Bentuk Pengertian Contoh Perubahan Sosial

Pengertian Perubahan Sosial

Setiap masyarakat manusia selama hidup pasti mengalami perubahanperubahan. Perubahan dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok, adapula perubahan-perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun luas, serta perubahan-perubahan yang lambat sekali, akan tetapi berjalan cepat. Perubahan-perubahan di dalam masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, pola-pola perilaku, organisasi, lembaga-lembaga kemasyarakat, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial.


    Menurut Hendropuspito (1989: 256), bahwa terdapat dua rumusan definisi perubahan sosial yaitu:
    1. Perubahan sosial didefinisikan sebagai perbedaan keadaan yang berarti dalam unsur masyarakat dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Dalam definisi ini terkandung perubahan sosial pasif.
    2. Perubahan sosial adalah proses perkembangan unsur sosial budaya dari waktu ke waktu yang membawa perbedaan yang berarti dalam struktur dan fungsi masyarakat.
    Menurut Mac Iver dalam Soejono Soekanto (1982: 306), perubahan sosial dikatakan sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial (sosial relationship) atau sebagai perubahan terhadap perubahan keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial. Sedangkan Wilbert Moore dalam Robert H Lower (1977: 4) mendefinisikan perubahan sosial sebagai perubahan penting dari struktur sosial dan yang dimaksud struktur sosial adalah pola-pola perilaku dan interaksi sosial sebagai ekspresi mengenai struktur seperti pola-pola perilaku dan interaksi.

    Contoh Perubahan Sosial


    Setiap perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat atau perubahan dalam organisasi sosial masyarakat disebut perubahan sosial (Bruce J cohen, 1992: 453). Definisi lain dari Selo Soemardjan dalam Robert H Lower (1977: 5) rumusannya adalah segala perubahan-perubahan pada lembaga masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya di dalamnya nilai-nilai sikap dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Tekanan pada definisi tersebut terletak pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia.

    Perubahan-perubahan mana kemudian mempengaruhi segi-segi struktur masyarakat lainnya. Perubahan sosial mencakup bermacam-macam perubahan di dalam lembaga-lembaga masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya. Termasuk nilai-nilai, sikap, dan pola tingkah laku antar kelompok sosial di dalam masyarakat. Dari berbagaipendapat tentang perubahan sosial tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan yang mempengaruhi sistem sosialnya Perubahan sosial dalam masyarakat nilai-nilai sosial, pola-pola perilaku, organisasi, lembaga-lembaga kemasyarakat, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial.

    Bentuk-bentuk Perubahan Sosial

    Menurut Soerjono Soekanto (1982: 315-319) perubahan sosial dapat dibedakan ke dalam beberapa bentuk, antara lain yaitu:

    1. Perubahan lambat dan perubahan cepat
    Perubahan-perubahan yang memerlukan waktu lama, dan rentetan-rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat, dinamakan evolusi. pada evolusi perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa perencanaan. Perubahan tersebut tidak perlu sejalan dengan rentetan peristiwa di dalam sejarah masyarakat yang bersangkutan. Sementara itu perubahan sosial yang berlangsung secara cepat yang lazimnya disebut revolusi. Unsur pokok revolusi adalah adanya perubahan secara cepat dan perubahan itu mengenai dasar-dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat.

    2. Perubahan kecil dan perubahan besar
    Perubahan-perubahan kecil adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat. Sedangkan perubahan besar adalah perubahan yang akan membawa pengaruh besar dalam masyarakat. Berbagai lembaga kemasyarakatan akan ikut berubah misalnya hubungan kerja, sistem kepemilikan tanah, hubungan kekeluargaan, stratifikasi masyarakat.

    3. Perubahan yang direncanakan dan perubahan yang tidak direncanakan.
    Perubahan yang direncanakan merupakan perubahan yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang menghendaki adanya perubahan dalam masyarakat. Perubahan sosial yang tidak direncanakan merupakan perubahan yang terjadi tanpa dikehendaki, berlangsung di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan masyarakat.

    Menarik juga dibaca: Pengertian Kewirausahaan

    Menurut Hendropuspito (1989: 262) perubahan sosial dapat digolongkan menjadi:

    1. Perubahan berulang. Perubahan berulang atau recurrent change merupakan perubahan yang setiap kali kembali. Pada penampilan ulang tidak didapati unsur-unsur baru. Perubahan berulang tidak merupakan perubahan sosial dalam arti yang sesungguhnya.

