Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting


(Tema gelap kini tersedia)
    
Aktifkan agar pengalaman membaca menjadi lebih nyaman
    

Seni Tari : Elemen dan Unsur-Unsur Tari

Maryono (2015:52) mengatakan bahwa elemen-elemen atau unsur-unsur tari antara lain, tema, gerak tubuh, polatan, pola lantai, rias, busana, iringan, dan panggung. Adapun maksud dari elemen dan unsur-unsur seni tari adalah sebagai berikut:

Tema Tari

Tema dalam tari merupakan rujukan cerita yang dapat mengantarkan seseorang pada pemahaman esensi. Tema dapat ditarik dari sebuah peristiwa atau cerita, yang selanjutnya dijabarkan menjadi alur cerita sebagai kerangka sebuah garapan. Dengan demikian tema dalam tari merupakan makna inti yang diekpresikan lewat problematika figur atau tokoh yang didukung peran-peran yang kompeten dalam sebuah pertunjukan.
 
Unsur Tari
Menurut Maryono (2015:53) jenis tema yang berkembang dalam kehidupan diantaranya tema kepahlawanan, kesetiaan, kesatuan, kebersamaan, kegotong-royongan, keharmonisan, dan kebahagiaan contohnya dalam bentuk drama tari, pertunjukan di Kraton contohnya tema percintaan, dan keprajuritan. Jenis tari yang dalam pertunjukan banyak bersumber dari Ramayana, Mahabarata, babat, mitos, legenda, dan sejarah.

Gerak Tubuh Pada Seni Tari

Gerak tubuh merupakan sarana untuk mengekpresikan maksud seseorang yang dirasa tidak mungkin untuk dilakukan dengan aspek komunikasi non verbal.
 
Jazuli (2016:42), menyatakan gerak ditinjau dari penggunaan tenaga (penyebab gerak) mencakup intensitas, aksen atau tekanan, dan kualitas.
 
Intensitas adalah banyak sedikitnya tenaga yang digunakan dalam sebuah gerak.
 
Aksen atau tekanan adalah bagian-bagian atau titik gerakan yang terjadi karena pengguna tenaga yang tidak rata, artinya gerakan yang menggunakan sedikit ada pula yang banyak.
 
Kualitas gerakan dapat dibedakan bersifat ringan atau berat, lepas atau berbatas jelas, serba menghentak cepat, langsung atau tidak langsung menuju akhir frase gerak. Di dalam semua gerak terdapat faktor ekpresi, karena dilakukan dalam rangka mendukung pengungkapan rasa, keinginan dan pikiran (Widyastutiningrum S.R, 2014:36).

Gerak yang ekpresi dan ekpresi gerak menyangkut faktor psikologi yang bersifat anatomis tubuh. Gerak berdasarkan cara penyajiannya adalah representatif dan non representatif. 

Gerak Representatif

Gerak yang representatif adalah gerak yang diperoleh atas dasar meniru (imitative) dari objek tertentu sehingga gerakan yang dipresentasikan memiliki kemiripan dengan objek yang ditiru. Gerak yang imitative termasuk termasuk gerak maknawi (gesture). Gerak representatif dikatakan bahwa tarian yang representatif lebih ditujukan kepada intelektual, pemikiran, serta cenderung realistis dan deskriptif. Contoh tari refresentatif yaitu Kuda Kepang/jaranan, Ketek Ogleng, Reog, Burisrowo dan Kubrasiswa.

Gerak Non Representatif

Gerak non representatif adalah gerak yang tidak menggambarkan suatu apapun dan bergantung kepada kemampuan tubuh dalam menerjemahkan dalam mengelola pola ruang dan waktu, gerak ini termasuk gerak murni. Tarian yang non representatif adalah lebih mengarah kepada nilai rasa dan pengembangan imajinasi dan bukan ditujukan kepada pengetahuan tentang masalah yang akan diungkapkan.
 
