan dkk., (2004: 8.32), menjelaskan kerangka dasar dapat dibuat sebelum mencari bahan-bahan, yaitu dengan menetukan pokok-pokok yang akan dibicarakan, sedangkan kerangka yang terperinci baru dapat dibuat setelah bahan-bahan itu selesai dikumpulkan. Dengan bahan-bahan itu dapat disusun pokok-pokok yang paling penting dalam tata unit yang baik. Pokok-pokok utama tadi dibuatkan perincian dengan tujuan bahwa bagian-bagian yang terperinci itu harus memperjelas pokok-pokok utarna tadi. Di dalam kerangka ini harus terlihat adanya kesatuan dan koherensi antar bagian-bagian. Dengan adanya kesatuan dan koherensi akan terbentuk suatu kerangka pidato yang baik. Contoh, kerangka pidato meliputi:

        1.Pendahuluan
        Bagian pendahuluan mernuat salam pembuka, ucapan terima kasih, dan kata pengantar untuk menuju kepada isi pidato.
        2. Isi
        Bagian ini memuat uraian topik yang terdiri atas topik atau pokok utama dan sub-sub topik yang memperjelas atau menghubungkan dengan topik utarna.
        3.Penutup
        Bagian penutup memuat kesimpulan, harapan, dan salam penutup.
        (Tarigan dkk., 2004 8.32).

        6. Tahap-tahap Menyusun Teks Pidato

        Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam menyusun teks pidato (Tarigan dkk., 2004: 8,36-8.37).
        • Membatasi subjek untuk mencocokkan waktu yang tersedia, menjaga Kesatuan dan kepaduan pidato.
        • Menyusun ide pokok menurut tahap-tahap urutan alur dasar pidato dengan memperhatikan kebutuhan, kepuasan, dan lain-lain.
        • Memasukkan dan menyusun submateri yang berhubungan di setiap ide pokok
        • Mengisi materi pendukung yang memperkuat atau membuktikan ide.
        • Memeriksa draf kasar, untuk meyakinkan bahwa subjek telah cukup terekam dan mcncerminkan tujuan khusus pidato.

        Contoh Pidato Persuasi

        Tarigan dkk., (2004: 8.41), contoh pidato persuasi dalam rangka mengajak untuk merencanakan Sumbangan Kepada Para Korban Bencana Alam

        Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara sekalian yang kami hormati. Assalamu’alaikum Warohmatullaahi Wa Barakaatuh

        Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan karunianya kepada kita semua sehingga pada kesempantan ini kita bersama-sama dapat berkumpul dan bertemu muka di sini dalam rangka merencanakan sumbangan yang akan kita berikan kepada saudara-saudara kita yang sedang terkena musibah bencana alam.

        Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing kita menuju jalan yang lurus, jalan yang diridloi oleh Allah SWT.

        Sungguh suatu nilai yang mulya dan suci kalau bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara sekalian berkumpul disini dalam rangka merencanakan sumbangan yang akan kita kirimkan kepada saudara-saudara kita yang sedang kena musibah bencana alam tersebut.

        Sebagai umat manusia kita berkewajiban untuk saling tolong menolong dan bantu membantu satu sama lain. Kita yang merasa mampu berkewajihan untuk membantu orang lain yang tidak mampu, yang membutuhkan uluran tangan kita. Apalagi saat ini kita tengah melihat dari menyaksikan saudara-saudara kita yang berada di daerah.... sedang terkena musibah bencana alam, maka kita berkewajiban ikut serta meringankan beban pcnderitaan mereka dengan memberikan sumbangan dan bantuan yang bisa kita berikan.

        Bapak-bapak, ibu - ibu dan saudra-saudara sekalian yang berbahagia. Kita bisa berbangga disini. Tetapi pernahkah terpikir oleh kita betapa sedih, menderita dan sengsaranya saudara-saudara kita yang berada di desa.... yang saat ini tengah terkena musibah bencana alam. Mereka banyak yang kehilanan harta bendanya, tempat tinggalnya bahkan mereka juga banyak yang kehilangan sanak keluarganya. Banyak anak yang kehilangan bapaknya, anak-anak yang kehilangan ibunya serta sebaliknya banyak bapak yang kehilangan anak-anaknya, ibu yang kehilangan anak-anaknya dan suami kehilangan istrinya juga istri kehilangan suaminya. Kita sebagai umat manusia haruslah meyadari bahwa hidup di dunia ini tidaklah sendirian. Kita diciptakan oleh Alloh disamping sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial.

        Sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa lepas dari orang lain artinya bahwa manusia itu mesti memerlukan bantuan dan pertolongan dari orang lain dan tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan-kehutuhan tanpa memerlukan bantuan dan pertolongan orang lain. Meskipun orang itu kaya, akan tetapi tidak bisa lepas dari bantuan dan pertolongan dari orang lain. Orang yang kaya juga tidak selamanya kaya, mungkin suatu saat ia akan mengalami nasib yang menyedihkan karena dunia ini terus berputar.

        Bapak-bapak, ibu-ibu serta saudara-saudara sekalian yang berbahagia. Kesadaran sebagaimana yang telah dilukiskan di atas rupa-rupanya masih mengakar kuat dalam diri kita sehingga keikutsertaan kita dalam meringankan beban penderitaan saudara-saudara kita yang sedang terkena musibah bencana alam di desa….merupakan kesadaran yang mendalam yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam tanpa disertai pamrih apa pun.

        Ada pun mengenai barang bantuan yang akan kita kirimkan kesana itu lusa berwujud uang, bahan-bahan makanan, pakaian dan lain sebagainya yang bisa dimanfaatkan olch mereka. Bagi saudara-saudara yang mempunyai uang, bisa dikumpulkan dalam wujud uang dan yang mempunyai bahan-bahan makanan serta pakaian pantas pakai, bisa dikumpulkan dalam wujud pakaian dan bahan-bahan makanan. Setelah semuanya terkumpul, nanti segera akan kita kirirn ke daerah tersebut sehingga secepatnya dapat dimanfaatkan oleh mereka.

        Bapak-hapak, ibu-ibu serta saudara-saudara sekalian yang berbahagia. Sebagai akhir kata marilah kita smua berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa mudah-mudahan saudara-saudara kita yang berada di desa. . ..tersebut diberikan ketabahan dan kekuatan iman dalam menerima musibah tersebut. Amin.

        Demikian yang dapat kami sampaikan dalam kesempatan ini, mudah-mudahan apa yang kami sampaikan’ tadi ada guna dan manfaatnya bagi kita semua serta dapat menjadi motivasi bagi kita untuk meningkatkan kesetiakawanan sosial dan kepekaan kita terhadap lingkungan yang di sekitar kita.

        Sekian, kurang dan lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
        Bilahitaufig wal hidayat
        Wassalamu’alaikum Warohmatullaahi Wa Barakaatuh

        Contoh Pidato Penyambutan Tamu

        Tarigan dkk, (2004: 7. 11), memberikan contoh naskah pidato dalam rangka menyambut tamu dalam pesta perkawinan. Contoh ini disajikan secara utuh agar dapat dimengerti mengenai teks pidato yang baik dan sesuai dengan kaidah-kaidah maupun teknik penulisan.

        Assalamu’alaikum Wr. Wb.
        Bipak-bapak, Ibu-ibu, Saudara serta hadirin yang kami hormati!

        Dengan mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah, pada hari ini kami sekelurga telah dapat melangsungkan upacara tiadisional sederhana atas berlangsungnya perkawinan anak kami Endang Pergiwati dengan Joko Kuncoroningrat.