    2. Perubahan pembaharuan atau innovation change adalah perubahan yang menampilkan unsur-unsur baru yang belum dijumpai dalam suatu masyarakat. Perubahan jenis masyarakat didapati pada perkembangan tehnologi dan ekonomi dan merupakan perubahan sosial dalam arti penuh, karena ia memaksa masyarakat untuk mengatur tata sosial, menuntut individu untuk menentukan sikap.

    3. Perubahan hakiki dan perubahan jumlah atau qualitatif change. Perubahan hakiki membawa perubahan jenis hakekat budaya dan sosial.

    4. Perubahan siklus atau cyclical change adalah perubahan memutar sesuai dengan perubahan musim, perubahan ini tidak membawa unsur-unsur baru bagi kehidupan masyarakat.

    5. Perubahan linier atau linier change adalah perubahan dari masa ke masa yang memawa masyarakat ke keadaan baru yang tidak pernah sama dengan keadaan berikutnya. Masyarakat mengalami kemajuan karena mengikuti gaya perubahan lurus.

    6. Perubahan terencana dan perubahan tidak terencana.  
    Perubahan terencana atau planned social change terjadi jika perubahan keadaan masyarakat dari waktu ke waktu tidak bertolak dari suatu rencana tertentu dan digerakan menurut pola tertentu. Perubahan tidak terencana atau unplanned change terjadi jika perubahan keadaan masyarakat dari waktu ke waktu tidak bertolak darin suatu rencana tertentu melainkan hanya mengikuti hukum alam.

    7. Perubahan progresif dan regresif
    Perubahan progresif menuntut ukuran tertentu membawa kemajuan kepada masyarakat yang bersangkutan. Sedangkan perubahan regresif adalah perubahan yang mernuntut ukuran tertentu, tidak mendatangkan kemajuan (keuntungan) tapi kemunduran karena adannya akibat yang negatif.

    Faktor Penyebab Terjadinya Perubahan Sosial

    Dalam suatu penelitian harus ditentukan jenis perubahan sosial yang akan diselidiki kurun waktu tersebut dan unsur sosial/budaya yang menjadi penyebab perubahan sosial. Menurut Hendropuspito (1989: 265) penyebab perubahan sosial dapat dikategorikan dalam dua macam:

    1. Penyebab yang ada di dalam manusia sendiri atau faktor manusia.

    Keudukan manusia sangat sentral dan penting dalam masyarakat dan perkembangannya dalam masyarakat, maka wajar jika manusia sebagai faktor penyebab utama perubahan sosial. Faktor manusia merupakan faktor utama karena dalam diri manusia ada beberapa tenaga dinamis yang memainkan peran yang menentukan perubahan masyarakat, yaitu kecenderungan, dorongan hati dan kemauan yang menyatu menjadi sumber dinamika yang dapat dikembangkan dengan cara tertentu dan dalam situasi tertentu. Manusia dengan kekurangan dan kelebihannya menjadi penyebab penting perubahan sosial. Disamping kemauan, kecenderungan dan dorongan hati, sejumlah nilai sosial yang bersifat ideologis dan masih berupa cita-cita juga memberikan pengaruh pada perubahan masyarakat.

    2. Penyebab diluar manusia atau faktor non manusia

    nilai-nilai sosial yang telah menjadi kenyataan, misalnya telah menjadi gerakan, telah mengejawantah dalam bentuk masyarakat tertentu yang memberikan pengaruh atas perkembangan masyarakat selanjutnya. Faktor-faktor non manusia antara lain, pertambahan penduduk, sistem ekonomi, penerapan-penerapan penemuan baru (teknologi modern, mode, sistem pendidikan terencana, arus sekularitas, warna politik nengara (Negara sosialis, Negara pancasila).