Namun demikian gerak dalam tari adalah berbeda dengan gerak maknawi sehari-hari, gerak tari telah mengalami stilisasi (diolah, diubah, digayakan) dari yang wantah diubah menjadi bentuk seni bersifat simbolis dari abstrak. Dengan gerakan abstrak dan simbolis penghayat tari dapat mengalami ilusi-suatu pengalaman yang sangat pribadi. Contoh tari non representatif adalah Kukilo, Merak, Pemburu Kidang, Wanara, Lutung, Kupu-kupu, Jago, Jatayu, tarian yang tema keprajuritan adalah Prawiroguno, watang, Lawung, Bandayuda, Bandabaya, Tameng Sebala.

Gerak berdasarkan jenisnya antara lain gerak maknawi dan gerak murni, gerak maknawi adalah gerak wantah yang memiliki maksud tertentu berdasarkan objek yang ditiru dan atau tujuan yang diharapkan. Gerak murni adalah gerak yang tidak memiliki maksud tertentu karena semata-mata untuk kepentingan keindahan gerak tarinya.

Polatan Tari

Polatan atau ekpresi adalah pengungkapan sesuatu dari diri manusia seperti tindakan mengamuk, ketika seseorang sedang marah, memeluk ketika seseorang sedang dialiri rasa cinta kepada lawan jenis. Ekpresi sebagai ungkapan dengan menggunakananalog sebagai pembanding sekaligus untuk menjelaskan istilah tari dalam kebutuhan seni tari.

Wahyudiyanto, (2009:22) menyatakan ekpresi adalah proses kreatif seniman dalam mewujudkan idea bentuk estetik imajiner yang terangkai rasa insan yang komplek kedalam bentuk karya tari garap gerak manusia dan medium pendamping yang penuh dengan nilai-nilai insaniah dialirkan setiap gerak yang membentuk ruas-ruas gerak.
 
Ruas-ruas gerak diteruskan menuju frase-frase gerak disusun dalam komposisi terstruktur mempertimbangkan desain dramatik. Komposisi gerak yang ritmis yang berasa dalam struktur dramatik itulah ekpresi memancar dalam tari, maka sebenarnya tari merupakan pancaran ide tematik dalam garap medium gerak yang dapat dirasakan oleh penghayat ketika sedang dalam proses tari.

Pola Lantai pada Seni Tari

Pola lantai adalah garis-garis yang dilalui atau dibuat oleh penari, bisa berupa garis lurus ataupun garis lengkung, dari kedua garis itu dapat dibuat berbagai macam bentuk garis dalam area pentas, seperti zig-zag, diagonal/ngiris tempe, lingkaran, lengkung (Jazuli, 2016:58).
 
Pola lantai merupakan garis yang dibentuk dari gerak tubuh seseorang penari yang terlintas pada lantai. Garis-garis yang dibentuk penari tersebut merupakan garis imajiner yang hanya dapat ditangkap dengan kepekaan rasa. Wujudnya bersifat ilusi atau bayangan yang tampak menyatu luluh komplementer dengan arah gerak tubuh.

Menurut Maryono (2015:58) pola lantai adalah salah satu unsur yang memberikan kontribusi penting dalam aktualisasi visual, pola lantai yang merupakan garis yang dibentuk dari gerak tubuh penari yang terlintas pada lantai atau pertunjukan merupakan garis imajiner yang dapat ditangkap dengan kepekaan rasa. Baik dalam garapan tari kelompok maupun garapan tunggal pola lantai yang diperlukan. Terlebih lagi pada tari kelompok hingga berbentuk kolosal, pola lantai menjadi sangat penting agar perpindahan antar kelompok penari menjadi tertata rapi, jelas, dan memberikan kesan teatrikal yang mantap.

Bentuk pola lantai pertunjukan tari pada prinsipnya terdiri dari 2 jenis yaitu : semetris atau seimbang dan asemetris. 
 
Pola lantai simetris dan asimetris merupakan bentuk pola lantai yang dipengaruhi jumlah penari dan bentuk garis yang dibuat penari. 
 
Kedudukan pola lantai akan menjadi kuat ataupun memiliki kelemahan juga tidak terlepas dari desain yang diakibatkan atau dibentuk dari gerak penari.
 