        Sungguh kami sekeluarga merasa berbahagia sekali atas kehadiran Bapak. ibu, serta Saudara sekalian yang telah berkenan meluangkan waktu untuk ikut memcriahkan pesta perkawinan anak kami tersebut. Semoga amal baik para Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian dapat diterima oleh Allah. Demikian sepatah dua patah kata yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini, bila ada kekurangan pada kami, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
        “Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

        Dengan melihat contoh naskah pidato di atas, bahwa dalam menyusun naskah pidato diperlukan penguasaan kosakata yang’ memadai, dengan penguasaan kosakata yang memadai dan kemampuan menulis yang baik akan menghasilkan naskah pidato yang baik pula. Untuk itu dibutuhkan langkah-langkah penyusunan naskah pidato. Tarigan dkk., (2004: 8.31), langkah-langkah tersebut sebagai berikut. a) mengumpulkan bahan, b) membuat rangka pidato. c) menguraikan isi naskah pidato sccara terperinci.


        Pengertian Media Massa Editorial Contoh Teks

        Mark Twain seorang penulis Amerika yang termasyhur mengungkapkan, There only two things, which can throw light upon thing here on earth. Two things, one is the sun in heaven and the second is the press on earth. Bahwa hanya ada dua hal yang membuat segala sesuatu terang di muka bumi kita ini, yang pertama adalah matahari di langit dan yang kedua adalah pers. Adapula yang berpendapat bahwa pers merupakan suatu Black Art yaitu kesenian hitam. Menurut Rudyard Kippling, pers mempunyai peran yang sangat vital, selain sebagai alat penerangan atau pemberi informasi juga sebagai senjata untuk menyerang musuh atau lawan para pemilik pers tadi.

        Pengertian Media Massa

        Untuk bisa hidup dalam lingkungan sosial, manusia perlu berkomunikasi. John Dewey (dalam Rivers)12 menganggap bahwa komunikasi merupakan suatu hal yang menakjubkan. Dengan komunikasi, manusia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, memenuhi kebutuhan dan tuntutan yang ada, mempertahankan institusi sosial beserta segenap nilai dan norma perilaku dari generasi ke generasi.13 Harold D Laswell (dalam Mulyana)14 mendefinisikan komunikasi sebagai "Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect" (siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dan apa pengaruhnya). Dari definisi Laswell ini dapat diketahui bahwa komunikasi memiliki lima unsur yaitu komunikator, pesan, media, komunikan dan efek.

        Sumber gambar detik. net

        Baca Juga: Contoh Pidato

        Dalam proses komunikasi, pesan ditransmisikan melalui media. Dalam konteks komunikasi massa, media untuk mentransmisikan pesan kepada publik disebut dengan media massa. Denisss McQuail (dalam Junaedi) mengemukakan beberapa penanda untuk memahami media massa:
        1. Media memungkinkan kita melihat fenomena yang jauh dari jangkauan kita;
        2. Media merupakan penerjemah yang membuat kita mengerti dan ikut merasakan suatu peristiwa;
        3. Media menjadi platform penyalur informasi;
        4. Media adalah penanda yang memberi kita instruksi dan petunjuk;
        5. Media merupakan penyaring informasi;
        6. Media adalah cermin yang memantulkan realitas;
        7. Media merupakan pembatas yang menghalangi kebenaran.
        Di dalam media massa, ada beberapa konsep penting yang harus dipahami. Berikut adalah tiga konsep penting media massa:
        • Media massa merupakan usaha yang berpusat pada keuntungaan
        • Perkembangan teknologi mengubah cara pengiriman dan pengonsumsian media massa
        • Media massa mencerminkan sekaligus mempengaruhi politik, masyarakat, dan budaya

        Media massa merupakan kekuatan besar yang tidak bisa diabaikan dalam masyarakat. Dalam berbagai analisis di bidang sosial, ekonomi, dan politik, media massa sering ditempatkan sebagai salah satu variabel determinan.17 Posisi media massa sebagai sebuah institusi informasi kemudian dipandang sebagai faktor yang paling menentukan dalam perubahan sosial-budaya dan politik. Di dalam masyarakat modern, media memainkan peran penting dalam perkembangan politik masyarakatnya. Pers disebut-sebut sebagai pilar demokrasi ke empat dimana kebebasan berekspresi dan berpendapat serta informasi menjadi hal dasar dalam sistem demokratis itu sendiri.

        Antonio Gramsci melihat pengertian media massa sebagai ruang dimana berbagai ideologi direpresentasikan. Media massa memiliki dua sisi, di satu sisi media menjadi sarana penyebaran ideologi dan alat legitimasi penguasa serta sebagai pengontrol wacana publik. Di sisi lain media massa juga bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan. Ada banyak kepentingan di dalam media massa. Selain kepentingan ideologi antara masyarakat dan negara, media massa juga memiliki kepentingan pemilik modal dan kepentingan lainnya. Kenyataan inilah yang menjadikan bias berita di media massa menjadi suatu hal yang sulit dihindari.

        Pengertian Editorial (Tajuk Rencana)

        Editorial atau biasa disebut sebagai tajuk rencana selalu ada di semua media cetak, misalnya surat kabar  dan majalah. Kolom ini memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter sebuah media cetak. Pembentukan karakter tentunya tidak terlepas dari visi dan misi yang diembannya. Hal ini membuktikan bahwa kolom editorial itu berfungsi sebagai jantung atau nyawa dari media cetak itu sendiri. Dilihat dari fungsinya, maka tidaklah heran bila kolom ini selalu mempunyai opini atau pandangan khusus mengenai kejadian atau isu-isu yang sedang hangat terjadi dan dibicarakan.

        Dalam sebuah surat kabar terutama yang beredar secara harian, terdapat beberapa kolom salah satunya adalah kolom editorial. Pengertian editorial atau disebut juga dengan tajuk rencana merupakan salah satu bentuk artikel yang berisi ide, gagasan, fikiran, serta pandangan seorang penulis. Penulis dalam kolom editorial sama sekali tidak boleh dicantumkan karena merupakan hasil suara dari semua awak media dari redaksinya atau lembaganya. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Rolnicki (2011:45) bahwa pengertian editorial adalah merupakan pandangan redaksi surat kabar sehingga tidak dicantumkan nama penulisnya. Jadi, sebelum diputuskan sebagai isi berita dikolom editorial, isi berita tersebut dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan semua pihak yaitu pemimpin redaksi, redaktur pelaksana serta segenap jajaran redaktur yang berkompeten. Musyarawarah ini diperlukan untuk mendapatkan kesepakatan bersama mengenai fenomena krusial yang sedang berkembang di masyarakat.

        Di dalam media massa, khususnya media cetak sering dijumpai tajuk rencana atau yang biasa disebut editorial. Pengertian editorial menurut Maman Suherman (dalam Santana); tajuk rencana pada awalnya berasal dari bahasa Belanda "Hoofd Artikel" atau di dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama "Leader" yang kemudian di Indonesia dikenal dengan nama "Induk Karangan". Kini, surat kabar lebih banyak menyebut hanya dengan "Editorial", "Tajuk", atau "Tajuk Rencana".

        Beberapa surat kabar di Indonesia mengguakan istilah "tajuk rencana" namun ada juga yang menggunakan istilah "editorial". Pada dasarnya tajuk rencana dan editorial adalah sama. Pengertian editorial menurut spencer menyebutkan batasan dari tajuk rencana atau editorial sebagai pernyataan mengenai fakta dan opini secara singkat, logis, menarik ditinjau dari segi penulisan dan bertujuan untuk mempengaruhi pendapat atau memberikan interpretasi terhadap suatu berita.