    Pendapat tersebut senada dengan yang diungkapkan Soerjono soekanto (1989, 323-330), bahwa sebab-sebab perubahan sosial ada yang terletak dalam masyarakat sendiri dan di luar masyarakat. Faktor yang berasal dari dalam masyarakat meliputi:
    1. Bertambah atau berkurangnya penduduk.
    2. Penemuan-penemuan baru.
    3. Terjadinya pemberontakan atau revolusi.
    4. Pertentangan atau konflik.
    Sedangkan faktor penyebab perubahan sosial yang berasal dari luar masyarakat meliputi:
    1. Faktor alam
    2. Peperangan
    3. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain
    Faktor-faktor yang menjadi penyebab perubahan sosial menurut Morris Ginsberg dalam Haar Tilaar (2002: 17) adalah:
    1. Keinginan-keinginan secara sadar dan keputusan Pribadi untuk mengadakan perubahan
    2. Sikap-sikap kondisi yang dipengaruhi oleh kondisi-kondisi yang berubah
    3. Pribadi-pribadi yang dan kelompok-kelompok yang menonjol.

    Menurut Soedjono Dirjosisworo (1985: 284-286), pola pengaruh yang sering di jumpai dalam perubahan sosial bervariasi dalam beberapa bentuk sebagai berikut:

    1. Gangguan keseimbangan yang sesekali terjadi.
    Kekuatan yang dapat merubah struktur dan sistem sosial secara relatif cepat sekali, seperti misalnya revolusi yang menghasilkan kemerdekaan pada suatu bangsa, pada suatu masyatakat tertentu, sehingga setelah pemerintah kolonial berganti dengan pemerintahan yang merdeka yang kelanjutannya merubah berbagai aspek kehidupan pada bangsa tersebut.

    2. Kekuatan perubahan bergelombang
    beberapa kekuatan gangguan keseimbangan dalam masyarakata yang selalu timbul kembali, seolah-olah adanya perubahan yang bergelombang silih berganti. Sebagai contoh misalnya:
    • Gerak konjungtur dalam proses perkembangan di bidang ekonomi.
    • Pergantian antara konservatifme dan radikalisme dalam sistem politik suatu masyarakat tertentu.
    • Perubahan yang berhubungan dengan mode, yang senantiasa pergi dan datang mengikuti dan membentuk selera.
    3. Kekuatan perubahan yang bersifat kumulatif
    Yakni kekuatan yang berupa gangguan keseimbangan yang berturut-turut sehingga membawa perubahan yang berupa kemajuan atau kemundurun yang berganda. Dua gejala penting dalam kehidupan masyarakat mempunyai daya pengaruh terhadap perubahan struktur sistem dan organisasi sosial yaitu:
    • Gerak masyarakat mendatar atau vertikal atau ditegaskan sebagai social mobility (mobilitas sosial), yang berupa gerakan dalam masyarakat, yang tidak menyangkut ruang geografis (tidak ada perpindahan tempat), namun mempengaruhi beberapa perubahan penting dalam kehidupan sosial.
    • Gerak masyarakat mendatar (horizontal) atau dalam sosiologi ditegaskan sebagai social migration, yakni suatu gerak masyrakat yang berhubungan dengan ruang geografi atau terjadinya perpindahan tempat dari sekelompok anggota masyarakat dari suatu daerah ke daerah lain dalam jumlah yang relatif besar
    Margono Slamet dalam Soleman B. Toneka (1993: 137-139), dalam konsepsinya tentang macam-macam kekuatan yang mempemgaruhi perubahan sosial. menyebutkan kekuatan ini berasal dari segala aspek situasi yang merangsang kemauan untuk melakukan perubahan. Kekuatan ini bersumber dari:
    • Ketidakpuasan terhadap situasi yang ada, karena itu ada keinginan untuk situasi yang lain.
    • Adanya pengetahuan tentang perbedaan antara yang ada dan yang seharusnya bisa ada.
    • Adanya tekanan dari luar seperti kompetisi, keharusan menyesuaikan diri, dan lain-lain
    • Kebutuhan dari dalam untuk mencapai efisiensi dan peningkatan, misalnya produktivitas dan lain-lain.
    Menurut Eugene Kamenka yang di kutip oleh SN. Eisentadt (1986:5), revolusi adalah suatu perubahan yang mendadak dan tajam dalam siklus kekuasaan sosial ia tercermin dalam perubahan radikal terhadap proses pemerintahan yang berdaulat pada segenap kewenangan dan legitimasi resmi, dan sekaligus perubahan radikal dalam konsepsi tatanan sosialnya. Transformasi demikian pada umumnya telah diyakini, tidak akan mungkin terjadi tanpa kekerasan. Tapi seandainya tanpa pertumpahan darah, tetap masih dianggap sebagai revolusi.

