Pengertian Contoh Teks Naskah Drama

Pengertian Drama

Istilah drama berdasarkan etimologi, kata drama berasal dari bahasa Yunani dram yang berarti gerak (Asul Wiyanto, 2002:1). Menurut Herman J. Waluyo (2006:2) mengemukakan istilah drama berasal dari terminologi Yunani draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak atau beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan atau action yang disertai dengan gerakan.


    Pengertian drama adalah bentuk sastra yang memiliki ciri tersendiri yang membedakannya dengan karya sastra yang lain. Menurut Clay Hamilton dalam Brahim (1968:52) bahwa tiap drama merupakan suatu cerita, yang dikarang dan disusun untuk dipertunjukkan oleh pelaku-pelaku di atas panggung dan di depan publik. Soediro Satoto (1993: 4) arti drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan pada pentas, yang menggunakan bentuk cakapan (dialoque, monoloque, adside, soliloquy) dan gerak (action) atau penokohan (karakterisasi atau perwatakan) di hadapan para penonton (audience atau publik). Sedangkan menurut Panuti Sudjiman (dalam Herman J. Waluyo dan Ahmat Saliman, 1994:169) secara lebih lengkap menyebut drama sebagai karya sastra yang bertujuan untuk menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan pertikaian (konflik) dan emosi lewat lakuan (action) dan dialog. Muchlis (2008:12) menambahkan drama merupakan bentuk karya sastra yang bersifat dialogis, karena bentuknya berupa dialog-dialog antar tokoh.

    Menarik dibaca juga: Jenis-jenis Drama

    Asul Wiyanto (2002:1) tontonan drama memang menonjolkan percakapan (dialog) dan gerak-gerik para pemain (acting) di panggung. Percakapan atau dialog yang terdapat pada drama tidak terlepas dari naskah drama. San and Aral (dalam Ozdemir, 2008:14) menambahkan "drama is to perform a word, concept, behavior, sentence, idea, experience or event by utilizing theater techniques ang developing a game or games". Atau disalin secara bebas "drama adalah menampilkan sebuah kata, konsep, tingkah laku, kalimat, ide, pengalaman atau kejadian dengan menggunakan teknik peran dan mengembangkan permainan".


    Seperti juga bentuk-bentuk sastra lainnya, sebuah cerita drama pun harus bergerak dari suatu permulaan, melalui suatu bagian tengah, menuju suatu akhir. Ketiga bagian itu diapit oleh dua bagian penting lainnya, yakni prolog dan epilog.

    1. Prolog adalah kata-kata pembuka, pengantar, ataupun latar belakang cerita, yang biasanya disampaikan oleh dalang atau tokoh tertentu.
    2. Epilog adalah kata-kata penutup yang berisi simpulan atapun amanat tentang isi keseluruhan dialog. Bagian ini pun biasanya disampaikan oleh dalam atau tokoh tertentu.

    Adapun ketiga bagian itu adanya dalam dialog, yang meliputi bagian orientasi, komplikasi, dan resolusi (denouement). Bagian-bagian itu terbagi dalam babak-babak dan adegan-adegan. Satu babak biasanya mewakili satu peristiwa besar dalam dialog yang ditandai oleh suatu perubahan atau perkembangan peristiwa yang dialami tokoh utamanya. Adapun adegan hanya melingkup satu pilahan-pilahan dialog antara beberapa tokoh.

    • Orientasi sesuatu cerita menentukan aksi dalam waktu dan tempat; memperkenalkan para tokoh, menyatakan situasi sesuatu cerita, mengajukan konflik yang akan dikembangkan dalam bagian utama cerita tersebut, dan ada kalanya membayangkan resolusi yang akan dibuat dalam cerita itu.
    • Komplikasi atau bagian tengah cerita, mengembangkan konflik. Sang pahlawan atau pelaku utama menemukan rintangan-rintangan antara dia dan tujuannya, dia mengalami aneka kesalahpahaman dalam perjuangan untuk menanggulangi rintangan-rintangan ini. 
    • Resolusi atau denouement hendaklah muncul secara logis dari apa-apa yang telah mendahuluinya di dalam komplikasi. Titik batas yang memisahkan komplikasi dan resolusi, biasanya disebut klimaks (turning point). Pada klimaks itulah terjadi perubahan penting mengenai nasib sang tokoh. Kepuasan para penonton terhadap suatu cerita tergantung pada sesuai tidaknya perubahan itu dengan yang mereka harapkan.

