Ciri-ciri Bentuk Struktur Pengertian Pantun

Pengertian Pantun Menurut Para Ahli

Harun Mat Piah (1989: 29) mengartikan pantun sebagai jenis puisi yang pada umumnya terdiri dari empat baris serangkap, empat perkataan sebaris, mempunyai rima akhir a-b-a-b, dengan sedikit variasi dan pengecualian. Pantun merupakan sastra rakyat yang telah digunakan secara luas dalam masyarakat Melayu. Pantun mengandungi falsafah hidup masyarakat Melayu dan sebagai salah satu wadah penting dalam menyampaikan hasrat serta manifestasi pemikiran mereka. Oleh karena itu, bertepatanlah pandangan Omardin (Juffri Bin Supa‟at, 2011: 24) bahwa “bahasa itu jiwa bangsa”, maka pantun adalah salah satu urat sarafnya.

    Fang (1993: 195) mengungkapkan bahwa pantun merupakan puisi tradisional melayu, pantun juga merupakan puisi lama. Pengertian Pantun berasal dari akar kata “ tun” yang mempunyai arti teratur. Disamping itu akar kata pantun dalam dunia melayu juga bisa berarti arah, pelihara dan bimbing, seperti yang ditunjukkan kata tunjuk dan tuntun. Kesimpulannya pantun ialah bahasa yang terikat dan teratur atau tersusun.

    Herman J. Waluyo (2008: 9) menyatakan pantun dan syair menunjukkan ikatan yang kuat dalam hal struktur kebahasaan dan tifografi atau struktur fisiknya. Struktur temantik atau struktur makna dikemukakan menurut aturan jenis pantun atau jenis syair. Ikatan yang memberikan nilai keindahan dalam struktur kebahasaan itu berupa: 
    1. jumlah suku kata tiap baris; 
    2. jumlah baris setiap bait;
    3. jumlah bait tiap puisi: 
    4. aturan dalam rima dan ritma. 
    Fang (1993: 197) berpendapat bahwa ada hubungan yang betul-betul antara pasangan pertama dan kedua dalam pantun, yaitu hubungan bunyi. Dari pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pasangan pertama yang merupakan sampiran memiliki hubungan bunyi dengan pasangan kedua yaitu isi dalam pantun.



    Dundes dalam Suwardi Endraswara (2009: 234) menjelaskan bahwa sastra lisan sebagai “oral literature is a universal. All peoples have oral literature. This is in contrast to written literature, which is not universal”. Secara fungsional, dapat dipahami lewat masyarakat primitif (tidak melek aksara). Mereka memiliki ekspresi estetis yang merupakan bagian komunikasi yang digunakan secara komunikatif, misalkan pantun.

    Wignesan. T. dalam Journal of the Institute of Asian Studies (1995) mengungkapkan pendapatnya mengenai Pantun.
    Pantun is not simply a quatrain. Of course it is the form in which it is most to be found, but there exist other more complex forms of the pantun, such as, the distique, the sextet (in two successive tercets, each tercet replacing the roles of the distiques in the quatrain), the octave and the pantun berkait, the last of which being a series of interwoven quatrains (quatrains crochetés), that is to say, the second and fourth lines of the preceding quatrain are repeated in the succeeding quatrain as the first and the third all along several strophes (the same procedure applies to successive pantun(s) in tercets alternating between the first and the third and the third and the first) while the series of pantun(s) is/are concluded or brought to an end by the repetition of the first and the third line of the first quatrain. Pantun merupakan salah satu bentuk puisi lama. Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), bersajak ab-ab. Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan, namun sekarang banyak dijumpai pantun yang tertulis. Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali tentang alam (flora dan fauna), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud. Dua baris terakhir merupakan isi, dan tujuan dari pantun tersebut (Sarwiji Suwandi dan Sutarmo, 2008: 15-16).

    Pantun merupakan salah satu produk sastra yang sangat dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pada umumnya pantun terdiri atas empat larik atau empat baris dan terdiri atas sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama biasanya berkaitan dengan alam (mencirikan budaya masyarakat pendukungnya) dan seringkali tidak mempunyai hubungan dengan bagian kedua. Dua baris terakhir merupakan isi yang merupakan tujuan dari pantun tersebut (Agni, 2009: 6). Pantun berfungsi sebagai alat pemelihara bahasa dan sebagai media mengasah pikiran untuk lebih kreatif. Disamping itu, untuk berpantun biasanya lebih mengarah kepada berpikir asosiatif secara spontanitas karena merupakan arena permainan kata-kata sekaligus sebagai penyampai pesan.

