Pengertian Debat


    Salah satu bentuk kegiatan berbicara yang sering pula digunakan di dalam dunia pendidikan adalah debat. Debat adalah suatu keterampilan berargumentasi dengan mengadu atau membandingkan pendapat secara berhadap-hadapan (Semi, 2008: 75).

    Menurut Hendrikus (2009: 120), debat pada hakikatnya merupakan saling adu argumentasi antarpribadi atau antarkelompok manusia, dengan tujuan mencapai kemenangan untuk suatu pihak. Ketika berdebat setiap pribadi atau kelompok mencoba untuk saling menjatuhkan agar pihaknya berada pada posisi yang benar.

    Pada dasarnya debat, menurut Tarigan merupakan suatu latihan atau praktik persengketaan atau kontroversi. Debat merupakan suatu argumen untuk menentukan baik tidaknya suatu usul tertentu yang didukung oleh satu pihak yang disebut pendukung atau afirmatif, dan ditolak, disangkal oleh pihak lain yang disebut penyangkal atau negatif (2008: 92).

    Debat


    Pendapat Tarigan tersebut diperkuat oleh pendapat Hall (2011: 5), "debate is an experiential learning process that allows students to demonstrate their communication ability while presenting reasonable arguments based on evidence." Artinya, debat merupakan sebuah proses pengalaman belajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan komunikasi mereka sambil mengungkapkan pendapat yang masuk akal berdasarkan bukti.

    Berdasarkan pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa debat merupakan kegiatan menyatakan dua argumentasi atau pendapat yang dibandingkan, diadu serta dipertahankan kebenarannya hingga pendapat tersebut mempengaruhi orang lain untuk menerima pendapatnya.

    Bentuk Debat

     $ads={1}

    Menurut Hendrikus (2009: 121), ada dua bentuk debat.

    1. Bentuk debat yang pertama, yaitu debat Inggris.
    Dalam debat ini ada dua  kelompok yang berhadapan yaitu kelompok pro dan kelompok kontra.
    Sebelum dimulai perdebatan ditentukan terlebih dahulu dua pembicara dari setiap kelompok. Debat dimulai dengan memberi kesempatan kepada pembicara pertama dari salah satu kelompok untuk merumuskan argumentasinya dengan jelas dan teliti. Pembicara dari kelompok lain menanggapi pendapat pembicara pertama, tetapi tidak boleh mengulangi pikiran yang sudah disampaikan. Selanjutnya para pembicara kedua dari setiap kelompok diberi kesempatan untuk berbicara sesuai urutan pada para pembicara pertama.

    2. Bentuk debat kedua, yaitu debat Amerika.
    Dalam debat ini terdapat dua regu yang berhadapan, tetapi masing-masing regu menyiapkan tema melalui pengumpulan bahan secara teliti dan penyusunan argumentasi yang cermat. Para anggota kelompok debat ini adalah orang-orang yang terlatih dalam seni berbicara. Mereka berdebat di depan sekelompok juri dan publikum.

    Berdasarkan dari bentuk debat menurut Hendrikus, peneliti mengadaptasi bentuk debat Inggris dimana terdapat dua kelompok debat yang berhadapan, yaitu kelompok pro dan kontra. Penyajian debat sendiri, yaitu pembicara pertama dari masing-masing kelompok dipersilakan untuk menyajikan pendapat mereka, kemudian pembicara berikutnya dari masing-maing kelompok secara berurutan.

    Syarat-syarat Susunan Kata Proposisi


    Proposisi atau usul menentukan ruang lingkup dan pembatasanpembatasan suatu perdebatan. Bagi setiap perdebatan, usul atau proposisi yang diajukan hendaklah merupakan suatu afirmasi atau penegasan.

    Selain itu, penguatan yang sederhana, jelas, dan singkat yang menyatakan suatu usul tunggal dan khusus tanpa prasangka dan dengan tanggung jawab untuk memberikan bukti yang memuaskan pada pihak pembicara afirmatif. Sang pembicara hendaklah meneliti agar usulnya memenuhi tuntutan-tuntutan atau syarat-syarat tersebut, seperti yang tertera secara lebih rinci di bawah ini.

    1. Kesederhanaan, Usul-usul yang rumit dan berbeli-belit menyebabkan analisis yang sukar. Semain sederhana suatu pernyataan maka semakin bergunalah bagi perdebatan yang sedang berlangsung.
    2. Kejelasan, Pernyataan-pernyataan yang samar-samar dan tidak jelas menimbulkan beragam penafsiran yang timbul dalam perdebatan yang membingungkan.
    3. Kepadatan, Kata-kata hendaklah dipergunakan sedikit dan sepadat mungkin. Kebertele-telean atau kepanjanglebaran akan mengakibatkan suatu usul menjadi tidak praktis dan menyebabkan salah pengertian.
    4. Susunan Kata Afirmatif, Usul yang negatif seakan-akan dapat memutarbalikkan posisi-posisi afirmatif dan negatif. Susunan kata suatu usul hendaklah bersifat afirmatif atau mengiakan; jangan bersifat negatif atau meniadakan.
    5. Pernyataan Deklaratif, Suatu pernyataan yang tegas lebih disukai, lebih baik daripada suatu pertanyaan. Pertanyaan pada umumnya dipergunakan bagi diskusi karena maksud dan tujuannya adalah menyelidiki.
    6. Kesatuan, Sebuah gagasan tunggal sudah cukup bagi satu perdebatan.
    7. Usul Khusus, Usul-usul yang bersifat umum akan mengakibatkan perdebatan-perdebatan yang terpencar dan tidak memuaskan.
    8. Bebas dari Prasangka, Bahasa yang berprasangka akan memperkenalkan asumsi-asumsi yang tidak tepat ke dalam usul.
    9. Tanggung Jawab, untuk Memberikan Bukti yang Memuaskan Terhadap Afirmatif

    Susunan kata usul hendaklah dibuat sebaik dan secepat mungkin sehingga pembicara afirmatif akan menganjurkan serta menyokong suatu perubahan (Tarigan, 2008: 100-104).

