Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting


(Tema gelap kini tersedia)
    
Aktifkan agar pengalaman membaca menjadi lebih nyaman
    

ShopAholic : Pengertian, Jenis-Jenis, Faktor-Faktor Penyebab Gaya Hidup Shopaholic

Gaya hidup Shopaholic dapat menimbulkan kerugian baik bagi diri kita sendiri maupun lingkungannya, lingkungan keluarga merupakan tempat bagi kita memiliki banyak waktu untuk melakukan interaksi sosial. Keluarga merupakan lingkungan terdekat seharusnya dapat mengontrol anak-anak kita dengan memberikan hanya sesuai dengan kebutuhannya dan memberikan kasih sayang yang cukup kepada anaknya. Sehingga bukan semata-mata karena gaya hidup itu dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerjasama dengan teman, bersikap seenaknya sendiri bahkan sampai melakukan tindakan kriminal yaitu mencuri. 
 

Pengertian Gaya Hidup Shopaholic

Pengertian Gaya Hidup

Menurut Minor dan Mowen (dalam Ramdhani,2011) gaya hidup adalah menunjukkan bagaimana orang hidup, bagaimana membelanjakan uangnya, dan bagaimana mengalokasikan waktu. Gaya hidup adalah pola kebiasaan sehari-hari yang biasa individu lakukan. Selain itu, gaya hidup menurut Suratno dan Rismiati (dalam Ramdhani 2011) adalah pola hidup seseorang dalam dunia kehidupan sehari-hari yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapat yang bersangkutan.

Pengertian Gaya Hidup Shopaholic

Gaya hidup sangat berkaitan dengan perkembangan zaman dan teknologi, ketika zaman berkembang dan semakin canggihnya teknologi maka semakin berkembang luas pula penerapan gaya hidup. Salah satu gaya hidup yang berkembang dan mempengaruhi kehidupan di masyarakat adalah gaya hidup shopaholic. 


Shopaholic berasal dari kata shop yang artinya belanja dan aholic yang artinya suatu ketergantungan yang disadari maupun tidak. Shopaholic adalah seseorang yang tidak mampu menahan keinginannya untuk berbelanja sehingga menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk berbelanja yang mereka inginkan meskipun barang-barang yang dibelinya tidak selalu ia butuhkan (Oxford Expans dalam Resstiani, 2010).  

Menurut Anugrahati (2014) shopaholic adalah seseorangyang memiliki pola belanja berlebihan yang dilakukan terus menerus dengan menghabiskan begitu banyak cara, waktu, dan uang hanya untuk membeli atau mendapatkan barang-barang yang diinginkan tetapi tidak terlalu dibutuhkan oleh dirinya.


Seseorang dalam membeli suatu produk bukan lagi untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi juga keinginan untuk memuaskan kesenangan. Hal tersebut yang mendorong seseorang untuk membeli barang yang tidak ia butuhkan. Hal tersebut yang mendorong seseorang dalam membeli barang bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan melainkan untuk memuaskan keinginan atau obsesinya saja. Keputusan pembelian didorong oleh faktor emosi yang menyebabkan seseorang tidak terkontrol dalam membeli produk. Hal ini dapat dibuktikan dengan pembelian produk yang bukan kebutuhan pokok dan menimbulkan pemborosan.

Menurut paparan diatas dapat disimpulkan bahwa sikap gaya hidup shopaholic adalah pola hidup seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, minat dan opininya, yang menggambarkan keseluruhan diri seseorang yang berinteraksi dengan lingkungannya yang ditandai dengan keinginan untuk membelanjakan uangnya tanpa memikirkan dampaknya,kebutuhan lainnya yang benar-benar ia butuhkan,kehidupan yang mewah, selalu ingin membeli jika ada potongan harga, memiliki keinginan akan sesuatu hal yang dapat memberikan kenyamanan fisik dan kepusan akan dirinya serta adanya pola hidup manusia yang dikendalikan dan didorong oleh semua keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan semata-mata tanpa memikirkan apa yang sebenarnya ia butuhkan.

Jenis-Jenis Gaya Hidup Shopaholic

Terdapat beberapa jenis sikap gaya hidup shopaholic yang ada pada lingkungan sosial, lingkungan keluarga mapun lingkungan sekolah. Amelia Masniari (dalam Resstiani, 2010) menyebutkan sembilan jenis individu yang memiliki sikap gaya hidup shopaholic, antara lain :

Shopaholic yang fanatik pada merk tertentu

Fanatik terhadap merk tertentu menjadikan individu selalu membeli barang dengan merk tertentu agar mereka terlihat keren didepan teman-temannya bahkan hanya sekedar agar disanjung oleh teman-teman mereka, contoh individu yang memiliki sikap gaya hidup shopaholic adalah kolektor barang yang mengoleksi banyak barang hanya untuk pajangan. 

