Akhir-akhir ini, pemanfaatan bahan alami sebagai obat tradisional mulai meningkat, bahkan beberapa di antaranya telah diproduksi secara fabrikasi dalam skala besar karena dinilai memiliki efek samping yang lebih kecil. Di samping itu, bahan baku obat tradisional mudah diperoleh sehingga harganya relatif murah (Putri, 2010). Pengembangan bahan alami sebagai obat tradisional diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Djauhariya dan Hernani., 2004).
 

    Hipotesis

    Minyak atsiri jahe gajah (Zingiber officinale var. Roscoe) mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis dengan nilai konsentrasi penghambatan minimum (minimum inhibitory concentration=MIC) < 4%.

    Fakta Jerawat Menurut Pendapat Para Ahli

    Beberapa fakta dan pendapat yang diungkapkan para ahli tentang jerawat adalah sebagai berikut:

    Menurut Webster, 2002, jerawat merupakan penyakit kulit pada selubung akar rambut penghasil minyak (folikel pilosebasea) di bagian kepala dan badan atas yang biasa terjadi pada usia remaja.

    Menurut Tranggono, 1996, Bentuk permulaan dari jerawat adalah komedo. Komedo terbentuk karena penyumbatan folikel pilosebasea yang menyebabkan lemak atau minyak tidak dapat keluar dan membengkak.

    Menurut Djuanda et al., 1999; Djajadisastra et al., 2009, Jerawat umum terjadi pada masa pubertas yaitu pada usia 14-19 tahun baik laki-laki maupun perempuan karena perubahan hormon androgen.

    Menurut Brook et al. (2005), menyebutkan bahwa 85% populasi mengalami jerawat pada usia 12-25 tahun, sedangkan 15% populasi sisanya mengalami jerawat hingga usia 25 tahun. Jika tidak teratasi dengan baik, gangguan jerawat dapat menetap hingga usia 40 tahun.

    Menurut Goldstein dan Goldstein (1994), faktor utama yang mempengaruhi pembentukan jerawat adalah pertumbuhan bakteri, peningkatan produksi lemak atau minyak, peluruhan lapisan luar kulit (keratinosit), serta peradangan atau inflamasi.

    Menurut Erlina et al. (2007), menyebutkan bahwa inflamasi merupakan respon protektif yang ditimbulkan oleh jaringan yang rusak untuk menghancurkan atau mengurangi agen pencedera maupun jaringan yang cedera. Faktor genetik memegang peranan penting terhadap kemungkinan seseorang menderita jerawat.

    Menurut Soetjiningsih (2004), mengungkapkan bahwa jerawat terdapat pada 45% remaja yang salah satu atau kedua orang tuanya menderita jerawat.

    Menurut Hafez et al., 2009, Meskipun tidak mengancam jiwa, jerawat dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang dengan memberikan efek psikologis yang buruk.

    Menurut Harper, 2007, Jerawat adalah proses peradangan kronik kelenjar minyak yang ditandai dengan adanya komedo, papul, pustul dan nodul pada daerah wajah, leher, dada, bahu, lengan atas dan punggung. Peradangan ini dapat dipicu oleh bakteri Propionibacterium acnes, S. epidermidis dan S. aureus.

    Menurut Mitsui (1997) mengatakan bahwa tidak ada seorang pun (100%) yang sama sekali tidak pernah menderita jerawat. Jerawat biasanya dimulai pada awal usia remaja, namun dapat juga ditemukan pada bayi yang baru lahir yang kemungkinan besar disebabkan oleh pengaruh hormonal ibu. Meskipun jerawat pada pria lebih cepat berkurang, penelitian lebih lanjut menyebutkan bahwa gejala jerawat berat biasanya dialami oleh pria.

    Djajadisastra et al. (2009), mengungkapkan bahwa jerawat dapat timbul akibat penyumbatan pada kelenjar minyak yang dipengaruhi oleh hormon, infeksi bakteri, makanan, penggunaan obat serta stres psikis.

    Jawetz et al. (2005), membedakan jerawat berdasarkan tingkat berat ringannya penyakit yaitu jerawat ringan, jerawat sedang dan jerawat berat (acne conglobata). Jerawat ringan terdiri dari komedo tertutup yang merupakan penyumbatan kalenjar minyak pada kulit serta komedo terbuka sebagai perkembangan lebih lanjut dari komedo tertutup. Jerawat sedang terdiri dari papul yang merupakan benjolan kemerahan di kulit tanpa nanah; pustul jika benjolan tersebut sudah mengandung nanah; serta nodul jika nanah pecah dan menyebabkan peradangan pada kulit. Jerawat berat sendiri merupakan kelanjutan dari nodul dan pada umumnya terjadi pada pria (Tranggono, 1996).

