Prinsip-prinsip asuransi adalah sebagai berikut:

1. Prinsip Insurable Interest

Prinsip Insurable Interst merupakan hak berdasarkan hukum untuk mempertanggungkan suatu risiko yang berkaitan dengan keuntungan, yang diakui sah secara hukum antara tertanggung dengan sesuatu yang dipertanggungkan. Selain itu, sesuatu yang dipertanggungkan itu semata-mata menyangkut kepentingan yang menimbulkan kerugian keuangan tertanggung atas sesuatu yang dipertanggungkan tersebut. Ada beberapa kriteria yang perlu dipenuhi agar memenuhi kriteria insurable interest, yaitu:

$ads={1}

a. Kerugian Tidak dapat Diperkirakan
Risiko yang dapat diasuransikan berkaitan dengan kemungkinan terjadinya kerugian. Kerugian tersebut harus dapat diukur. Selanjutnya kemungkinan tersebut tidak dapat diperkirakan terjadinya. Misalnya, kebakaran rumah atau gedung. Terbakarnya rumah atau gedung tidak dapat ditentukan sebelumnya mengenai waktu dan kapan terjadinya serta penyebabnya. Hal ini berbeda dengan kerusakan sebuah kemeja karena dipakai. Apabila kemeja itu dipakai, maka lama-kelamaan pasti akan usang dan tidak layak lagi dipakai. Oleh karena itu, kerusakan sebuah kemeja tidak dapat diasuransikan karena sudah dapat diperkirakan sebelum terjadinya kerusakan kemeja tersebut.

b. Kewajaran
Risiko yang dipertanggungkan dalam asuransi adalah benda atau harta yang memiliki nilai material baik bagi pihak penanggung maupun tertanggung.

c. Catastrophic
Agar suatu barang atau harta dapat insurable, risiko yang mungkin terjadi haruslah tidak akan menimbulkan suatu kemungkinan rugi yang sangat besar, yaitu jika sebagian besar pertanggungan kemungkinan akan mengalami kerugian pada waktu bersamaan.

d. Homogeneous
Untuk memenuhi syarat insurable, barang atau harta yang akan dipertanggungkan harus homogen, yang berarti banyak barang yang serupa atau sejenis. Banyaknya barang yang sejenis ini berkaitan dengan prinsip bahwa asuransi menutup sejumlah besar risiko supaya dapat membayar beberapa kerugian dari yang dipertanggungkan.

2. Prinsip Itikad Baik (Utmost Good Faith)

Dalam melakukan kontrak asuransi, kedua belah pihak dilandasi oleh itikad baik. Pihak penanggung perlu menjelaskan secara lengkap hak dan kewajibannya selama masa asuransi/pertanggungan. Selain itu yang sangat perlu diperhatikan adalah perlakuan perlakuan dari penanggung pada saat benar-benar ada risiko yang menimpa tertanggung.

$ads={2} 

Pihak penanggung harus konsisten terhadap hak dan kewajiban yang pernah disampaikan pada tertanggung dan dicantumkan dalam kontrak (polis) termasuk batasan-batasan yang ada sehingga jelas apabila ada risiko yang tidak tercover dalam asuransi. Pihak tertanggung juga perlu menungkapkan secara rinci kondisi yang akan diasuransikan sehingga pihak penanggung memiliki gambaran yang memadai untuk menentukan persetujuan. Kewajiban kedua belah pihak untuk mengungkapkan fakta disebut duty of disclosure. Faktor-faktor yang melanggar prinsip duty of disclosure adalah:
  • Non Disclosure. Adanya data-data penting yang tidak diungkapkan sehingga menyalahi utmost good faith.
  • Concealment. Secara sengaja melakukan kebohongan, tidak jujur dan tidak mengungkapkan fakta-fakta penting.
  • Fraudulent Misrepresentation. Sengaja memberikan gambaran yang tidak cocok dengan kondisi real.
  • Innoncent Misrepresentation. Secara tidak sengaja memberi gambaran yang salah yang memiliki pengaruh besar dalam proses asuransi.

3. Prinsip Indemnity

Konsep indemnity adalah mekanisme penanggung untuk mengompensasi risiko yang menimpa tertanggung dengan ganti rugi finansial. Prinsip indemnity tidak dapat dilaksanakan dalam asuransi kecelakaan dan kematian. Dalam kedua jenis asuransi tersebut, pihak penanggung tidak dapat mengganti nyawa yang hilang atau anggota tubuh yang cacat/hilang karena indemnity berkaitan dengan ganti rugi finansial. Indemnity ini dapat dilakukan denagn beberapa cara pembayaran tunai, penggantian, perbaikan dan pembangunan kembali.

4. Prinsip Proximate Cause

Adalah suatu sebab aktif, efisien yang mengakibatkan terjadinya suatu peristiwa secara berantai atau berurutan tanpa intervensi suatu ketentuan lain, diawali dan bekerja dengan aktif dari suatu sumber baru dan independen.

5. Prinsip Subrogation

Subrogation pada prinsipnya merupakan hak penanggung yang telah memberikan ganti rugi kepada tertanggung untuk menuntut pihak lain yang mengakibatkan kepentingan asuransinya mengalami suatu peristiwa kerugian. Dengan prinsip subrogasi, tertangung tidak mungkin menerima ganti rugi yang lebih besar dari kerugian yang dideritanya.

6. Prinsip Kontribusi

Prinsip kontribusi merupakan salah satu akibat wajar dari prinsip indemnity yaitu bahwa penanggung berhak mengajak penanggung-penanggung lain yang memiliki kepentingan yang sama untuk ikut bersama membayar ganti rugi kepada seorang tertanggung meskipun jumlah tanggungan masing-masing belum tentu sama besar.

Inilah 6 prinsip asuransi yaitu prinsip insurable interest, prinsip itikad baik (utmost good faith), prinsip indemnity, prinsip proximate cause, prinsip subrogation dan prinsip kontribusi yang dapat kita tuliskan disini.

Post a Comment

Previous Post Next Post