Pengertian Media Massa Editorial Contoh Teks

Mark Twain seorang penulis Amerika yang termasyhur mengungkapkan, There only two things, which can throw light upon thing here on earth. Two things, one is the sun in heaven and the second is the press on earth. Bahwa hanya ada dua hal yang membuat segala sesuatu terang di muka bumi kita ini, yang pertama adalah matahari di langit dan yang kedua adalah pers. Adapula yang berpendapat bahwa pers merupakan suatu Black Art yaitu kesenian hitam. Menurut Rudyard Kippling, pers mempunyai peran yang sangat vital, selain sebagai alat penerangan atau pemberi informasi juga sebagai senjata untuk menyerang musuh atau lawan para pemilik pers tadi.

Pengertian Media Massa

Untuk bisa hidup dalam lingkungan sosial, manusia perlu berkomunikasi. John Dewey (dalam Rivers)12 menganggap bahwa komunikasi merupakan suatu hal yang menakjubkan. Dengan komunikasi, manusia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, memenuhi kebutuhan dan tuntutan yang ada, mempertahankan institusi sosial beserta segenap nilai dan norma perilaku dari generasi ke generasi.13 Harold D Laswell (dalam Mulyana)14 mendefinisikan komunikasi sebagai "Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect" (siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dan apa pengaruhnya). Dari definisi Laswell ini dapat diketahui bahwa komunikasi memiliki lima unsur yaitu komunikator, pesan, media, komunikan dan efek.

Sumber gambar detik. net

Dalam proses komunikasi, pesan ditransmisikan melalui media. Dalam konteks komunikasi massa, media untuk mentransmisikan pesan kepada publik disebut dengan media massa. Denisss McQuail (dalam Junaedi) mengemukakan beberapa penanda untuk memahami media massa:
  1. Media memungkinkan kita melihat fenomena yang jauh dari jangkauan kita;
  2. Media merupakan penerjemah yang membuat kita mengerti dan ikut merasakan suatu peristiwa;
  3. Media menjadi platform penyalur informasi;
  4. Media adalah penanda yang memberi kita instruksi dan petunjuk;
  5. Media merupakan penyaring informasi;
  6. Media adalah cermin yang memantulkan realitas;
  7. Media merupakan pembatas yang menghalangi kebenaran.
Di dalam media massa, ada beberapa konsep penting yang harus dipahami. Berikut adalah tiga konsep penting media massa:
  • Media massa merupakan usaha yang berpusat pada keuntungaan
  • Perkembangan teknologi mengubah cara pengiriman dan pengonsumsian media massa
  • Media massa mencerminkan sekaligus mempengaruhi politik, masyarakat, dan budaya

Media massa merupakan kekuatan besar yang tidak bisa diabaikan dalam masyarakat. Dalam berbagai analisis di bidang sosial, ekonomi, dan politik, media massa sering ditempatkan sebagai salah satu variabel determinan.17 Posisi media massa sebagai sebuah institusi informasi kemudian dipandang sebagai faktor yang paling menentukan dalam perubahan sosial-budaya dan politik. Di dalam masyarakat modern, media memainkan peran penting dalam perkembangan politik masyarakatnya. Pers disebut-sebut sebagai pilar demokrasi ke empat dimana kebebasan berekspresi dan berpendapat serta informasi menjadi hal dasar dalam sistem demokratis itu sendiri.

Antonio Gramsci melihat media massa sebagai ruang dimana berbagai ideologi direpresentasikan. Media massa memiliki dua sisi, di satu sisi media menjadi sarana penyebaran ideologi dan alat legitimasi penguasa serta sebagai pengontrol wacana publik. Di sisi lain media massa juga bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan. Ada banyak kepentingan di dalam media massa. Selain kepentingan ideologi antara masyarakat dan negara, media massa juga memiliki kepentingan pemilik modal dan kepentingan lainnya. Kenyataan inilah yang menjadikan bias berita di media massa menjadi suatu hal yang sulit dihindari.

Pengertian Editorial (Tajuk Rencana)

Editorial atau biasa disebut sebagai tajuk rencana selalu ada di semua media cetak, misalnya surat kabar  dan majalah. Kolom ini memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter sebuah media cetak. Pembentukan karakter tentunya tidak terlepas dari visi dan misi yang diembannya. Hal ini membuktikan bahwa kolom editorial itu berfungsi sebagai jantung atau nyawa dari media cetak itu sendiri. Dilihat dari fungsinya, maka tidaklah heran bila kolom ini selalu mempunyai opini atau pandangan khusus mengenai kejadian atau isu-isu yang sedang hangat terjadi dan dibicarakan.