    Pengarang dapat mempergunakan teknik flashback atau sorot balik untuk memperkenalkan penonton dengan masa lalu sang pahlawan, menjelaskan suatu situasi, atau untuk memberikan motivasi bagi aksi-aksinya.

    Contoh Teks Drama Panembahan Reso

    Berikut contoh drama Panembahan reso karya W.S. Rendra:

    Di rumah Panembahan Reso. Pagi hari. Ada Aryo Lembu, Aryo Jambu, Aryo Bambu, Aryo Sumbu, Aryo Sekti, Ratu Dara, dan Panembahan Reso.

    Sekti : Panembahan Reso, jadi saya datang kemari untuk mengantar teman-teman Aryo, yang dulu diutus oleh almarhum Sri Baginda Raja Tua untuk keliling kadipaten-kadipaten, menghadap kepada Anda.

    Reso : Selamat datang, para Aryo. Kedatangan Anda di ibu kota sangat kami nantikan. Terutama oleh Sri Baginda Maharaja.

    Lembu : Sebelum menghadap Sri Baginda Raja.

    Sekti : Maaf, Maharaja, bukan Raja.

    Lembu : Ah, ya! Ampun seribu ampun! Sebelum kami menghadap Sri Baginda Maharaja, kami lebih dahulu menghadap Anda dan juga Sri .... Ratu Dara?

    Sekti : Ya, betul! Sri Ratu Dara!

    Lembu : Oh! Kami lebih dahulu menghadap Anda dan Sri Ratu Dara, untuk lebih meyakinkan diri bahwa kami tidak akan membuat kesalahan yang sama sekali tidak kami maksudkan.

    Bambu : Selama kami pergi bertugas, telah banyak terjadi perubahan dengan menurut cara yang sah. Kami akan menyesuaikan diri dengan perubahan ini.

    Jambu : Pendeknya, kami mengakui kedaulatan Sri Baginda Maharaja Gajah Jenar dan tunduk kepada semua keputusan yang telah disabdakan oleh Sri Baginda.

    Sumbu : Kami telah menjalankan tugas yang justru kami anggap penting untuk mempertahankan keutuhan kerajaan. Sekarang kami tetap patuh dan bersedia untuk membela keutuhan kerajaan di bawah naungan Sri Baginda Maharaja Gajah Jenar.

    Reso : Bagus! Bagus! Dengan cepat saya bisa mengumpulkan bahwa Anda berempat abdi Raja yang tahu diri dan tahu akan kewajiban. Bagus. Bagus. Sri Baginda pasti akan ikhlas menerima bakti Anda semua.

    Jambu : Syukurlah kalau begitu. Kami juga sangat berterima kasih kepada Sri Baginda karena beliau telah memberikan perhatian besar kepada para istri kami. Bagaimanakah keadaan mereka? Saya sendiri sudah merasa sangat kangen dengan istri saya, setelah sekian lama dipisahkan oleh tugas demi kerajaan.

    Reso : Jangan khawatir. Keadaan mereka sangat mewah dan sejahtera. Mereka dibawa ke istana demi keamanan mereka sendiri. Jangan sampai mereka menjadi korban dari pancaroba perubahan. Nanti setelah Anda menghadap Maharaja, pasti istri Anda akan diantar ke rumah kembali. Sri Ratu Dara dan Sri Ratu Kenari selalu bermain-main dengan mereka.

    Dara : Kami sering bermain bersama sampai agak larut malam. Kami saling bercerita tentang pengalaman hidup masing-masing. 

    Jambu : Sungguh kami sangat berutang budi untuk kebaikan hati semacam itu.

    Reso : Jadi, kerajaan dalam keadaan kurang lebih utuh!

    Lembu : Begitulah. Kecuali keadaan di Tegalwurung! Panji Tumbal berhasil ditawan oleh Pangeran Kembar. Pangeran Bindi menduduki seluruh Kadipaten Tegalwurung dan menyatakan menentang kedaulatan Maharaja kita, Berta menobatkan dirinya sendiri menjadi Raja. Pangeran Kembar mendukungnya.

    Reso : Hm! Ini bukan persoalan remeh.

    Dara : Ia bukan putra tertua dari almarhum Sri Baginda Raja yang dulu.