        Pengertian editorial menurut Elvinaro dan Lukiati menyebutkan bahwa pengertian tajuk rencana merupakan tulisan opini yang ditujukan untuk pembaca yang dilengkapi dengan perspektif (sudut pandang) atas suatu berita tertentu.Van Dijk menyebutkan bahwa pengertian editorial merupakan tulisan opini yang ditujukan pada pemabaca untuk membantu pembaca memahami sebuah peristiwa tertentu. Tajuk rencana atau editorial menunjukkan pandangan media terhadap suatu isu atau peristiwa tertentu.

        Baca Juga: Karya Ilmiah

        Opini yang diungkapkan dalam tajuk rencana biasanya menyangkut isu-isu yang menjadi bahan berita saat ini, tetapi terkadang juga membahas mengenai isu masa depan atau konsep filsafat yang luas. Pengertian editorial menurut Teun A. van Dijk mengungkapkan bahwa argumentasi dalam tajuk rencana atau editorial tidak hanya ditujukan untuk seluruh pembaca media massa tetapi juga untuk kalangan elit sosial dan politik. Ini menjelaskan mengapa tajuk rencana atau editorial tidak hanya sekedar merumuskan opini yang disampaikan untuk publik tetapi juga untuk menyerang, melindungi atau memberi nasehat pada para penguasa.

        Pengertian editorial menurut Louis M. Lyons, mantan kurator Yayasan Nieman Universitas Harvard mengungkapkan pandangannya terkait peranan tajuk rencana atau editorial dalam surat kabar:
        "Jika seseorang membutuhkan alasan bagi sebuah halaman editorial atau mencoba menentukan peranan utama dari halaman editorial itu, saya kira peranan itu adalah mengungkapkan suasana surat kabar. Hal ini lebih dari sekedar kebijaksanaan persuratkabaran. Ini merupakan kesempatan untuk menunjukkan institusi itu sendiri sebagai sebuah kekuatan yang beradab dan yang memberi peradaban, sebagai warga negara yang baik dan penuh kepedulian, sebagai pengaruh yang moderat, sebagai orang yang berpikir, tetangga yang baik dan orang yang penuh perhatian. Suasana atau sifat ini mencerminkan karakter surat kabar". Kriteria tajuk rencana atau editorial menurut Joseph Pulitzer25 ada empat, yakni: clearness of style (jelas dalam gaya), moral purpose (tujuan yang bermoral), sound reasoning (pertimbangan yang sehat), dan power to influence opinion (kekuatan untuk mempengaruhi opini publik).

        1. Unsur-unsur Editorial ( tajuk rencana )

        Ada 3 unsur editorial diantaranya unsur-unsur editorial itu adalah: fakta, interpretasi dan opini. Menurut Suherman memaparkan unsur-unsur editorial penting yang harus ada di dalam tajuk rencana, yaitu:

        a. Fakta
        Fakta merupakan unsur yang paling penting karena tajuk rencana ditulis berdasarkan fakta. Dengan menulis opini berdasarkan fakta, maka tajuk rencana tidak akan berubah menjadi fitnah.

        b. Interpretasi
        Dalam beropini, media juga harus bisa mengungkapkan, menerangkan, menerjemahkan informasi secara jelas kepada khalayak agar khalayak mengerti.

        c. Opini
        Opini di tajuk rencana merupakan pandangan dan sikap media massa terhadap persoalan yang tengah dibahasnya. Dari inilah karakter media tersebut terlihat.

        2. Fungsi Editorial ( tajuk rencana )

        Ada empat fungsi editorial yang diungkapkan W Pinkerton yaitu fungsi editorial menjelaskan berita, fungsi editorial menjelaskan latar belakang, fungsi editorial meramalkan dan fungsi editorial menyampaikan pertimbangan moral. Fungsi tajuk rencana atau editorial menurut William Pinkerton (dalam Rivers) adalah sebagai berikut:

        a. Menjelaskan berita (explaining the news)
        Menjelaskan kejadian-kejadian penting kepada masyarakat. Menerangkan bagaimana suatu peristiwa itu terjadi, dan menilai kebijakan pemeritah.

        b. Menjelaskan latar belakang (filling in background)
        Menginformasikan berbagai hubungan yang terjadi pada berbagai peristiwa yang terpisah. Tajuk rencana menghubungkan peristiwa yang sedang terjadi dengan peristiwa sebelumnya, serta mengkorelasikan fakta-fakta terkait permasalahan yang sedang
        dibahas.

        c. Meramalkan (forecasting the future)
        Tajuk rencana kadang-kadang berisi analisis 'ke depan' dari peristiwa atau permasalahan aktual yang sedang terjadi saat ini. Tajuk rencana memberikan pandangan-pandangan berisi prediksi ke depan yang mungkin terjadi.

        d. Menyampaikan pertimbangan moral (passsing moral judgment)
        Dalam jurnalisme, nilai-nilai moral tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Maka dari itu, tajuk rencana memberikan pertimbangan moral dalam hal melawan kejahatan, pelanggaran dan ketidakadilan.

        3. Model Editorial ( Tajuk Rencana )

        Ada 3 model editorial yaitu model editorial jalan tengah, model editorial angin surga dan model editorial anjing penjaga. Rizal Mallarangeng (dalam Panuju)28 membagi tajuk rencana atau editorial ke dalam tiga model, yaitu:

        a. Model Jalan Tengah
        Meskipun terdapat unsur kritis didalamnya, tajuk rencana model ini ditulis secara berputar-putar, lebih santun dan cenderung mengaburkan pesan yang ingin disampaikan. Tajuk rencana dengan model ini cenderung menghindari konfrotasi langsung dengan pihak yang dikritik.

        b. Model Angin Surga
        Tajuk rencana model ini biasanya ditulis lebih pada himbauan atau harapan dan bukan untuk menggugat. Biasanya di dalam tajuk rencana model ini akan terdapat kata "kebersamaan", "duduk bersama mencari solusi", "tanggung jawab bersama", "kewajiban moral", dan semacamnya.

        c. Model Anjing Penjaga
        Pesan yang ingin disampaikan dalam tajuk rencana dapat dibaca secara jelas. Kritik didalamnya cenderung lugas, berani, dan tajam yang biasanya ditujukan pada pemegang kekuasaan. Tajuk rencana model inilah yang benar-benar menjalankan kodrat media pers sebagai lembaga kontrol dan pemberi informasi yang mendidik dan mencerdaskan pembaca.

        4. Menganalisis Struktur Teks Editorial

        Teks bukan merupakan sebuah perluasan bentuk gramatikal dari kumpulan kata-kata atau klausa, walaupun teks tentu saja mempunyai bentuk dan struktur (Santosa, 2003: Sebagaimana yang ditegaskan oleh Halliday (1978: 135) bahwa dalam kenyataannya klausa itu lebih merupakan realisasi teks daripada merupakan sebuah teks. Selanjutnya, menurut Halliday dan Hasan (1985: 10), teks memiliki tiga definisi.Yang pertama teks merupakan sebuah unit semantik atau teks adalah makna. Definisi yang kedua teks merupakan bahasa yang berfungsi. Definisi yang terakhir yaitu teks merupakan sebuah proses dan produk.

        Teks adalah semua yang berhubungan dengan bahasa, tanpa memperhatikan panjangnya, baik diucapkan atau ditulis yang berguna untuk mendapatkan tujuan komunikasi dalam keadaan yang sebenarnya (Bloor dan Bloor, 2004: 5). Jadi, teks merupakan semua hal yang diucapkan dan ditulis oleh masyarakat dalam suatu konteks. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Halliday dan Hasan (1992: 13) bahwa teks adalah bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam konteks situasi.

