Ads Here

Senin, Januari 11, 2021

Pengertian Kecelakaan Pesawat Terbang Menurut Hukum Positif Indonesia

Pengertian Pesawat Terbang

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 yang dimaksud dengan "Pesawat Terbang" adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara, bersayap tetap, dan dapat terbang dengan tenaga sendiri. "Pesawat Udara" adalah setiap mesin atau alat yang dapat terbang di atmosfer karena gaya angkat dari reaksi udara, tetapi bukan karena reaksi udara terhadap permukaan bumi yang digunakan untuk penerbangan. Pesawat terbang adalah salah satu jenis dari pesawat udara, namun segala penyebutan mengenai "Pesawat Udara" ataupun "Pesawat Terbang" adalah memiliki arti yang sama. 


Pengertian Kecelakaan Pesawat Terbang

Kecelakaan adalah suatu peristiwa yang tidak diduga dan juga tidak disengaja yang mengakibatkan korban manusia dan atau kerugian fisik lainnya.

 

 

Ilustrasi Kecelakaan Pesawat

 

Kecelakaan pesawat terbang adalah suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan manusia yang berhubungan dengan pengoperasian pesawat udara yang dapat menimbulkan kerugian baik korban jiwa manusia, kerusakan fisik pesawat maupun fasilitas lainnya. (Abadi Dwi Saputra, Studi Analisis Penyebab Runway Excursion di Indonesia Berdasarkan Data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT)Tahun 2007-2016, Vol. 43 No. 2, Desember 2017: 94). 

 

Menurut Internasional Civil Aviation Organization (ICAO), pengertian kecelakaan pesawat udara sipil (Accident) adalah suatu kejadian yang berhubungan dengan pengoperasian pesawat udara yang terjadi sejak seseorang naik pesawat udara untuk maksud penerbangan sampai suatu waktu ketika semua orang telah meninggalkan (turun dari) atau keluar dari pesawat udara (Abadi Dwi Saputra, Dkk., Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Pilot dan Kecelakaan Pesawat Terbang Dengan Pendekatan Partial Least Square (PLS), Vol. 28 No. 2, Maret-April 2016: 73).

 

Pengertian kecelakaan maupun insiden yang dipakai secara internasional dalam dunia penerbangan mengacu pada definisi yang terdapat dalam Annex-13. Definisi tersebut adalah:

1. Kecelakaan (Accident)

Kecelakaan (accident) adalah kejadian yang diasosiasikan dengan operasi maskapai yang terjadi dalam rentang waktu saat penumpang berada dalam pesawat dengan dimana: 

a. Seseorang secara fatal atau serius terluka sebagai akibat dari:

  • Berada di dalam pesawat
  • Terdapat kontak langsung dengan bagian dari pesawat, termasuk bagian-bagian yang terlepas dari pesawat.
  • Terkena dampak ledakan

Pengecualian adalah apabila hal tersebut disebabkan oleh alam atau pihak lain.

b. Pesawat mengalami kerusakan atau kegagalan struktual yang mempengaruhi kekuatan struktur dan kinerja dan membutuhkan perbaikan atau penggantian komponen.

c. Pesawat hilang atau tidak dapat ditemukan.

2. Insiden (Incident)

Insiden adalah suatu kejadian, selain kecelakaan, yang diasosiasikan dengan operasi pesawat yang dapat mempengaruhi keselamatan operasi. (Dave A. Fikarno, 2009: 21).