    Menarik Juga: Contoh Teks Editorial


    Revolusi adalah suatu fenomena yang secara historis adalah terbatas. Revolusi tidak akan terjadi di dalam masyarakat yang tradisional dimana tingkat kompleksitas sosial dan ekonomi masih sangat rendah. Tetapi revolusi juga tidak akan timbul dalam masyarakat yang modern, dan revolusi besar kemungkinan terjadi di dalam masyarakat yang telah mengalami beberapa perkembangan social ekonomi, sementara proses modernisasi politik dan pembangunan politik tertinggal di belakang (Samuel P. Hutington 1983: 313)

    Revolusi adalah dimana terjadi perubahan yng sekonyong-konyang, dengan cara kekerasan dan fundamental mengenai struktur sosio politik, lembaga-lembaga sosio politik dan kepemimpinan yang disertai perubahan-perubahan fundamental mengenai idiologi politik, nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dan mengenai kebijaksanaan serta kegiatan pemerintahan (J.W Schoorl, 1980: 194)

    Karl Marx dalam Theda Skocpol (1991: 14) mengatakan bahwa revolusi bukan sebagai suatu episode tertutup dari kekerasan/konflik, tetapi sebagai gerakan kelas yang muncul dari hasil kontradiksi struktural di dalam masyarakat yang secara historis berkembang dan yang secara intern dilanda konflik.

    Revolusi adalah perubahan nilai dan mitos yang dominan dalam masyarakat terutama menyangkut lembaga politik, struktur sosial, kegiatan dan kebijaksanaan pemerintah, yang berlangsung dengan kekerasan, mendasar dalam waktu yang cepat (Samuel Hutington, 2003: 315). Secara sosiologis ciri khas revolusi adalah:
    • Tujuannya bukan mendapatkan persamaan kekuasaan akan tetapi mengganti kekuasaan.
    • Basis legitimasi diganti
    • Perubahan sosial yang terjadi bersifat massif dan persuasif, sehingga mempengaruhi seluruh masyarakat
    • Koersi dan kekerasan biasanya dipergunakan untuk menghancurkan rezim lama dan mempertahankan pemerintahan yang baru. (Schermerharm, 1987: 70)

    Revolusi tidak lepas dari peran seorang tokoh yang menjadi panutan bagi rakyat. Hal ini juga sesuai dengan pendapat schoorl yang menyatakan bahwa:
    "keberhasilan suatu revolusi itu sangat tergantung kepada adanya seseorang ‘nabi’ yang membawa ajaran tentang masyarakat baru dalam mempropaganda perubahan atau pendobrakan cara kekerasan atau cara lain untuk mewujudkan adanya perubahan sistem yang lama menjadi sistem yang dicita-citakan" (Schoorl, 1982: 215)
    Dalam revolusi yang menarik adalah skenarionya yang meliputi 4 masalah, yaitu 
    1. Kristalisasi kekuatan sosial dalam lembaga perjuangan, 
    2. Penggolongan kekuatan sosial berdasarkan ideologi yang terdiri atas tiap kategori kanan, kiri dan tengah, 
    3. Polarisasi antar ketiga golongan tersebut, 
    4. Dominasi golongan radikal pada revolusi fisik (Anton E Lucas, 1989: 4 ).

    Charley tilly dalam Theda Skocpol (1991: 8), mengungkapkan bahwa revolusi adalah khasus khusus dari aksi kolektif dimana kelompok-kelompok yang bersaing berjuang untuk mendapatkan kedaulatan politik tertinggi atas masyarakat, dan kasus-kasus dimana kelompok-kelompok penentang berhasil sekurangkurangnya dalam beberapa hal tertentu, menggantikan pemegang kekuasaan yang ada. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa revolusi merupakan proses perubahan yang relatif cepat penuh kekerasan, perubahan tersebut meliputi aspek sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, lembaga pemerintah dan kebijakan pemerintahan.