        Baca Juga: Pengertian Komunikasi

        Cara membuat analisis terhadap editorial media massa adalah usaha untuk membuat analisis terhadap editorial surat kabar tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan antara lain:
        1. Kekuatan surat kabar terletak pada tajuk rencananya (editorial), karena editorialnya pers dijuluki The Fourth Estate (kekuasaan ke empat) sebagai lembaga yang kekuatannya sebanding dengan ketiga kekuasaan lainnya, yaitu lembaga-lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif.
        2. Tajuk rencana (editorial) lebih bersifat persuasif, bisa memobilisasi pendapat umum dan membawanya ke arah tertentu. Hal tersebut disebabkan kemahiran redaktur surat kabar dalam menganalisa suatu topik sehingga menjadi laporan mendalam (deep reporting).
        3. Tajuk Rencana memuat opini penulis yang mewakili pandangan surat kabar, karena menurut Joseph Pulitzer, editorial harus mencerminkan ekspresi hati nurani, keberanian, dan keyakinan dari penulisnya sebagai individu yang mewakili pandangan surat kabar.
        4. Tajuk rencana sebagai bahan sumber penelitian bersikap non reaktif terhadap peneliti dan tidak rusak. Selain itu bentuk editorial lebih konkret sepanjang waktu daripada gejala budaya lainnya.
        5. Masalah yang ditulis dalam tajuk rencana adalah masalah yang berkembang terakhir, yaitu masalah mutakhir yang sedang menjadi perhatian masyarakat.

        Contoh Teks Editorial

        Banyak referensi dapat anda dapatkan tentang contoh teks editorial, pada artikel ini saya hanya akan menuliskan beberapa penggalan contoh teks editorial secara singkat. Contoh teks editorial yang pertama ini dengan judul "Rakjat Jogjakarta memprotes keras terhadap pemboman Inggris", Penggalan contoh teks editorial yang dimuat oleh surat kabar Kedaulatan Rakjat tanggal 26 November 1945 sebagai berikut:
        Rakjat Jogjakarta memprotes keras terhadap pemboman Inggris

        Atas nama Sri Padoeka Soeltan Hamengkoe Boewana IX, Sri Padoeka Pakoe Alam VIII, dan rakjat Jogjakarta mengirim kawat kepada Presiden dan Perdana Menteri Republik Indonesia sebagai berikoet:
        Djam 8.15 menit pagi ini ada kapal terbang moesoeh mendjatoehkan soerat-soerat sebaran, tidak diteken, bermaksoed akan membom stasioen radio, di gedoeng Nilmy Jogjakarta dan Balapan Solo, karena siaran radio itoe ditoedoeh telah menghasoet rakjat soepaja berontak. Moelai djam 8.30 menit hingga djam 9 lebih datang doea bomber Inggris dan mendjatoehkan bom-bom enam kali mengenai gedoeng Nilmy dan Sonoboedojo dan menembak dengan mitraljoer di sekitar pabrik Watson, hingga menimboelkan korban delapan orang tewas dan poeloehan loeka-loeka. Di antara korban-korban itoe terdapat banjak perempoean dan anak-anak.
        ..................
        Pada contoh teks editorial diatas adalah masalah yang berkembang terakhir bahwa rakyat yogyakarta memprotes terhadap pemboman. Contoh teks editorial diatas juga dapat dijadikan sebagai bahan sumber penelitian sejarah. Contoh teks editorial diatas juga menjelaskan kejadian-kejadian penting kepada masyarakat dan menerangkan suatu peristiwa telah terjadi.
        Pemboelatan Tekad Menggempoer Agressi Belanda Tentara Laskar di bawah Bimbingan Pemerintah

        Dalam soeasana jang genting meroentjing seperti dewasa ini, di mana seloeroeh rakjat Indonesia menghadapi agressi dari pihak Belanda, perloelah dilaksanakan pembaharoean tekad semangat dalam seloeroeh djiwa rakjat. Dalam pada itoe rakjat Jogjakarta tak maoe ketinggalan oentoek menjatakan keboelatan tekad itoe, maka pagi ini djam 9 atas oesaha Dewan Kelaskaran Poesat dan sekarang dilangsoengkan rapat raksasa bertempat di aloen-aloen oetara, bertekad "Sekali Merdeka tetap Merdeka" ......

        Berikutnya adalah contoh teks editorial dengan judul "Pertahankan Bila Diserang !", Penggalan contoh teks editorial yang dimuat oleh surat kabar Kedaulatan Rakjat pada tanggal 5 Februari 1949 berikut ini:

        Pertahankan Bila Diserang !

        Yogya: 5-2. Dalam pidatonja semalam jang ditoedjoekan kepada seloeroeh angkatan perang, pangsar Djendral Soedirman antara lain mengatakan: bahwa dengan perdjandjian gentjatan sendjata, angkatan perang melangkahi satoe tindakan dengan hati jang poeas. Tetapi di samping itoe keselamatan negara lebih dioetamakan daripada kepentingan diri sendiri. Pangsar lebih landjoet katakan, bahwa saatnja kini tentara sedang menghadapi oedjian jang berat, jaitoe menjatakan berapa langkah dalam melaksanakan perdjandjian gentjatan sendjata dengan pihak Belanda. Oleh beliaoe djuga diandjoerkan soepaja tentara mendjalankan pelaksanaan itoe sebaik-baiknja dengan setjara Zakelijk, tidak mengoerangi dan melebihi segala perintah dan introspeksi. Dalam pada itoe tentara haroes mempertahankan  diri bila diserang, baik terhadap serangan jang terang-terangan.

        Mata doenia saat ini, sebagai matanja seorang hakim hendak tahoe sedjauh mana ketaatan bengsa Indonesia mempertahankan azas negara kita, kata Pak Dirman. Dan sampai sedjaoeh mana kesanggoepan kita mendjalankan segala andjoeran yang damai. Kita tidak menolak tawaran dan andjoeran demikian itoe, tetapi djanganlah sikap kita jang djoedjoer itoe diberi tafsir jang sesat dan menjesatkan.

        Kita bantah sekeras-kerasnja kaloe ada tafsiran itoe. Achirnja pangsar angkatan perang Djendral Soedirman berpesan soepaja ingat segala pesan jang telah disampaikan kepada seloeroeh anggota angkatan perang.
        Contoh teks editorial diatas berdasar fakta, karena fakta merupakan unsur penting dan contoh teks editorial diatas ditulis opininya berdasarkan fakta yang terjadi, maka contoh teks editorial diatas tidak akan berubah menjadi fitnah.
        Referensi Artikel: 
        • A.M. Sari, 2016, Pandangan Media Terhadap Kasus.... 
        • I. Prasetyoaji, 2007, Analisis isi editorial surat kabar... 
        • B. Qani’ah, 2016, Analisis registers teks editorial....


        Penggolongan Jenis Ciri-ciri Pengertian Karya Ilmiah

        Pengertian Karya Ilmiah

        Istilah karya ilmiah dapat dipersamakan dengan istilah karangan atau tulisan ilmiah. Haryanto, Ruslijanto, dan Mulyono (2000) menyatakan: Karangan atau tulisan ilmiah adalah karya tulis yang disusun berdasarkan tulisan, pernyataan, atau gagasan orang lain, baik yang telah, belum, atau bahkan tidak dipublikasikan sama sekali. Dengan demikian, tulisan ini merupakan suatu uraian yang didukung informasi yang telah diuji kebenarannya dan kemudian disajikan dengan cara yang lazim dan benar sesuai dengan metode yang berlaku (hlm. 8).



          Brotowidjoyo (dalam Amir, 2007:105) juga mempersamakan istilah karya ilmiah dengan karangan ilmiah. Menurutnya, karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Di sisi lain, dua orang pakar mempersamakan karya ilmiah dengan tulisan ilmiah dengan batasan sebagai berikut.

          Tulisan ilmiah adalah karya seorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang diperolehnya melalui kepustakaan, kumpulan pengalaman, penelitian, dan pengetahuan orang lain sebelumnya (Dwiloka dan Riana, 2005: 1).

