Penelitian Terdahulu Mujiasih dan Hadi dalam Pareke (2004) menemukan bahwa perilaku pemimpin transformasional dapat mempertinggi motivasi seseorang untuk mengeluarkan usaha ekstra (extra-effort) untuk mencapai kinerja yang direncanakan.

Penelitian Terdahulu Judge dan Bono (2003) menemukan bahwa individu-individu yang mempersepsikan bahwa pemimpinnya memerankan perilaku-perilaku kepemimpinan transformasional cenderung memiliki tingkat motivasi kerja yang lebih tinggi, sehingga dinyatakan bahwa perilaku-perilaku kepemimpinan transformasional secara positif mempengaruhi motivasi kerja bawahan.
contoh penelitian terdahulu

Penelitian mengenai kepemimpinan transformasional diantaranya dilakukan oleh Podsakoff et al. (1996) yang menyatakan bahwa perilaku pemimpin transformasional memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan kerja para pekerja. 

Penelitian Terdahulu Utomo (2002) menghasilkan temuan bahwa kepemimpinan transformasional berpengaruh langsung dan positif terhadap kepuasan kerja.

Penelitian yang dilakukan Seltzer dan Bass dalam Rokhman & Harsono (2002) dengan sampel 55 manajer yang menempuh MBA, hasilnya menunjukkan adanya hubungan positif gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan bawahan terhadap pemimpin.

Penelitian Terdahulu Bryman dalam Podsakoff et.al (1996) mengungkapkan bahwa beragam studi organisasional menunjukkan bahwa perilaku kepemimpinan transformasional berhubungan secara positif dengan kepuasan kerja bawahan.

Penelitian Terdahulu Podsakoff et al. (1996) menghasilkan penelitian bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai pengaruh yang kuat dengan komitmen organisasi bawahan.

Penelitian yang dilakukan oleh Koht et.al dalam Rokhman & Harsono (2002) pada 90 buah Sekolah Menengah di Singapura, hasilnya menunjukkan adanya hubungan yang signifikan pada pemimpin transformasional terhadap komitmen organisasi.

Menarik juga dibaca: Pengertian Motivasi Kerja

Penelitian Terdahulu Bono & Judge (2003) dalam penelitiannya mengenai hubungan antara pemimpin transformasional dan sikap pengikut yaitu komitmen organisasi yang dimediasi dengan indeks diri (self-concordance), dengan sampel sebanyak 247 individu sebagai pemimpin serta 945 individu yang dibawahi langsung oleh pemimpin tersebut, menemukan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai hubungan yang kuat dengan komitmen organisasi yang dimediasi dengan indeks diri.

Penelitian yang dilakukan oleh Muchiri (2001) dengan sampel karyawan Railway Corporation di Yogyakarta, menemukan bahwa kepemimpinan transformasional berhubungan secara positif dan signifikan pada komitmen organisasional.

Penelitian Terdahulu Utomo (2002) dalam penelitiannya terhadap pegawai negeri sipil PEMDA Tk II Kabupaten Kebumen menemukan adanya hubungan yang positif antara kepemimpinan transformasional dengan komitmen organisasi.

Beberapa penelitian mengenai motivasi kerja dan kepuasan kerja diantaranya telah dilakukan oleh Berry dalam Pool (1997) yang menemukan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi kerja dengan kepuasan kerja.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Herzberg (Handoko, 2001: 259) terhadap lebih dari dua ratus insinyur dan akuntan, Herzberg telah menemukan dua kelompok faktor-faktor yang mempengaruhi kerja seseorang dalam organisasi. Faktor-faktor penyebab kepuasan kerja mempunyai pengaruh pendorong bagi prestasi dan semangat kerja, dan faktor-faktor penyebab ketidakpuasan kerja mempunyai pengaruh negatif. Sehingga motivasi kerja yang dilakukan oleh seseorang akan menimbulkan kemauan untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih baik yang akan berpengaruh dalam meningkatkan prestasi atau memperoleh kepuasan kerja. Jadi, motivasi kerja sangat berpengaruh terhadap terpuasnya kebutuhan (need) tertentu.

Menarik Juga: Contoh Teks Editorial


Penelitian Terdahulu Luthans (1995 : 130) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara kepuasan kerja dan komitmen organisasional. Begitu pula dengan hasil penelitian Robert Kreitner dan Anglo Kinicki dalam Cholil & Riani (2003) yang menunjukkan bahwa kepuasan kerja mempengaruhi komitmen organisasional.

Penelitian Terdahulu Utomo (2002) dalam penelitiannya menemukan bahwa kepuasan kerja berpengaruh langsung dan positif terhadap komitmen organisasi. Hubungan antara komitmen dengan kepuasan kerja karyawan dapat dijelaskan secara cyclical oleh Farkas dan Tetrick dalam Utomo (2002). Bentuk hubungan cyclical adalah sebagai suatu rangkaian berkesinambungan. Berawal dari kepuasan kerja maka akan meningkatkan keterlibatan karyawan, keinginan untuk tetap bekerja dan tetap bergabung menjadi anggota kerja sehingga akhirnya mempunyai komitmen. Komitmen tumbuh secara bertahap dalam beberapa fase pembentukan seiring pengalaman kerja yang diperoleh, dimana orang dengan masa kerja yang lebih lama cenderung mempunyai komitmen organisasional yang lebih tinggi dibandingkan orang yang bekerja dengan masa kerja yang singkat.

Post a Comment

Previous Post Next Post