Shopaholic yang memakai barangnya hanya 1-3 kali pakai.

Gaya hidup shopaholic rasa bosan atau gengsi, rasa bosan dan gengsi juga menyebabkan individu memiliki gaya hidup dengan ia akan memakai barangnya hanya 1-3 kali pemakaian selepas itu akan timbul rasa bosan dan gengsi untuk memakainya lagi, jenis sikap gaya hidup shopaholic ini biasanya dilakukan oleh orang kaya ataupun artis yang sangat menjaga penampilan mereka sehingga akan terus membeli agar penampilan terjaga.

Shopaholic yang selalu membeli berdasarkan perkembangan tren

Mereka juga sangat memerhatikan tren yang sedang populer saat ini agar tidak ketinggalan zaman, sehingga mereka memaksakan untuk membeli dengan mengesampingkan kebutuhan lainnya dan harus memiliki apapun yang menjadi tren masa kini.

Shopaholic yang selektif dalam soal kualitas

Walaupun berharga mahal apabila kualitasnya bagus maka ia akan langsung membelinya tanpa berpikir panjang lagi. Mereka akan membeli agar keinginannya tersebut terpenuhi. Kualitas barang merupakan hal yang sangat diperhatikan dalam membeli suatu barang, sehingga mendorong individu untuk membeli barang tersebut. Karena kualitas merupakan hal yang pentingdalam mejaga penampilan, danpenampilan merupakan lambang strata seseorang, penampilan sangat dijaga dengan melihat dari segi kualitas.

Shopaholic yang menunjukkan gejala impulsif di tempat

Tidak berniat membeli apapun saat di rumah, namun saat datang ke tempat berbelanja ia menjadi sangat mudah tergoda dan akhirnya membeli apapun yang dirasa olehnya bagus

Shopaholic yang senada

Apapun yang dipakai harus senada dari segi warna, bentuk dan lainnya. Apabila ia ingin memakai satu barang dan tidak memiliki aksesoris dengan warna yang sama, maka ia akan langsung membeli yang baru. 

Shopaholic yang senang membeli semua warna

Apabila saat berbelanja ia senang dengan satu jenis barang, maka semua varian warna dari barang tersebut akan dibeli juga. warna dari apa yang dikenakan sehingga individu dilihat menarik dan menunjukan kelas sosial yang ada pada dirinya. Karena kelas sosial pada beberapa individu sangat dijaga agar mereka terlihat lebih menarik dibandingkan orang disekitar mereka

Shopaholic yang mudah terayu oleh bujukan

Iklan merupakan sarana utuk mempromosikan produk dimana kebanyakan pada iklan bertujuan untuk menarik yang melihatnya agar membeli atau mengkonsumsi produk tersebut ini yang menyebabkan individu banyak tergiur dan akhirnya membeli produk tersebut. Apabila teman atau pelayan toko melebih-lebihkan suatu barang maka ia akan langsung membeli tanpa berpikir panjang lagi. 

Shopaholic yang pantang untuk kalah dari orang lain

Apapun yang dimiliki orang lain, maka ia juga harus memilikinya. Bahkan harus memilikinya terlebih dahulu sebelum orang lain. Individu dilihat menarik dan menunjukan kelas sosial yang ada pada dirinya. Karena kelas sosial pada beberapa individu sangat dijaga agar mereka terlihat lebih menarik dibandingkan orang disekitar mereka atau dengan kata lain tidak mau kalah dengan orang yang ada disekitarnya

Shopaholic

Ada berbagai macam jenis sikap gaya hidup shopaholic yang ada dalam kehidupan sehari-hari, dari paparan ahli diatas dapat kita ketahui bahwa setiap individu yang memiliki sikap gaya hidup shopaholic tidak selalu memiliki satu kesamaan. Mereka memiliki keinginan untuk membeli tetapi mereka memiliki cara pandang atau keinginan yang berbeda untuk membeli barang tersebut. Jenis-jenis sikap gaya hidup shopaholic tersebut menjelaskan bahwa mereka yang memiliki sikap gaya hidup shopaholic dapat membeli apa saja yang sesuai keinginannya tanpa memandang apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya sekedar keinginan mereka.

Faktor-faktor Penyebab Shopaholic

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan sikap gaya hidup shopaholic pada individu, Shopaholic dapat disebabkan oleh berbagai faktor dari luar maupun dari dalam diri individu. Menurut Klinik SERVO (dalam Resstiani,2010) individu memiliki sikap gaya hidup shopaholic disebabkan oleh individu yang memiliki pola hidup hedonis (materialis) sehingga seseorang cenderung mempersepsi orang lain berdasarkan apa yang dimilikinya, dan menganggap bahwa berbelanja adalah sarana untuk melepaskan diri dari stres.