    Menarik dibaca juga: Karya Sastra

    Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pantun sebagai sajak pendek yang terdiri dari empat baris. Dua baris pertama sebagai sampiran sedangkan dua baris berikutnya berupa isi. Secara umum, hubungan antara sampiran dengan isi hanya hubungan dalam hal saran dan bunyi. Hubungan bunyi tersebut terwujud dalam bentuk persajakan atau rima yang berstruktur a-b-a-b.

    Ciri-ciri Pantun

    Pantun merupakan salah satu genre puisi Melayu tradisional. Konsep " tradisional" menurut Harun Mat Piah dalam Abror (2009: 79) mengandung konsep yang dikenal sebagai:
    "Puisi lisan" (oral poetry) dan "puisi rakyat" (folk poetry). Ini karena puisi itu masih digunakan dalam kegiatan-kegiatan kesenian rakyat (folklore) yang dipersembahkan, disampaikan, dan disebarkan dalam bentuk lisan. Hampir semua nyanyian daerah atau senandung rakyat, nyanyian-nyanyian yang mengiringi tarian, ungkapan-ungkapan dalam istiadat-istiadat sosial dan keagamaan, dzikir yang dilagukan atau mengiringi perlakuan yang bersifat magis, dipersembahkan dan diabaiakan dalam bentuk puisi.

    Memperhatikan ciri-ciri umum tersebut, dapat dikemukakan ciri-ciri pantun puisi Melayu tradisional menurut Harun Mat Piah dalam Abror (2009: 80), yaitu sebagai berikut:
    1. Ia diciptakan dan disebarkan secara lisan dan bersifat kolektif dan funsional, yaitu tanpa mencantumkan pengarangnya dan digunakan dalam kehidupan masyarakat.
    2. Bentuknya terikat oleh konvensi-konvensi tertentu yang seterusnya memberikan bentuk dan struktur pada puisi.
    3. Sebagai puisi yang bersifat funsional yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sebuah genre tertentu digunakan untuk kegiatan, misalnya pantun untuk kegiatan seni yang berunsur hiburan dan ritual.
    4. Puisi tradisional berhubungan erat dengan magis dalam maksud dan pengertian yang luas.
    5. Sebagai bahan yang berunsur magis dan ritual, puisi, dianggap suci. (sacred)
    6. Puisi Melayu tradisional juga dapat dikatakan mengandung unsur musik. Hampir semua pengucapannya disampaikan dalam lagu, irama, atau intonasi yang tipikal.
    7. Bahasanya padat, mengandung unsur-unsur perlambang, imaji, kias dan perbandingan-perbandingan lain yang tepat dengan maksud dan funsinya.

    Harun Mat Piah dalam Abror (2009: 81) menyusun genre puisi Melayu yang lengkap berjumlah dua belas, yaitu pantun, syair, nadzam, gurindam, seloka, teka-teki, peribaha berangkap, teromba, talibun, prosa berirama atau puisi lirik, mantra, dzikir. Berdasarkan kajian itu, Harun menegaskan bahwa dari dua belas genre tersebut, genre pantun dan syair dapat dianggap paling muktamad/sah, tidak ada yang menyangkal dalam penggolongannya, berdasarkan bentuk, pembagian unit dan isinya, kecuali dalam hal penetuan sistem rima dan tema. Sebagai salah satu genre puisi Melayu tradisional, secara umum dapat dikemukakan dua aspek penting dari pantun, yakni aspek luar dan aspek dalam (Mat Piah dalam Abror, 2009: 81).

    1. Aspek luar adalah struktur dan seluruh ciri visual yang dapat dilihat dan didengar, dan ini termasuk:
    • Terdiri dari rangkap-rangkap yang berasingan. Setiap rangkap dari garis-garis sejajar dan berpasangan, tetapi umumnya empat baris.
    • Setiap baris mengandung empat kata dasar. Jadi unit yang penting ialah perkataan, sedangkan suku kata merupakan aspek sampingan.
    • Adanya klimaks, yaitu perpanjanganatau kelebihan jumlah unit suku kata atau perkataan pada kuplet maksudnya.
    • Setiap stanza terbagi pada dua unit, yaitu sampiran dan maksud pada setiap kupletnya.
    • Adanya skema rima yang tetap yaitu rima akhir a-b-a-b dengan variasi a-aa-a, selain rima, asonansi juga merupakan aspek yang dominan dalam pembentukan sebuah pantun.
    • Setiap stanza pantun dalam semua bentuknya mengandung satu pikiran yang bulat dan lengkap.
    2. Aspek dalam adalah unsur-unsur yang dapat dirasakan secara subjektif menurut pemgalaman dan pemahaman pendengar, yaitu:
    • Penggunaan lambang-lambang tertentu menurut anggapan dan word-view masyarakat.
    • Adanya relasi makna antara pasangan sampiran dan pasangan maksud, juga ada hubungan konkret atau melalui lambang-lambang.

    Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mengkatagorikan puisi Melayu tradisonal (pantun) diperlukan kriteria-kriteria yang dapat memperjelas perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaannya, antara lain dari segi bentuk, jenis, ciri-ciri pantun, aspek luar dan dalam pantun.

    Bentuk Pantun dan Struktur Pantun

    Pantun mempunyai bentuk dan ciri-ciri tertentu, di antaranya yang terpenting adalah sejajar dan berpasangan, semetris, dan resiprokal (M. Haji Salleh dalam Abd. Rachman Abror, 2009: 100-101). Pada umumnya, pantun terdiri atas empat baris, dan biasa dilambangkan dengan huruf a-b-a-b; dua baris pertama disebut “sampiran” dan dua baris terakhir disebut "maksud/makna".

    Bentuk pantun tetap dan tidak berubah, pantun dapat dikelompokkan atas dasar jumlah baris serangkap. Dengan penggelompokkan itu, ada pantun dua baris, enam baris,, delapan baris, hingga enam belas baris, selain itu ada pantun lain yang dikenal dengan "pantun berkait".

    Menurut Zainal Abidin Bakar dalam Abror, (2009: 100) umumnya bentuk pantun dibagi empat:
    1. pantun dua baris yang dikenal juga sebagai pameo atau pantun kilat,
    2. pantun empat baris,
    3. pantun lebih dari empat baris, dan
    4. pantun berkait.
    Pantun menurut Abd. Rachman Abror (2009: 29) adalah sejenis puisi asli Melayu tradisional yang bersifat terikat, umumnya terdiri dari empat baris, dan penulisannya dilambangkan dengan huruf a-b-a-b; dua baris pertama disebut sampiran dan dua baris terakhir disebut isi atau tujuan. Menurut Ade Dharmawi dalam Abror, 2009: 126), isi pantun tersusun menurut urutan pilihan kata yang selektif disertai keteraturan irama serta rima antara sampiran dan isi pada setiap bait sebagai berikut.

    Struktur pantun menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan. Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi terkadang bentuk sampiran membayangkan isi. Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya terdiri atas 4-5 kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.

    1. Sampiran

    Fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan, sehingga pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi terkadang bentuk sampiran membayangkan isi. Sampiran pantun adalah bahasa tersirat dibuat bukan sekedar untuk kebutuhan persamaan rima sehingga terkadang tanpa memperhatikan pertalian atau hubungan antara sampiran dengan isi. Sampiran yang baik, merupakan pembayang yang dibuat dengan mempertimbangkan persajakan dan rima, jumlah kata dan suku kata serta hubungan yang munasabah dengan isi juga merupakan hasil dari pilahan dan pilihan kata yang selektif sehingga membentuk suatu ungkapan yang padu dan sepadan.

    Francois Rene Daillie dalam Abror (2009: 134) mendefenisikan sumber-sumber rujukan sampiran yaitu:
    This brief poem is an epitome of live and a uneverse in a grain of sand. It carries with it self all the elements op the malay mans life: his land, his house, his garden, his paddy field; his river, the sea or the forest; the trees, fruits, animal, birds, fishes; the few simple things of everyday use; it ekspresses his customs and tradition, wisdow, beliefs and feelings of all sort, his love of man, woman and God. It lso sounds, very opten, like his personal magic mantra, which everyone can use without the help of any established pawang or bomoh-magician or sorcerer. It belongs to everyone. It is composed of simplest word of everyday use, its syntax it self is rather cryptic sometimes-and its rhythm deeply ingrained in common ordinary speech.

    Sampiran merupakan cerminan artikulasi fikiran pemantun, keberadaan sampiran pada pantun jadi penentu luas dan dalamnya makna yang dikandung, karena bahasa sampiran adalah bahasa cerdik pandai yang dibuat pandai pantun karena mampu menangkap simbol alam makro untuk menuntun penyempurnaan kemanusiaan manusia sebagai alam mikro melalui maksud tersirat dari kata yang tersurat.

