Sejak zaman Rasulullah SAW Wakaf telah dikenal, disyariatkan setelah Nabi berhijrah dari Mekah ke Madinah pada Tahun ke-2 hijriah. Tetapi ada dua pendapat dikalangan ahli hukum Islam (fuqaha), tentang siapa yang pertama kali melaksanakan syariat wakaf.



    Menurut sebagian pendapat ulama mengatakan yang pertama kali melaksanakan wakaf adalah Rasulullah SAW, yakni wakaf tanah milik Nabi, Untuk dibangun masjid. Berdasar hadits Nabi diriwayatkan oleh Umar bin Syabah dari "Amir bin Sa'ad bin Muad ia berkata : "Kami bertanya tentang mula-mula wakaf dalam Islam ? Para Muhajirin mengatakan adalah wakaf Umar, sedangkan orang-orang Anshor mengatakan adalah wakaf Rasulullah SAW".

    Sejak agama Islam masuk ke Indonesia, Di Indonesia wakaf dikenal dan dilaksanakan oleh umat Islam. Akhir-akhir ini keberadaan lembaga wakaf menjadi sangat strategis. Obyek perwakafan di Indonesia umumnya masih berupa tanah, Umumnya peruntukan tanah wakaf lebih banyak ditujukan untuk hal-hal yang bersifat keibadatan misalnya untuk masjid, mushalla, panti asuhan, pondok pesantren.



    Sebagaimana telah dijelaskan oleh Juhaya S Praya dalam bukunya yang berjudul Perwakafan di Indonesia, yang menjelaskan bahwa Wakaf merupakan salah satu bentuk amal ibadah perbuatan yang dijanjikan mendapatkan pahala terus menerus. Wakaf juga merupakan salah satu institusi atau pranata sosial  Islam yang mengandung nilai sosial ekonomi.

    Lembaga perwakafan adalah salah satu bentuk perwujudan keadilan sosial dalam Islam. Selain itu dalam buku Fiqh Wakaf yang diterbitkan oleh Direktorat Pemberdayaan Wakaf Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departeman Agama RI menjelaskan tentang Pengertian wakaf, dasar hukum wakaf, dan yang berhungan dengan wakaf. Sejumlah kajian tentang tanah wakaf sebagaimana tersebut diatas adalah Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik, Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, Peraturan Pemerintah nomor 42 Tahun 2006 tentang Wakaf Pelaksanaan Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf, Al-Qur’an dan Hadits, Buku dan lain-lain.

    Pengertian Serta Kedudukan Wakaf Dalam Ajaran Islam.


    Kata wakaf berasal dari bahasa Arab, yang diambil dari kata "waqafa" yang berarti berhenti, maksudnya berhenti jadi obyek dalam lalu lintas perdagangan, tidak boleh dijadikan obyek transaksi hanya manfaatnya yang boleh diambil oleh pihak yang dimaksudkan sebagai penerima hasil benda yang diwakafkan itu. 

    Kata "waqafa" adalah sinonim dengan bahasa yang berarti menahan, maksudnya menahan benda pokoknya tidak boleh dialihkan, yang diambil hanyalah manfaatnya atau hasilnya. Kata lain yang dapat dipakai dengan maksud mewakafkan adalah "sabbala", maksudnya penjadikan benda yang dilepaskan itu "fi sabilillah" dipergunakan manfaatnya di jalan Allah.

    Abdul Aziz Dahlan dalam Ensiklopedi Hukum Islam Jilid 6 memberikan definisi dari lafald wakaf sebagai berikut : "wakaf (Al-waqf = menahan tindakan hukum). Persoalan wakaf adalah persoalan pemindahan hak milik yang dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Muhammad Rawwas Qal'ahji, mendefinisikan wakaf adalah menahan asli harta dan mendermakan hasilnya dijalan Allah.