          Baca Juga: Pengertian Pantun

          Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan pengertian karya ilmiah yaitu suatu karangan atau tulisan yang mengandung ide-ide atau gagasan yang bersifat ilmiah dengan menyajikan fakta umum yang didukung oleh studi kepustakaan atau hasil penelitian orang lain dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar.

          Ciri-ciri Karya Ilmiah

          Berbeda dengan tulisan fiksi, karya ilmiah bersifat formal dan harus memenuhi beberapa syarat tertentu yang sekaligus menjadi ciri karya ilmiah. Dwiloka dan Riana (2005:4) mengemukakan beberapa syarat karya ilmiah sebagai berikut.
          1. Lugas dan tidak emosional, maksudnya adalah karya ilmiah hanya mempunyai satu arti, tidak memakai kata-kata kiasan sehingga pembaca tidak membuat tafsiran (interpretasi) sendiri-sendiri. Karena itu, perlu ada batasan (definisi) operasional pengertian suatu istilah, konsep, atau variabel.
          2. Logis, maksudnya adalah kalimat, alinea, subbab, subsubbab, disusun berdasarkan suatu urutan yang konsisten.
          3. Efektif, maksudnya adalah baik alinea atau subbab harus menunjukkan adanya satu kebulatan pikiran, ada penekanan, dan ada pengembangan.
          4. Efisien, maksudnya adalah hanya menggunakan kata atau kalimat yang penting dan mudah dipahami.
          5. Ditulis dengan bahasa Indonesia yang baku.
          Karya Ilmiah


          Haryanto, dkk. (2000:7) juga menyebutkan ciri-ciri karangan ilmiah sebagai berikut:
          • Menyajikan fakta objektif secara sistematis
          • Pernyataannya cermat, tepat, tulus, dan benar, serta tidak memuat terkaan.
          • Penulisnya tidak mengejar keuntungan pribadi.
          • Penyusunannya dilaksanakan secara sistematis, konseptual, dan prosedural.
          • Tidak memuat pandangan-pandangan tanpa dukungan fakta.
          • Tidak emotif menonjolkan perasaan.
          • Tidak bersifat argumentatif, tetapi kesimpulannya terbentuk atas dasar fakta.

          Penggolongan Jenis-Jenis Karya Ilmiah

          Karya ilmiah dapat digolongkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Haryanto, dkk. (2000:7-10) mengemukakan penggolongan karangan ilmiah sebagai berikut:

          1. Ditinjau dari cara penulisannya, karangan ilmiah dibedakan menjadi:
          • Karangan ilmiah murni, yaitu karangan atau karya ilmiah yang ditujukan untuk konsumsi kalangan profesi atau cendekiawan.
          • Karangan ilmiah populer, yaitu karangan atau karya ilmiah yang ditujukan untuk masyarkat umum dengan tujuan membangkitkan motivasi terhadap suatu pemecahan masalah.
          2. Ditinjau dari sumber utama yang digunakan sebagai sumber informasi yang digunakan dalam penyusunan karya ilmiah pada dasar penulisannya, karya ilmiah dibedakan menjadi:
          • Laporan Kasus (Studi Kasus), yaitu laporan tentang suatu hasil pengamatan atau tindakan pemecahan masalah yang belum banyak diketahui orang. Percobaannya cukup dilakukan pada satu atau beberapa kasus saja.
          • Laporan Penelitian, yaitu suatu laporan tentang penelitian yang telah diselesaikan oleh penulis. Adapun masalah yang diteliti diambil dari sekelompok anggota masyarakat dan percobaannya dilakukan dengan mengikuti suatu metode yang terarah dan rinci.
          • Studi Kepustakaan, yaitu penelaahan gagasan berbagai ahli mengenai suatu masalah untuk diperbandingkan kemudian ditarik kesimpulan menurut pandangan penulis. Dalam pembelajaran di sekolah, studi kepustakaan ini sering disebut dengan istilah karya ilmiah berdasarkan kajian buku.

          3. Ditinjau dari bentuk penyajian karya ilmiah,
          Karya tulis ilmiah dibedakan menjadi makalah, kerja, skripsi, tesis, dan disertasi. Dwiloka dan Riana (2005:5-6) memberikan penjelasan istilah-istilah karya ilmiah tersebut sebagai berikut.
          • Makalah, adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah dan pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris objektif. Makalah biasanya disusun untuk melengkapi tugas tertentu atau memberikan saran pemecahan masalah secara ilmiah. Makalah adalah bentuk yang paling sederhana diantara karya tulis ilmiah yang lain.
          • Kertas kerja (paper) yaitu makalah yang pembahasannya lebih mendalam dan biasanya ditulis untuk disajikan dalam seminar atau lokakarya.
          • Skripsi, yaitu karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain. Pendapat yang diajukan harus didukung oleh data dan fakta empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung (observasi lapangan atau percobaan di laboratorium) maupun penelitian tidak langsung (studi kepustakaan) dan ditulis sesuai metodologi yang benar sebagai persyaratan mendapatkan gelar sarjana (S-1).
          • Tesis, adalah karya tulis yang sifatnya lebih mendalam dibandingkan skripsi. Tesis mengungkapkan pengetahuan baru yang diperoleh dari penelitian sendiri. Karya tulis ini memperbincangkan pengujian terhadap satu atau lebih hipotesis dan ditulis oleh mahasiswa program pasca sarjana untuk mendapatkan gelar magister (S-2).
          • Disertasi, yaitu karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta yang sahih (valid) dengan analisis yang terinci sebagai syarat untuk menyandang gelar doktor (S-3).

          Karya Ilmiah dari Kajian Buku atau Studi Kepustakaan

          Penulisan karya ilmiah tentu membutuhkan sumber-sumber informasi yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas. Ada beberapa sumber utama yang digunakan sebagai sumber informasi yang digunakan dalam penyusunan karya ilmiah yang dapat dimanfaatkan dalam penulisan karya ilmiah sebagaimana dikemukakan Haryanto, dkk. (2000:12) sebagai berikut.
          1. Pengalaman atau pengamatan pribadi.
          2. Pengalaman orang lain, yang dapat berupa publikasi dalam bentuk media cetak seperti buku, artikel dalam majalah, brosur, dan lain-lain.
          3. Publikasi bukan berupa media cetak, antara lain berupa kuliah, ceramah, seminar, dan sebagainya.
          4. Suatu bentuk lain pengungkapan pengalaman seseorang, misalnya wawancara atau diskusi yang tidak dipublikasikan. Jenis ini sering disebut sebagai komunikasi pribadi (personal communication) Sebagaimana dikemukakan di atas, salah satu sumber informasi penulisan karya ilmiah adalah pengalaman orang lain dalam bentuk media cetak yang berupa buku-buku atau dapat disebut dengan istilah pustaka. Lebih lanjut, penulisan karya ilmiah yang mengutamakan kepustakaan sebagai sumber informasinya dapat digolongkan dalam studi kepustakaan, yaitu penelaahan gagasan berbagai ahli mengenai suatu masalah untuk diperbandingkan kemudian ditarik kesimpulan menurut pandangan penulis. Dalam pembelajaran di sekolah, studi kepustakaan ini sering disebut dengan istilah karya ilmiah berdasarkan kajian buku.
          Baca Juga: Pengertian Komunikasi

          Dalam penulisan karya ilmiah berupa studi pustaka, penelusuran pustaka merupakan langkah awal yang sangat penting karena dapat menghindarkan penulis dari duplikasi tulisan atau kegiatan. Tindakan ini juga memungkinkan penulis mengetahui cara atau metode yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya sebagai bahan perbandingan. Dari penggalian gagasan ini tidaklah mustahil gagasan atau ide baru bisa timbul demi kesempurnaan penelitian atau penulisan selanjutnya.

