Ciri-ciri Cerita Rakyat


    Cerita rakyat merupakan cerita yang diwariskan secara turun temurun. Cara penyebarannya melalui lisan dari mulut ke mulut.

    Menurut Itadz (2008: 69–70) cerita rakyat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

    1. Penyebaran dan pewarisannya dilakukan secara lisan.
    2. Disebarkan dalam bentuk yang standar, dalam kolektif tertentu (masyarakat yang memiliki cerita rakyat tersebut), dan dalam waktu yang cukup lama (setidak-tidaknya dua generasi).
    3. Memiliki versi yang berbeda-beda.
    4. Mempunyai bentuk berpola.
    5. Bersifat anonim.
    6. Mempunyai kegunaan atau fungsi dalam kehidupan kolektif masyarakat pemiliknya.
    7. Bersifat pralogis, yaitu memiliki logika tersendiri yang tidak sesuai dengan logika umum.
    8. Menjadi milik bersama.
    Ciri-ciri cerita rakyat menurut Danandjaja (2002: 3–4) adalah
    1. penyebaran dan pewarisanya biasa dilakukan dengan lisan, yakni dari mulut ke mulut dengan contoh, isyarat, atau alat bantu mengingat,
    2. bersifat tradisional, yakni berbentuk relatif atau standard,
    3. bersifat anonim,
    4. mempunyai varian atau versi yang berbeda, 
    5. mempunyai pola berbentuk, 
    6. mempunyai kegunaan bagi kolektif tertentu,
    7. menjadi milik bersama suatu kolektif, dan 
    8. bersifat polos dan lugu sehingga sering terasa kasar atau terlalu sopan.
    Dari pendapat tersebut mengenai ciri-ciri cerita rakyat dapat disintesiskan bahwa cerita rakyat dalam penyebarannya dilakukan melalui lisan dan bersifat anonim, sehingga cerita dari masyarakat satu dengan masyarakat lainnya akan berbeda sesuai dengan pendapat masyarakat itu sendiri. Cerita rakyat bersifat anonim sehingga cerita tersebut menjadi milik bersama yang didalamnya terdapat tradisi yang diwariskan secara turun temurun.

    Unsur-Unsur Cerita Rakyat

    Unsur-unsur cerita rakyat adalah unsur-unsur yang saling berkaitan erat dan bersama-sama membangun sebuah cerita. Unsur-unsur pembangun tersebut terdiri dari:

    1. Tema

    Tema merupakan ide dari sebuah cerita, pengarang menulis cerita ingin mengatakan atau menyampaikan sesuatu kepada pembaca. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tema mungkin berupa gagasan-gagasan misalnya kesetiakawanan, kehidupan keluarga, atau kemandirian. Melengkapi pendapat tersebut Nurgiyantoro (2013: 32) menyatakan bahwa tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita. Ia selalu berkaitan dengan berbagai pengalaman kehidupan, seperti masalah cinta, kasih, rindu, maut, religius, dan sebagainya. Menambahkan pendapat tersebut, Waluyo (2011: 7) mengemukakan bahwa tema adalah gagasan pokok dalam cerita fiksi yang mungkin dapat diketahui pembaca melalui proses pembacaan karya sastra yang mungkin perlu dilakukan beberapa kali.

    e-book cover Ciri dan Unsur Cerita Rakyat

    Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa tema merupakan gagasan menurut pengalaman kehidupan yang disampaikan oleh pengarang. Pengalaman tersebut kemudian dituangkan ke dalam karyanya. Diperlukan seseorang untuk membaca sebuah karya secara berulang-ulang untuk memahami apa sebenarnya yang ingin diungkapkan oleh penulis di dalam karyanya.

    2. Alur

    Sebuah cerita tentunya memiliki salah satu unsur pendukung yang dinamakan alur, karena alur tersebut akan memperjelas jalannya sebuag cerita. Alur merupakan urutan-urutan atau jalannya sebuah cerita. Itadz (2008: 37) mengemukakan bahwa plot atau alur cerita adalah peristiwa naratif yang disusun dalam serangkaian waktu. Sementara itu, Pujiharto (2012: 32) menyatakan bahwa alur meupakan peristiwa-peristiwa yang memiliki hubungan kausalitas antara satu dengan yang lainnya tidak hanya semata-ata dijajarkan saja.