    Zu et al. (2010), mengungkapkan bahwa jerawat dapat dibedakan berdasarkan tingkatan usia yaitu jerawat pada bayi yang baru lahir (newborn acne), jerawat pada bayi berumur 3–6 bulan (infantile acne) serta jerawat vulgaris (acne vulgaris) yang umumnya terjadi pada remaja (12–24 tahun).

    Menurut Djajadisastra et al. (2009), penanggulangan jerawat dapat dilakukan dengan pengobatan topikal (dioles) menggunakan benzoil peroksida, asam azelat, antibiotik topikal dan retinoid topikal serta pengobatan sistemik yang mempunyai efek penetrasi ke seluruh tubuh. Prinsip dari pengobatan topikal adalah mencegah pembentukan komedo (jerawat ringan) yang ditujukan untuk menekan kolonisasi bakteri serta penyembuhan lesi jerawat. Sedangkan pengobatan sistemik ditujukan untuk penderita jerawat sedang sampai berat dengan pemberian antibiotik yaitu klindamisin, tetrasiklin dan eritromisin serta obat hormonal, contoh: etinil estradiol dan antiandrogen siproteron asetat.

    Selain itu, Dorland and Newman (2002), mengungkapkan bahwa bedah kulit juga dapat digunakan untuk menanggulangi jerawat yang ditujukan untuk memperbaiki jaringan parut yang rusak dengan cara bedah listrik, bedah kimia, bedah beku, bedah pisau, dermabrasi maupun bedah laser.

    Fakta Bakteri Penyebab Jerawat

    Staphylococcus epidermidis merupakan salah satu bakteri penyebab jerawat. Bakteri ini tidak patogen pada kondisi normal, namun dapat menjadi invasif apabila terjadi perubahan pada kondisi kulit. Sekresi kelenjar minyak dan keringat yang menghasilkan air, asam amino, urea, garam dan asam lemak merupakan sumber nutrisi bagi bakteri.

    Sel Bakteri Staphylococcus epidermidis


    Wasitaatmadja, 1997 menyatakan bahwa bakteri ini berperan pada pembentukan enzim lipolitik yaitu enzim yang akan mengubah fraksi lemak atau minyak menjadi massa padat, sehingga terjadi penyumbatan pada saluran kelenjar minyak.

    Bakteri ini dapat bertahan pada permukaan yang kering dalam jangka waktu lama serta hidup parasit pada manusia dan hewan berdarah panas lainnya. Selain itu, bakteri ini menghasilkan lendir yang bertindak sebagai perekat serta menyebabkan resistensi terhadap antibiotik (Nilsson et al., 1998).

    Pengobatan jerawat dapat dilakukan dengan cara memperbaiki abnormalitas folikel, menurunkan produksi lemak atau minyak yang berlebih, menurunkan populasi S. epidermidis yang merupakan salah satu bakteri penyebab jerawat serta menurunkan peradangan pada kulit. Populasi bakteri S. epidermidis dapat diturunkan dengan memberikan zat antibakteri seperti eritromisin, klindamisin dan benzoil peroksida (Wyatt et al., 2001).

    Tapi Sayangnya, penggunaan antibiotik dalam penyembuhan jerawat harus dipertimbangkan kembali untuk membatasi perkembangan resistensi antibiotik (Bari, 2008).

    Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri anggota filum Firmicutes, kelas Schizomycetes, ordo Eubacteriales serta famili Staphylococcaceae (Iwase et al., 2010). Bakteri ini merupakan bakteri gram positif, anaerob fakultatif, berbentuk bola, berkelompok tidak teratur, berdiameter 0,8-1,0 μm, tidak membentuk spora, tidak bergerak, koloni berwarna putih serta tumbuh cepat pada suhu 37oC. Umumnya, S. epidermidis terdapat pada kulit, selaput lendir, bisul dan luka. Pertumbuhannya pada media nutrient broth (NB) menunjukkan kekeruhan menyeluruh setelah diinkubasi selama 24 jam (Jawetz et al., 2005).

    Bakteri ini mudah tumbuh pada kondisi aerob maupun anaerob dengan koloni berbentuk bulat, halus dan menonjol serta relatif resisten terhadap pengeringan dan suhu panas yaitu 50oC selama 30 menit (Cassell et al., 1982).

    Dinding sel S. epidermidis akan lisis di bawah pengaruh penisilin (Jawetz, 1996). S. epidermidis sebenarnya bukan termasuk ke dalam bakteri patogen karena merupakan flora normal yang ditemukan pada tubuh orang sehat, misalnya pada permukaan kulit, saluran pencernaan serta saluran pernapasan bagian atas (Salyers et al., 2002). Infeksi sering menyebar dari satu lesi ke daerah kulit lainnya melalui jari-jari dan pakaian. Pada kulit berjerawat, infeksi dipermudah oleh faktor-faktor hormonal. Kepadatan bakteri yang dapat menimbulkan penyakit berkisar antara 106-108 sel bakteri/mL (Jawetz, 1996).