 

Menurut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 74 Tahun 2017 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 830 (Civil Aviation Safety Regulation Part 830) tentang Prosedur Investigasi Kecelakaan dan Kejadian Serius Pesawat Udara Sipil, yang dimaksud dengan Accident dan Serious Insident adalah:

1. Accident An occurrence associated with the operation of an aircraft which takes place between the time any person boards the aircraft with the intention of flight until such time as all such peron have disembarked, in which: (Sebuah kejadian yang berhubungan dengan pengoperasian pesawat terbang yang terjadi pada setiap orang telah berada di dalam pesawat yang hendak terbang hingga penumpang turun dari pesawat, antara lain:)

a) A person is fatally or seriously injured as a result of:(Seseorang terluka parah yang disebabkan oleh:) 

  1. Being in the aircraft, or(Berada di dalam pesawat, atau)
  2. Direct contact with any part of the aircraft, including parts which have become detached form the aircraft, or (Kontak langsung dengan bagian pesawat terbang termasuk bagian yang menempel dengan pesawat, atau)
  3. Direct exposure to jet blast (Kontak langsung dengan mesin pesawat terbang). Except when the injuries are from natural causes, self-inflicted or inflicted by other persons, or when the injuries are to stowaways hiding outside the areas normally available to the passengers and crew; or (Kecuali ketika luka terjadi karena penyebab alami, luka yang disebabkan oleh diri sendiri atau orang lain, atau luka yang disebabkan oleh benda asing yang berada di luar area jangkauan penumpang dan kru; atau) 

b) The aircraft sustains damage of structural failure which: (Pesawat mengalami kerusakan struktur, antara lain:)

  1. Adversely affects the structural strength, performance of flight characteristics of the aircraft, and(Berakibat fatal pada kekuatan struktur, kinerja atau ciri terbang pada sebuah pesawat terbang, dan)
  2. Would normally require major repair or replacement of the affected component, except for engine failure or damage, when the damage is limited to the engine, its cowlings or accessories; or for damage limited to propellers, wing tips, antenans, brakes, fairings, small dents or puncture holes in the aircraft skin; or (Biasanya akan membutuhkan banyak perbaikan atau penggantian pada komponen yang terkena dampak, kecuali untuk kegagalan atau kerusakan mesin, ketika kerusakan terjadi pada mesin, cowling atau perlengkapan mesin; atau untuk kerusakan terjadi pada baling-baling; ujung sayap; antena; rem; fairings; adanya lubang atau penyok pada dinding pesawat; atau)

c)The aircraft is missing or is cempletely inaccessible. (Pesawat udara hilang atau tidak dapat diakses.)

2.Serious Insident An circumstances indicating that there was a high probability of an accident and associated with the operation of an aircraft. (Sebuah keadaan yang menunjukkan adanya kemungkinan besar terjadinya kecelakaan dan berhubungan dengan pengoperasian sebuah pesawat terbang.) List of examples of Serious Incident: (Contoh insiden serius, adalah:)