          Penulisan karya ilmiah berupa studi pustaka dapat mengalami hambatan bahkan kegagalan apabila kepustakaan yang mutlak diperlukan tidak diperoleh secara memadai. Hal ini dapat dikaitkan dengan pernyataan Edison (dalam Haryanto, dkk. (2000) sebagai berikut.

          Apabila seorang ilmuwan ingin mendapatkan suatu penemuan baru, maka ia memulai kegiatannya dengan membaca semua informasi yang pernah dikemukakan orang lain tentang bidang terkait yang akan ditelitinya. Oleh karena itu, keberadaan perpustakaan yang memadai sebagai sarana penyimpanan informasi yang begitu beragam dan sangat banyak jumlahnya sangat diperlukan (hlm. 18).

          Lebih lanjut Haryanto, dkk. (2000:19) menyebut perpustakaan sebagai unit kerja yang melaksanakan penyiapan, penyediaan, dan pelayanan informasi kepada masyarakat untuk kepentingan pendidikan, penerangan, perencanaan, pengambilan keputusan, tempat rekreasi, dan kebudayaan.

          Koleksi sumber informasi penulisan karya ilmiah yang tersedia di perpustakaan dapat berupa media cetak, misalnya buku teks, majalah. koran, dan sebagainya. Selain itu, ada pula yang berbentuk media dengar-pandang, misalnya tayangan film, foto, pita rekaman, film bingkai, video, dan lain sejenisnya.

          Referensi :
          1. Haryanto AG dkk, 2000, Metode Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah
          2. L. Sudibyo, Drs. M.H. dkk, 2014, Filsafat Ilmu
          3. M. ULFAH, 2012, PENERAPAN TEKNIK PEER-CORRECTION....

          Pengertian Contoh Teks Naskah Drama

          Pengertian Drama

          Istilah drama berdasarkan etimologi, kata drama berasal dari bahasa Yunani dram yang berarti gerak (Asul Wiyanto, 2002:1). Menurut Herman J. Waluyo (2006:2) mengemukakan istilah drama berasal dari terminologi Yunani draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak atau beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan atau action yang disertai dengan gerakan.


            Pengertian drama adalah bentuk sastra yang memiliki ciri tersendiri yang membedakannya dengan karya sastra yang lain. Menurut Clay Hamilton dalam Brahim (1968:52) bahwa tiap drama merupakan suatu cerita, yang dikarang dan disusun untuk dipertunjukkan oleh pelaku-pelaku di atas panggung dan di depan publik. Soediro Satoto (1993: 4) arti drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan pada pentas, yang menggunakan bentuk cakapan (dialoque, monoloque, adside, soliloquy) dan gerak (action) atau penokohan (karakterisasi atau perwatakan) di hadapan para penonton (audience atau publik). Sedangkan menurut Panuti Sudjiman (dalam Herman J. Waluyo dan Ahmat Saliman, 1994:169) secara lebih lengkap menyebut drama sebagai karya sastra yang bertujuan untuk menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan pertikaian (konflik) dan emosi lewat lakuan (action) dan dialog. Muchlis (2008:12) menambahkan drama merupakan bentuk karya sastra yang bersifat dialogis, karena bentuknya berupa dialog-dialog antar tokoh.

            Menarik dibaca juga: Jenis-jenis Drama

            Asul Wiyanto (2002:1) tontonan drama memang menonjolkan percakapan (dialog) dan gerak-gerik para pemain (acting) di panggung. Percakapan atau dialog yang terdapat pada drama tidak terlepas dari naskah drama. San and Aral (dalam Ozdemir, 2008:14) menambahkan "drama is to perform a word, concept, behavior, sentence, idea, experience or event by utilizing theater techniques ang developing a game or games". Atau disalin secara bebas "drama adalah menampilkan sebuah kata, konsep, tingkah laku, kalimat, ide, pengalaman atau kejadian dengan menggunakan teknik peran dan mengembangkan permainan".


            Seperti juga bentuk-bentuk sastra lainnya, sebuah cerita drama pun harus bergerak dari suatu permulaan, melalui suatu bagian tengah, menuju suatu akhir. Ketiga bagian itu diapit oleh dua bagian penting lainnya, yakni prolog dan epilog.

            1. Prolog adalah kata-kata pembuka, pengantar, ataupun latar belakang cerita, yang biasanya disampaikan oleh dalang atau tokoh tertentu.
            2. Epilog adalah kata-kata penutup yang berisi simpulan atapun amanat tentang isi keseluruhan dialog. Bagian ini pun biasanya disampaikan oleh dalam atau tokoh tertentu.

            Adapun ketiga bagian itu adanya dalam dialog, yang meliputi bagian orientasi, komplikasi, dan resolusi (denouement). Bagian-bagian itu terbagi dalam babak-babak dan adegan-adegan. Satu babak biasanya mewakili satu peristiwa besar dalam dialog yang ditandai oleh suatu perubahan atau perkembangan peristiwa yang dialami tokoh utamanya. Adapun adegan hanya melingkup satu pilahan-pilahan dialog antara beberapa tokoh.

            • Orientasi sesuatu cerita menentukan aksi dalam waktu dan tempat; memperkenalkan para tokoh, menyatakan situasi sesuatu cerita, mengajukan konflik yang akan dikembangkan dalam bagian utama cerita tersebut, dan ada kalanya membayangkan resolusi yang akan dibuat dalam cerita itu.
            • Komplikasi atau bagian tengah cerita, mengembangkan konflik. Sang pahlawan atau pelaku utama menemukan rintangan-rintangan antara dia dan tujuannya, dia mengalami aneka kesalahpahaman dalam perjuangan untuk menanggulangi rintangan-rintangan ini. 
            • Resolusi atau denouement hendaklah muncul secara logis dari apa-apa yang telah mendahuluinya di dalam komplikasi. Titik batas yang memisahkan komplikasi dan resolusi, biasanya disebut klimaks (turning point). Pada klimaks itulah terjadi perubahan penting mengenai nasib sang tokoh. Kepuasan para penonton terhadap suatu cerita tergantung pada sesuai tidaknya perubahan itu dengan yang mereka harapkan.

            Pengarang dapat mempergunakan teknik flashback atau sorot balik untuk memperkenalkan penonton dengan masa lalu sang pahlawan, menjelaskan suatu situasi, atau untuk memberikan motivasi bagi aksi-aksinya.

            Contoh Teks Drama Panembahan Reso

            Berikut contoh drama Panembahan reso karya W.S. Rendra:

            Di rumah Panembahan Reso. Pagi hari. Ada Aryo Lembu, Aryo Jambu, Aryo Bambu, Aryo Sumbu, Aryo Sekti, Ratu Dara, dan Panembahan Reso.

            Sekti : Panembahan Reso, jadi saya datang kemari untuk mengantar teman-teman Aryo, yang dulu diutus oleh almarhum Sri Baginda Raja Tua untuk keliling kadipaten-kadipaten, menghadap kepada Anda.

            Reso : Selamat datang, para Aryo. Kedatangan Anda di ibu kota sangat kami nantikan. Terutama oleh Sri Baginda Maharaja.

            Lembu : Sebelum menghadap Sri Baginda Raja.

            Sekti : Maaf, Maharaja, bukan Raja.

            Lembu : Ah, ya! Ampun seribu ampun! Sebelum kami menghadap Sri Baginda Maharaja, kami lebih dahulu menghadap Anda dan juga Sri .... Ratu Dara?

            Sekti : Ya, betul! Sri Ratu Dara!