    Reso : Atas dasar kekuatan! Setiap orang yang merasa dirinya kuat boleh saja menobatkan dirinya menjadi Raja. Seperti juga Raja yang dulu mendirikan kerajaan ini. Tinggal soalnya apakah ia akan bisa membuktikan bahwa dirinya benar-benar yang terkuat diseluruh negara. Bisa tidak ia menundukkan semua tandingan yang ada.

    Dara : Jadi, ia menantang kekuasaan Maharaja kita!

    Reso : Sanggupkah maharaja kita menyingkirkan dia atau sanggupkah dia menyingkirkan
    maharaja kita? Itu saja persoalannya.

    Bambu : Dengan dukungan Anda sebagai pemangku, maharaja kita pasti akan bisa menumpas tandingannya, di Tegalwurung!

    Jambu : Besar kepercayaan kami kepada Anda untuk bisa mengatasi keadaan ini, Panembahan.

    Lembu : Dari sejak masih tinggal di istana, Pangeran Bindi sangat mengerikan tingkah lakunya. Tanpa ragu-ragu saya akan membantu Anda untuk membela maharaja kita.

    Reso : Aryo Sumbu, apakah Anda juga mempunyai kemantapan seperti itu? Sumbu (Jelas dan tegas) Ya, Panembahan!

    Reso : Setelah Anda semua beristirahat beberapa hari, bantulah Sri Baginda untuk memerangi para pemberontak. Anda semua mempunyai pengalaman yang luas didalam pertempuran.

    Lembu : Di bawah pimpinan Anda kami semua patuh dan setia.

    Reso : Silakan pulang dulu dan nanti sore menghadap Maharaja di Istana. (Keempat Aryo mohon diri lalu keluar.)

    Sekti : Pengaruh Anda terhadap para Aryo, para Panji, dan para Senapati sungguh sangat besar. Memang hanya Anda yang bisa menyelamatkan kerajaan dari bencana perpecahan. Sekarang saya pamit dulu, Panembahan. Di rumah saya ada tamu yang menginap. Setelah minum kopi sore hari dengan tamu itu, saya akan menghadap maharaja ke istana.

    Reso : Apakah kamu itu akan tinggal lama di rumah Anda?

    Sekti : Seperti biasanya, agak lama juga. Salam, Ratu Dara. Salam, Panembahan (pergi).

    Dara : Anakku seorang diri tak akan bisa mempertahankan takhtanya.

    Reso : Itulah sebabnya kita harus membantu Baginda.

    Dara : Maharaja boneka itu mulai memuakkan saya.

    Reso : Tidak baik berkata begitu sementara Baginda ialah darah dagingmu sendiri.

    Dara : Panembahan suamiku, ternyata Anda begitu kuat dan kuasa, kenapa Anda tidak ingin
    menjadi raja?

    Reso : Hahahaha! Apa kurang enaknya menjadi orangtua dan pemangku.
    (Sumber: Horison Sastra Indonesia 4, Kitab Drama, 2002)

    Teks contoh drama diatas dinamakan dengan drama. Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani draomai yang berarti 'berbuat, berlaku, bertindak, beraksi, dan sebagainya'. Drama berarti ‘perbuatan, tindakan atau action’. Drama dapat pula diartikan sebagai sebuah lakon atau cerita berupa kisah kehidupan dalam dialog dan lakuan tokoh yang berisi konflik.

    Naskah Drama

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), drama memiliki beberapa pengertian. Pertama, drama diartikan sebagai syair atau prosa yang menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan.
    Menarik Juga : Contoh Pantun

    Kedua, cerita atau kisah yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater. Pengertian lain, drama adalah kisah kehidupan manusia yang dikemukakan di pentas berdasarkan naskah, menggunakan percakapan, gerak laku, unsur-unsur pembantu (dekor, kostum, rias, lampu, musik), serta disaksikan oleh penonton.

    Terdapat beberapa bentuk drama, di antaranya, adalah sebagai berikut.