    Jahe Gajah Obat Alami Jerawat

    Jahe gajah merupakan salah satu tanaman rempah-rempah yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat tradisional. Selain budidayanya yang mudah, jahe gajah telah dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan seperti bumbu masak, serta pemberi rasa dan aroma pada makanan dan berbagai minuman. Jahe gajah juga dapat digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah menjadi asinan jahe, acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup (Giyarto, 2002).

    Tanaman jahe gajah dan rimpang jahe gajah


    Secara farmakologi, jahe gajah mempunyai manfaat sebagai peluruh kentut, antimuntah, pereda kejang, peluruh keringat, antiperadangan (inflamasi), antimikrobia dan parasit, antirematik, mengobati jerawat dan bisul serta merangsang pengeluaran getah lambung dan empedu (Darwis et al., 1991).

    Fungsi rimpang jahe gajah sebagai tanaman obat berkaitan dengan metabolit sekunder yang terkandung di dalamnya yaitu minyak atsiri sekitar 1- 3%. Rendemen rata-rata minyak atsiri yang dihasilkan tergantung dari jenis jahe yang diekstrak serta penanganan dan efektivitas proses penyulingan (Sudiarto dan Affandi, 1989).

    Minyak atsiri banyak digunakan sebagai obat serta pemberi rasa dan aroma pada makanan, minuman, parfum dan kosmetik. Sifat toksik alami minyak atsiri berguna dalam pengobatan dan telah lama dikenal sebagai senyawa antimikrobia (Setyawan, 2002).

    Hampir semua minyak atsiri yang berasal dari rempah-rempah dapat menghambat pertumbuhan mikrobia termasuk produksi toksinnya. Semakin tinggi konsentrasi minyak atsiri yang digunakan, maka sifat bakterisidalnya juga semakin kuat (Ayres et al., 1998).

    Berdasarkan penelitian sebelumnya, rimpang jahe terbukti mempunyai efek terhadap kulit yaitu merangsang regenerasi sel kulit dengan menurunkan tanda inflamasi atau peradangan pada luka bakar (Sumarno et al., 2012).

    Hasil penelitian Barman and Dhruva (2013) menemukan bahwa minyak atsiri jahe mempunyai aktivitas antibakteri dan antijamur terhadap Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aereus, Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, Shigella flexneri, Candida albicans, Fusarium oxysporium, Aspergillus niger dan Penicillium sp.

    Minyak atsiri jahe juga memiliki aktivitas penghambatan terhadap bakteri gram negatif yaitu Pseudomonas aeruginosa dengan nilai konsentrasi penghambatan minimum (MIC) sebesar 4%-8% (El- Shouny and Sulaiman, 2009).

    Oleh karena sifatnya sebagai antibakteri inilah, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan minyak atsiri jahe gajah dalam menghambat salah satu bakteri penyebab jerawat yaitu S. epidermidis sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat jerawat alternatif.

    Kandungan Kimia Jahe Gajah

    Rimpang jahe gajah tersusun dari komponen volatil dan komponen nonvolatil. Minyak atsiri jahe termasuk ke dalam komponen volatil jahe yang berperan dalam memberi aroma khas jahe. Minyak atsiri jahe terdiri dari zingiberol, zingiberen, n-nonyl aldehida, d-camphen, methyl heptanon, sineol, sitral, borneol, linalool, asetat, kaprilat, phenol dan chavicol (Koswara, 1995).

    Oleoresin (4-7,5%) merupakan komponen nonvolatil dari rimpang jahe yang mengandung gingerol sebagai elemen pedasnya. Gingerol diidentifikasi sebagai komponen antioksidan fenolik jahe (Suharti, 2004). Di samping itu, terdapat senyawa lain seperti pati, vitamin A, B, dan C serta riboflavin dalam rimpang jahe gajah (Widiyanti, 2009).

    Manfaat Jahe Gajah

    Menurut Shukla and Singh, 2007, rimpang jahe gajah memiliki banyak kegunaan, di antaranya sebagai obat batuk, masuk angin, menambah nafsu makan (stimulansia), mengobati kolera dan difteri, penawar racun ular serta sebagai obat luar untuk mengobati keseleo, bengkak, memar, bisul dan jerawat (). 