Dalam sebuah surat kabar terutama yang beredar secara harian, terdapat beberapa kolom salah satunya adalah kolom editorial. Kolom editorial atau disebut juga dengan tajuk rencana merupakan salah satu bentuk artikel yang berisi ide, gagasan, fikiran, serta pandangan seorang penulis. Penulis dalam kolom editorial sama sekali tidak boleh dicantumkan karena merupakan hasil suara dari semua awak media dari redaksinya atau lembaganya. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Rolnicki (2011:45) bahwa editorial itu merupakan pandangan redaksi surat kabar sehingga tidak dicantumkan nama penulisnya. Jadi, sebelum diputuskan sebagai isi berita dikolom editorial, isi berita tersebut dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan semua pihak yaitu pemimpin redaksi, redaktur pelaksana serta segenap jajaran redaktur yang berkompeten. Musyarawarah ini diperlukan untuk mendapatkan kesepakatan bersama mengenai fenomena krusial yang sedang berkembang di masyarakat.

Di dalam media massa, khususnya media cetak sering dijumpai tajuk rencana atau yang biasa disebut editorial. Menurut Maman Suherman (dalam Santana); tajuk rencana pada awalnya berasal dari bahasa Belanda "Hoofd Artikel" atau di dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama "Leader" yang kemudian di Indonesia dikenal dengan nama "Induk Karangan". Kini, surat kabar lebih banyak menyebut hanya dengan "Editorial", "Tajuk", atau "Tajuk Rencana".

Beberapa surat kabar di Indonesia mengguakan istilah “tajuk rencana” namun ada juga yang menggunakan istilah “editorial”. Pada dasarnya tajuk rencana dan editorial adalah sama. Spencer menyebutkan batasan dari tajuk rencana atau editorial sebagai perrnyataan mengenai fakta dan opini secara singkat, logis, menarik ditinjau dari segi penulisan dan bertujuan untuk mempengaruhi pendapat atau memberikan interpretasi terhadap suatu berita.

Elvinaro dan Lukiati menyebutkan bahwa tajuk rencana merupakan tulisan opini yang ditujukan untuk pembaca yang dilengkapi dengan perspektif (sudut pandang) atas suatu berita tertentu.Van Dijk menyebutkan bahwa editorial merupakan tulisan opini yang ditujukan pada pemabaca untuk membantu pembaca memahami sebuah peristiwa tertentu. Tajuk rencana atau ediorial menunjukkan pandangan media terhadap suatu isu atau peristiwa tertentu.

Opini yang diungkapkan dalam tajuk rencana biasanya menyangkut isu-isu yang menjadi bahan berita saat ini, tetapi terkadang juga membahas mengenai isu masa depan atau konsep filsafat yang luas. Teun A. van Dijk mengungkapkan bahwa argumentasi dalam tajuk rencana atau editorial tidak hanya ditujukan untuk seluruh pembaca media massa tetapi juga untuk kalangan elit sosial dan politik.23 Ini menjelaskan mengapa tajuk rencana atau editorial tidak hanya sekedar merumuskan opini yang disampaikan untuk publik tetapi juga untuk menyerang, melindungi atau memberi nasehat pada para penguasa.

Louis M. Lyons, mantan kurator Yayasan Nieman Universitas Harvard mengungkapkan pandangannya terkait peranan tajuk rencana atau editorial dalam surat kabar:
"Jika seseorang membutuhkan alasan bagi sebuah halaman editorial atau mencoba menentukan peranan utama dari halaman editorial itu, saya kira peranan itu adalah mengungkapkan suasana surat kabar. Hal ini lebih dari sekedar kebijaksanaan persuratkabaran. Ini merupakan kesempatan untuk menunjukkan institusi itu sendiri sebagai sebuah kekuatan yang beradab dan yang memberi peradaban, sebagai warga negara yang baik dan penuh kepedulian, sebagai pengaruh yang moderat, sebagai orang yang berpikir, tetangga yang baik dan orang yang penuh perhatian. Suasana atau sifat ini mencerminkan karakter surat kabar". Kriteria tajuk rencana atau editorial menurut Joseph Pulitzer25 ada empat, yakni: clearness of style (jelas dalam gaya), moral purpose (tujuan yang bermoral), sound reasoning (pertimbangan yang sehat), dan power to influence opinion (kekuatan untuk mempengaruhi opini publik).

Unsur-unsur Editorial ( tajuk rencana )

Suherman memaparkan unsur-unsur penting yang harus ada di dalam tajuk rencana, yaitu:

a. Fakta
Fakta merupakan unsur yang paling penting karena tajuk rencana ditulis berdasarkan fakta. Dengan menulis opini berdasarkan fakta, maka tajuk rencana tidak akan berubah menjadi fitnah.

b. Interpretasi
Dalam beropini, media juga harus bisa mengungkapkan, menerangkan, menerjemahkan informasi secara jelas kepada khalayak agar khalayak mengerti.

c. Opini
Opini di tajuk rencana merupakan pandangan dan sikap media massa terhadap persoalan yang tengah dibahasnya. Dari inilah karakter media tersebut terlihat.