    1. Berdasarkan bentuk sastra cakapannya
    • Drama puisi, yaitu drama yang sebagian besar cakapannya disusun dalam bentuk puisi atau menggunakan unsur-unsur puisi.
    • Drama prosa, yaitu drama yang cakapannya disusun dalam bentuk prosa.
    2. Berdasarkan sajian isinya
    • Tragedi (drama duka), yaitu drama yang menampilkan tokoh yang sedih atau muram, yang terlibat dalam situasi gawat karena sesuatu yang tidak menguntungkan. Keadaan tersebut mengantarkan tokoh pada keputusasaan dan kehancuran. Dapat juga berarti drama serius yang melukiskan pertikaian di antara tokoh utama dan kekuatan yang luar biasa, yang berakhir dengan malapetaka atau kesedihan.
    • Komedi (drama ria), yaitu drama ringan yang bersifat menghibur, walaupun selorohan, di dalamnya dapat bersifat menyindir, dan yang berakhir dengan bahagia.
    • Tragikomedi (drama dukaria), yaitu drama yang sebenarnya menggunakan alur dukacita, tetapi berakhir dengan kebahagiaan.
    3. Berdasarkan kuantitas cakapannya
    • Pantomim, yaitu drama tanpa kata-kata
    • Minikata, yaitu drama yang menggunakan sedikit sekali kata-kata.
    • Dialog-monolog, yaitu drama yang menggunakan banyak kata-kata.
    4. Berdasarkan besarnya pengaruh unsur seni lainnya
    • Opera, yaitu drama yang menonjolkan seni suara atau musik.
    • Sendratari, yaitu drama yang menonjolkan seni drama dan tari.
    • Tablo, yaitu drama tanpa gerak atau dialog.
    5. Bentuk-bentuk lain
    • Drama absurd, yaitu drama yang sengaja mengabaikan atau melanggar konversi alur, penokohan, dan tematik.
    • Drama baca, naskah drama yang hanya cocok untuk dibaca, bukan dipentaskan.
    • Drama borjuis, drama yang bertema tentang kehidupan kaum bangsawan (muncul abad ke-18).
    • Drama domestik, drama yang menceritakan kehidupan rakyat biasa.
    • Drama duka, yaitu drama yang khusus menggambarkan kejahatan atau keruntuhan tokoh utama.
    • Drama liturgis, yaitu drama yang pementasannya digabungkan dengan upacara kebaktian gereja (di Abad Pertengahan).
    • Drama satu babak, yaitu lakon yang terdiri atas satu babak, berpusat pada satu tema dengan sejumlah kecil pemeran gaya, latar, serta pengaluran yang ringkas.
    • Drama rakyat, yaitu drama yang timbul dan berkembang sesuai dengan festival rakyat yang ada (terutama di perdesaan).

    Contoh Naskah Drama  Perjalanan Hidup Anak Jalanan

    Contoh naskah drama ini merupakan contoh drama dengan judul drama perjalanan hidup anak jalanan.

    Pada sore hari terdapat sekolompok pengamen yang lagi nongkrong, yang bernama Afdel, Boni, Ciko, Didi, Erik dan Faiq.
    Afdel : "Sore-sore gini belum makan, Ngamen seharian ga dapet-dapet! Hari ini kamu dapat berapa bos?" (menepuk punggung Boni)
    Boni : "Cukuplah, buat mengisi perut. Tapi yah cukup beli nasi kucing warung mbok Ni?" (memegang perut)
    Afdel : "Kalo kamu Ko, kok adem ayem aja?"
    Ciko : "Rumah makan kali, Adem Ayem. Yach lumayan dech buat ditabung! untuk beli mobil Honda Jazz!"
    Afdel, Boni, Didi dan Erik : "Honda jazz, Honda peyok kali…."
    Dodi : (memegang perut) "Perut keroncongan nich, mana lagi apes! Haus lagi?"
    Erik : "Tenang-tenang makan siang aku yang traktir dech? Mau KFC, Mac Donal, Steak, atau di warungnya mbok Ni aja?"
    Dodi : (mendekati Erik) "Yang bener, Rik! Dapat uang dari mana kamu?"
    Boni : "Alhamdulilah ada teman yang baik hati, mau traktir makan, nyamnyam-
    nyam…"(memegang perut, sambil geleng-geleng)
    Erik : "Jadi makan di mana kita? Steak atau KFC?"
    Afdel : "Emangnya kamu dapat rejeki nomplok? (penasaran), Janga-jangan kamu nyopet lagi ya, Rik?"
    Ciko : "Hust, jangan suka menuduh teman sembarangan? Jelek-jelek gini kan tetep teman kita? (merangkul Erik) Tapi, apa benar Rik kamu nyopet lagi?"
    Erik : (melepaskan tangannya Ciko) "Kalian menuduhku ya! Makanya kerja donk pake otak bukan pake otot! Kalo pengen uang yang banyak, jangan suka ngamen saja?"
    Boni : "Tapi tetep dijalanan kan? Kerja apaan coba?"
    Erik : ‘Ya seperti biasa. Ngamenlah, masa ya ngamen donk! Mulan aja Mulan Jamelah Mulan Jamedonk!"( tertawa)