    Menurut Amalia, 2004, jahe juga bermanfaat untuk merangsang pelepasan hormon adrenalin dan memperlebar pembuluh darah. Enzim protease dan lipase yang terkandung dalam jahe dapat membantu tubuh mencerna dan menyerap makanan. Gingerol yang terkandung dalam jahe bersifat antikoagulan (mencegah penggumpalan darah). Jahe juga dapat menghambat serotonin sebagai senyawa kimia pembawa pesan yang menyebabkan perut berkontraksi dan menimbulkan rasa mual.

    Menurut Aminah (2004), senyawa fenol dalam jahe dapat berperan sebagai antioksidan. Jahe juga berpotensi dalam mencegah kanker (antikarsinogenik). Mengkonsumsi jahe secara teratur dapat merangsang pengeluaran air liur dan memperlancar cairan pencernaan.

    Minyak Atsiri Jahe

    Minyak atsiri jahe merupakan cairan berwarna kuning, mudah menguap pada suhu kamar, berasa getir, berbau khas tanaman jahe, larut dalam pelarut organik serta tidak larut dalam air (Hernani dan Mono Rahardjo, 2006).

    Minyak atsiri biasa digunakan sebagai bahan baku minuman (gingerale), bahan baku dalam industri farmasi serta sebagai bahan penyedap dalam industri makanan (Ravindran and Babu, 2005). Minyak atsiri terdapat pada rimpang jahe segar maupun jahe kering. Kandungan minyak atsiri pada jahe segar lebih banyak daripada jahe kering yang hanya berkisar antara 1-3 % saja, apalagi jika jahe tersebut tidak dikuliti sama sekali (Paimin, 1991). Bagian organ yang disuling sangat menentukan kadar minyak atsiri. Pengamatan anatomi pada helai daun, pelepah daun, batang semu, akar dan rimpang anggota Zingiberaceae, menunjukkan bahwa jumlah sel penyimpan minyak atsiri pada rimpang jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan organ lain (Gunther, 1990).

    Jumlah minyak atsiri yang dihasilkan ditentukan oleh besarnya tekanan uap yang dipakai, berat molekul masing-masing komponen dalam minyak serta kecepatan minyak keluar dari bahan (Maulana, 2007). Destilasi dapat dilakukan jika titik didih senyawa dalam suatu campuran memiliki perbedaan yang berarti yaitu 5-45oC. Titik didih adalah temperatur pada saat cairan berubah menjadi uap pada tekanan atmosfer atau temperatur pada saat tekanan uap dari cairan tersebut sama dengan tekanan gas atau uap yang berada disekitarnya (Sattler and Feindt, 1995). Suhu tinggi selama proses destilasi akan mengubah komposisi kimia minyak atsiri dan menghasilkan senyawa baru yang secara alami tidak disintesis. Untuk menghindari kerusakan, minyak atsiri harus dijernihkan dan dibebaskan dari air. Minyak dalam jumlah kecil dapat didehidrasi dengan menambahkan natrium sulfat anhidrus, dikocok, didiamkan dan selanjutnya disaring (Gunther, 1990).Ekstraksi Minyak Atsiri dengan 

    Destilasi

    Destilasi merupakan metode yang berfungsi untuk memisahkan dua zat yang berbeda berdasarkan perbedaan titik didih dari komponen lainnya  (Sastrohamidjojo, 2004).

    Proses destilasi diawali dengan pelepasan uap air pada suatu zat yang tercampur dengan komponen yang mudah menguap daripada zat tersebut (Pasto, 1992). Sebelum disuling, bahan tanaman sebagai sumber minyak atsiri perlu dipotong-potong terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk memudahkan proses penguapan minyak yang terdapat di dalamnya karena perajangan akan menyebabkan kelenjar minyak terbuka selebar mungkin. Tujuan lainnya yaitu agar rendemen minyak menjadi lebih tinggi dan waktu penyulingan lebih singkat (Lutony, 1994).

    Kesimpulan

    1. Minyak atsiri jahe gajah mempunyai aktivitas antibakteri yang kuat terhadap Staphylococcus epidermidis dengan diameter zona hambat 42 mm.
    2. Nilai minimum inhibitory concentration (MIC) minyak atsiri jahe gajah terhadap S. epidermidis adalah 0,92 %.
    3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut secara invivo untuk menguji aktivitas antibakteri minyak atsiri jahe gajah dalam bentuk sediaan seperti gel.
    4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan bakteri penyebab jerawat lainnya.
    5. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui senyawa aktif lain yang terkandung dalam rimpang jahe gajah dan memiliki aktivitas penghambatan terhadap bakteri penyebab jerawat.

    Referensi:

    Odise Laeksa Kowidita, 2014, Aktivitas antibakteri minyak atsiri jahe gajah (zingiber officinale var. roscoe) terhadap.....

    Post a Comment

    Previous Post Next Post