Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Populisme dan Contohnya

Menurut Mudde dan Kaltwasse, populism atau populisme adalah: "a thin-centered ideology that considers society to beultimately separated into two homogeneous and antagonisticcamps, "the pure people" versus "the corrupt elite," and which argues that politics should be an expression of the volonte generale (general will) of the people."

Ilustrasi Populisme

Atau dalam bahasa Indonesia nya pengertian populisme adalah ideologi tipis yang memisahkan masyarakat menjadi dua kubu, yang satu bersifat homogen, sedangkan yang lain antagonis. Konsep ini mempertentangkan rakyat yang dianggap "suci" melawan elit yang dianggap "korup", dan berpendapat bahwa politik harus menjadi ekspresi dari volonté générale (kehendak umum) dari orang-orang.

Sebagai ideologi yang tipis, populisme berbeda dengan ideologi thick-centered seperti liberalisme, sosialisme, fasisme, dan-lain-lain.

Agenda politik yang dibawa populisme sangat terbatas dan tidak komprehensif. Populisme tidak memiliki idealisasi tentang bagaimana sebuah masyarakat harus diatur.

Pembentukan ide-ide dari populisme sangat terbatas, sehingga hampir selalu terdapat elemen ideologis lain pada populisme. Singkatnya, populisme tidak mampu berdiri sendiri untuk menjelaskan secara komprehensif fenomena politik modern.

Oleh sebab itu, bentuk dari populisme tidak selalu sama. Hal tersebut bergantung pada konsep lain yang akan membentuk ide-ide tertentu untuk menarik karakter masyarakat yang berbeda di setiap wilayah. 

Populisme ada dalam politik nazi di Jerman hingga kontestasi pemilihan Presiden Amerika Serikat. Populisme tidak terkait dengan sayap tertentu. Populisme dapat hadir di kelompok kanan maupun kiri, dalam gerakan konservatif maupun progresif.

Populisme merupakan ideologi yang berdasarkan tiga konsep dasar yaitu:

  1. rakyat yang "suci", melawan
  2. elite yang "kotor",
  3. dan politik yang harus bergerak sesuai kehendak rakyat.

Singkatnya, populisme adalah ideologi yang berorientasi pada kepentingan rakyat. Namun, dalam populisme tidak semua rakyat adalah kawan, dan tidak semua elite adalah musuh.

Rakyat terbagi menjadi dua. Rakyat yang bermoral adalah rakyat yang tergabung dalam kelompok yang sama. Sementara rakyat dari kelompok "lain" telah dimanipulasi atau bahkan merupakan kaki tangan elite yang korup.

Sementara itu, populisme juga percaya bahwa masih terdapat elite yang dapat dipercaya. Elite tersebut yakni sosok/karakter yang memperjuangkan nilai-nilai yang sama dengan yang diyakini oleh rakyat yang bermoral.

Penggambaran rakyat dalam populisme adalah sebagai sebuah komunitas yang homogen. Homogen dapat berarti memiliki karakteristik yang sama dalam ideologi, budaya, kondisi sosio-ekonomi, dan lain-lain. Sehingga, kelompok-kelompok yang berbeda tidak termasuk ke dalam rakyat.

Konsep ini relevan dengan gelombang protes yang terjadi di sebagian besar negara Eropa terkait isu imigran sebagai contohnya. Tidak terkecuali Italia, yang merasa bahwa UE sebagai elite memiliki agenda yang bertentangan dengan kehendak rakyat dalam masalah penanganan krisis imigran.

Selain sebagai sebuah ideologi, pada fenomena politik modern populisme kerap digambarkan sebagai gaya komunikasi aktor politik untuk memenangkan hati "rakyat". Keberpihakan terhadap kedaulatan mayoritas "rakyat" dianggap sebagai sebuah tindakan penentangan terhadap elite yang "korup". Isu-isu yang digunakan oleh aktor populisme luas dan mencakup banyak sektor.

Salah satu elemen dalam gaya komunikasi politik adalah diskursus yang dibangun oleh aktor politik. Oleh karena itu, populisme selalu menekankan pada penggunaan kata rakyat. pemilih, masyarakat, dan sebagainya.

Penekanan kata rakyat menjadi cara untuk meyakinkan bahwa aktor politik membela kepentingan rakyat dan tidak sama dengan kebanyakan “elite yang menindas.

Singkatnya, populisme sebagai gaya komunikasi politik digunakan untuk mengerahkan basis-basis suara bagi aktor politik tertentu.

Hampir di sebagian besar wilayah Eropa, termasuk Italia, populisme banyak digunakan oleh partai-partai baru untuk melawan partai lama (digambarkan sebagai elite) yang berkuasa.

Konsep populisme dapat menjelaskan bagaimana kemudian euroscepticism dapat muncul dan berkembang pasca krisis imigran 2015. Elemen rakyat, elite, dan kehendak rakyat terpenuhi dalam kasus ini. Kemunculan kelompok lain yang dianggap bukan rakyat (imigran), juga menjadi salah satu faktor yang mendorong gelombang populisme di Eropa.

Populisme dan euroscepticism dapat saling berpengaruh satu sama lain. Populisme juga dapat menjelaskan pertentangan antara UE dan aktor-aktor lain dalam narasi krisis imigran. Populisme juga dapat dilihat dari bagaimana partai-partai politik membangun diskursus anti-UE maupun anti-imigran di Italia.

T Nurandhari
T Nurandhari Contoh Surat Lamaran Kerja - Blogger Jalanan belajar menulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia. twitter | github | youtube | rss | blogger | rss

Posting Komentar untuk "Pengertian Populisme dan Contohnya"