    Nurgiyantoro (2013: 164) menyatakan bahwa alur cerita dongeng biasanya progresif dengan menampilkan konflik yang tidak terlalu kompleks, dan klimaks sering ditempatkan pada akhir kisah. Penyelesaian hampir selalu membahagiakan. Menambahkan pendapat di atas, Waluyo (2011: 9) menyatakan bahwa alur atau plot sering disebut kerangka cerita, yaitu jalinan cerita yang disusun dalam urutan waktu yang menunjukkan hubungan sebab akibat dan bertujuan agar pembaca meneba peristiwa yang akan datang.

    Mengacu pada pendapat di atas dapat disintesiskan bahwa alur adalah jalinan sebab dan akibat yang biasanya terdiri atas permulaan, pertengahan, dan akhir. Di dalam sebuah cerita pasti memiliki alur cerita. Alur sebuah cerita tentunya harus jelas, supaya karya tersebut mampu dipahami oleh pembaca mengenai isi dari sebuah cerita. Ketika alur yang digunakan tidak jelas, maka isi dari karya yang ingin disampaikan tidak akan tersampaikan secara maksimal.

    3. Penokohan

    Penokohan merupakan bagian yang terpenting dan juga menarik dari sebuah cerita. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Pujiharto (2012: 44) yang menyatakan bahwa penokohan adalah cara pengarang dalam melukiskan tokoh. Penokohan berupa pemilihan tokoh serta penggambaran watak yang dimilikinya. Penokohan tidak hanya penting dari pembuatan sebuah cerita, akan tetapi dari sudut pandang pembaca penokohan juga sangatlah penting. Penokohan harus dilengkapi dengan perwatakan agar menjadi sebuah cerita yang menarik dan dapat dijadikan pembelajaran oleh pembaca.

    4. Latar

    Cerita rakyat memiliki usur salah satunya yaitu latar atau setting. Latar adalah elemen fiksi yang menyatakan kepada pembaca dimana dan kapan terjadinya suatu peristiwa. Hal tersebut senada dengan pendapat Pujiharto (2012: 47) bahwa, Latar/setting merupakan tempat, waktu dan suasana yang terkandung di dalam cerita dengan tujuan agar cerita mudah dipahami. Selain itu, latar atau setting merupakan tempat, waktu, dan suasana yang dilalui oleh para tokoh di dalam cerita yang dipengaruhi dengan aspek fisik, sosiologis, psikis dan keadaan alam.

    5. Amanat

    Semua karya sastra pasti memiliki amanat. Amanat dibuat oleh pengarang pasti pasti memiliki pesan yang bermanfaat dalam kehidupan secara praktis. Amanat ialah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya yang dapat secara bebas diinterpretasikan oleh pembaca.
    Dari pendapat mengenai unsur-unsur pembangun karya sastra di atas dapat disintesiskan bahwa cerita rakyat memiliki unsur-unsur pembangun meliputi tema, alur, penokohan, latar, dan amanat. Unsur-unsur tersebut di dalam karya sastra digunakan untuk mengetahui isi dari sebuah karya sastra. Di dalam sebuah karya sastra unsur-unsur tersebut pasti ada, karena unsur tersebut dapat membangun sebuah sebuah cerita dan menjadikan isi dari cerita tersebut lebih jelas dan mudah diterima oleh pembaca.

    Teori cerita rakyat berkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sudrajat (2012: 19–28) dalam jurnal Alinea yang berjudul Cerita Rakyat di Kecamatan Pasirkuda Kabupaten Cianjur. Penelitian Sudrajat meneliti tentang segi kesastraan yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut. Dari penelitian tersebut Sudrajat meneliti dari segi kesastraannya seperti jenis, struktur, fungsi, dan nilai edukatif yang terkandung dalam cerita rakyat di Kecamatan Pasirkuda Kabupaten Cianjur. Sudrajat meneliti cerita rakyat asli Kabupaten Cianjur.

    Post a Comment

    Previous Post Next Post