Desain gerak dibagi menjadi tiga macam yaitu:
  1. desain bawah dibentuk dari gerak-gerak penari dari posisi jengkeng, duduk atau silantaya, hingga posisi tidur atau melantai, 
  2. desain tengah dibentuk dari gerak-gerak penari pada posisi dasar adheg penari. Pada tari Jawa dibentuk dari gerak-gerak pada posisi selevel tanjak, 
  3. level atas dibentuk dari gerak-gerak penari berdiri hingga bentuk loncat dan onclangan serta permainan sampur dan properti seperti pedang, tombak, watang, dan panah.

RiasTari

Tata rias bagi seorang penari merupakan hal yang sangat penting, peka dihadapan penonton, karena penonton biasanya sebelum menikmati tarian selalu memperhatikan wajah penarinya, baik untuk mengetahui tokoh/peran yang sedang dibawakan maupun untuk mengetahui siapa penarinya. Misalnya apakah penarinya cantik, mencerminkan karakter peran yang sedang ditampilkan.
 
Suharji (2015:80) mengatakan bahwa fungsi tari tata riasnya adalah untuk mengubah karakter pribadi menjadi karakter tokoh yang dibawakan untuk memperkuat ekspresi dan untuk menambah daya tarik penampilannya.

Maryono (2015:61) rias dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu: 

Rias formal

Rias formal merupakan rias yang digunakan untuk kepentingan-kepentingan yang terkait dengan urusan publik. Bentuk rias formal banyak digunakan untuk acara-acara resepsi, perkantoran, dan rapat-rapat dinas maupun nondinas. 

Rias informal

Rias informal adalah rias yang rias yang difungsikan untuk urusan domestik. Jenis-jenis rias informal secara visual tampak sederhana dan tidak mencolok. Penggunaan rias informal banyak dijumpai dan digunakan ibu-ibu dirumah. 

Rias peran

Rias peran adalah bentuk rias yang digunakan untuk penyajian pertunjukan sebagai tuntutan ekpresi peran.

Prinsip dasar merias dalam pertunjukan tari adalah untuk mengubah wajah pribadi dengan alat-alat kosmetik yang disesuaikan dengan karakter figur atau peran sesuai supaya tampil ekpresif.
 
Haryono, S (2010:185) menyatakan bahwa alat rias yang dipergunakan antara lain: foundation, eye-shadow, pencil alis, blus-on, bedak tabur, bedak padat, lipstick, cleansing/pembersih. Pada intinya bentuk rias peran lebih dikonsentrasikan untuk penjiwaan figur/tokoh/peran secara total dalam seni pertunjukan supaya penampilannya ekpresif dan berkarakter.

Busana Seni Tari

Tata busana tari, semula pakaian yang dikenakan oleh para penari adalah pakaian sehari-hari. Dalam perkembangannya, pakaian tari disesuaikan dengan kebutuhan tarinya. Fungsi busana tari adalah untuk mendukung tema tari atau isi tari, untuk memperjelas peran-peran dalam sajian tari. Busana tari yang baik bukan hanya sekedar untuk menutup tubuh semata, melainkan juga harus dapat mendukung desain ruang pada saat penari sedang menari.

Maryono (2015:63) menyatakan bahwa bentuk atau mode busana dalam pertunjukan tari dapat mengarahkan penonton pada pemahaman beragam jenis peran atau jenis figur tokoh. Busana selain mempunyai bentuk dan mode juga memiliki warna yang sangat bermakna sebagai simbol-simbol dalam pertunjukan.
 
Jenis-jenis simbolis bentuk dan warna busana para penari dimaksudkan mempunyai peranan sebagai:
  • identitas peran
  • karakteristik peran
  • ekpresi estetis
Menyikapi beragamnya jenis tari dan tampilan tokoh atau peran tari dalam entitas identitas peran. Warna-warna dasar dalam seni pertunjukan mempunyai makna simbolis yang dapat mengarahkan pada pemahaman karakteristik peran atau figur tokoh. 
 
Jenis warna-warna dasar tersebut diantaranya: hitam, putih, merah, kuning dan hijau.
 
Putih merupakan warna yang memiliki kesan suci, setia dan aksentuasi yang berhubungan dengan kehidupan nirwana, untuk peran para pendeta, para dewa, dan para senopati. 
 
