Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting


(Tema gelap kini tersedia)
    
Aktifkan agar pengalaman membaca menjadi lebih nyaman
    

Pengertian Metakognisi Adalah

Metakognisi pertama kali dikenalkan oleh John H. Flavell sekitar tahun 1978. Selanjutnya, metakognisi banyak dikembangkan oleh para peneliti sepanjang tahun 1980-an dengan melibatkan anak-anak dalam tahap kognitif awal.

 

Livingston (1997: 1), metakognisi adalah "second-order cognition" mengacu pada konsep berpikir tingkat tinggi yang melibatkan kontrol aktif atas proses kognitif selama belajar.

 

Louca (2003: 27) menyebutkan bahwa metakognisi telah menjadi temuan berorientasi kognitif yang paling menarik dalam instruksional psikologi pendidikan, karena dua fokus utama: pembelajar sebagai organisme aktif; dan metakognisi telah menjembatani transfer atau generalisasi dari apa yang telah dipelajari.

 

Louca (2008: 1), metakognisi telah menjadi ranah utama studi tentang perkembangan kognitif. 

 

Vygotsky mengasumsikan bahwa interaksi sosial memegang peran utama dalam pengembangan fungsi mental yang lebih tinggi, misalnya metakognisi (Louca, 2008; Fouche, 2013). Dengan kata lain, kegiatan ini dimulai sebagai usaha sosial kemudian secara kontinu menjadi terinternalisasi.

 

Louca (2008:10) memberikan catatan bahwa metakognisi tidak dapat disamakan dengan belajar atau pengembangan, tetapi lebih khusus pada kondisi pengaturan secara sadar dan sengaja terhadap pembelajaran dan pengembangan itu sendiri. Metakognisi terjadi jika ada kesadaran akan aktivitas pikiran kesadaran menjadi sadar (Vygotsky, 1986 dalam Fouche, 2013: 31).

 

Livingston (1997: 1) menyatakan bahwa metakognisi berperan sangat penting dalam mengoptimalkan tujuan pembelajaran. Aspek metakognisi berkaitan dengan kesadaran dan kontrol peserta didik atas pengetahuan, keterampilan, dan strategi diri sendiri sebagaimana upaya peserta didik mencoba menerapkan kegiatan ilmiah.

 

Peserta didik yang memiliki kesadaran metakognisi dapat memilih strategi yang tepat untuk digunakan dan dapat menjelaskan mengapa strategi tersebut dipilih, serta dapat menemukan strategi belajar alternatif jika menjumpai strategi belajar yang digunakan saat ini tidak mampu mendatangkan hasil yang diinginkan (Fouche, 2013: 37).

 

Jadi, seseorang yang memiliki kontrol kesadaran dan abstraksi tentang berbagai aspek pemikiran serta mampu menyesuaikan tindakan yang dipilih untuk proses kognitif (sama halnya aktivitas pikiran) dapat disebut metakognisi.

 

Metakognisi menjadi topik yang menarik untuk diteliti di kalangan para peneliti. Flavell membedakan metakognisi menjadi dua komponen, yaitu metacognitive knowledge (pengetahuan metakognisi); dan metacognitive experiences or regulation (pengalaman atau regulasi metakognisi) (Livingston, 1997: 1). 

 

Pengetahuan metakognisi dapat didefinisikan sebagai proses kognitif diri sendiri (Schraw & Moshman, 1995 dalam Young & Fry, 2008: 1). Adapun regulasi metakognisi dianggap sebagai aktivitas aktual yang digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran dan ingatan (Schraw & Moshman, 1995 dalam Young & Fry, 2008:2).

 

Jadi, pengetahuan metakognisi adalah keyakinan seseorang atas pengetahuan maupun proses kognitif dirinya sendiri, sedangkan regulasi metakognisi mengacu pada pengalaman atau strategi yang digunakan seseorang untuk mengontrol kegiatan belajar.

 

Beberapa penelitian kemudian menguji sejauh mana peran metakognisi dan bagaimana hubungannya dengan ukuran prestasi seseorang. Aktivitas metakognisi terbentuk saat seseorang secara sadar melakukan penyesuaian dan pengelolaan dalam memecahkan masalah dan berorientasi pada suatu tujuan (Santrock, 2007:340).

 

Berkaitan dengan belajar, seseorang akan melakukan kontrol diri maupun refleksi dengan berpikir terhadap apa yang telah dipelajari dan kelanjutannya sehingga metakognisi terlibat dalam kesadaran peserta didik dan penggunaan strategi belajar yang optimal.

 

Jadi, kesadaran metakognisi merupakan kesadaran berpikir yang lebih mendalam dengan memfokuskan diri pada kontrol proses kognitif diri sendiri.

 

Kesadaran metakognisi berfungsi sebagai salah satu alternatif terhadap fokus meningkatkan kemampuan peserta didik saat belajar. 

 

Temuan Ghetti, Castelli, dan Lyons (2010) menyebutkan bahwa metakognisi merupakan cara lain untuk membantu pembelajar memroses informasi yang lebih efektif dengan mendorong peserta didik untuk memeriksa apa yang diketahui dan bagaimana hal tersebut dapat menjadi buah pikiran dalam seseorang (Santrock, 2014:325).

 

Kesadaran metakognisi yang dimiliki seseorang akan senantiasa memonitor dan mengontrol setiap aspek kognisinya serta mengevaluasi berbagai kebutuhan belajarnya guna mencapai tujuan dari belajar itu sendiri.

KIRIM MASUKAN

Tatak Nurandhari
Tatak Nurandhari wuryantoro.com - Blogger Jalanan belajar menulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia. twitter | github | youtube | rss | blogger | rss
Posting Komentar untuk Tulisan Ini.