  1. Near collisons requiring an avoidance maneuver to avoid a collision or an unsafe situation or when an avoidance action would have been appropriate. (Near collisons membutuhkan sebuah manuver untuk menghindari tabrakan atau situasi yang tidak aman atau ketika tindakan penghindaran sudah tepat.)
  2. Collisions not classified as accidents.(Collisions tidak diklasifikasikan sebagai kecelakaan.)
  3. Controled flight into terrain only marginally avoided.(Controled flight into terrain hanya ketika pesawat dapat menghindar.)
  4. Aborted take-offs on a closed or engaged runway, on a taxiway (excluding authorized operation by helicopter) or unassigned runway.(Aborted take-offs pada landasan pesawat yang sedang dipakai atau ditutup, di taxiway (kecuali pengoperasian resmi helikopter) atau landasan yang tidak dioperasikan.)
  5. Take-offs form a closed or engaged runway, from a taxiway (excluding authorized operation by helicopter) or unassigned runway.(Take-offs dari landasan, yang ditutup atau sedang dipakai, dari taxiway (kecuali pengoperasian resmi helikopter) atau landasan yang tidak dioperasikan.)
  6. Landings or attempted landings on a closed or engaged runway, on a taxiway (excluding authorized operation by helicopter) or unassigned runway.(Pendaratan atau percobaan pendaratan pada landasan yang ditutup atau sedang dipakai, di taxiway (kecuali pengoperasian resmi helikopter) atau landasan yang tidak dioperasikan.)
  7. Gross failures to achieve predicted performance during take-off or initial climb.(Kegagalan pada pengangkutan beban untuk mencapai kinerja yang diprediksi pada saat lepas landas atau initial climb.)
  8. Fires and/or smoke in the cockpit, in the passenger compartment, in cargo compartments or engine fires, even though such fires were extinguished by the use of extinguishing agents.(Api dan/atau asap di dalam kokpit, di dalam kompartemen penumpang, di dalam kompartemen kargo atau mesing yang terbakar, walaupun api dapat dipadamkan dengan menggunakan alat pemadam.)
  9. Events requiring the emergency use of oxygent by the flight crew.(kejadian yang membutuhkan penggunaan oksigen darurat oleh kru pesawat.)
  10. Aircraft structural failures of engine disintegrations, including uncontained turbine engine failure, not classified as an accident.(kegagalan struktur pesawat atau kerusakan mesing termasuk kegagalan mesin turbin, tidak termasuk sebagai kecelakaan.)
  11. Multiple malfunctions of one or more aircraft systems seriously affecting the operation of the aircraft.(Tidak berfungsinya satu atau banyak sistem pesawat yang dapat berakibat serius pada pengoperasian pesawat udara
  12. Flight crew incapacitation in flight.(ketidakcakapan kru saat penerbangan.)
  13. Fuel quantity level or distribution situations requiring the declaration of an emergency by the pilot, such as insufficient fuel, fuel exhaustion, fuel starvation,or inability to use all usable fuel on board.(situasi yang terjadi karena jumlah atau pendistribusian bahan bakar yang membutuhkan adanya pernyataan darurat oleh pilot, seperti kekurangan bahan bakar, kehabisan bahan bakar atau bahan bakar tidak dapat digunakan sepenuhnya selama penerbangan.)
  14. Runway incursion classified with severity A. The ICAO Documen 9870: Manual on The Prevention of Runway Incursions Contains Information on The Severity Classifications.(Runway incursionyang termasuk kategoriA. The ICAO Document 9870: Manual on The Prevention of Runway Incursions Contains Information on The Severity Classifications.)
  15. Take-off or landing incident, incident such as under-shooting, overrunning or running off the side of runways.(Insiden saat lepas landang atau mendarat, insiden seperti under-shooting, overrunning atau pesawat keluar dari landasan.)
  16. System failures, weather phenomena, operations outside the approved flight envelope or other occurrences which caused or cloud have caused difficulties controlling the aircraft.(Kegagalan sistem, fenomena cuaca, pengoperasian penerbangan diluar persetujuan atau kejadian lainnya yang disebabkan atau dapat menyebabkan pesawat susah untuk dikendalikan.)
  17. Failures of more than one system in a redundancy system mandatory for flight guidance and navigation.(kegagalan dari satu atau lebih sistem dalam sistem wajib untuk panduan dan navigasi penerbangan.)
  18. The unintentional or, as an emergency measure, the intentional release of a slung load or any other load carried external to the aircraft.(ketidaksengajaan atau sebagai pertimbangan darurat, kesengajaan perizinan membawa beban yang tergantung atau beban bawaan di luar pesawat udara.)

 

Terdapat delapan belas jumlah pasal dalam BAB XXIX A Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang mengatur ketentuan pidana di bidang penerbangan yang dimulai dari Pasal 479 a hingga Pasal 479 r. Pasal 479 g KUHP menyebutkan "Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan pesawat udara celaka, hancur, tidak dapat dipakai atau rusak, dipidana."

Dalam Pasal 479 g di atas terdapat kata "karena kealpaannya" yang menjadi salah satu unsur dalam pasal tersebut. Hal ini menunjukan bahwa dalam BAB XXIX A KUHP tidak hanya terdapat unsur kesengajaan (dolus) melainkan ada pula unsur kealpaan (culpa) sebagai unsur subjektif dari tindak pidana.

Referensi

AI. Morgan, 2019, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi (Maskapai Penerbangan Sipil) Terhadap.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar