Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting


(Tema gelap kini tersedia)
    
Aktifkan agar pengalaman membaca menjadi lebih nyaman
    

ShopAholic : Dampak Negatif (Buruk), Cara Mengatasi Shopaholic

Segala aktivitas yang dilakukan manusia pasti memiliki dampak bagi dirinya maupun lingkungan dan orang disekitar mereka, baik itu dampak positif maupun dampak negatif yang ditimbulkan. Termasuk pemilihan gaya hidup pasti akan ada dampak dari gaya hidup tersebut. 
 
 

Dampak Negatif Shopaholic

Menurut Indari Mastuti dalam Bunga Mardhotillah (dalam Resstiani, 2010) ada beberapa dampak buruk dari sikap gaya hidup shopaholic, dalam memenuhi sikap gaya hidup shopaholic beberapa individu akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan barang yang ia incar antara lain mencuri, meminta paksa terhadap orang tua, sehingga menimbulkan perasaan berdosa dan kekecewaan pada orang tua.
 
shopaholic
Banyak jalan keluar bagi individu untuk memenuhi sikap gaya hidup shopaholic yang berdampak buruk bagi dirinya sendiri, contohnya meminjam dari teman, sehingga individu tersebut harus berpikir lagi untuk mengembalikan uang tersebut. Individu tersebut pun tidak memiliki tujuan hidup yang positif karena mereka sudah memiliki pola pikir hanya untuk memenuhi keinginan jangka pendeknya. Individu terus berpikir bagaimana bisa memenuhi keinginannya tersebut tanpa berpikir ia memang benar-benar mampu membeli barang tersebut atau tidak, karena kebanyakan hanya memaksakan untuk memenuhi keinginannya tanpa mempedulikan kapasitas ekonominya.
 
Dampak dari shopaholic memang sangat merugikan bagi kehidupan seseorang bahkan dapat mengancam keselamatan dirinya sendiri dan orang lain apabila tidak segera ditangani sejak dini. Sedangkan menurut Anugrahati (2014) menjelaskan dampak negatif sikap gaya hidup shopaholic sebagai berikut: 
 
  1. Sikap Konsumtif, merupakan sikap mengkonsumsi atau membeli barang sesuai dengan keinginannya tanpa memperhatikan kegunaan barang tersebut didalam kehidupannya. Sikap konsumtif terjadi karena masyarakat mempunyai kecenderungan materialistik, keinginan yang besar untuk memiliki sesuatu tanpa memperhatikan kegunaannya dalam kehidupan dan sebagian besar pembelian hanya berdasarkan keinginan atau hasrat untuk memenuhi kesenangan semata.
  2. Boros, memberikan dampak negatif yang boros bagi para individu yang memiliki sikap gaya hidup shopaholic. Pengeluaran individu dalam berbelanja atau melakukan transaksi dalam kehidupannya merupakan salah satu contoh individu memiliki sikap boros. Sehingga banyak diantara individu yang mendapatkan kendala ekonomi akibat sikapnya tersebut. Individu dengan sikap gaya hidup shopaholic kurang memperhatikan tabungan atau mengelola uang yang mereka miliki, hal ini disebabkan oleh pola pikir untuk kepuasan dirinya semata. Individu dengan sikap gaya hidup shopaholic dapat mendapatkan masalah ekonomi berupa hutang jika mereka terus-menerus mewujudkan obsesinya dengan berbelanja tanpa memperhatikan kondisi ekonominya.
  3. Candu, dampak negatif yang lain adalah membuat individu menjadi candu. Sikap candu yang ada pada individu terhadap sikap gaya hidup shopaholic dapat dilihat dari individu merasa nyaman dan percaya diri jika memakai barang-barang mewah dan barang-barang keluaran terbaru jika tampil didepan umum. Kebiasaan ini semakin bertambah seiring pertumbuhan kemajuan teknologi yang mempermudah individu untuk berbelanja. Alhasil banyak Individu yang menjadi pecandu belanja bahkan mampu melakukan atau menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya tersebut. Mereka akan merasakan rasa puas setelah individu mendapatkan apa yang diinginkannya. Ketika individu tersebut mendapatkan barang yang mereka incar mereka akan mendapatkan rasa puas.
 
Terkait dengan penjelasan para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa sikap gaya hidup shopaholic yang dilakukan oleh individu memiliki dampak negatif bagi diri individu tersebut. Dampak negatif dapat meliputi kebiasaan buruk bagi individu dan juga dampak negatif tentang bagaimana memenuhi sikap gaya hidup shopaholic. Ketika individu yang sudah memiliki sikap gaya hidup shopaholic biasanya akan menghalalkan segala cara untuk memenuhinya, apalagi jika individu tersebut tidak memiliki kemampuan financial yang cukup. 
 

Cara Mengatasi Gaya Hidup Shopaholic

Shopaholic merupakan salah satu gaya hidup yang dapat mengganggu tugas perkembangan individu, baik dari kehidupan bersosial ataupun kehidupan pribadinya dalam mencapai tujuan hidupnya. Untuk itu perlu solusi untuk mengurangi sikap gaya hidup shopaholic agar individu dapat menjalankan tugas perkembangannya tanpa suatu halangan.
 
Menurut Hartati (2011) cara mengurangi sikap gaya hidup shopaholic dapat dilakukan menggunakan konseling kelompok, dijelaskan bahwa konseling kelompok berhasil mengurangi sikap gaya hidup shopaholic, sebelum dilakukan konseling kelompok presentase peserta didik yang memiliki sikap gaya hidup shopaholic menunjukan angka 66,04% merupakan kriteria tinggi, sedangkan setelah diadakannya konseling kelompok presentase peserta didik yang memiliki sikap gaya hidup shopaholic menunjukan angka 48,49% merupakan kriteria rendah.

Menurut Yunas (2012) meneliti sikap gaya hidup shopaholic dikarenakan kondisi di lapangan menunjukan gejala-gejala sikap gaya hidup shopaholic yang sangat tinggi. Tujuan dari penelitiannya adalah mengetahui gambaran-gambaran tentang sikap gaya hidup shopaholic dan mengetahui upaya mengatasi sikap gaya hidup shopaholic yang sangat tinggi menggunakan teknik konseling behavior contract. Setelah dilakukan konseling behavior contract menunjukan bahwa sikap gaya hidup shopaholic yang tadinya tinggi setelah diberikan layanan konseling behavior contract masalahnya dapat teratasi dan sikap gaya hidup shopaholic menurun.

Self management merupakan suatu proses terapi dimana konseling mengarahkan perubahan sikap mereka sendiri dengan satu atau lebih strategi terapi secara kombinatif. Jadi ketika orang yang memiliki sikap gaya hidup shopaholic yang diakibatkan individu tidak dapat mengontrol keinginan untuk berbelanja, diharapkan melalui teknik self management individu mampu mengarahkan apa yang menjadi keinginannya sesuai dengan kemampuan dirinya sehingga individu dapat benar-benar paham dan memiliki tujuan yang mereka pilih sendiri. 

 

KIRIM MASUKAN

T Nurandhari
T Nurandhari wuryantoro.com - Blogger Jalanan belajar menulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia. twitter | github | youtube | rss | blogger | rss

Posting Komentar untuk Tulisan Ini.