    Menurut Muhamad Al-Khathib, kata wakaf  berasal dari bahwa Arab "waqafa" berarti "menahan" atau "berhenti" atau "diam ditempat" atau "tetap berdiri". Kata waqafa-yaqifu-waqfan sama artinya denan "habasa-yahbisutahbisan", sedang kata "al-waqfu" dalam bahasa Arab, mengandung beberapa pengertian "al waqfu bi ma'na at tahbiisi wattasbiili" yang artinya menahan, menahan harta untuk diwakafkan, tidak dipindahmilikkan.

    Pengertian wakaf menurut para cendekiawan

    Koesoemah Atmadja

    Wakaf adalah suatu perbuatan hukum dengan perbuatan mana suatu barang/keadaan telah dikeluarkan/diambil kegunaannya dalam lalu lintas masyarakat. Semula guna kepentingan seseorang/orang tertentu atau guna seseorang maksudnya/tujuannya barang tersebut sudah berada dalam tangan yang mati.

    Ahmad Azhar Basyir

    Menurut istilah, wakaf berarti menahan harta yang dapat diambil manfaatnya tanpa musnah seketika dan untuk penggunaan yang mubah serta dimaksudkan mendapatkan keridhaan Allah.

    H. Imam Suhadi

    Wakaf menurut Islam adalah pemisahan suatu harta benda seseorang yang disahkan dan benda itu ditarik dari benda milik perseorangan dialihkan penggunaannya kepada jalan kebaikan yang diridhai Allah SWT, sehingga benda-benda tersebut tidak boleh dihutangkan, dikurangi atau dilenyapkan.

    Rahmat Djatnika

    Wakaf yaitu menahan harta (yang mempunyai daya tahan lama pakai) dari peredaran transaksi, dengan tidak memperjualbelikannya, tidak mewariskannya dan tidak pula menghibakannya, dan mensedekahkan manfaatnya untuk kepentingan umum, dengan ini harta benda yang diwakafkan beralih menjadi milik Allah, bukan lagi menjadi milik wakif.

    Para ahli fiqh berbeda dalam mendefinisikan wakaf menurut istilah, sehingga mereka berbeda pula dalam memandang hakekat wakaf itu sendiri. Berbagai pandangan tentang wakaf menurut istilah sebagai berikut:

    Menurut Abu Hanifah

    Wakaf adalah menahan suatu benda yang menurut hukum, tetap milik si wakif dalam rangka mempergunakan manfaatnya untuk kebajikan. Jadi yang timbul dari wakaf hanyalah ”menyumbang manfaat”. Karena itu Madzhab Hanafi mendefinisikan wakaf adalah : tidak melakukan suatu tindakan atas suatu benda, yang berstatus tetap sebagai hak milik, dengan menyedekahkan manfaatnya kepada suatu pihak kebajikan (sosial), baik sekarang maupu akan dataang.

    Madzhab Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal

    Syafi'i dan Ahmad berpendapat, bahwa wakaf adalah melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan wakif, setelah sempurna prosedur perwakafan. Wakif tidak boleh melakukan apa saja terhadap harta yang diwakafkan. Wakif menyalurkan manfaat harta yang diwakafkannya kepada mauquf 'alaih (yag diberi wakaf), sebagai sedekah yang mengikat, dimana wakif tidak dapat melarang penyaluran sumbangannya tersebut. Madzhab Syafi’i mendefinisikan wakaf adalah tidak melakukan suatu tindakan atas suatu benda, yang berstatus sebagai milik Allah SWT, dengan menyedekahkan manfaatnya kepada suatu kebajikan (sosial).

    Madzhab yang lain

    Sama dengan madzhab ketiga, namun berbeda dari segi kepemilikan atas benda yang diwakafkan, yaitu menjadi milik mauquf alaih (yang diberi wakaf), meskipun mauquf alaih tidak melakukan suatu tindakan atas benda wakaf tersebut, baik menjual maupun menghibahkannya.


    Referensi:
    Paradigma Baru Wakaf di Indonesia, 2006, Direktorat Pemberdayaan Wakaf Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam, Jakarta, hal. 1.
    Ahmad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf, 1988, Universitas Press, Jakarta, hal. 84

    Post a Comment

    Previous Post Next Post