Shopaholic juga dapat didorong oleh kecemasan atau trauma yang pernah ia alami ketika tidak memiliki barang-barang mewah sehingga mendorong membeli barang mewah untuk menghindari penghinaan dari lingkungan sosialnya. Kecemasan dapat mendorong individu berpikir tidak rasional sehigga individu dapat membelikan barang dengan mengesampingkan kebutuhan yang benar-benar ia butuhkan. Sangat banyak faktor yang menyebabkan individu memiliki sikap gaya hidup shopaholic dengan garis besar adalah faktor internal dari dalam diri dan faktor eksternal yang dipengaruhi lingkungan sosial.

Faktor yang menjadi penyebab individu mempuyai sikap gaya hidup shopaholic sangat beragam. Dorongan dari dalam diri sendiri ataupun dorongan dari luar seperti lingkungan sosial juga sangat berpengaruh. Sedangkan menurut Rizky Siregar (dalam Resstiani, 2010) ada tiga faktor yang dapat menjadi menyebabkan seseorang shopaholic, yaitu: 

  1. pengaruh dari dalam diri; 
  2. pengaruh dari keluarga; 
  3. pengaruh dari lingkungan pergaulan.


Penjelasan faktor penyebab sikap gaya hidup shopaholic menurut Resstiani (2010) adalah 

  • Pengaruh dari dalam diri. Seorang shopaholic biasanya memiliki kebutuhan emosi yang tidak terpenuhi sehingga merasa kurang percaya diri dan tidak dapat berpikir positif tentang dirinya sendiri sehingga beranggapan bahwa belanja bisa membuat dirinya lebih baik.
  • Pengaruh dari keluarga. Peran keluarga, khususnya orang tua dalam mendidik anak dapat menjadi faktor anak memiliki gaya hidup shopaholic. Orang tua yang selalu memberikan barang-barang ataupun uang secara berlebihan terhadap anak-anaknya, secara tidak langsung mendidik anaknya menjadi memiliki sikap gaya hidup shopaholic dan percaya bahwa materi adalah alat utama untuk menyelesaikan masalah.
  • Pengaruh lingkungan pergaulan. Selain keluarga lingkungan pergaulan juga dapat mempengaruhi dalam membentuk kepribadian seseorang. Memiliki teman yang hobi berbelanja dapat menimbulkan rasa ingin meniru dan memiliki apa yang dimiliki juga oleh temannya.


Bagi pelaku shopaholic, belanja menjadi sebuah gambaran sikap konsumtif yang sulit untuk diubah. Gejala ini dapat menyerang siapa saja, baik itu remaja maupun orang tua. Ketika individu bersosial dengan banyak orang menyebabkan banyak budaya yang masuk dan menyebabkan dirinya ingin mengikuti budaya tersebut.

Menurut Anugrahati (2014) faktor-fator yang mempengaruhi sikap gaya hidup terdiri dari 6 faktor, yaitu: 

  1. gaya hidup mewah; 
  2. pengaruh dari keluarga; 
  3. iklan; 
  4. mengikuti trend; 
  5. banyaknya pusat-pusat perbelanjaan; 
  6. pengaruh lingkungan pergaulan.


Individu yang memiliki sikap gaya hidup shopaholic cenderung menilai orang lain berdasarkan apa yang dimiliki oleh orang tersebut. Hal ini yang menyebabkan seseorang akan terus berbelanja karena tidak merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Tidak terpenuhinya kebutuhan emosi menjadi penyebab orang tidak percaya diri dan tidak dapat berpikir positif tentang kondisi dirinya sendiri sehingga individu tersebut beranggapan bahwa berbelanja dapat memperbaiki dirinya sehingga lebih baik. 

Penjelasan faktor penyebab sikap gaya hidup shopaholic menurut Anugrahati (2014), yaitu antara lain :

  1. Gaya hidup yang dapat dikatakan sikap gaya hidup shopaholic jika memenuhi beberapa kriteria, diantaranya adalah membelanjakan banyak uang, memakai barang mewah dalam kesehariannya dengan harga mahal, dalam beraktifitas individu yang memiliki sikap gaya hidup shopaholic sangat memilih tempat-tempat yang berkelas dan mewah.
  2. Keluarga dapat menjadi agen sosialisasi yang paling mempengaruhi dalam menentukan pembentukan sikap dan sikap individu. Keluarga sangat berpengaruh terhadap individu dalam mempengaruhi pengambilan keputusan atau mempengaruhi pemakaian barang, misalkan melatih atau mendorong agar anak membeli barang dengan harga yang mahal. Secara tidak langsung orang tua tersebut mencontohkan sikap gaya hidup tersebut kepada anaknya. Apabila keluarga memiliki sikap gaya hidup shopaholic, maka anaknya kemungkinan besar akan memiliki sikap gaya hidup yang sama. Bahkan terkadang dari pihak orang tua, tanpa anaknya meminta untuk dibelikan suatu barang, orang tuanya pun sudah membelikannya untuk anaknya. Sikap seperti ini yang akan selalu menjadikan tolak ukur oleh anak hingga dewasa. Sehingga kemungkinan besar apabila keluarga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi individu mempunyai sikap gaya hidup shophaholic.
  3. Iklan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi sikap gaya hidup shopaholic karena iklan mempunyai fungsi membujuk atau mengajak yang melihatnya agar membeli barang tersebut. Iklan merupakan sarana produsen mempengaruhi konsumen bahwa sikap gaya hidup shopaholic atau berbelanja sebagai sarana penghilang stres.Individu yang memiliki sikap gaya hidup shopaholic akan tergiur akan promosi yang menggiurkan dari berbagai pusat perbelanjaan.
  4. Model yang sedang menjadi trend masyarakat terpancing untuk datang dan berbelaja. Individu yang merupakan mahluk sosial pun akan terpengaruh sesuatu yang ada di sekelilingnya. Hal ini yang dapat mendorong individu memiliki sikap gaya shopaholic. 
  5. Pusat perbelanjaan selalu berlomba-lomba menarik perhatian para konseumen dan menunjukan barang-barang yang memiliki kualitas bagus dengan keluaran terbaru. 
  6. Pengaruh lingkungan pergaulan sangat berpengaruh dalam membentuk individu memiliki sikap gaya hidup shopaholic, karena individu akan cenderung meniru apa yang dilihat terlebih dari lingkungan pergaulannya.


Ronodirdjo (2015) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menybabkan sikap gaya hidup shopaholic muncul yaitu : 

  1. Diskon; 
  2. dorongan dari teman; 
  3. kolektor. 

Penjelasan faktor penyebab sikap gaya hidup shopaholic menurut Ronodirdjo (2015) antara lain, yaitu:

  • Diskon meyebabkan individu sering mengambil keputusan tanpa memikirkan apakah barang itu benar-benar dibutuhkan, sehingga banyak mengakibatkan barang mubazir atau tidak terpakai.
  • Dorongan dari teman sebayanya agar memiliki penampilan yang menarik dan kekinian juga menyebabkan individu memiliki sikap gaya hidup shopaholic. Mereka akan membeli barang agar penampilan menarik dan dipandang bagus oleh teman-teman sebayanya. 
  • Sikap kolektor menyebabkan individu mengumpulkan banyak barang walaupun kurang memiliki fungsi pada dirinya. Mereka hanya mengumpulkan barang yang mereka senangi saja.


Sedangkan menurut Amstrong (dalam Anugrahati, 2014) menjelaskan bahwa faktor yang mendorong individu memiliki sikap gaya hidup shopaholic, meliputi: 

  • Sikap; 
  • Pengalaman dan pengamatan; 
  • Kepribadian; 
  • Konsep diri; 
  • Motif; 
  • Persepsi;
  • Kelompok referensi; 
  • Keluarga;
  • Kelas sosial; 
  • Kebudayaan.


Dari paparan ahli diatas dapat disimpulkan bahwa gaya hidup shopaholic yang dilakukan individu terjadi karena adanya beberapa faktor yang melatar belakanginya. Secara besar garis besar faktor-faktor tersebut dibedakan menjadi faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal yaitu faktor yang dipengaruhi dari dalam diri individu tersebut meliputi: 

  1. seseorang yang menganut gaya hidup hedonis; 
  2. Pengaruh dari dalam diri sendiri; 
  3. kecemasan yang ditimbulkan oleh trauma. 

Sedangkan faktor eksternal meliputi: 

  1. iklan; 
  2. pengaruh dari teman; 
  3. banyaknya pusat perbelanjaan. 

Faktor internal dan faktor eksternal sangat mempengaruhi seseorang bergaya hidup shopaholic, hanya saja individu memiliki latar belakang kehidupan yang seperti apa sehingga individu dapat memiliki sikap gaya hidup shopaholic.

 

 

KIRIM MASUKAN

T Nurandhari
T Nurandhari wuryantoro.com - Blogger Jalanan belajar menulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia. twitter | github | youtube | rss | blogger | rss
Posting Komentar untuk Tulisan Ini.