Pengertian Materi Pembelajaran

    Pembelajaran ialah pemerolehan pengetahuan tentang sesuatu hal atau keterampilan melalui belajar pengalaman atau pengajaran. Pembelajaran merupakan pemerolehan pengetahuan tentang sesuatu hal atau keterangan melalui belajar. Belajar sebagai perubahan disposisi atau kemampuan seseorang yang dicapai melalui orang lain dalam perubahan bukan diperoleh secara langsung dari pertumbuhan dirinya secara alamiah (Gagne dalam Sudjana, 2000: 97).

    Materi Pembelajaran

    Materi pembelajaran merupakan salah satu unsur dalam pembelajaran yang perlu mendapat perhatian oleh guru. Materi pembelajaran bertujuan untuk membantu siswa dalam mempelajari sesuatu, menyediakan berbagai jenis pilihan materi pembelajaran, memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, serta agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik. Siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis, sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu dengan menggunakan materi pembelajaran. Sejalan dengan pendapat tersebut, Winkel (1999:295) menyatakan bahwa materi pembelajaran dapat berupa macam-macam bahan, seperti suatu naskah, persoalan, gambar, isi audiocassette, isi videocassette preparat, topik perundingan dengan para siswa, jawaban dari para siswa, guru hendaknya terampil dan teliti dalam memilih materi pembelajaran yang sesuai bagi para siswanya.

    Menarik Juga untuk dibaca: Komponen Pembelajaran

    Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa materi pembelajaran adalah bahan ajar yang digunakan pendidik untuk menyampaikan ilmu kepada siswa. Materi pembelajaran menjadi salah satu unsur yang harus diperhatikan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

    Ciri-ciri Materi Pembelajaran yang Baik

    Guru bertanggung jawab sepenuhnya mengenai materi atau bahan ajar yang akan disampaikan kepada siswa. Oleh karena itu, pemilihan untuk materi pembelajaran perlu mendapatkan persiapan dan pertimbangan yang cermat. Winkel (1999:296-297) mengemukakan pemilihan bahan atau materi pembelajaran harus sesuai dengan beberapa kriteria antara lain:
    1. materi pembelajaran harus relevan terhadap tujuan instruksional yang harus dicapai, yaitu dari segi isi maupun jenis perilaku yang dituntut siswa yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik;
    2. materi pembelajaran harus sesuai dalam taraf kesulitannya dengan kemampuan siswa untuk menerima dan mengolah bahan itu;
    3. materi pembelajaran harus dapat menunjang motivasi siswa, antara lain karena relevan dengan pengalaman hidup sehari-hari siswa, sejauh hal itu mungkin;
    4. materi pembelajaran harus membantu untuk melibatkan diri secara aktif, baik dengan berpikir sendiri maupun dengan melakukan berbagai kegiatan;
    5. materi pembelajaran harus sesuai dengan prosedur yang diikuti.
    Surakhmad (2009: 354-355) mengemukakan bahwa pembelajaran yang berkualitas memadukan sekurang-kurangnya siswa sebagai pembelajar yang berkualitas, difasilitasi oleh guru yang berkualitas, melalui program pembelajaran yang berkualitas, dengan dukungan ekosistem pembelajaran berkualitas, di dalam konteks lembaga pembelajaran yang berkualitas. Adapun ciri-ciri materi pembelajaran yang baik dan berkualitas menurut Surakhmad (2009:358-359), antara lain memiliki karakteristik sebagai berikut:
    1. mengutamakan materi yang mutakhir, tidak yang sudah usang;
    2. bervisi jauh ke depan, tidak terfokus untuk persiapan ujian;
    3. bersifat integratif, tidak terkotak-kotak dalam mata pelajaran;
    4. kaya akan materi yang berjangkauan lokal dan nasional;
    5. menjangkau isu-isu kehidupan nyata kontemporer, tidak steril; 
    6. terbuka terhadap kehidupan berbudaya yang multidimensi;
    7. melibatkan isu kerukunan berbangsa dan kehidupan inklusif;
    8. membahas isu kritis membangun demokrasi yang beradab.
    Pembelajaran sastra bertujuan agar siswa memiliki rasa peka terhadap karya sastra yang berharga sehingga merasa terdorong dan tertarik untuk membacanya (Semi, 1993:152). Dengan membaca karya sastra diharapkan para siswa memperoleh pengertian yang baik tentang manusia dan kemanusiaan, mengenai nilai-nilai dan mendapatkan ide-ide baru. Pembelajaran cerita anak sebagai salah satu genre anak mempunyai fungsi yang dapat menumbuhkan rasa kepedulian terhadap karya-karya yang dihasilkan oleh pengarang.

    Rahmanto (1988: 27) mengemukakan terdapat tiga aspek penting yang tidak dapat dilupakan jika ingin memilih bahan pengajaran sastra, yaitu dari sudut bahasa, kematangan jiwa (psikologi), dan latar belakang kebudayaan siswa. Aspek-aspek pengajaran sastra akan diuraikan sebagai berikut.
    1. Bahasa
    Penguasaan suatu bahasa sebenarnya tumbuh dan berkembang melalui tahap-tahap yang tampak jelas pada setiap individu, sementara perkembangan sastra melewati tahaptahap yang meliputi banyak aspek kebahasaan. Aspek kebahasan salam sastra tidak hanya ditentukan oleh masalah-masalah yang dibahas, tetapi juga faktor-faktor lain seperti cara penulisan pengarang, ciri-ciri karya sastra pada waktu penulisan karya itu, dan kelompok pembaca yang ingin dijangkau oleh pengarang.