            Lembu : Oh! Kami lebih dahulu menghadap Anda dan Sri Ratu Dara, untuk lebih meyakinkan diri bahwa kami tidak akan membuat kesalahan yang sama sekali tidak kami maksudkan.

            Bambu : Selama kami pergi bertugas, telah banyak terjadi perubahan dengan menurut cara yang sah. Kami akan menyesuaikan diri dengan perubahan ini.

            Jambu : Pendeknya, kami mengakui kedaulatan Sri Baginda Maharaja Gajah Jenar dan tunduk kepada semua keputusan yang telah disabdakan oleh Sri Baginda.

            Sumbu : Kami telah menjalankan tugas yang justru kami anggap penting untuk mempertahankan keutuhan kerajaan. Sekarang kami tetap patuh dan bersedia untuk membela keutuhan kerajaan di bawah naungan Sri Baginda Maharaja Gajah Jenar.

            Reso : Bagus! Bagus! Dengan cepat saya bisa mengumpulkan bahwa Anda berempat abdi Raja yang tahu diri dan tahu akan kewajiban. Bagus. Bagus. Sri Baginda pasti akan ikhlas menerima bakti Anda semua.

            Jambu : Syukurlah kalau begitu. Kami juga sangat berterima kasih kepada Sri Baginda karena beliau telah memberikan perhatian besar kepada para istri kami. Bagaimanakah keadaan mereka? Saya sendiri sudah merasa sangat kangen dengan istri saya, setelah sekian lama dipisahkan oleh tugas demi kerajaan.

            Reso : Jangan khawatir. Keadaan mereka sangat mewah dan sejahtera. Mereka dibawa ke istana demi keamanan mereka sendiri. Jangan sampai mereka menjadi korban dari pancaroba perubahan. Nanti setelah Anda menghadap Maharaja, pasti istri Anda akan diantar ke rumah kembali. Sri Ratu Dara dan Sri Ratu Kenari selalu bermain-main dengan mereka.

            Dara : Kami sering bermain bersama sampai agak larut malam. Kami saling bercerita tentang pengalaman hidup masing-masing. 

            Jambu : Sungguh kami sangat berutang budi untuk kebaikan hati semacam itu.

            Reso : Jadi, kerajaan dalam keadaan kurang lebih utuh!

            Lembu : Begitulah. Kecuali keadaan di Tegalwurung! Panji Tumbal berhasil ditawan oleh Pangeran Kembar. Pangeran Bindi menduduki seluruh Kadipaten Tegalwurung dan menyatakan menentang kedaulatan Maharaja kita, Berta menobatkan dirinya sendiri menjadi Raja. Pangeran Kembar mendukungnya.

            Reso : Hm! Ini bukan persoalan remeh.

            Dara : Ia bukan putra tertua dari almarhum Sri Baginda Raja yang dulu.

            Reso : Atas dasar kekuatan! Setiap orang yang merasa dirinya kuat boleh saja menobatkan dirinya menjadi Raja. Seperti juga Raja yang dulu mendirikan kerajaan ini. Tinggal soalnya apakah ia akan bisa membuktikan bahwa dirinya benar-benar yang terkuat diseluruh negara. Bisa tidak ia menundukkan semua tandingan yang ada.

            Dara : Jadi, ia menantang kekuasaan Maharaja kita!

            Reso : Sanggupkah maharaja kita menyingkirkan dia atau sanggupkah dia menyingkirkan
            maharaja kita? Itu saja persoalannya.

            Bambu : Dengan dukungan Anda sebagai pemangku, maharaja kita pasti akan bisa menumpas tandingannya, di Tegalwurung!

            Jambu : Besar kepercayaan kami kepada Anda untuk bisa mengatasi keadaan ini, Panembahan.

            Lembu : Dari sejak masih tinggal di istana, Pangeran Bindi sangat mengerikan tingkah lakunya. Tanpa ragu-ragu saya akan membantu Anda untuk membela maharaja kita.

            Reso : Aryo Sumbu, apakah Anda juga mempunyai kemantapan seperti itu? Sumbu (Jelas dan tegas) Ya, Panembahan!

            Reso : Setelah Anda semua beristirahat beberapa hari, bantulah Sri Baginda untuk memerangi para pemberontak. Anda semua mempunyai pengalaman yang luas didalam pertempuran.

            Lembu : Di bawah pimpinan Anda kami semua patuh dan setia.

            Reso : Silakan pulang dulu dan nanti sore menghadap Maharaja di Istana. (Keempat Aryo mohon diri lalu keluar.)

            Sekti : Pengaruh Anda terhadap para Aryo, para Panji, dan para Senapati sungguh sangat besar. Memang hanya Anda yang bisa menyelamatkan kerajaan dari bencana perpecahan. Sekarang saya pamit dulu, Panembahan. Di rumah saya ada tamu yang menginap. Setelah minum kopi sore hari dengan tamu itu, saya akan menghadap maharaja ke istana.

            Reso : Apakah kamu itu akan tinggal lama di rumah Anda?

            Sekti : Seperti biasanya, agak lama juga. Salam, Ratu Dara. Salam, Panembahan (pergi).

            Dara : Anakku seorang diri tak akan bisa mempertahankan takhtanya.

            Reso : Itulah sebabnya kita harus membantu Baginda.

            Dara : Maharaja boneka itu mulai memuakkan saya.

            Reso : Tidak baik berkata begitu sementara Baginda ialah darah dagingmu sendiri.

            Dara : Panembahan suamiku, ternyata Anda begitu kuat dan kuasa, kenapa Anda tidak ingin
            menjadi raja?

            Reso : Hahahaha! Apa kurang enaknya menjadi orangtua dan pemangku.
            (Sumber: Horison Sastra Indonesia 4, Kitab Drama, 2002)

            Teks contoh drama diatas dinamakan dengan drama. Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani draomai yang berarti 'berbuat, berlaku, bertindak, beraksi, dan sebagainya'. Drama berarti ‘perbuatan, tindakan atau action’. Drama dapat pula diartikan sebagai sebuah lakon atau cerita berupa kisah kehidupan dalam dialog dan lakuan tokoh yang berisi konflik.

            Naskah Drama

            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), drama memiliki beberapa pengertian. Pertama, drama diartikan sebagai syair atau prosa yang menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan.
            Menarik Juga : Contoh Pantun

            Kedua, cerita atau kisah yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater. Pengertian lain, drama adalah kisah kehidupan manusia yang dikemukakan di pentas berdasarkan naskah, menggunakan percakapan, gerak laku, unsur-unsur pembantu (dekor, kostum, rias, lampu, musik), serta disaksikan oleh penonton.

            Terdapat beberapa bentuk drama, di antaranya, adalah sebagai berikut.