    Revolusi secara umum, mempunyai pengertian perubahan rezim dalam suatu negara yang diikuti rekonstitusi besar dibidang politik, sosial, dan tatanan budaya. Dari perspektif sosiologi revolusi adalah suatu kejadian yang mengubah sama sekali susunan masyarakat dari suatu zaman umpamanya dari masyarakat feodal menjadi masyarakat demokratis (Musa Asy’arie, 2002: 17)

    Revolusi merupakan gejala-gejala sosial yang terjadi dalam suatu kehidupan bermasyarakat dan bukan menjadi hal baru dalam sejarah kehidupan manusia. Ciri utama yang melekat pada suatu revolusi adalah kekerasan, adanya pembaharuan, dan perubahan yang menyeluruh. Ciri kekerasan melekat pada suatu revolusi, karena revolusi merupakan suatu proses yang luar biasa dan sangat kasar serta merupakan gerakan terpadu dari seluruh gerakan-gerakan sosial apapun. Ciri pembaharuan, dimaksudkan bahwa adanya suatu revolusi pasti akan berusaha menciptakan suatu tatanan sosial yang baru yang lebih baik. Sedangkan ciri perubahan dimaksudkan semua revolusi pasti membawa suatu perubahan yang mendasar seluruh bidang kelembagaan utama, khususnya dalam hubungan kelas dan sistem ekonomi. (S.N Eisenstadt, 1986: 2-3)

    Menurut Soerjono Soekanto (1982: 241) revolusi sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap dan pola-pola perilaku diantarakelompok-kelompok dalam masyarakat. Suatu revolusi sosial mencakup penumbangan negara masyarakat dan struktur kelas serta penciptaan pengturan-pengaturan sosial yang baru (Rafael Raga Maran, 2001: 72) Sedangkan menurut Anton E Lucas (1981: 2), memberi batasan revolusi sosial sebagai revolusi untuk mengubah struktur masyarakat kolonial (feodal) menjadi masyarakat yang lebih demokratis.

    Proses revolusi dipahami sebagai proses yang luar biasa, sangat kasar dan merupakan gerakan terpadu dari seluruh gerakan-gerakan sosial apapun. kondisi-kondisi yang memungkinkan terjadinya revolusi adalah sebagai berikut:
    1. Adanya kekuatan pilitik yang sangat terkonsentrasi pada negara, sehingga terdapat aparatur-aparatur pemerintahan yang sentralistis.
    2. Aliansi militer dengan rezim yang mapan diperlemah, sehingga militer tak lagi menjadi sarana yang diandalkan untuk memberangus kekacauan domestik.
    3. Terjadi sejumlah krisis politik yang memperlemah rezim yang ada dan yang berandil bagi kehancuran aparatur negara.
    4. Suatu lapisan penting penduduk yang harus dikerahkan untuk melakukan pemberontakan yang membawa suatu elit baru kepada tampuk kekuasaan.
    Revolusi kaum petani biasanya berasal dari pengambilalihan tanah meraka oleh para tuan tanah, peningkatan yang mencolok pajak atau sewa tanah atau karena problem kelaparan (Rafael Raga Maran, 2001: 72-73)

    Pendapat lain menyebutkan bahwa sebab-sebab revolusi tidak cuma dipahami sebagai peristiwa temporer atau kegelisahan saja.Rrevolusi terjadi karena berbagai pergeseran sosial atau ketimpangan yang sangat fundamental terutama perjuangan antar elit; perpaduan kekuatan tersebut dengan kekuatan sosial, maupun konflik golongan yang lebih dalam dan menyebar luas seperti konflik kelas, dan dislokasi serta mobilisasi sosial juga organisasi-organisasi politik dari berbagai kelompok sosial yang lebih besar (Eisantadt, 1986: 3). Selain itu revolusi dapat disebabkan oleh Lembaga-lembaga yang kaku dan tidak fleksibel dan Golongan-golongan yang ingin menanjak dan mempunyai aspirasi besar (Schorl, 1982: 200)

    Revolusi bukan jaminan untuk memecahkan masalah masyarakat namun revolusi dapat mendobrak struktur sosial politik, yang merupakan hambatan untuk perkembangan sosial dan politik selanjutnya. struktur baru, ideologi baru berada ditangan elit politik barulah yang menentukan sampai seberapa jauh revolusi itu merupakan pendahuluan dari perbaikan-perbaikan yang sungguh-sungguh di berbagai bidang kehidupan.