Fungsi Editorial ( tajuk rencana )

Fungsi tajuk rencana atau editorial menurut William Pinkerton (dalam Rivers) adalah sebagai berikut:

a. Menjelaskan berita (explaining the news)
Menjelaskan kejadian-kejadian penting kepada masyarakat. Menerangkan bagaimaan suatu peristiwa itu terjadi, dan menilai kebijakan pemeritah.

b. Menjelaskan latar belakang (filling in background)
Menginformasikan berbagai hubungan yang terjadi pada berbagai peristiwa yang terpisah. Tajuk rencana menghubungkan peristiwa yang sedang terjadi dengan peristiwa sebelumnya, serta mengkorelasikan fakta-fakta terkait permasalahan yang sedang
dibahas.

c. Meramalkan (forecasting the future)
Tajuk rencana kadang-kadang berisi analisis 'ke depan' dari peristiwa atau permasalahan aktual yang sedang terjadi saat ini. Tajuk rencana memberikan pandangan-pandangan berisi prediksi ke depan yang mungkin terjadi.

d. Menyampaikan pertimbangan moral (passsing moral judgment)
Dalam jurnalisme, nilai-nilai moral tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Maka dari itu, tajuk rencana memberikan pertimbangan moral dalam hal melawan kejahatan, pelanggaran dan ketidakadilan.

Model Editorial ( Tajuk Rencana )

Rizal Mallarangeng (dalam Panuju)28 membagi tajuk rencana atau editorial ke dalam tiga model, yaitu:

a. Model Jalan Tengah
Meskipun terdapat unsur kritis didalamnya, tajuk rencana model ini ditulis secara berputar-putar, lebih santun dan cenderung mengaburkan pesan yang ingin disampaikan. Tajuk rencana dengan model ini cenderung menghindari konfrotasi langsung dengan pihak yang dikritik.

b. Model Angin Surga
Tajuk rencana model ini biasanya ditulis lebih pada himbauan atau harapan dan bukan untuk menggugat. Biasanya di dalam tajuk rencana model ini akan terdapat kata "kebersamaan", "duduk bersama mencari solusi", "tanggung jawab bersama", "kewajiban moral", dan semacamnya.

c. Model Anjing Penjaga
Pesan yang ingin disampaikan dalam tajuk rencana dapat dibaca secara jelas. Kritik didalamnya cenderung lugas, berani, dan tajam yang biasanya ditujukan pada pemegang kekuasaan. Tajuk rencana model inilah yang benar-benar menjalankan kodrat media pers sebagai lembaga kontrol dan pemberi informasi yang mendidik dan mencerdaskan pembaca.

Menganalisis Struktur Teks Editorial

Teks bukan merupakan sebuah perluasan bentuk gramatikal dari kumpulan kata-kata atau klausa, walaupun teks tentu saja mempunyai bentuk dan struktur (Santosa, 2003: Sebagaimana yang ditegaskan oleh Halliday (1978: 135) bahwa dalam kenyataannya klausa itu lebih merupakan realisasi teks daripada merupakan sebuah teks. Selanjutnya, menurut Halliday dan Hasan (1985: 10), teks memiliki tiga definisi.Yang pertama teks merupakan sebuah unit semantik atau teks adalah makna. Definisi yang kedua teks merupakan bahasa yang berfungsi. Definisi yang terakhir yaitu teks merupakan sebuah proses dan produk.

Teks adalah semua yang berhubungan dengan bahasa, tanpa memperhatikan panjangnya, baik diucapkan atau ditulis yang berguna untuk mendapatkan tujuan komunikasi dalam keadaan yang sebenarnya (Bloor dan Bloor, 2004: 5). Jadi, teks merupakan semua hal yang diucapkan dan ditulis oleh masyarakat dalam suatu konteks. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Halliday dan Hasan (1992: 13) bahwa teks adalah bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam konteks situasi.

Usaha untuk membuat analisis terhadap editorial surat kabar tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan antara lain:
  1. Kekuatan surat kabar terletak pada tajuk rencananya (editorial), karena editorialnya pers dijuluki The Fourth Estate (kekuasaan ke empat) sebagai lembaga yang kekuatannya sebanding dengan ketiga kekuasaan lainnya, yaitu lembaga-lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif.
  2. Tajuk rencana (editorial) lebih bersifat persuasif, bisa memobilisasi pendapat umum dan membawanya ke arah tertentu. Hal tersebut disebabkan kemahiran redaktur surat kabar dalam menganalisa suatu topik sehingga menjadi laporan mendalan (deep reporting).
  3. Tajuk Rencana memuat opini penulis yang mewakili pandangan surat kabar, karena menurut Joseph Pulitzer, editorial harus mencerminkan ekspresi hati nurani, keberanian, dan keyakinan dari penulisnya sebagai individu yang mewakili pandangan surat kabar.
  4. Tajuk rencana sebagai bahan sumber penelitian bersikap non reaktif terhadap peneliti dan tidak rusak. Selain itu bentuk editorial lebih konkret sepanjang waktu daripada gejala budaya lainnya.
  5. Masalah yang ditulis dalam tajuk rencana adalah masalah yang berkembang terakhir, yaitu masalah mutakhir yang sedang menjadi perhatian masyarakat.