            1. Berdasarkan bentuk sastra cakapannya
            • Drama puisi, yaitu drama yang sebagian besar cakapannya disusun dalam bentuk puisi atau menggunakan unsur-unsur puisi.
            • Drama prosa, yaitu drama yang cakapannya disusun dalam bentuk prosa.
            2. Berdasarkan sajian isinya
            • Tragedi (drama duka), yaitu drama yang menampilkan tokoh yang sedih atau muram, yang terlibat dalam situasi gawat karena sesuatu yang tidak menguntungkan. Keadaan tersebut mengantarkan tokoh pada keputusasaan dan kehancuran. Dapat juga berarti drama serius yang melukiskan pertikaian di antara tokoh utama dan kekuatan yang luar biasa, yang berakhir dengan malapetaka atau kesedihan.
            • Komedi (drama ria), yaitu drama ringan yang bersifat menghibur, walaupun selorohan, di dalamnya dapat bersifat menyindir, dan yang berakhir dengan bahagia.
            • Tragikomedi (drama dukaria), yaitu drama yang sebenarnya menggunakan alur dukacita, tetapi berakhir dengan kebahagiaan.
            3. Berdasarkan kuantitas cakapannya
            • Pantomim, yaitu drama tanpa kata-kata
            • Minikata, yaitu drama yang menggunakan sedikit sekali kata-kata.
            • Dialog-monolog, yaitu drama yang menggunakan banyak kata-kata.
            4. Berdasarkan besarnya pengaruh unsur seni lainnya
            • Opera, yaitu drama yang menonjolkan seni suara atau musik.
            • Sendratari, yaitu drama yang menonjolkan seni drama dan tari.
            • Tablo, yaitu drama tanpa gerak atau dialog.
            5. Bentuk-bentuk lain
            • Drama absurd, yaitu drama yang sengaja mengabaikan atau melanggar konversi alur, penokohan, dan tematik.
            • Drama baca, naskah drama yang hanya cocok untuk dibaca, bukan dipentaskan.
            • Drama borjuis, drama yang bertema tentang kehidupan kaum bangsawan (muncul abad ke-18).
            • Drama domestik, drama yang menceritakan kehidupan rakyat biasa.
            • Drama duka, yaitu drama yang khusus menggambarkan kejahatan atau keruntuhan tokoh utama.
            • Drama liturgis, yaitu drama yang pementasannya digabungkan dengan upacara kebaktian gereja (di Abad Pertengahan).
            • Drama satu babak, yaitu lakon yang terdiri atas satu babak, berpusat pada satu tema dengan sejumlah kecil pemeran gaya, latar, serta pengaluran yang ringkas.
            • Drama rakyat, yaitu drama yang timbul dan berkembang sesuai dengan festival rakyat yang ada (terutama di perdesaan).

            Contoh Naskah Drama  Perjalanan Hidup Anak Jalanan

            Contoh naskah drama ini merupakan contoh drama dengan judul drama perjalanan hidup anak jalanan.

            Pada sore hari terdapat sekolompok pengamen yang lagi nongkrong, yang bernama Afdel, Boni, Ciko, Didi, Erik dan Faiq.
            Afdel : "Sore-sore gini belum makan, Ngamen seharian ga dapet-dapet! Hari ini kamu dapat berapa bos?" (menepuk punggung Boni)
            Boni : "Cukuplah, buat mengisi perut. Tapi yah cukup beli nasi kucing warung mbok Ni?" (memegang perut)
            Afdel : "Kalo kamu Ko, kok adem ayem aja?"
            Ciko : "Rumah makan kali, Adem Ayem. Yach lumayan dech buat ditabung! untuk beli mobil Honda Jazz!"
            Afdel, Boni, Didi dan Erik : "Honda jazz, Honda peyok kali…."
            Dodi : (memegang perut) "Perut keroncongan nich, mana lagi apes! Haus lagi?"
            Erik : "Tenang-tenang makan siang aku yang traktir dech? Mau KFC, Mac Donal, Steak, atau di warungnya mbok Ni aja?"
            Dodi : (mendekati Erik) "Yang bener, Rik! Dapat uang dari mana kamu?"
            Boni : "Alhamdulilah ada teman yang baik hati, mau traktir makan, nyamnyam-
            nyam…"(memegang perut, sambil geleng-geleng)
            Erik : "Jadi makan di mana kita? Steak atau KFC?"
            Afdel : "Emangnya kamu dapat rejeki nomplok? (penasaran), Janga-jangan kamu nyopet lagi ya, Rik?"
            Ciko : "Hust, jangan suka menuduh teman sembarangan? Jelek-jelek gini kan tetep teman kita? (merangkul Erik) Tapi, apa benar Rik kamu nyopet lagi?"
            Erik : (melepaskan tangannya Ciko) "Kalian menuduhku ya! Makanya kerja donk pake otak bukan pake otot! Kalo pengen uang yang banyak, jangan suka ngamen saja?"
            Boni : "Tapi tetep dijalanan kan? Kerja apaan coba?"
            Erik : ‘Ya seperti biasa. Ngamenlah, masa ya ngamen donk! Mulan aja Mulan Jamelah Mulan Jamedonk!"( tertawa)

            Baca Juga: Contoh Teks Editorial

            Dodi : "Kalo ngamen sich buat makan sendiri! Apa lagi kalo sepi? Bisa-bisa makan angin kita?"
            Faiq : (menghampiri) "Kalian ngomongin apa? Angin kok diomongin!"
            Afdel : "Ni orang datang datang langsung nyaut aja? Bawa makanan ga bos?"
            Faiq : "Boro-boro bawa makanan, aku aja belum makan? Kalian udah tau info terbaru belum?"
            Afdel, Boni, Ciko, dan Didi : (bersama-sama menjawab) "Belum!"
            Boni : "Hust..., dengarkan dulu, wartawan kita mau siaran? Mana Kameranya? 1, 2, 3 aksion!
            Faiq : "Tadi di seberang sana ada ibu-ibu tua yang kehilangan tasnya berisi dompet dan hape! Kasian dech, uang itu mau digunakan untuk membayar operasi anaknya yang sakit. Kalo tidak dibayarkan anaknya tidak akan dioperasi lagi?"
            Ciko : "Kasian sekali ibu itu! Dasar pencopet tidak tau diri!"
            Erik : "Bentar-bentar gue punya barang bagus nech, gue punya Hape?"
            Faiq : "Hape siapa, Rik? Sejak kapan kamu punya Hape, Rik? Baju aja kamu
            suka pinjem?"(penasaran)
            Erik : "Hapeku, hape bagus punyaku!" (berlaga sombong/sambil memamerkan Hape)
            Boni : "Jangan – jangan kamu ya, pencopet yang tidak tau diri itu?" (penasaran pada Erik)
            Erik : "Kamu nuduh- kamu nuduh?"
            Afdel : "Kalau begitu tadi hapenya siapa? Mana?"
            (mengambil hape yang dibawa Erik) Ini bukan hapemu kan Rik?
            Dodi : "Kamu nyuri ya, Rik?"
            Ciko : "Coba kamu priksa!"
            (Afdel, Ciko, Boni, Faiq dan Dodi memeriksa kantong Erik)
            Dodi : "Ini dompet siapa, Rik? Ada foto ibu itu?"
            Erik : "Iya teman-teman ini bukan hapeku! Aku yang mengambil dompet ibu
            itu? Habisnya aku laper dan tidak punya duit?"
            Boni : (memegang buju Erik) "Perbutanmu tidak bisa dimaafkan?"
            Faiq : (meleraikan) "Sudah-sudah, tidak boleh man hakim sendiri?"
            Erik : "Maaf teman, perbuatanku salah?" (menyesal)
            Ciko : "Sebaiknya Hape dan dompetnya segera kita kembalikan kepada ibu
            itu? Tapi kemana Ya?"
            Faiq : "Didompet kan ada alamatnya?"
            Afdel : "Benar juga kamu, Iq?"
            Faiq : "Siapa dulu donk? Faiq gitu loh?"
            Boni : "Gak jadi makan ke KFC nich?"
            Ciko : "Makan aja yang dipikir, kasin ibu itu tau? Kamu gimana, Rik? Mau
            ikut ga?"
            Erik : "Aku mau ikut, sekalian minta maaf dan aku berjanji tidak akan
            mencopet lagi?"
            Afdel : "Gitu donk temanku yang pemberani dan satria?" Afdel, Boni, Ciko, Didi, dan Faiq : "Yeach.. " (tertawa)
            Erik : "Lest Go!" ( pergi meninggalkan tempat nongkrong)

            Referensi:
            1. W. Rahmawati, 2009, Upaya Meningkatkan .....
            2. Suherli DKK, 2017, Buku Bahasa Indonesia .....