    2. Psikologi
    Perkembangan psikologi dari anak menuju kedewaan melewati tahap-tahap tertentu yang cukup jelas untuk dipelajari. Dalam pengajaran sastra, tahap-tahap perkembangan psikologis ini hendaknya diperhatikan karena tahap-tahap ini sangat besar pengaruhnya terhadap minat siswa. Karya sastra yang terpilih untuk diajarkan hendaknya sesuai dengan tahap psikologis dalam suatu kelas.

    3. Latar belakang budaya
    Biasanya siswa akan mudah tertarik pada karya-karya sastra dengan latar belakang yang erat hubungannya dengan latar belakang kehidupannya, terutama jika karya sastra itu menghadirkan tokoh yang berasal dari lingkungan mereka dan mempunyai kesamaan dengan mereka. Guru hendaknya memahami apa yang diminati oleh siswanya sehingga dapat menyajikan suatu karya sastra yang tidak terlalu menuntut gambaran di luar jangkauan kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Materi pembelajaran yang baik harus relevan dengan kebutuhan siswa.

    Baca Juga: Pengertian Seni Rupa

    Melalui pembelajaran sastra dapat memberikan pencerahan batin kepada siswa. Siswa dapat merasakan dan seakan mengalami berbagai peristiwa yang dibuat pengarang dalam sebuah karya sastra. Dengan merasakan dan seakan mengalami berbagai peristiwa yang sarat dengan nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah karya sastra, siswa akan kaya akan nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai kehidupan ini pada akhirnya akan meningkatkan kepekaan perasaan siswa terhadap kehidupan di sekitarnya sehingga membentuk pribadi yang berbudi pekerti luhur.

    Berdasarkan pendapat di atas, dapat diketahui bahwa bahan ajar atau materi pembelajaran merupakan bagian yang penting dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, pemilihan untuk materi pembelajaran perlu mendapatkan persiapan dan pertimbangan yang cermat. Materi pembelajaran sastra hendaknya disesuaikan dengan bahasa, psikologi dan latar belakang budaya siswa.

    Pembelajaran Sastra di Sekolah Dasar

    Anak usia Sekolah Dasar adalah anak yang mengalami pertumbuhan secara perlahan, namun konsisten. Perkembangan kognitif anak usia Sekolah Dasar sangat luar biasa. Perubahan akan mucul dalam cara mereka berpikir mengenai kata-kata. Mereka tidak lagi terlalu terikat dengan gerak dan dimensi persepsi yang berkaitan dengan kata-kata, tetapi mereka lebih analitis dalam pendekatan terhadap kata-kata. Kemampuan anak Sekolah Dasar menganalisis kata-kata memungkinkan mereka memahami kata-kata yang tidak ada hubungan langsung dengan pengalaman pribadi. Hal ini memungkinkan anak untuk menambah kata-kata yang abstrak ke dalam pembendaharaan kata mereka (Titik WS et al., 2012: 98-100).

    Pembelajaran sastra merupakan salah satu aspek paling penting yang perlu diajarkan kepada siswa agar mampu menikmati, menghayati, memahami dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan berbahasa. Pembelajaran bahasa Indonesia berfungsi sebagai sarana untuk membantu siswa mengemukakan gagasan dan perasaan serta berpatisipasi dalam masyarakat dengan menggunakan bahasa tersebut, dan menumbuhkan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif. Pembelajaran sastra di Sekolah Dasar bertujuan membina apresiasi anak terhadap karya-karya sastra, sehingga anak dapat mengembangkan kearifan, kejelian, dan ketelitian untuk menangkap isyaratisyarat dalam kehidupan yang tercermin dalam karya sastra (Zulela, 2012: 61-62).

    Hal ini juga dipertegas oleh pendapat Zulela (2012: 68) bahwa sastra anak di Sekolah Dasar yang dijadikan sebagai acuan dalam pengembangan sastra anak baik lisan maupun tulisan dibagi menjadi dua, yaitu sastra anak kelas rendah dan sastra anak kelas tinggi. Sastra anak kelas rendah terdiri atas berbagai genre dan berbentuk lisan dan tulisan, antara lain: syair lagu/nyanyian anak, puisi tembang dolanan, cerita lisan, dan sastra pengembangan literasi awal, sedangkan sastra anak kelas tinggi terdiri atas novel/cerpen, fiksi realistik, fiksi fantasi, fiksi historis, dan komik sastra anak. Nilai sastra bagi pendidikan anak Sekolah Dasar dapat membantu perkembangan bahasa anak, perkembangan kognitif anak, dan perkembangan kepribadian serta perkembangan sosial.

    Karya sastra anak merupakan jenis bacaan cerita anak-anak yang ditulis untuk dikonsumsi anak-anak. Sebagai buku bacaan anak-anak, karya sastra juga berperan sebagai pendukung pelajaran bahasa Indonesia, yaitu melatih kelancaran membaca (secara tidak langsung), meningkatkan minat baca, dan memperluas wawasan (pengetahuan) mereka. Bahkan, ia dapat pula berperan sebagai perangsang untuk meningkatkan daya imajinasi dan daya kreativitas anak (Titik WS et al, 2012: 97).

    Berdasarkan pendapat di atas, dapat disintesiskan bahwa pembelajaran sastra di Sekolah Dasar dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa mengapresiasi karya sastra melalui pembelajaran sastra anak. Pembelajaran sastra di Sekolah Dasar diarahkan pada proses pemberian pengalaman bersastra. Siswa diajak untuk mengenal bentuk dan isi sebuah karya sastra melalui kegiatan mengenal dan mengakrabi karya sastra sehingga tumbuh pemahaman dan sikap menghargai cipta sastra sebagai suatu karya yang indah dan bermakna.

    Post a Comment

    Previous Post Next Post