Contoh Teks Editorial

Penggalan contoh teks editorial yang dimuat oleh surat kabar Kedaulatan Rakjat tanggal 26 November 1945 sebagai berikut:
Rakjat Jogjakarta memprotes keras terhadap pemboman Inggris

Atas nama Sri Padoeka Soeltan Hamengkoe Boewana IX, Sri Padoeka Pakoe Alam VIII, dan rakjat Jogjakarta mengirim kawat kepada Presiden dan Perdana Menteri Republik Indonesia sebagai berikoet:
Djam 8.15 menit pagi ini ada kapal terbang moesoeh mendjatoehkan soerat-soerat sebaran, tidak diteken, bermaksoed akan membom stasioen radio, di gedoeng Nilmy Jogjakarta dan Balapan Solo, karena siaran radio itoe ditoedoeh telah menghasoet rakjat soepaja berontak. Moelai djam 8.30 menit hingga djam 9 lebih datang doea bomber Inngris dan mendjatoehkan bom-bom enam kali mengenai gedoeng Nilmy dan Sonoboedojo dan menembak dengan mitraljoer di sekitar pabrik Watson, hingga menimboelkan korban delapan orang tewas dan poeloehan loeka-loeka. Di antara korban-korban itoe terdapat banjak perempoean dan anak-anak.
..................

Pemboelatan Tekad Menggempoer Agressi Belanda Tentara Laskar di bawah Bimbingan Pemerintah

Dalam soeasana jang genting meroentjing seperti dewasa ini, di mana seloeroeh rakjat Indonesia menghadapi agressi dari pihak Belanda, perloelah dilaksanakan pembaharoean tekad semangat dalam seloeroeh djiwa rakjat. Dalam pada itoe rakjat Jogjakarta tak maoe ketinggalan oentoek menjatakan keboelatan tekad itoe, maka pagi ini djam 9 atas oesaha Dewan Kelaskaran Poesat dan sekarang dilangsoengkan rapat raksasa bertempat di aloen-aloen oetara, bertekad "Sekali Merdeka tetap Merdeka" ......

Penggalan contoh teks editorial yang dimuat oleh surat kabar Kedaulatan Rakjat pada tanggal 5 Februari 1949 berikut ini:

Pertahankan Bila Diserang !

Yogya: 5-2. Dalam pidatonja semalam jang ditoedjoekan kepada seloeroeh angkatan perang, pangsar Djendral Soedirman antara lain mengatakan: bahwa dengan perdjandjian gentjatan sendjata, angkatan perang melangkahi satoe tindakan dengan hati jang poeas. Tetapi di samping itoe keselamatan negara lebih dioetamakan daripada kepentingan diri sendiri. Pangsar lebih landjoet katakan, bahwa saatnja kini tentara sedang menghadapi oedjian jang berat, jaitoe menjatakan berapa langkah dalam melaksanakan perdjandjian gentjatan sendjata dengan pihak Belanda. Oleh beliaoe djuga diandjoerkan soepaja tentara mendjalankan pelaksanaan itoe sebaik-baiknja dengan setjara Zakelijk, tidak mengoerangi dan melebihi segala perintah dan introspeksi. Dalam pada itoe tentara haroes mempertahankan  diri bila diserang, baik terhadap serangan jang terang-terangan.

Mata doenia saat ini, sebagai matanja seorang hakim hendak tahoe sedjauh mana ketaatan bengsa Indonesia mempertahankan azas negara kita, kata Pak Dirman. Dan sampai sedjaoeh mana kesanggoepan kita mendjalankan segala andjoeran yang damai. Kita tidak menolak tawaran dan andjoeran demikian itoe, tetapi djanganlah sikap kita jang djoedjoer itoe diberi tafsir jang sesat dan menjesatkan.

Kita bantah sekeras-kerasnja kaloe ada tafsiran itoe. Achirnja pangsar angkatan perang Djendral Soedirman berpesan soepaja ingat segala pesan jang telah disampaikan kepada seloeroeh anggota angkatan perang.
Referensi Artikel: 
  • A.M. Sari, 2016, Pandangan Media Terhadap Kasus.... 
  • I. Prasetyoaji, 2007, Analisis isi editorial surat kabar... 
  • B. Qani’ah, 2016, Analisis registers teks editorial....


Post a Comment

0 Comments