    Ada beberapa gambaran tentang pengaruh atau akibat dari revolusi. pertama, perubahan secara kekerasan terhadap rezim politik yang ada, yang didasari oleh legitimasi maupun simbol-simbol. Kedua, penggantian elit politik atau kelas yang sedang sedang berkuasa dengan lainnya. ketiga, perubahan secara mendasar seluruh bidang kelembagaan utama terutama dalam hubungan kelas dan sistem ekonomi yang menyebabkan modernisasi disegenap aspek kehidupan sosial, pembaharuan ekonomi dan industrialisasi, serta menumbuhkan sentralisasi dan partisipasi dalam dunia politik. keempat, pemutusan secara radikal dengan segala hal yang telah lampau (yang dijelaskan oleh Alexis de Tocqueville sebagai kontinuitas yang rlatif). kelima, memberikan kekuatan ideologis dan orientasi kebangkitan (millenarian) mengenai gambaran revolusioner (Eisentadt, 1986: 3)

    Contoh Perubahan Sosial

    Perubahan sosial di Aceh disebabkan oleh faktor yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri, yaitu terjadinya revolusi yang berhasil mengubah tatanan sosial masyarakat Aceh. Daerah-daerahh yang ditaklukan belanda disebut Nangroe yang pada masa Belanda disebut Zelfbestuurder yang dipimpin seorang uleebalang. Kekuasaan uleebalang sendiri sebenarnya sudah dikenal sepanjang sejarah Aceh. Uleebalang adalah kepala pemerintahan daerah yang otonom, sekaligus sebagai pemangku hukum adat di daerahnya. Kekuasaan uleebalang sangat besar, karena daerah yang dikuasainya mempunyai otononomi luas.

    Snouck Hurgronje membagi elit masyarakat Aceh menjadi tiga kelompok yaitu sultan, uleebalang dan ulama. Ketiga unsur kekuatan inilah yang mendominasi dan menjaga keseimbangan politik, ekonomi dan sosial budaya masyarakat Aceh. Sultan dan uleebalang merupakan dua pilar utama yang mendukung kehidupan adat di dalam masyarakat Aceh. Di lain pihak dalam lapisan yang sama, ulama muncul sebagai pilar utama yang mendukung serta memperjuangkan keberadaan dan peranan agama. Meski yang menjadi penguasa adalah uleebalang namun kedudukan ulama tak kalah penting, hal ini dapat dimaklumi sebab kehidupan masyarakat Aceh didominasi oleh nilai-nilai agama sehingga secara otomatis keberadaan ulama sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

    Telah lama sebetulnya ada hubungan yang tidak harmonis antara kalangan ulama dan uleebalang. Kalangan ulama menuding uleebalang hanya menjadi boneka penjajah, dalam hal ini kaum ulama memandang bahwa kaum uleebalang telah berkhianat. Inilah yang mengakibatkan timbulnya rivalitas dan konflik antara dua kekuatan pribumi ini. Konflik ini akhirnya berubah menjadi sebuah konflik terbuka, dan puncaknya adalah perang Cumbok. Sebuah tragedi perang saudara yang dipicu adanya perasaan curiga antara kekuatan ulama dan uleebalang yang berkembang menjadi pertarungan fisik. Perang ini meluas menjadi sebuah revolusi sosial yang berhasil merubah tatanan sosial masyarakat aceh dan menghancurkan kaum feodal, dalam hal ini adalah kaum uleebalang.

    Keanekaragaman revolusi tergantung dari bidang tertentu yang diperjuangkan dan mengalami perubahan dalam revolusi. Ada berbagai revolusi yang kemunculanya berasal dari latar belakang yang berbeda-beda tergantung pada bidang tertentu tersebut. Revolusi yang terjadi di Aceh termasuk dalam revolusi sosial, karena revolusi tersebut telah berhasil mengubah struktur sosial masyarakat Aceh.Para penguasa feodal yaitu uleebalang berhasil di tumbangkan pada saat terjadinya revolusi dan kedudukannya digantikan oleh ulama.

    Referensi:
    N. AGUSTININGSIH, 2007, KONFLIK ULAMA-ULEEBALANG....
    Author

    Tentang penulis: T Nurandhari

    Penulis adalah seorang penulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia.

    Follow me on: Twitter | Scholar | Quora |

    0 Comments:

    Post a Comment