    Baca Juga: Contoh Teks Editorial

    Dodi : "Kalo ngamen sich buat makan sendiri! Apa lagi kalo sepi? Bisa-bisa makan angin kita?"
    Faiq : (menghampiri) "Kalian ngomongin apa? Angin kok diomongin!"
    Afdel : "Ni orang datang datang langsung nyaut aja? Bawa makanan ga bos?"
    Faiq : "Boro-boro bawa makanan, aku aja belum makan? Kalian udah tau info terbaru belum?"
    Afdel, Boni, Ciko, dan Didi : (bersama-sama menjawab) "Belum!"
    Boni : "Hust..., dengarkan dulu, wartawan kita mau siaran? Mana Kameranya? 1, 2, 3 aksion!
    Faiq : "Tadi di seberang sana ada ibu-ibu tua yang kehilangan tasnya berisi dompet dan hape! Kasian dech, uang itu mau digunakan untuk membayar operasi anaknya yang sakit. Kalo tidak dibayarkan anaknya tidak akan dioperasi lagi?"
    Ciko : "Kasian sekali ibu itu! Dasar pencopet tidak tau diri!"
    Erik : "Bentar-bentar gue punya barang bagus nech, gue punya Hape?"
    Faiq : "Hape siapa, Rik? Sejak kapan kamu punya Hape, Rik? Baju aja kamu
    suka pinjem?"(penasaran)
    Erik : "Hapeku, hape bagus punyaku!" (berlaga sombong/sambil memamerkan Hape)
    Boni : "Jangan – jangan kamu ya, pencopet yang tidak tau diri itu?" (penasaran pada Erik)
    Erik : "Kamu nuduh- kamu nuduh?"
    Afdel : "Kalau begitu tadi hapenya siapa? Mana?"
    (mengambil hape yang dibawa Erik) Ini bukan hapemu kan Rik?
    Dodi : "Kamu nyuri ya, Rik?"
    Ciko : "Coba kamu priksa!"
    (Afdel, Ciko, Boni, Faiq dan Dodi memeriksa kantong Erik)
    Dodi : "Ini dompet siapa, Rik? Ada foto ibu itu?"
    Erik : "Iya teman-teman ini bukan hapeku! Aku yang mengambil dompet ibu
    itu? Habisnya aku laper dan tidak punya duit?"
    Boni : (memegang buju Erik) "Perbutanmu tidak bisa dimaafkan?"
    Faiq : (meleraikan) "Sudah-sudah, tidak boleh man hakim sendiri?"
    Erik : "Maaf teman, perbuatanku salah?" (menyesal)
    Ciko : "Sebaiknya Hape dan dompetnya segera kita kembalikan kepada ibu
    itu? Tapi kemana Ya?"
    Faiq : "Didompet kan ada alamatnya?"
    Afdel : "Benar juga kamu, Iq?"
    Faiq : "Siapa dulu donk? Faiq gitu loh?"
    Boni : "Gak jadi makan ke KFC nich?"
    Ciko : "Makan aja yang dipikir, kasin ibu itu tau? Kamu gimana, Rik? Mau
    ikut ga?"
    Erik : "Aku mau ikut, sekalian minta maaf dan aku berjanji tidak akan
    mencopet lagi?"
    Afdel : "Gitu donk temanku yang pemberani dan satria?" Afdel, Boni, Ciko, Didi, dan Faiq : "Yeach.. " (tertawa)
    Erik : "Lest Go!" ( pergi meninggalkan tempat nongkrong)

    Referensi:
    1. W. Rahmawati, 2009, Upaya Meningkatkan .....
    2. Suherli DKK, 2017, Buku Bahasa Indonesia .....


    Author

    Tentang penulis: T Nurandhari

    Penulis adalah seorang penulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia.

    Follow me on: Twitter | Scholar | Quora |

    0 Comments:

    Post a Comment