    2. Isi Pantun

    Isi merupakan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan pemantun. Isi pantun merupakan bahagian kedua dari sebait pantun; irama dan bunyi isi pantun mengikut kepada bahagian pertama. Jika bagian pertama menjadi bagian pembayang tentang kata-kata yang akan mengiringinya maka bagian kedua merupakan rangkaian kata sebagai isi fikiran dan perasaan. Dengan demikian, isi pantun tidak dapat berdiri sendiri meskipun kedudukannya sebagai inti kalimat. Bagi orang awam, dibukakan kulit baru tampak isi. Maksudnya mereka baru dapat mengetahui maksud pantun ketika setelah membaca/mendengar isi setelah terlebih dahulu dapat arahan dari sampirannya. Gejala demikian tampak pada cara orang awam membuat pantun yang terlebih dahulu menetapkan isi pantun, baru mencari rangkaian kata yang dapat dijadikan pembayang tanpa harus mempertimbangkan hubungan antara baris pertama dengan baris kedua bahkan antara bahagian sampiran dengan isi. Mereka hanya mementingkan kesepadanan rima pada akhir kalimat.

    Bagi pandai pantun, isi pantun yang mereka sampaikan bersifat samar dan metaforis sehingga masih memerlukan kecerdasan penafsiran. Jenis pantun yang demikian, umumnya dapat dijumpai pada pantun adat, pantun sindiran dan pantun perumpamaan serta pantun peribahasa yang benar-benar bernas.

    3. Hubungan Sampiran dengan Isi

    Pantun memiliki dua bagian utama, yaitu pembayang dan maksud. Dua bahagian ini ibarat dua struktur luaran dan dalaman; lahir dan batin yang bergabung menjadi satu. Sumber-sumber yang ada dalam pembayang adalah dari alam; ia bukan direka begitu saja. Begitu juga dengan maksud yang merupakan jiwa atau roh pantun itu. Korpus datanya bersumber dari pengalaman inderawi manusia, sehingga pada tataran demikian, pantun mengandungi persoalan yang rasional dan logis dari kesan interaksi manusia dengan alam sekitarnya.

    Aspek luaran pantun meliputi unsur estetika, begitu pula aspek dalaman yang merupakan tema dan persoalan. Unsur estetika pantun dapat dilihat pada dua aspek. Pertama, yang berkaitan dengan penggunaan lambang-lambang tertentu yang terdapat dalam pantun mengikut tanggapan dan pandangan dunia masyarakat Melayu. Kedua, berdasarkan hubungan makna antara pasangan pembayang dengan pasangan maksud baik secara konkrit atau abstrak. Berdasarkan aspek isi, maka tema atau persoalan pantun hampir menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat Melayu.

    Berdasarkan teori-teori atau konsep-konsep yang telah dipaparkan di atas, bentuk dan struktur pantun dapat disintesiskan bermacam-macam. Ada pantun yang berbentuk "nasihat", "adat", "agama", "teka-teki", "jenaka" dan juga ada sesetengahnya berbentuk "peribahasa". Struktur terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.

    Tema Pantun dan Fungsi Pantun

    Klasifikasi tema pantun menurut Abd. Rachman Abror (2009: 109-110), yaitu:

    1. Pantun anak-anak: secara struktur, pantun anak-anak lebih mudah berupa ekspresi dengan cara rayuan, belaian, ayunan, dan nyanyian. Isi dan temanya berupa nasihat harapan, dan pendidikan.
    • Permainan
    • Kasih sayang
    • Perasaan gembira (suka cita)
    2. Pantun percintaan dan kasih sayang; tiap pasangan dikaruniai potensi untuk saling menarik. Potensi ini mulai menampakkan gejala sejak individu sampai pada tahap remaja dengan tanda tertarik pada lawan jenis dan mengadakan interaksi intensif dengan lawan jenisnya.
    • Perkenalan
    • Berkasih mesra
    • Teruji dan gagal
    • Berpisah dan cerai
    3. Pantun tentang telatah dan cara hidup masyarakat
    • Budi, nilai kebaikan
    • Jenaka dan permainan
    • Kias, ibarat, dan peribahasa
    • Teka-teki
    4. Pantun nasihat, agama, dan adat
    5. Perenungan terhadap nasib, kembara, dan perantauan
    6. Pantun naratif
    7. Pantun mantra; bentuk pengucapan sastra tua Melayu sebagai usaha menghubungkan dirinya dengan makhluk gaib yang diyakini.