    Sifat dan Ciri Debat

    $ads={2}

    Menurut Semi (2008: 81), sifat dan ciri debat dapat digambarkan sebagai berikut.
    1. Bertujuan membenarkan pendapat sendiri dengan melemahkan pendapat lawan.
    2. Berusaha membuktikan kebenaran pendapat atau pernyataan.
    3. Bertujuan mengubah pendapat pendengar agar mendukung pendapat pembicara sekaligus menolak pendapat lawan.

    Menurut Hall (2011: 2), seorang pelaku debat memiliki tanggung jawab membujuk penonton untuk menerima pendapat mereka atau menolak pendapat pihak lawan pada topik tertentu. Oleh karena itu, pelaku debat bukan hanya meneliti dan menguji perspektif mereka sendiri dari materi pelajaran dengan menggunakan berbagai logika dan kemampuan memecahkan masalah, tetapi juga mempelajari kemungkinan-kemungkinan pendapat yang dipersiapkan lawan untuk mempertahankan diri, dengan mempelajari kemungkinan-kemungkinan pendapat tersebut pelaku debat dapat mempersiapkan diri untuk membantah pendapat mereka. Semua anggota tim debat harus memiliki pengetahuan tentang bahasa dan memiliki strategi untuk memenangkan perdebatan. Oleh karena itu, pelaku debat harus bekerja sama untuk menganalisis dan mensintesis kebahasaan, mengatur dan memprioritaskan pendapat, dan mengetahui kemungkinan-kemungkinan pendapat lawan dalam upaya untuk meyakinkan penonton untuk menerima pendapatnya.

    Langkah-langkah Debat


    Menurut pendapat Semi (2008: 88-91) terdapat tiga cara pengaturan debat di sekolah, seperti yang dijelaskan berikut ini.

    • Pertama, kelas dibagi dua kelompok. Satu berada di pihak pro dan satunya lagi di pihak kontra. Lalu masing-masing kelompok berhadap-hadapan. Masing-masing kelompok baik pro maupun kontra menetapkan satu orang ketua yang bertindak sebagai juru bicara utama dan yang memiliki hak untuk menunjuk teman-temannya yang lain untuk berbicara atau memberikan tangkisan. Untuk mengatur jalannya debat diperlukan seorang moderator. Moderator memberikan penjelasan tentang topik dan menjelaskan tentang tata cara berdebat, mengenai waktu yang disediakan setiap pembicara.
    • Kedua, kelas juga dibagi dua kelompok, masing-masing kelompok memiliki ketua. Tetapi di dalam bentuk ini tidak semua anggota kelompok mempunyai peluang atau kesempatan yang sama untuk berbicara. Yang berbicara atas nama kelompok ditetapkan beberapa orang, misalnya tiga atau empat orang. Anggota kelompok yang lain, sebagai pendengar dan sebagai supporter. Pengaturan kelas debat dengan cara ini biasanya lebih tertib dibandingkan dengan cara yang pertama. Pada pola kedua ini juga memerlukan adanya moderator yang bertindak memandu dan mengatur jalannya debat, serta menegur mereka yang berbicara melampaui jumlah waktu yang ditetapkan, atau menegur bila ada yang melanggar tata tertib dan sopan santun berdebat. Bila moderator di akhir kegiatan memberikan kesempatan kepada para pendengar masing-masing kelompok untuk menyampaikan kesan-kesan atau tanggapan terhadap kelompok lawan, maka mereka boleh berbicara. Tentu hal ini bergantung kesepakatan atau kebijaksanaan moderator.
    • Ketiga, guru menetapkan beberapa orang dari anggota kelas yang melakukan perdebatan. Misalnya, empat orang masing-masing kelompok, sehingga ada delapan orang yang betul-betul melakukan debat. Anggota kelas yang lain bertindak sebagai pendengar, namun mereka dapat saja ikut berbicara bila diberikan kesempatan oleh moderator. Biasanya kesempatan berbicara para pendengar diberikan setelah debat pokok berlangsung. Cara ketiga ini hampir sama dengan cara kedua, yang membedakan adalah kelas tidak dibagi atas dua kelompok besar. Cara ketiga ini para pemerhati terdiri dari semua anggota kelas kecuali beberapa orang yang telah ditetapkan sebagai orang yang berdebat. Tugas moderator juga sama dengan kedua pola sebelumnya, yaitu bertugas mengatur dan melancarkan jalannya debat. Dia juga bertindak sebagai wasit yang dapat menegur mereka yang berdebat bila menyalahi ketentuan yang telah ditetapkan.




    Post a Comment

    Previous Post Next Post