Warna merah lebih memberikan kesan berani, agresif, dan dinamis yang banyak diperuntukkan tokoh-tokoh antara lain raja-raja sombong, raksasa, adipati anom atau kesatria, peran putri yang berjiwa dinamis.
 
Warna kuning sering digunakan dalam pertunjukan tari adalah warna kuning keemasan dan kuning kunyit tua yang memiliki kesan glamour, mewah, keagungan, kejayaan dan bijaksana. Untuk warna kuning kunyit merupakan penggambaran suasana magis dan pilihan tepat untuk busana yang terlibat. Warna kuning keemasan untuk peran raja, dewa dan pendeta.
 
Warna hijau memiliki kesan segar, muda, tumbuh dan hidup. Warna busana hijau dalam pertunjukan tari banyak dipakai untuk peran putri-putri raja, tarian Gambyong, tarian Golek, dan tarian anak-anak.

Iringan Musik Tari

Musik merupakan salah satu cabang seni yang memiliki unsur-unsur baku yang mendasar yaitu nada, ritme, dan melodi. Dalam pertunjukannya tari hampir tidak pernah terlepas dengan kehadiran musik, keberhasilan pertunjukan tari sangat ditentukan unsur medium bantunya yakni musik yang berfungsi sebagai iringan.
 
Musik dalam tari memberikan kontribusi kekuatan rasa yang secara komplementer menyatu dengan ekpresi tari sehingga membentuk suatu ungkapan seni atau ungkapan estetis. Wujud kristalisasi tari dan musik adalah untuk mencapai harmonisasi penyajian dalam rangka menghasilkan keutuhan pertunjukan.

Pertunjukan tari-tarian tradisional musik memegang peranan yang sangat penting yakni sebagai penunjuk isi, ilustrasi, membungkus dan menyatu. Musik sebagai ilustrasi dimaksudkan dukungan gending dalam pertunjukan tari lebih berfungsi untuk memberikan ilustrasi sebagai penggambaran kondisi suasana yang sedang berlangsung.
 
Bentuk iringan tari menurut Trustho (2005:47) dapat dikategorikan menjadi dua jenis yaitu:
  1. Iringan normatif adalah lebih mengarah pada konstantisasi ukuran dalam perjalanan sebuah irama gerak dan iringan dalam satu presentasi estetis, yang mengindikasikan kepada keteraturan hubungan antara tari dan iringan 
  2. Iringan ilustratif sebagai musik latar belakang dapat dikatakan ilustrasi

Panggung Seni Tari

Panggung atau tata pentas suatu pertunjukan tata pentas apapun bentuknya selalu memerlukan tempat atau ruangan guna menyelenggarakan tempat pertunjukan itu sendiri. Seperti arena terbuka, pendapa, pemanggungan. 
 
Maryono (2015:67) panggung merupakan tempat atau lokasi yang digunakan untuk menyajikan suatu tarian. Keberadaan panggung mutlak diperlukan, karena tanpa panggung penari tidak bisa menari yang berarti tidak akan dapat diselenggarakan pertunjukan tari.
 
Jenis-jenis panggung yang digunakan dalam pertunjukan tari terdiri dari dari dua bentuk panggung yaitu tertutup dan terbuka. 
 
Panggung tertutup diantaranya: 
  • Proscenium(untuk dramatari, tari kelompok, tarian pasangan, dan tarian tunggal), 
  • Pendapa,
  • Panggung keliling
Penggung terbuka berbentuk:
  • Halaman yang sifatnya alami tepat untuk pertunjukan jenis-jenis tari rakyat, 
  • Lapangan untuk jenis-jenis garapan tari yang bersifat kolosal, 
  • Jalan untuk pertunjukan jenis-jenis tari yang sifatnya karnaval atau berjalan tepat untuk pertunjukan tari kerakyatan garapan massal.

Referensi : 

KIRIM MASUKAN

T Nurandhari
T Nurandhari wuryantoro.com - Blogger Jalanan belajar menulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia. twitter | github | youtube | rss | blogger | rss
Posting Komentar untuk Tulisan Ini.