    Menurut Budiman (dalam Murtofiah, 2008: 18-19) pantun dapat dibedakan menjadi tiga yaitu pantun anak-anak, pantun remaja, dan pantun orang tua.
    • Pantun anak-anak yaitu pantun yang digunakan anak-anak untuk mengungkapkan perasaannya. Pantun anak terbagi menjadi dua yaitu pantun bersuka cita dan pantun berduka. Pantun bersuka cita digunakan anak-anak untuk mengungkapkan kegembiraan yang mereka rasakan. Pantun berduka hati menjadi sarana mengungkapkan rasa sedih yang mereka rasakan.
    • Pantun orang muda merupakan pantun yang digunakan remaja untuk mengungkapkan perasaan yang mereka rasakan. Pantun orang muda dapat dibagi menjadi tiga yaitu pantun dagang, pantun muda, dan pantun jenaka. Dengan pantun ini mereka dapat mengungkapkan rasa suka, rasa rindu pada kekasihnya, dan juga rasa duka.
    • Pantun orang tua adalah pantun yang digunakan orang tua untuk menasehati anak-anaknya. Pantun orang tua dapat dibagi menjadi tiga yaitu pantun nasihat, pantun adat, dan pantun agama. Melalui pantun ini, orang tua biasanya menasehati pemuda dan anaknya agar selalu taat menjalankan ibadah dan selalu melakukan perbuatan baik serta menghindari perbuatan yang membahayakan.

    Pantun berfungsi sebagai alat komunikasi secara langsung atau tidak langsung antar anggota masyarakat terlihat penggunaanya dalam berbagai kegiatan, misalnya kegiatan yang berhubungan dengan hiburan, pengajaran, ritual, upacara, adat, agama, dan kepercayaan. Menurut Harun Mat Piah dalam Abror (2009: 122) berbagai kegiatan tersebut dapat diringkas menjadi tiga bagian, yaitu:
    1. kegiatan yang berunsur hiburan,
    2. kegiatan yang berunsur ritual,
    3. kegiatan yang berunsur agama dan kepercayaan.
    Fungsi pantun dalam kehidupan masyarakat Melayu sangat luas, ketiga kelompok kegiatan tersebut belum menggambarkan seluruh aspek kehidupan mereka. Hal tersebut diakui sendiri oleh Harun Mat Piah, yang menyatakan itu baru sebagian saja dari kaidah yang sebenarnya (Mat Piah dalam Abror, 2009: 122).

    Berdasarkan teori-teori yang telah dipaparkan di atas tema dan fungsi pantun dapat disintesiskan menjadi tujuh kelompok, yaitu pantun anak-anak, Pantun percintaan, pantun tentang telatah dan cara hidup masyarakat, pantun nasihat, agama dan adat, pantun perenungan terhadap nasib kembara, dan perantauan, pantun naratif dan pantun mantra.

    Fungsi pantun melayu ;
    1. kegiatan yang berunsur hiburan,
    2. kegiatan yang berunsur ritual,
    3. kegiatan yang berunsur agama dan kepercayaan.
    Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermainmain dengan kata. Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

    Contoh Pantun

    Orang haji berbaju panjang
    Memakai sorban dengan sepatu
    Duduk mengaji, duduk sembahyang
    Jangan lupa dengan waktu
    (Contoh pantun oleh Ramlah dalam Rachman, 2009: 284)

    Pisang nipah di Batu Layang,
    Anyam ketupat di ujung tanjung;
    Hati susah bawa sembahyang,
    Disini teman iman bergantung
    (Contoh pantun oleh Sulaiman Daud dalam Rchman, 2009: 271)

    Burung merpati dua sejoli
    Terbang dua sekawan
    Di mana ada matahari
    Di situ ada bulan
    (Contoh pantun oleh Sharifah Laila dalam Rachman, 2009: 370)
    Buah sukun Buah bidara
    Cik Minut jatuh tenggelam
    Rukun islam lima perkara
    Itulah penganut orang islam
    (Contoh pantun oleh Sharifah Laila dalam Rachman, 2009: 370) 

    Cik Ude anak cik Dayang
    Duduk menulis minum kahwa;
    Mana ibunda tak sayang;
    Rupanya manis serta ketawa.
    (Contoh pantun oleh Zainab dalam Rachman, 2009: 357)

    Selasih airnya biru
    Tangkap rusa tambat ke tiang
    Abang kasih jangan cemburu
    Saya tetap sayangkan abang
    (Contoh pantun oleh Sulaiman Daud dalam Rchman, 2009: 274)

    Dua kali perang mempawah
    Sayang Penembah mudik ke hulu
    Tidak kuturut serba salah
    Sudah perintah duli tuanku
    (Contoh pantun oleh Ramlah dalam Rachman, 2009: 156)

    Batang said berkelit-kelit
    Melilit di belakang kota
    Sultan Syarif mudik berbalik
    Takut ditembak Bujang Lela Malaka
    (Contoh pantun oleh Alqadrie & Tangdililing, 1980: 62).

    Post a Comment

    0 Comments